Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Kejutan



Seminggu berlalu, Chika semakin akrab dengan teman teman Jio, karena Chika sering ikut bergabung. Malam minggu yang lalu juga mereka menghabiskan waktu bersama, Arif dan Sean meminta Chika memasak mie seperti yang mereka makan kemarin di pantai, mereka benar benar ketagihan.


Minggu lalu Chika melewatkan mata kuliah perpajakan karena dia flu waktu itu. Kalau saja mereka lebih cepat pulang dari pantai, mereka tidak akan kehujanan. Chika alergi terhadap dingin, jadi dia pasti mengalami flu berat dengan bersin berkali kali. Syukurlah Chika bisa mengikuti jam ganti untuk mata kuliah perpajakan di kelas lain agar dia tidak ketinggalan pelajaran.


Jio aku punya kejutan untukmu, tunggulah di kelasmu.


Chika mengirim pesan singkat kepada Jio. Tadi pagi mereka sudah bertemu, Jio menjemput Chika seperti biasa.


I'm waiting.


Jio sedang mengikuti kelas perpajakan di lantai 3. Sementara Chika ada di lantai 4 mengikuti kelas perbankan. Jio melirik jam tangannya. Kelas Chika akan selesai 10 menit lagi.


Aku penasaran kejutan seperti apa, aku selalu tidak bisa menebak isi pikirannya.


Dosen di kelas Jio sedang menjelaskan mata kuliah dengan cara yang membosankan. Beberapa mahasiswa bahkan ada yang tidak mendengarkan dan sibuk bermain ponsel. Ada juga orang yang tertidur seperti Sean di pojokan.


Kelas yang sudah berjalan 10 menit itu tiba tiba terhenti karena suara ketukan pintu dari seorang mahasiswa. Dosen itu mempersilahkannya masuk.


Mahasiswa itu adalah Chika, dia mengikuti kelas ganti di kelas Jio.


Semua perhatian di kelas itu sekarang tertuju pada Chika tidak terkecuali Jio dan Sean. Chika tampil kasual hari ini. Dia mengenakan outer blazer berwarna khaki dengan bawahan celana jeans biru gelap dan sepatu sneaker berwarna navy, tidak lupa kerudungnya dengan warna senada.


"Maaf pak saya terlambat, kelas yang saya ikuti baru selesai pak."


Dosen itu tersenyum, dosen ini memang terkenal dosen yang sangat sangat mengerti mahasiswa. Dia juga kenal Chika karena aktif di kelas.


"Tidak apa apa Chika silahkan duduk, kelas baru saja mulai."


Chika mengucapkan terimakasih dan bergegas mencari tempat duduk yang kosong. Jio menyenggol kaki orang yang duduk di sebelahnya agar dia pindah. Chika pun duduk di sebelah Jio.


"Sedang apa kau disini Chika?" Sean duduk di belakang Chika mulai penasaran dengan kehadiran Chika yang tiba tiba.


Chika menoleh "memberi kejutan untuk Jio."


Apa apaan sok romantis begitu.


Sean mendecih kesal sekaligus iri. Ya terlihat wajah sangat bahagia tergambar pada Jio, dia bahkan tidak berhenti memandang Chika.


"Jio lihat ke depan atau kau bisa dalam masalah".


"Ya kejutanmu berhasil sayang."


Setiap Jio memanggilnya sayang, wajahnya pasti berubah seperti kepiting rebus, sangat merah. Beberapa dari gadis di kelas itu menatap tidak suka pada Chika. Mereka bisa mengenali Chika kekasih Jio karena Jio sering bersama achika akhir akhir ini. Chika bisa paham karena Jio cukup populer di kelasnya. Gadis gadis itu membicarakan Chika yang biasa biasa saja jika di bandingkan dengan mereka. Chika bahkan sangat jelas mendengar bisikan mereka.


Berhentilah membicarakanku dengan sangat jelas begitu, kalian menyebalkan.


"Biarkan saja", bisik Jio di telinga Chika. Chika memilih fokus mendengarkan dosen yang sedang menjelaskan tentang pasal pph. Beberapa kali Chika menjawab pertanyaan dosen itu dengan tepat membuat gadis gadis menyebalkan itu semakin membencinya.


Kenapa kelas ini sangat pasif?


Karena terasa sangat aneh, Chika menanyakannya pada Jio. Menurut Jio karena kutu buku di kelas mereka sedang tidak hadir hari ini.


Wah jahat sekali menyebutnya kutu buku, bahkan kelas ini tanpanya bagai mengajar di kuburan.


Sekali lagi dosen menanyakan pertanyaan tentang pajak penghasilan. Chika mengajukan diri untuk menjawabnya tapi di tolak oleh dosen, karena sudah banyak memberikan jawaban sejak tadi.


"Bagaimana kalau yang di sebelah Chika", dosen itu melirik daftar nama di mejanya "ah Jio, ayo Jio coba jelaskan!".


