Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Kontak Fisik



Pagi pagi sekali sesuai janji Jio menjemput Chika di kosannya. Kalau saja tidak di ingatkan Eva selesai sholat shubuh tadi, dia akan lupa hari ini akan ke pantai bersama Jio dan teman temannya. Karena terburu buru Chika hanya menyiapkan bekal seadanya. Mie goreng dengan sosis dan bakso.


Chika berpakaian manis hari ini. Tunik berwarna mint itu bermotif bunga2 kecil mirip bunga sakura di padu dengan legging hitam dan keruding berwarna pink sesuai motif bajunya. Kebiasaan baru Chika setiap Jio menjemputnya pasti dia menanyakan dulu warna baju yang di kenakannya. Tentu saja Jio hanya menebaknya. Anehnya tebakan Jio sering benar jadi Chika juga tidak percaya kalau dia buta warna. Mustahil.


"Apa ada hal yang bisa kau percaya dariku?" Jio sudah mulai geram dengan gerutuan Chika sepanjang jalan.


"Ada, aku percaya kau akan menjagaku."


Apa apaan dia kenapa bersikap manis begitu akukan jadi ....


Jio menghentikan sepeda motornya di rumah temannya. Rumah ini memang menjadi titik kumpul mereka. Baru Arif saja yang datang. Begitulah kebiasaan anak muda jaman sekarang, hanya sebagian saja yang bisa berkomitmen dengan waktu.


Jio membantu Chika melepas helmnya tanpa di minta. Ya jio memang selalu memperlakukan Chika seperti itu. Begitu masuk, Chika terpaku menatap Arif yang senyum senyum karena sangat mengerti kebingungan Chika.


Bukankah dia debtcolektor itu? Mengapa bisa sampai disini?


"Hei kau sedang apa disini, kau membuntutiku? Ya tuhan." Chika menepuk jidatnya tidak percaya.


Arif masih saja tersenyum berlagak tidak perduli. Dia terus bermain rubi yang sudah hampir selesai di susunnya.


"Kau tuli?". Chika mendekat ke Arif lalu duduk di depannya. Menatap lekat lekat orang yang tidak memperdulikannya


Arif menangkat wajahnya menatap Chika.


"Wah tidak sopan sekali, aku bahkan tidak menyuruhmu duduk kan?."


Eh apa ini rumahnya?


Arif menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu. Chika juga jadi bingung mau duduk apa berdiri tapi akhirnya dia duduk pura pura tisak perduli rumah siapa.


"Dimana Jio, tidak mungkin kau kesini sendirian kan? Kau bahkan tidak tahu kan sekarang ada di bagian bumi mana?"


Dia kenal Jio? Siapa bedebah ini.


"Jio? Kau mengenalnya?" Chika menarik rubi itu berharap Arif fokus padanya. Dia sangat penasaran dengan semua ini.


Jio masih di luar memeriksa sepeda motornya agar siap melakukan perjalanan yang cukup jauh seperti rencana mereka. Jio masuk terburu buru karena baru sadar Arif sudah tiba di rumah Anrez melihat motor Arif yang terparkir di luar.


Sial aku lupa Chika membencinya.


"Apa yang kalian bicarakan tanpaku?" Jio menatap tajam Arif, sejak percakapan terakhir bersama Arif, Jio agak ragu dengannya.


"Apa aku mengenalnya? Tentu saja aku sangat kenal 'suamimu'. Apa dia tidak cerita kami berteman sejak dalam kandungan karena kami bertetangga?". Mendekat ke Chika, "aku juga tahu semua rahasianya".


Setelah berbicara hal yang memusingkan Chika, Arif melenggang masuk ke kamar Anrez. Rumah itu adalah rumah Anrez teman Jio. Lalu tinggallah Chika memberi tatapan nanar pada Jio.


"Baiklah baiklah aku mengerti. Sebenarnya ini bukan salahku tapi tentu saja jadi salahku."


Chika mengangkat tangan kirinya menandakan berhenti. "inti, fokus, jangan berbelit belit".


"Ok ok, seperti yang di katakan bedebah itu kami berteman, tapi apapun yang dilakukannya padamu aku tidak pernah memintanya, dia memang punya hobi seperti itu".


Pembelaan macam apa itu, jelas jelas kau tau dia mempermainkan ku.


"Kau marah?". Akhirnya Jio membuka suara.


