
Semua rencana liburan singkat berjalan dengan baik, mereka juga pulang tepat waktu. Sepanjang perjalanan pulang Jio terus berwajah masam. Teringat kedekatan Arif dan Chika sangat mengganggunya. Tapi dia tetap bersikap baik pada Chika dan menyembunyikan perasaannya. Tidak, kali ini Chika sama sekali tidak menyadarinya. Tidak terlintas difikirannya sedikitpun.
Saat ini Chika sudah dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya. Dia pulang malam ini, tidak berani untuk menunda sampai pagi tidak peduki badannya sudah menjerit minta istirahat, tidak masalah Chika bisa beristirahat selama di perjalanan. Ibu akan jadi mengerikan jika lebih lama lagi untuk sampai ke rumah.
Biasanya Chika tidak berani untuk memejamkan matanya barang sedetikpun karena di sekitarnya adalah orang asing. Beruntung perjalanan kali ini dia bertemu Zyan teman SMA nya dulu. Mereka cukup dekat karena rekan kerja dalam organisasi sekolah dulu. Chika yakin Zyan tidak akan macam macam padanya.
Awalnya Zyan tidak mengenali Chika karena menurutnya gaya pakaian Chika sangat berbeda dari sewaktu dia mengenalnya. Ya tentu saja, dulu sewaktu SMA Chika hanya mendapat pakaian bekas dari kak Jihan, sekarang dia bisa membeli pakaian semaunya dari sisa uang belanja yang dikirim ayahnya. Ayah memang mengirim uang lebih dari cukup setiap bulannya.
Malam sudah berganti pagi, Chika sudah berada di kamarnya sejak shubuh tadi.Perjalanan kali ini terasa sangat cepat. Tidak ada kemacetan di perjalanan. Ibu tidak berkata apa apa karena Chika terlambat pulang, tapi wajahnya sangat tidak bersemangat.
Matahari sudah bersiap menyinari dunia hari ini, Chika barusaja terbangun karena ponselnya yang memekik sejak tadi. Bukan alarm, itu panggilan telepon dari Jio. Chika dengan mata tertutup merangkak untuk meraih benda pipih itu.
"Ya Jio, aku sudah sampai di rumah. Maaf aku tidak menghubungimu aku sangat mengantuk tadi."
"Selamat pagi Chika."
Chika mulai membuka matanya. Tersentak mendengar suara itu.
Kenapa suara Jio jadi lain begini, apa dia sedang batuk?
Chika mengerjap ngerjapkan matanya melihat dengan jelas ke layar ponselnya. Hanya tertera nomor saja.
"Ini aku Zyan Chika."
Chika beranjak duduk dari posisi tidurnya.
"Zyan, ada apa?."
"Aku senang kau tidak mengubah nomor ponselmu. Aku hanya ingin mengatakan kalau laptopmu ada padaku. Kau meninggalkannya di mobil. Supir mengira laptop itu milikku jadi dia mengembalikannya padaku."
Chika tanpa sadar menepuk jidatnya. Rasa lelahnya membuatnya sangat teledor. Akan sangat merepotkan jika laptop itu hilang, hanya satu semester lagi Chika akan menjalani program magang dan perlu membuat laporan. Ibu juga tidak akan mau lagi mengeluarkan uang untuk membelinya lagi.
"Terimakasih Zyan, kau tahu bahkan aku belum menyadari laptop itu sekarang tidak ada padaku. Kau ada waktu nanti sore?."
"Ya tentu saja, hubungi aku saja jika kau ingin mengambilnya."
Chika mengucapkan terimakasih dan menutup teleponnya. Segera dia mengecek notifikasi di ponselnya. 6 panggilan dari Jio. 10 chat.
Memangnya aku hilang Jio. Huh
Chika menelfon balik nomor Jio, panggilan itu langsung tersambung dalam hitungan detik. Sangat jelas kalau Jio menunggu telfon Chika sejak tadi. Belum sempat Chika mengucapkan halo, Jio sudah mengomel panjang lebar, lalu berujung pada tuduhan seenaknya.
"Kau kemana saja? apa kau sedang berbicara pada laki laki lain?."
Chika tersentak.
Tidak mungkinkan? Apa dia menyadap ponselku?
Chika mulai mengatakan yang sejujurnya pada Jio. Jio menginterogasinya sampai ke akar akarnya. Lalu berakhir dengan Jio mematikan teleponnya saat Chika menjelaskan. Jio marah. Tidak dia murka.Chika mengusap kasar wajahnya.
Apa aku membuat kesalahan? Baiknya tidak usah jujur saja sekalian, merepotkan.
