Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Jatuh Cinta Sendirian



Eva menyandarkan tubuhnya di kursi taxi. Menatap gedung gedung tinggi diluar sana. Sesekali tangannya menyeka rambut yang menutup matanya. Raut wajahnya seperti orang bingung, kecewa dan marah. Supir taxi itu beberapa kali meliriknya dari spion, sejak tadi dia menanyakan alamat yang dituju, namun tidak ada jawaban lalu tidak berani lagi bertanya. Dia hanya berputar putar sejak tadi.


Dering telpon memekik dari dalam tas Eva, kesadarannya kembali. Merogoh tas kecil itu lalu menatap nama yang tertera di layar ponsel itu. Bukan orang yang diharapkannya.


"Halo."


"Kau dimana? Apa masih jauh?"


Pertanyaan itu mengingatkan Eva pada janjinya tadi dengan Chika sebelum meninggalkan kos kosan. Mereka harus berbelanja sore ini.


"Taxi yang ku tumpangi terjebak macet. Kau berbelanja saja duluan",


Celingak celinguk mencari tahu dia ada dimana, lalu menatap punggung supir taxi. Sadar ada sepasang mata mengamatinya, supir itu berbalik dan tersenyum semanis yang dia bisa, berharap bisa menghibur sang penumpang galau.


"Anrez tidak mengantarmu?"


Eva mendesah. Tidak tahu harus menjawab apa.


"Dia sibuk akhir akhir ini, aku akan sampai beberapa menit lagi tunggu lah."


Eva memutus panggilan telfon itu dan memberitahu alamat yang dia inginkan pada supir taxi. Baik, jawab supir taxi singkat.


Pikiran Eva sangat kacau akhir akhir ini. Ya apalagi semuanya karena kekasih yang sangat disukainya itu. Kekasih yang tidak memperlakukannya sebagai kekasih. Atau saat ini tidak bisa lagi disebut kekasih.


Menikmati indahnya hiruk pikuk kota besar ini tidak bisa membuat Eva lupa bagaimana Anrez meminta mereka untuk menyudahi hubungan melalui sebuah pesan singkat.


Seminggu setelah pesta kembang api itu, Anrez menyudahi hubungan mereka begitu saja. Perkataannya masih membekas diingatan Eva. Seakan setiap hurufnya terukir di kepalanya.


Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Rasanya seperti membohongi diriku sendiri. Kau gadis yang baik Eva, tidak baik membiarkanmu terlalu lama jatuh cinta sendirian, maafkan aku.


Eva mendesah lagi menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya. Supir taxi itu meliriknya lagi. Entah apa yang dipikirkannya tentang Eva.


Kasian, masih muda sudah banyak beban pikiran begitu. Pasti hutangnya banyak sampai pusing begitu.


Eva memeriksa kembali ponselnya berharap ada pesan dari seseorang yang di tunggunya sejak tadi. Tadi pagi Eva beralasan pada Chika akan pergi berkencan, sebenarnya dia hanya meminta Anrez untuk datang ke restoran tempat mereka memulai hubungan singkat ini. Eva ingin bertemu, untuk mendapatkan penjelasan. Ah bukan semuanya sebenarnya sudah jelas bagi Eva, dia hanya ingin meluapkan perasaannya pada orang yang mencampakkannya begitu saja. Dengan begitu akan lebih mudah melupakan orang brengsek itu.


Anrez tidak datang, tidak ada telepon atau pesan yang menjelaskan alasan kehadirannya, dia seperti hilang ditelan bumi. Mengabaikan Eva seenaknya.


"Sudah sampai nona."


Supir taxi sudah menghentikan taxinya sesuai dengan alamat yang diberikan Eva. Swalayan tempat Chika menunggunya berjam jam.


Suara supir taxi itu mengembalikan kesadaran Eva, segera dia merogoh uang untuk membayar, melirik argo taxi lalu menghitung uangnya.


Tunggu, bukankah harganya tidak masuk akal?


Eva kembali melirik argo itu, dilihatnya baik baik angka itu. Itu terlalu banyak. Supir taxi sangat peka dengan rasa terkejut Eva. Dia tersenyum melihat wajah bodoh Eva.