"Aku tidak punya alasan untuk marah, aku sedang belajar percaya padamu, jangan mengecewakanku", tersenyum menatap Jio.


Jio menatap Chika tak percaya, aku pikir akan lebih rumit, batinnya. Seolah lupa dengan yang terjadi mereka bercengkrama di ruang tamu berdua saja. Setelah perkenalan singkat dengan Chika, Arif dan Anrez sibuk bermain PS di kamar.


Waktu sudah menunjukkan jam 8 pagi yang di tunggu tunggu belum menunjukkan wajahnya. Orang yang ditunggu itu tentu saja Sean dan kekasihnya.


"Ada apa? kenapa menatapku begitu? Oh ya orangtua Anrez gak ada?." tanya Chika seraya mengganti ganti saluran televisi. Tidak ada yang sesuai keinginannya.


"Ya adalah, memangnya dia lahir dari telur". Jio menyandarkan kepalanya di bahu Chika. Chika sedikit terkejut untuk pertama kali di dekati laki laki seperti itu.


Benar juga sih, tapikan bukan begitu maksudku.


Chika tidak bertanya lagi, kesal dengan jawaban yang begitu. Dia terus saja menekan remot televisi mencari saluran yang dia mau. Karena sedikit grogi jadi apapun saluran itu tidak ada yang cocok. Atau sebenarnya dia memang tidak mau menonton. Hanya tidak tahu mau melakukan apa berdua saja dengan laki laki seperti ini.


Terasa Jio tidak bergerak gerak, Chika curiga Jio tidur.


Apa pundakku senyaman ini, tunggu harusnya kan aku yang bersandar. Kau payah Jio.


"Kau tidur?, bukankah semalam kau tidur cepat? kenapa pagi pagi sudah mengantuk begitu?."


Jio masih diam. Beberapa saat kemudian dia bangkit dan dengan sengaja mengecup pipi Chika, lalu berpangku tangan tersenyum menatap Chika.


"Jika ada yang mendengarmu, orang akan berpikir kita tidur bersama semalam."


Apa apaan kau brengsek, aku bukan bayi yang sesuka hatimu kau cium begitu.


Mata Chika masih membola karena panik dan terkejut karena serangan mendadak Jio. Raut wajah itu berubah menjadi kesal setelah beberapa detik. Jio pun menyadari hal itu.


Syukurlah aku hanya mencium pipinya, ayolah Chika kita bukan anak remaja, kau dan aku sama sama orang dewasa kan.


Chika menggeser sedikit duduknya dari Jio, pura pura menonton televisi. Walau Jio mengerti mengapa Chika bersikap begitu dia memilih pura pura tidak tahu juga. Menurutnya itu adalah hal yang wajar wajar saja. Tidak ada yang perlu di bicarakan.


Setelah melewati waktu yang sangat canggung itu akhirnya Sean dan kekasihnya Tia tiba di rumah Anrez. Tidak ada satu pun yang protes atau bertanya mengapa dia terlambat 1 jam dari janji seperti hal itu sudah biasa bagi mereka. Lalu perhatian Chika fokus pada kekasih Sean, Tia. Dia bahkan seperti anak di bawah umur.


"Halo kak Chika, Sean sering cerita soal kakak dan Jio, hari ini kita bersenang senang ya". Tia memegang tangan Chika sok akrab.


Benarkan Tia ini anak di bawah umur. Apa aku ceritakan saja kelakuan Sean di kampus, hehe.


Tia anak yang ramah, dia bisa langsung akrab dengan Chika bahkan seperti sudah kenal sangat lama. Karena karakternya yang manja Tia seperti adik Chika.


Semua sedang bersiap untuk perjalanan ke pantai yang memakan waktu 2 jam dari pusat kota. Jio memakaikan helm pada Chika. Chika masih menghindari bertatapan dengan Jio, tapi Jio malah tersenyum menggodanya. Berbisik di telinga Chika sambil mengancingkan helm itu.


"Tersenyumlah, aku hanya membuktikan ucapan Nala, bau parfummu sangat lembut, aku suka."


Chika diam saja, bingung mau marah atau bagaimana. Bukankah tidak ada yang namanya pacaran tanpa kontak fisik? Lalu bukan saatnya untuk marah kan. Tapi bukan pacaran seperti itu yang Chika mau.


Aku tidak mau ada kontak fisik Jio.