Sean yang duduk di belakang tertawa melihat gelagat kebingunan Jio. Pastinya dia tidak ingin terlihat bodoh di depan Chika, tapi dia juga tidak bisa memberikan jawabannya.


Jio bahkan tidak mendengarkan apa pertanyaan dari dosen itu, dia tersenyum menanyakannya kembali.


Sial.


Chika pura pura membaca catatannya lalu menyenggol kaki Jio. Dia menunjuk sesuatu di buku catatannya itu. Jio yang mengerti berlagak berpikir sebentar lalu menjawab pertanyaan itu sambil melirik lirik catatan itu.


Syukurlah, Jio selamat dari pertanyaan itu. Sean ternganga bagaimana bisa seorang Jio yang tidak pernah mengikuti kuliah dengan benar menjawab pertanyaan itu dengan sangat lancar. Lalu dia tersadar siapa orang di sebelah Jio.


Ya tentu saja itu ulah Chika, mustahil dia tahu, aku berani taruhan Jio bahkan tidak tahu dia sedang mengikuti kelas apa.


"Chika kenapa tidak pindah saja ke kelas ini, kau kan bisa membantu kami seperti tadi." Sean mulai mengendus sebuah keuntungan jika sekelas dengan Chika.


"Memangnya aku bilang akan membantumu?", Chika mengemasi barang barangnya karena kelas baru saja selesai.


"Chika sekarang kau sudah sama menyebalkannya dengan Jio."


Mereka bertiga keluar dari kelas itu beriringan, Chika di apit oleh dua lelaki berpostur tubuh tinggi membuat Chika sangat tidak percaya diri. Karena hari ini banyak naik turun tangga akan melelahkan menggunakan hak tinggi. Chika selalu berjalan pelan agar dia tertinggal di belakang para lelaki itu. Tapi mereka tidak membiarkannya, mereka senang menyiksanya. Sean bahkan mengolok ngolong Chika tidak terlihat ketika dia menoleh ke samping. Tentu saja karena Chika hanya seketiak mereka berdua.


Harusnya aku menyiksa kakiku saja. Sial.


Ketika menuruni tangga, mereka berjumpa dengan Arif di lantai dasar. Sepertinya Arif sudah menunggu sejak tadi. Chika semakin kesal dengan kedatangan Arif karena akan semakin jelas perbedaan postur tubuh itu Arif bahkan lebih tinggi dari dua lelaki di kanan dan kirinya.


Entah mereka memakai kode apa Arif sudah mengerti jika Sean sedang menyiksa Chika soal postur tubuhnya. Arif mengalungkan lengannya di leher Jio. Jio juga diam saja seolah sudah biasa seperti itu.


Sedang apa dua orang aneh ini.


"Untuk apa kau memeluknya begitu?", Chika mematung seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Tentu saja untuk menunjukkan kau tidak bisa melakukan ini", dengan kompak Sean dan Arif tertawa. Tentu saja Chika tidak bisa melakukan itu. Chika memilih untuk tidak menjawabnya. Harusnya juga tadi dia tidak bertanya. Tapi tetap saja bibirnya gatal untuk menjawabnya.


"Aku bisa kok kalau Jio duduk", Chika mencibir mereka berdua. Jio diam saja tidak membela siapa pun. Menikmati wajah kesal Chika yang terlihat menggemaskan di matanya.


"Kalian menyebalkan aku mau bertemu Nala saja". Chika menelfon Nala, namun sial Nala sudah pulang sejak 1 jam lalu. Dia tidak jadi menunggu Chika karena Doni mengajaknya pulang bersama.


Maaf Chika, uang jajanku habis membeli novel, jadi aku harus menumpang pulang bersama Doni. Maaf ya lain kali saja kita makan es krimnya. Aku yang traktir.


Ah bertambah kesal Chika membacanya. Nala sudah berjanji untuk mendengar semua cerita Chika, malah di tinggal pulang. Mereka berempat sudah sampai di parkiran. Arif terus saja menempel pada Jio membuat Chika risih melihatnya.


Apa Arif ini tidak normal ya.


Chika bergidik ngeri melihatnya. Segera dia menarik tangan Jio agar mendekat ke dirinya.


"Cari pacar Rif, jangan rebut pacarku".


Tentu saja di sambut ledekan dari Arif dan Sean, mereka sukses membuat Chika kesal sendiri. Jio sedikit membungkuk menatap wajah Chika. karena gemas melihat bibir Chika manyun, dia mencubit pipinya.


"Ayo pergi makan es krim denganku", ajak Jio dengan senyum manis.


"Berdua sajakan?". Chika memastikan sambil melirik dua orang menyebalkan itu.


"Tentu saja tidak, jangan tinggalkan kami Jio, Aku mencintaimu Jio", Arif dan Sean sahut sahutan meledek Chika.


Chika terus menatap mereka sambil berbicara dengan Jio "apa kau tidak ada niat menenggelamkan mereka?". Di tanya seperti itu Jio malah tertawa.


"Mereka menyukaimu Chika.