
Chika memperoleh IPK yang baik di semester 1. Di semester 2 Chika sudah punya beberapa teman selain Tania. Tania sudah jarang main dengan Chika, begitu saja tanpa alasan. Hubungan pertemanan tidak selalu harus berakhir dengan alasan, kadang memang sudah harus selesai, itu saja.
Siang itu Chika dan Nala sedang di kantin. Nala teman baik Chika sekarang, dia tomboi tidak dia sangat tomboi selalu pakai sepatu cowok baju oversize dan jeans. Dress atau daster gak ada di lemarinya, Chika sudah cek sendiri.
"La, aku ke perpus sebentar ngembaliin buku ini."
"Oke, sekalian punya aku ya."
Perpustakaan
"Terimakasih pak."
Chika sudah mengembalikan buku dan ingin berbalik ke kantin, di tangga dia berpapasan dengan seorang lelaki yang tampan. Chika berkhayal seperti di novel yang mana dia bertabrakan dengan lelaki tampan akhirnya berkenalan dan berakhir pacaran. Ini bukan novel Chika. Chika tersenyum memandang lelaki itu, dan yang di pandang hanya berlalu melewatinya.
Wah ganteng, ya Tuhan bantu aku untuk berkenalan dengannya kalau bisa jadi pacarku.
Doa yang sangat tidak tahu diri.
Kembali ke kantin
"Lha bukannya buat tugas malah makan."
"Ini kan kantin Chika, bukan perpus, kalau lapar ya makan, aku kalau lapar gak bisa konsen."
"Lapar gak lapar sama aja kamu La, tulalit.
Udahlah ke kosan aku aja yuk."
"Eh Chika aku lupa bilang, Icha ngajak barbeque di rumah dia besok, ikut yuk biar ada acara malam minggu gak ngenes banget jomblonya."
"Iya, dia juga udah bilang aku, besok bareng deh kerumah dia. Aku gak tahu rumahnya."
Chika dan Nala sudah sampai di kosan. Begitu sampai atas dan rebahan terdengar teriakan dari ibu kos.
"CHIKAAAAA, kamu bawa cowok ke kosan??"
Mati aku pasti sepatu Nala.
Secepat kilat Chika berlari ke lantai 1
"Bu itu sepatu teman saya."
"Teman kamu yang mana, gak boleh bawak cowok ke kamar, suruh dia turun sekarang, kamu mau saya telfon orangtuamu??"
Nala menyusul Chika ke bawah
"Saya bu temannya, hehe itu sepatu saya bu, saya perempuan gayanya aja yang cowok."
"Ya Allah, anak jaman sekarang perawan kok kayak lakik, ya sudah."
"Tu kan, aku sudah pernah bilang sepatumu berbahaya."
Besoknya Nala dan Chika ke rumah Icha. Mereka sudah sampai di stasiun. Chika terlihat sangat mengantuk akibat semalam keasyikan bermain game. Dia lupa kalau hari ini ke rumah Icha. Niatnya mau tidur siang dengan nyenyak malah di seret Nala ke stasiun kereta api. Tapi tidak apa apa Chika memang sangat ingin naik kereta api karena tidak ada di kampungnya. Chika sangat bersemangat melangkah membeli tiket kereta menuju kota rumah Icha. Sebenarnya perjalanan kereta itu hanya 20 menit, bagi Chika itu cukup untuk merasakan bagaimana naik kereta api.
Aku sungguh tidak sabaar aaaa
Sepanjang perjalanan Nala terus saja mewanti wanti Chika "jangan norak, malu!", begitu pesannya. Mereka sudah duduk di gerbong kereta api berdasarkan tiket mereka. Chika duduk di tepi jendela menikmati perjalanan singkat mereka. Icha akan menjemput mereka di stasiun begitu tiba. "La, kok goyang goyang?". Nala menoleh ke Chika dan terlihat sangat kesal. Chika sudah berulang kali bertanya ini apa itu apa hingga tatapan kesal saja yang menjadi jawabannya. Norak katanya di dalam hati. Nala memperhatikan sekitar berharap bertemu lelaki tampan, dia sudah tidak tahan dengan kejombloannya.
"Kenapa di gerbong ini tidak ada lelaki, jangankan lelaki tampan, isinya hanya ibu ibu dan anak anak, hah harusnya kita di gerbong yang lain ya kan?", keluh Nala kesal.
Berharap ada tanggapan dari gadis di sebelahnya dia menoleh. Semakin kesal mendapati Chika sudah tertidur pulas bersandar ke dinding, kepalanya bahkan berulang kali terbentur karena goncangan dan dia bahkan tidak merasakannya. "Dasar".
