Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Lalat di Sekitar Chika



Sementara Chika yang masih sibuk dengan toko rotinya. Jio sudah sampai di kampus, bersiap menerima pelajaran walau setengah mengantuk menunggu dosen yang tak kunjung hadir. Di temani Sean mereka duduk bersebelahan sambil berbagi camilan layaknya sepasang kekasih. Sean sesekali menyuapi Jio yang sibuk berkirim pesan dengan Chika.


Jio merasa risih di kelas itu karena Lita terus memperhatikannya. Sean yang menyadari situasi itu malah melambai ke arah Lita tersenyum sok manis. Lita melengos melihatnya.


Lita mantan kekasih Jio yang masih belum move on. Mereka berpacaran sejak SMA, bisa di bilang Lita cinta pertama Jio. Lita adalah seorang model, tinggi, cantik, sexi, sangat serasi dengan Jio. Sewaktu pacaran, Jio sangat menyayanginya tapi semua berubah sejak negara api menyerang, haha. Maaf. Mereka putus karena Jio selingkuh. Anehnya Lita masih saja menginginkan Jio.


Nala sahabat Chika juga sekarang berada di kelas yang sama dengan Jio. Karena lemotnya dia tidak mengenali wajah tampan Jio, lupa bahkan seperti tidak pernah bertemu sebelumnya. Jio duduk di belakangnya pun dia tidak menyadarinya. Sean kesal sampai ke ubun ubun karena sudah sok akrab malah dicueki Nala.


Siapa lelaki hitam ini seperti sudah mengenalku saja, sok akrab, pasti mau minta contekan, lebih baik aku abaikan saja.


Ada apa dengan temanmu, menyebalkan.


Kalian satu kelas dengan Nala? Harap maklum dia sudah seperti nenek tua di panti jompo, nanti dia pasti menyadarinya tunggu saja. Chika


Kelas itu sudah selesai, dosen sudah meninggalkan kelas itu, beberapa mahasiswa sudah meninggalkan kelas termasuk Jio dan Sean yang sudah berjalan ke arah pintu.


"Jio, oh kamu pacarnya Chika ya? maaf ya aku baru ingat", sapa Nala menarik sedikit kemeja Jio agar dia menoleh.


"Syukurlah kamu sudah ingat, aku pikir sampai semester ini habis baru ingat."


Mereka berjalan beriringan keluar kelas bersama. Nala hampir setengah berteriak ketika menyapa Jio tadi. Pembicaraan mereka bahkan terdengar seisi kelas. Lita yang menyadari nya bergumam sendiri.


Siapa Chika? Aku bahkan tidak pernah mrndengar namanya. Jio pacar Chika? Benarkah?? Lucu sekali.


"Jio aku tidak mengenal seorangpun, boleh aku makan dengan kalian?", tanya Nala sedikit memelas karena Nala agak kesulitan bergaul dia susah memulai berteman dengan orang baru.


Jio sedikit kasian dengan Nala, memang wajahnya sangat menyedihkan. Sean memberi kode keras tidak boleh karena dia masih kesal kejadian tadi. "Baiklah Nala ayo makan siang bersama, aku traktir, sebagai gantinya ceritakan padaku sesuatu".


"Sepakat, kalau cuma bercerita aku pandai, asal jalan disuruh membaca flowchart saja, sangat memusingkan."


Mereka sudah sampai di restoran dekat kampus. Tidak terlalu ramai seperti biasanya. Selesai makan Jio mulai menanyai Nala.


"Jadi ceritakan padaku tentang lalat di sekitar Chika!"


Nala menelan suapan terakhirnya, menepikan piringnya, melap mulutnya lalu merapikan jilbabnya.


"Aku pikir tadi kamu akan memintaku bercerita soal apa, ternyata tentang lalat. Jio tidak ada lalat di sekitar Chika, dia rajin mandi dan selalu memakai parfum, aku bahkan sangat suka satu wangi parfumnya sangat lembut ", keluhnya masih merapikan jilbabnya yang tidak berantakan.


Sean sedaritadi memainkan ponselnya malah menggerutu mendengar ucapan Nala. Dengan setengah berbisik dia mendekati Jio. "Jio dia ini cewek lemot, langsung saja tanyakan yang kau mau, dia tidak akan mengerti kiasan seperti itu. Aku tidak mengerti kenapa Chika berteman dengannya."


"Hei Jio, kau jangan sampai mempermainkan Chika, dia selalu saja dipermainkan aku tidak tega melihatnya, kemarin Juan, lalu Ofi. Kau, apa Chika satu satunya untukmu?", tanya Nala dengan sangat serius. Dia bahkan memplototi Jio seperti seorang Ibu yang memarahi anaknya.


