Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Perpustakaan



Ayo like and comment biar crazy up


Sudah tiba waktunya ujian semester untuk para mahasiswa. Ujian akan di mulai minggu depan. Minggu ini beberapa mahasiswa mulai intens belajar di perpustakaan, ada juga beberapa yang membentuk kelompok belajar.


Ujian adalah waktu yang sangat di benci Chika. Karena setelah ujian dia harus pulang ke rumah bertemu dengan aktivitas sehari harinya seperti dulu. Sebenarnya dia dengan senang hati melakukannya karena dia juga sangat suka memanggang kue kue itu, hanya saja dia kesal jika harus berhadapan dengan perlakuan berbeda ibunya.


Hubungan Chika dan Jio masih terus baik sejauh ini, bahkan mereka sudah sangat dekat. Berciuman bukan lagi hal yang aneh bagi Chika. Chika tidak lagi malu malu terkadang dialah yang mencium Jio terlebih dahulu.


Sementara Lita, dia selalu berada disekitaran Chika dan Jio, menguntit pasangan itu. Dia masih setia mengantri untuk jadi pasangan Jio seperti yang dikatakan Chika. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Sesekali dia memanfaatkan hubungan baiknya dengan ibu Jio, tentu saja itu tidaklah berhasil karena Jio sudah sangat membenci Lita. Tidak ada lagi tempat untuk Lita di hatinya.


Bukan hanya mereka berdua saja yang dekat, Sean dan Nala juga sangat dekat. Mereka berdebat bersama bahkan sampai perang lewat ponsel juga. Mereka seperti kucing dan anjing yang tidak pernah akur. Tetapi karena sering berkelahi begitu mereka saling mengenal satu sama lain.


Siang ini mereka semua berjanji bertemu di perpustakaan untuk belajar bersama usai kelas berakhir. Karena kelas Chika duluan selesai mereka lebih dulu sampai di perpustakaan. Chika mulai mengambil beberapa buku yang di perlukannya dan mencoba menyelesaikan soal yang belum bisa di pecahkannya. Tidak lupa kemudian dia mengajarkannya pada Nala. Doni tidak ikut belajar kelompok hari ini sebab dia ada pertandingan futsal, sekaligus dia menghindari kemesraan yang akan di pertontonkan Jio nantinya.


Beberapa waktu berlalu, Jio dan Sean menghampiri meja Chika. Jio duduk di sebelah Chika. Dan Sean duduk disebelah tumpukan barang Nala. Nala sedang pergi mencari buku yang di perlukannya. Kali ini ada Tia yang ikut bergabung bersama mereka. Tia baru saja datang ke kampus ingin menjemput Sean karena motor Sean masuk bengkel.


"Kenapa memilih meja lesehan begini? Ini hanya akan membuatku cepat mengantuk karena aku bisa berbaring kapan saja," Sean mulai mengeluh akan pilihan meja Chika.


"Ya tadinya aku ingin meja di sebelah sana agar dekat mencari buku", menunjuk ke arah pojok "Kau lihat sendiri penuh, berbaringlah jika kau ingin diinjak orang yang lewat Sean."


"Lidahmu itu Chika, sangat tajam pantas saja Lita kalah telak denganmu." Sean tertawa sambil merangkul Tia di sebelahnya.


Nala baru saja kembali dari berburu bukunya. Wajahnya sedikit terkejut mendapati Sean bersama seorang wanita disana. Dia memperhatikan tangan Sean yang merangkul mesra bahu gadis belia itu. Chika dan Tia juga ttampak sudah akrab. Ada rasa sesak di dadanya, dengan sekuat tenaga dia berusaha tenang dan bersikap biasa saja.


Chika yang menyadari perubahan Nala merasa khawatir. "Kau baik baik saja La?." Nala hanya diam saja tatapannya terfokus pada buku yang di bukanya sembarangan. Chika memperhatikan Sean yang sibuk bercanda dengan kekasihnya di sebelah Nala. Lalu menatap kembali Nala yang sibuk sendiri dengan bukunya.


Mungkinkah..Ya ampun Nala haruskah aku memberitahumu rahasia Sean agar kau tidak lagi menyukainya??


"Boleh aku bergabung? tidak ada meja kosong lagi."


Semua orang menghentikan aktivitasnya kecuali Jio. Jio hanya melirik pemilik suara itu lalu kembali sibuk membaca bukunya.


Kini semua orang menatap Chika seakan dialah yang pantas memberikan keputusan. Chika melirik kesemua orang lalu tertawa.


