Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Cupcake



Semua barang yang akan Chika bawa telah terkumpul dalam sebuah koper cukup besar. Chika sedang menunggu travel untuk menjemputnya. Ponsel Chika di penuhi pesan yang berisi peringatan dari Jio.


Segera kabari aku kalau ada apa apa.


Jangan lirik lirik lelaki lain, kamu milikku.


Siapa di sebelahmu? Lelaki apa perempuan?


Banci bos. Chika


Jio tersenyum jengkel di kamarnya membaca dua kata dari pesan Chika. Bukanlah banci lebih berbahaya daripada laki laki? gumamnya. Pindah, ketik Jio berapi api.


Jio sangat overprotektif setelah berpacaran dengan Chika. Jika di perhatikan Jio seperti sangat menyukai Chika, tapi tidak begitu yang di rasakan Chika. Bagi Chika, Jio sama seperti teman teman lelakinya hanya saja ada tanda kepemilikannya.


Jio sedang duduk berkumpul bersama teman temannya. Wajah kecut terpasang di wajahnya, teman temannya tertawa dengan candaan mereka dia hanya melamun sambil menghisap rokoknya. Arif teman masa kecil Jio yang sudah paham betul dengan sifat Jio mulai bertanya.


"Ada apa Jio, mikirin pacar kamu yang lagi pulang kampung?", di tanya begitu Jio melayangkan tatapan datar pada Arif, diiringi kepulan asap berembus dari mulutnya. "Serius dengan cewek kecil itu? Lita bahkan sepuluh kali lebih cantik dari dia, aku pikir kamu cuma butuh hiburan". Sembur Arif dengan wajah serius.


"Awalnya aku pikir dia lebih tinggi dari perkiraanku, aku ingin mengakhiri pendekatanku, tapi nyatanya dia membuatku nyaman tanpa merasa muak sedikitpun, dia manis dan apa adanya. Bukankah aku sudah tinggi? anak anakku hanya perlu mengambil sifat baik dan perhatiannya saja, ah ya dia juga pintar. Wah sepertinya anak anakku akan sempurna jika menikah dengannya".


Arif mendengarkan dengan seksama, raut wajahnya seperti muak mendengarnya.


Sibodoh ini bahkan berfikir sampai situ, kuliah saja masih semester 3. Aku bahkan berani taruhan dia belum move on dari Lita, cih.


"Ya ya pikirkan sesukamu, urus dulu kuliahmu dengan benar barulah memikirkan pernikahan. bukankah Chika juga terpaksa denganmu? Hei mau aku tes pacarmu?", tawarnya memasang wajah teramat manis.


Ya Arif memiliki wajah yang sangat manis seperti gula. Dia sahabat Jio. Sejak kecil mereka sudah berteman dekat karena mereka bertetangga. Dari kecil mereka menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Sekarang juga kuliah di kampus yang sama hanya beda jurusan saja. Dan kabar baiknya dia jomblo. ada yang mau???


Jio mematikan rokoknya yang sudah hampir habis. memberikan nomor ponsel Chika pada Arif. "aku tahu dia belum percaya padaku, dia masih yakin aku orang jahat, apalagi melihat pola tingkah Sean yang bertemu 2 gadis sekaligus ketika kami bersama tapi itu tidak akan lama, lihat saja. Itu nomor ponselnya. lakukan sesukamu, bahkan dia tidak akan melirikmu", kata Jio yakin.


Pagi itu kamar Chika sudah di penuhi barang barang Chika, dia bahkan belum menyusunnya. Chika tertidur setelah selesai Sholat shubuh, dia sampai di rumah jam 5 pagi. Ponsel Chika yang berdering sejak tadi di biarkannya saja. Lalu sebuah suara yang memanggil namanya di balik pintu kamarnya seperti bom atom di telinganya.


"Chikaaa hari ini mama pergi arisan dan pengajian kamu buka toko, segera mandi dan ke toko ya, sekarang!."