"Nenek tua, jangan bicara omong kosong, Jio ini tidak akan menyakiti wanita tanpa alasan", tegas Sean menggantikan Jio. Jio hanya diam saja. Kenyataannya memang dia menyakiti wanita, Chika belum saatnya tahu pikirnya.


"Jika Ofi lelaki brengsek, lalu siapa Doni?", tanya Jio


"Aku hitam? kau buta ini bukan hitam, kulit mulusku ini sawo matang, pergilah perbaiki kacamatamu nenek tua", Sean sudah emosi menghadapi Nala. Nala juga tidak lagi menanggapi dia sibuk mengutak ngatik ponselnya.


Di tengah heningnya mereka Doni datang menghampiri. "Nala sedang apa? kau bersama siapa?".


Nala menoleh ke arah suara yang memanggil namanya, "Do." Nala hampir menyebutkan nama Doni, dia buru buru menutup mulutnya sambil melirik Jio yang sedang menatapnya kesal. Sayangnya bahasa tubuh Nala sudah di mengerti oleh Jio bahwa lelaki itu adalah Doni


Aku tidak akan memberitahu mereka siapa Doni lihat saja biar saja mati penasaran, beraninya mengataiku nenek tua.


"Jio aku duluan ya, ternyata ada orang yang ku kenal, Doni". Hening. Nala yang keceplosan memukul mukul mulutnya.


Ah kenapa aku mengatakannya.


Sean memperhatikan Nala sambil tertawa, dia bergumam "gadis ini sangat aneh", sayangnya gumaman itu terdengar jelas di telinga Nala. Tanpa bicara Nala menatapnya tajam. Sean tidak menghiraukan tatapan itu, dia terus tertawa lirih.


"Terimakasih Jio, aku duluan."


Nala menarik tangan Doni untuk pergi dari sana, tapi Doni menepisnya.


"Sebentar aku belum membayar makananku."


Doni meninggalkan Nala menuju kasir. Nala serba salah di tatap Jio lalu membuka mulutnya tanpa di minta.


"Baiklah, Doni teman sekelas kami, sebenarnya aku dan Doni teman SMA. Doni sangat perhatian pada Chika sejak pertama berkenalan, mungkin dia menyukainya. Tapi tenang saja Jio, kata Chika dia tidak suka laki laki berambut gondrong, sangat aneh jika harus bertukar ikat rambut dengan pasangan", jelas Nala sedikit berbisik takut terdengar Doni.


Mendengar penjelasan Nala raut wajah Jio berubah, ternyata ada seekor lalat yang harus di waspadainya. Berdasarkan cerita Nala, Chika sudah tahu perasaan Doni. Mungkin saja suatu hari Chika akan mengabaikan masalah rambutnya.


Ada apa denganku, apa aku sungguh sangat sangat menyukainya?


Doni dan Nala meninggalkan Jio. Doni yang tidak mengerti situasinya hanya diam saja, dia bahkan tidak bertanya apapun pada Nala, hanya sedikit tersenyum melihat Jio dan Sean.


"Apa kau sangat menyukai Chika, aku pikir kau hanya main main dengannya seperti gadis gadis kemarin. Tapi jangan putus terlalu cepat, Chika sangat keren jadi teman duet ketika karaoke, nanti kita harus pergi lagi, ok."


Tawaran Sean seperti angin lalu di telinga Jio. Yang di katakan Sean memang benar, Jio selalu mengencani gadis gadis selama 3 bulan lalu putus. Kata Jio mereka membosankan, mereka selalu menuruti Jio karena takut diputuskan. Sementara Chika, Chika tidak pernah mau menuruti Jio selalu melakukan sebaliknya. Melihat Jio yang diam saja Sean mengoceh lagi.


"Tapi aku sungguh tidak menyukai teman Chika, entah bagaimana Chika menghadapi nenek tua itu setiap hari, berfikir sangat lambat dan bodoh".


"Berhenti mengatai seorang gadis, semakin kau mengatainya kau akan sering memikirkannya lalu jatuh cinta dan".


"Stop. Itu tidak akan terjadi Jio, dia akan jadi pilihan ke 1.649 di hidupku, jadi berhenti sampai disitu". Sean masih membekap mulut Jio. Jio menepis kasar tangan Sean.


"Tanganmu sangat bau, menjauh dariku", Jio berdiri meninggalkan Sean yang mulai mencium tangannya.


"Bau apa?". Hooeekk.