"Kenapa melihatku begitu? Bukankah ini tempat umum, meja ini bahkan bukan milikku", Chika menatap Lita yang tersenyum penuh arti. Tanpa malu malu Lita langsung ingin duduk di sebelah Jio.


Sigap Jio bergegas memindahkan ransel dan tas Chika yang di bawah meja ke sebelahnya.


"Ups", kata Sean menahan tawa, dia juga langsung membekap mulutnya.


Tia yang memang sudah lama mengenal Lita angkat bicara. "Kak Lita sepertinya tidak ada tempat duduk lagi disini."


Lita sudah kesal bukan kepalang. Jio sudah semakin jauh dari jangkauannya. Dulu sebelum mengenal Chika, Jio tidak pernah bereaksi apa apa jika dia menempel nempel pada Jio walau mereka sudah putus. Sia sia sudah usahanya sejak tadi pagi membuntuti Jio hingga ke perpustakaan.


Beraninya kalian semua.


Mendengar sindiran itu Jio sudah hampir tersulut emosinya namun Chika menahan tangan Jio. Aku tidak apa apa biarkan saja, begitulah arti tatapan mata Chika. Jio hanya bisa menurut, tanpa perlawanan Lita meninggalkan tempat itu. Sejak awal pun dia tidak punya keinginan untuk belajar.


"Sayang, harusnya kau tidak menyebut namanya tadi, seperti ada mantra di nama itu, jika kita menyebutnya dia akan muncul", Tia memecahkan keheningan karena di tinggal Lita. Sean hanya tertawa menanggapinya sebab Jio dan Sean sudah tahu kalau sejak dari kelas tadi Lita mengikuti mereka.


Mendengar kata sayang keluar dari mulut Tia membuat Nala tidak bisa lagi menyembunyikan rasa cemburunya. Sejak tadi dia diam saja dan raut wajahnya berubah sangat kesal.


Sean menyenggol lengan Nala dengan lengannya. "Ada apa denganmu nenek tua? Apa kau kehilangan suaramu? Biasanya kau yang paling heboh disini."


"Kau tidak tahu? Ini perpustakaan, dilarang berisik disini, atau kau mau diusir dari sini?", ketus seperti biasanya.


Alis Tia sedikit terangkat mendengar sautan dari Nala. Sebenarnya dia ingin membalas namun diurungkannya.


Dia ini kenapa langsung marah marah begitu, aku sangat tidak menyukainya.


"Oh iya kalian belum saling kenal bukan?". Sean memperkenalkan Tia dan Nala. Keduanya seakan enggan untuk berkenalan namun mereka tetap bersalaman dan menyebutkan nama masing masing.


Cukup lama mereka belajar di perpustakaan. Sekarang Jio mengantarkan Chika pulang setelah makan siang bersama Sean dan Tia tadi. Nala memilih tidak ikut karena tidak mau menjadi obat nyamuk. Dia tetap tinggal di perpus dengan alasan menunggu temannya. Kini mereka sudah ada di depan gerbang kosan. Chika sedang dibantu Jio melepaskan helmnya.


"Apa kau tidak menyadarinya tadi?", Chika menyerahkan helm itu pada Jio.


"Tidak, soal apa?."


"Nala menyukai Sean".


"Ya aku tahu, aku rasa Tia juga menyadarinya tapi Sean tidak."


Chika terkejut dengan apa yang diucapkan Jio. Dia tidak menyangka Jio menyadari semuanya padahal dia sibuk membaca buku dari tadi.


Kepekaan super macam apa itu? Apa dia punya mata di dahinya? Atau dia hanya pura pura saja membaca buku?


"Biarkan saja Sean mengurus semuanya, dia pasti tahu apa yang harus dilakukannya." Jio memakai jaketnya menghindari teriknya panas matahari menyentuh kulitnya.


"Ya aku hanya tidak ingin Nala terluka", ucap Chika sedih.


Ragu ragu Chika bertanya juga. "Apa kau tidak ingin berbicara dengan Lita? Sudah saatnya dia memperhatikan hidupnya dan berhenti mengejarmu."


Jio menatap Chika penuh selidik, "Kau mulai terganggu karenanya?".


"Tidak aku hanya kasian padanya."


"Biarkan saja tidak ada gunanya berbicara pada gadis kepala batu seperti dia, aku pergi". Jio menutup kaca helmnya dan berlalu.


Chika sudah bisa menebak jawaban Jio sejak awal, tetap saja dia merasa kasian dengan Lita yang mengemis cinta seperti itu.