Titah dari ratu di rumah ini sudah keluar, mau mengantuk, lelah atau bahkan sakit dia tidak akan perduli. Dia tidak bertanya apa apa soal nilai Chika di kampus, bahkan bagaimana Chika melalui hari harinya di sana.


"Iya ma, sampai jumpa di toko", jawab Chika tanpa membuka pintu. Di liriknya jam berbentuk jangkar di sudut kamarnya, jam 6 pagi. Chika mendesah tanpa makna. Dia sibuk menarik badannya untuk duduk dan mulai mengikat rambut panjangnya yang berantakan. Chika meraih ponsel dan mendapati pesan Jio disana, diabaikannya. Chika mengetik sesuatu untuk kakaknya, Jihan.


Kak Jihan 1 jam saja bantu aku membuka toko, aku tidur 1 jam saja. aku mabuk perjalanan semalaman, aku mohon.


Urus urusanmu sendiri Chika, aku ada janji dengan temanku, sekarang aku mau pergi, bye.


Apa mereka semua manusia? atau apa aku dianggap manusia?.


Tanpa terasa airmata itu mengalir sedikit deras. Chika memang selalu mabuk perjalanan ketika harus bepergian dengan mobil. Ibunya juga sudah paham betul keadaan itu. Tapi sekali lagi dia tidak perduli. Chika membalas pesan Jio sekenanya kemudian bersiap ke toko.


Toko roti sudah mulai sibuk dipagi hari. Beberapa orang datang membeli roti dan ada pula yang tinggal duduk menyantap roti untuk sarapan pagi disana. Chika sudah memanggang beberapa roti. karena sering di toko roti, Chika bisa membuat roti yang tergolong mudah. Chika baru mengeluarkan cupcake dari oven, kue kue itu terlihat sangat enak. Chika mulai menghiasnya.


Pamer ke Jio ah


Chika memotret beberapa cupcake yang telah diberinya hiasan buttercream. Cantik sekali, pikirnya.


Kamu mau? datanglah ke tokoku, ku buatkan yang spesial untukmu.


Chika mengirim beberapa foto dengan caption itu. Tidak lupa dia berselfi dengan cupcake buatannya itu. Chika terlihat lucu menggunakan celemek berbentuk panda. Wajahnya masih terlihat lelah, ada lingkaran hitam di sekitar matanya menandakan dia kurang tidur.


Kamu bekerja? bukankah baru sampai rumahmu? Kamu bahkan terlihat sangat lelah. Jio


Aku pekerja keras. Chika.


Jio masih terbaring di kasur seraya melihat foto foto itu, dia bahkan hanya mengenakan celana pendek bermotif spongebob dengan rambut yang entah bagaimana menjelaskannya, sungguh tidak enak di pandang.


Dia terlihat sangat manis walau matanya lelah. Apa benar dia bekerja? Haha. Dia bisa membuat kue. Hei Chika apa kau akan terus membuatku semakin menyukaimu?


Aku sampai bingung membedakan panda dengan dirimu. Jio


Maksudnya mata kami sama, menyebalkan.


Harusnya memang aku tidak berselfi, pergilah ke kampus dan cari gadis yang tidak bermata panda sepertiku. Chika


Kamu yang terbaik Chika. Bawakan aku cupcake buatanmu dan cepat kembali aku punya kejutan untukmu. Jio


Jio masih berseri seri membayangkan cupcake Chika. Chika sudah berjanji akan membawakan Jio ketika dia pulang nanti. Hari ini Jio harus mrngikuti kelas semester pendek untuk memperbaiki nilainya. Jio terus berjalan ke arah kamar mandi sambil menatap ponselnya lalu bruuaakk. Jio menabrak sesuatu yang sangat empuk dan berlemak. Ya itu perut Jo yang membuncit.


"Najis ya Tuhaaann", rintihnya memungut ponselnya yang terjatuh.


"Jio tolong aku keguguraaan", teriak Jo tak kalah histeris. Dia bahkan berakting terduduk di lantai seperti tidak sanggup berdiri.


"Jijik", maki Jio lalu melengos ke kamar mandi.