Akhir akhir ini Chika merasa Jio sangat berlebihan. Selalu saja dia mencurigai Chika. Ada rasa senang di hati Chika karena Jio sangat perhatian padanya namun lama lama terasa seperti Jio mulai mengikat Chika di tangannya dan mengendalikannya. Belakangan ini saja Chika sangat jarang bertemu Nala dan Doni selalu saja sibuk dengan Jio.
Chika melirik jam di dinding kamarnya sudah pukul 7 pagi. Matanya masih sangat mengantuk namun karena sudah tidur sejenak sesampainya di rumah tadi sekarang dia bisa bangun dan bersiap ke toko roti ibunya.
Jio jangan lupa sarapan ya, love you.
Dengan berani Chika mengirim pesan itu. Berharap Jio akan membalasnya dan menyudahi aksi cemburunya.
Bagaimana aku bisa bertemu Zyan nanti sore, dia menelponku saja Jio sudah semarah ini.
"Maaf mama."
Hanya itu yang keluar dari mulut Chika. Tidak mungkin dia mengatakan alasannya untuk pulang terlambat.
Ibu Chika hanya menatapnya tajam. Chika tertunduk diam di posisinya. Kali ini memang Chika yang bersalah.
"Berapa lama kau disini?."
"Libur semesterku selama 2 minggu."
Ibu mulai mengemas barang barangnya, seakan bersiap akan meninggalkan toko.
"Mama akan keluar kota untuk seminggu atau lebih. Buka dan tutup toko seperti biasanya. Jangan membuat kesalahan yang merugikanku."
"Iya ma."
Ibu berlalu begitu saja, tanpa bertanya apa apa soal Chika. Air mata yang sejak tadi di tahan oleh Chika lolos begitu saja mengalir di pipinya. Secepatnya disekanya air mata itu. Tidak ada gunanya menangis. Tidak ada gunanya juga bertanya, hanya akan membuat tambah sakit hati. Ibu Chika pasti pergi dengan Jihan seperti biasanya, entah berbelanja atau liburan.
Jika bukan karena mereka ingin liburan, dia pasti tidak akan memaafkanku secepat ini.
Chika tidak mengharapkan dia diajak berbelanja atau liburan. Dia hanya ingin merasakan kehangatan sebuah keluarga, bukannya diasingkan seperti ini.
Jio kau dimana ayo balas pesanku, aku membutuhkanmu.
Ponsel itu tidak juga berdering seperti harapan Chika. Sudah berulangkali Chika menelfon dan mengirim pesan tidak ada jawaban. Jio sedang membalas apa yang dilakukan Chika pagi tadi.
Chika menghela nafas kasar. Dia mulai mengenakan celemek dan menghias beberapa cupcake. Setidaknya melakukan semua ini bisa meringankan rasa sedihnya.
"Chika."
Chika segera menoleh ke asal suara yang menyapanya. Dia sangat terkejut melihat sosok yang ada di hadapannya.
"Zyan", tersenyum dan segera melepas celemeknya. "Sedang apa disini?."
Zyan tidak menjawab, dia hanya mengangkat laptop yang di bawanya. Itu laptop Chika.
"Maaf Chika aku tidak sabar ingin bertemu denganmu, jadi aku fikir aku datang kesini saja."
Chika duduk berdua dengan Zyan sambil menghias beberapa cupcake. Berbincang dengan teman lamanya membuat moodnya membaik, Zyan juga orang yang menyenangkan. Sedang asyiknya mereka, orang yang diharapkan Chika akhirnya menelfon balik juga. ponsel Chika berdering, video call dari Jio.
Zyan tidak sengaja melirik nama penelpon itu. Cupcake dengan simbol hati. Chika menyimpan nama Jio seperti itu. Ada guratan kecewa di wajah Zyan namun disembunyikannya dengan baik.
"Sebentar Zyan", Zyan mempersilahkan. Chika merapikan dirinya lalu mulai berbicara.
Dari ponselnya Jio memperhatikan wajah bahagia Chika. Tidak terlihat dia sedang sedih. Jio merasa di permainkan olehnya.
"Kenapa mengirim pesan seperti itu, apa kau sengaja membuatku khawatir?"
Dia ini kenapa sih, seperti orang datang bulan saja.
Chika memasang senyum manisnya berusaha memaklumi sikap Jio yang masih cemburu karena Chika pulang bersama Zyan , "Kau darimana saja aku menelponmu sejak tadi?".
Jio belum menjawabnya, perhatiannya teralihkan oleh jaket Zyan yang terletak di sandaran kursi yang diduduki Chika.
"Jaket siapa itu, kau punya adik laki laki."
Segera Chika menoleh kebelakang, wajahnya pias menatap jaket kulit milik Zyan itu.
Sial.