"Saya tidak tahu berapa kali kita berputar putar tadi, saya lupa menghitungnya. Saya terus bertanya alamat yang dituju, tapi nona tidak mau menjawabnya."


Penjelasan singkat supir taxi yang membuat Eva tidak bisa berdalih lagi. Dia keluar dari taxi dengan wajah semakin sedih sebelum masuk tadi. Sudah harus merelakan isi hati pergi, sekarang dia juga harus merelakan isi dompetnya. Kejam sekali.


Baiklah aku hanya perlu memotong anggaran camilan malamku. Huhu.


Beberapa menit apanya.


Chika melihat Eva setengah berlari ke arahnya. Sangat kesal dengan Eva karena membuatnya menunggu berjam jam. Bersyukur Jio datang untuk menemaninya.


"Maafkan aku. Kau menunggu lama ya? Hehe", menggaruk kepala yang tidak gatal, diliriknya beberapa kantung belanjaan yang terisi penuh. "Kau belanja sebanyak ini?", tanyanya tidak percaya.


Chika mencibir. Tentu saja bukan dia yang belanja seperti orang gila begitu. Membeli stok makanan sudah seperti untuk 1 tahun saja.


"Bukan aku", menunjuk dengan ekor matanya ke arah Jio yang sedang membeli es krim.


Eva sedikit terkejut melihat Jio disana, tapi dia sangat senang melihat kantung kantung makanan yang penuh itu. Matanya berbinar binar. Ternyata bukan pemandangan indah yang membuatnya melupakan Anrez, cukup dengan tumpukan makanan gratis saja.


Ya tuhan, apa ini yang dinamakan habis gelap terbitlah terang?.


Jio bergabung dengan mereka dan memberikan es krim yang dibelinya. Mereka duduk di kursi yang disediakan penjual es krim itu.


"Apa Anrez sudah pulang Eva? Kemarin dia menelpon ku mengatakan kalau dia menginap di hotel mereka untuk 1 minggu."


Wajah Eva mendadak berubah kesal, dia menyembunyikannya dengan tetap memakan es krimnya. Dia tidak mengatakan apapun, pura pura menikmati es krim saja.


Jadi kau melarikan diri dariku? Hah, bisa bisanya aku menyukai seorang pengecut begitu.


Chika manangkap gelagat aneh Eva. Tapi tetap diam saja. Sudah sangat jelas mereka tidak baik baik saja. Jio menyadari suasana yang mendadak canggung karena ucapannya. Dia juga menyadari kehadirannya yang membuat canggung. Jio memberikan es krimnya pada Chika.


"Nih makanlah, aku harus segera pulang. Kalian juga pulanglah."


Sekarang ada 2 es krim di tangan Chika, dia mergantian menjilatinya. Ya dia memang penggila es krim. Jio tersenyum melihat kekasih anehnya itu. Mencium kening Chika lalu menaiki motornya dan berlalu. Eva memalingkan wajahnya saat itu.


Kalian ini ingin menabur garam dilukaku hah.


"Kau harus menungguku menghabiskan ini."


"Enak saja, berikan padaku punyamu tadi."


Chika menurut saja, diberikannya miliknya yang sudah sisa separuh. Sekalian menunggu Eva bercerita. Sampai es krim itu habis dia masih juga belum membuka mulutnya. Chika tidak tahan lagi.


"Apa kau sedang berselingkuh dari Anrez?".


Apa? Hah.


Eva memutar bola matanya kesal, tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu. Ingin rasanya berteriak akulah korbannya di kisah pahit ini dan dialah penjahatnya.


"Kenapa diam saja, ayo katakan padaku. Aku akan mendukungmu. Aku tidak suka Anrez berlaku seenaknya padamu. Aku tidak tahan melihatnya. Aku juga merasa tidak enak padamu karena aku yang mengenalkannya."


Eva menatap sahabatnya itu berbicara sambil menjilati es krimnya, entah bagaimana ucapannya tetap jelas.


"Ya kau benar harusnya aku selingkuhi saja dia sebelum dia mencampakkanku begini", mengusap ngusap kepalanya seperti orang frustasi.


Chika yang mendengarkan masih menjilati es krimnya. Namun dia berhenti setelah mencerna kalimat itu.


"Ka kalian putus?".