Sepuluh menit lagi mereka akan sampai di stasiun tujuan mereka. Icha sudah mengabari Nala kalau dia tidak bisa menjemput karena menemani Ibunya belanja di pasar.
"Baiklah ini bukan kali pwrtama aku ke rumah Icha kan, ayo !".
"Kau bilang kau jarang ke rumahnya sejak kelas 3 SMA, benar kau masih ingat? Aku benar benar ragu."
Awas saja kalau sampai salah alamat, ku patahkan kacamatamu itu.
Mau tidak mau Chika menuruti Nala, mereka naik kendaraan umum yang melewati rumah Icha.
"Chika rumahnya berwarna pink, kau lihat saja rumah yang pink berpagar kayu".
"Bagaimana kalau sudah di ganti cat?".
Iya juga ya mati aku.
Nala tidak menjawabnya dan mulai panik. Sungguh gadis ini sangat ceroboh. Nala berulangkali menelpon Icha tapi tidak ada jawaban. Chika melihat rumah seperti yang dideskripsikan Nala, meminta supir angkot itu menepi lalu mereka turun.
"Benar ini rumahnya kok seperti rumah kosong?".
Nala terlihat sangat yakin. Benar benar yakin. Dia ngetuk pintu rumah itu berulangkali tapi tidak ada jawaban.
"Mungkin Icha belum pulang dari pasar, kita tunggu saja."
Sebenarnya Chika sudah sangat kesal dengan cerita salah alamat ini, tapi memang tidak ada yang bisa di lakukannya selain bersabar dan menunggu.
Sudah setengah jam berlalu, mereka duduk di tepi teras rumah itu berteduh dari panasnya matahari. Akhirnya Icha menjawab panggilan ponselnya.
"Rumahku sudah di renovasi Nala, aduh kau harusnya bilang saja kalau tidak tahu."
Icha sangat kesal dengan Nala yang sok tahu. Setelah memberikan lokasi mereka, Icha mengirim Tobi yang baru tiba di rumahnya untuk menjemput mereka.
Sepuluh menit berlalu Chika dan Nala sudah berada semobil dengan Tobi. Tetapi ada orang lain di mobil itu, teman Tobi. Lelaki itu berulangkali ketahuan melirik Chika lewat spion. Chika tersenyum kaku.
Sebentar sebentar, wajahnya tidak asing aku pernah melihatnya. Chika
Nala sibuk merapikan jilbabnya yang tidak berantakan, berharap laki laki itu meliriknya. Tapi tidak, dia hanya berfokus pada Chika.
Harusnya aku berteman dengan orang jelek saja.
Tobi yang menyadari adegan curi curi pandang itu mulai membuka mulutnya setibanya mereka di rumah Icha. Icha sudah menunggu di halaman depan.
"Ah Fi, ini Chika dan Nala. Ini Ofi dia satu fakultas dengan kita, 1 angkatan juga".
Perkenalan itu di akhiri dengan Icha yang heboh menghampiri teman temannya.
"Aku hampir saja lapor polisi". Memeluk mereka berdua lalu mengomeli Nala. Chika sedari tadi masih berusaha mengingat dimana dia bertemu Ofi.
Ya, dia yang di perpus kemarin. Ya Tuhan secepat ini doaku terkabul.
Mereka melewati malam itu dengan ceria, bakar ayam, jagung apa saja yang bisa di bakar. Ofi yang menyadari Chika yang merespon rayuannya pun mulai mendekatinya.
"Apa kita pernah ketemu? Kok kayak pernah lihat?"
"Fi, fi mulai deh kamu modus."
Semua tertawa, Chika hanya senyum malu malu, sementara Nala, makan, makan terus.
Chika dan Ofi duduk berdua mengobrol hal hal yang sebenarnya tidak penting. Mereka bertukar nomor ponsel, Ofi menceritakan banyal hal. Lalu ekspresi Chika terlihat berubah saat Ofi mengajaknya berenang di akhir pekan depan.
Kenapa harus berenang, bukankah kencan pertama itu harusnya jalan jalan dulu?
Aturan kencan yang di buat Chika sangat bertabrakan dengan ajakan Ofi membuatnya bimbang menjawabnya. Melihat Chika diam saja Ofi menjelaskan lagi.
"Hayo mikir apa? kita kan pergi bersama Icha dan Tobi juga, kalau Nala mau ikut juga boleh kok makin ramai makan seru".
Chika malu sendiri dengan pedenya menganggap itu kencan nyatanya pergi ramai ramai.
Tuhan ayoo kabulkan doaku.