Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Calon Selingkuhan



Akhir pekan yang di tunggu Chika pun datang. Nala setiap hari memberi peringatan Ofi cowok brengsek, tapi Chika tidak percaya karena yang dia rasakan Ofi begitu baik, perhatian, selalu ada buat dia, sebenarnya baru seminggu ini sih.


Sejauh ini gak ada kok tanda tanda brengseknya, dia juga sopan, Nala nya aja yang super duper sensitif.


Jiwa yang sedang jatuh cinta membantah sekuat hati. Perkataan Nala memang tanpa bukti, Nala juga tidak pernah terlibat hubungan asmara dengan laki laki. Jadi untuk apa percaya Nala. Jalani saja yang di depan mata.


"Ofi pulang sebelum jam 10 ya, kalau gak pulang ibu telfon orangtua Chika."


Ibu kos sangat tegas dengan ucapannya, sorot matanya pun penuh selidik. Meski sudah bertemu beberapa kali saat mengantar Chika pulang entah kenapa ibu kos tetap tidak ramah.


Perjalanan itu hanya memakan waktu 45 menit. Mereka bertemu Icha dan Tobi di lobi hotel tempat mereka akan berenang. Nala tidak mau ikut karena tidak suka Ofi dan tidak mau jadi obat nyamuk. Walaupun Chika belum jadian tetap saja mereka terlihat seperti pasangan. Dia lebih memilih pacaran dengan laptopnya.


Ogaaaah. Nala


Ofi memperlakukan Chika dengan romantis. Suap suapan, membantu membawakan tas, Chika sangat menikmati perlakuan Ofi itu. Tidak pernah berniat bertanya soal perasaan mereka.


Toh aku sudah merasa di cintai.


Sudah sebulan berlalu dari pertemuan pertama mereka, Chika dan Ofi semakin dekat mulai dari jalan bareng, nonton, double date dengan Icha dan Tobi, dan nonton Ofi main futsal. Kuliah Chika sekarang tidak lagi hanya mahasiswa "kupu kupu" alis kuliah pulang, pulang kuliah sudah ada Ofi yang menunggunya, ntah itu ajak makan atau nonton.


Hari ini Chika terlihat murung karena orang yang di nanti nantikannya tidak ada kabar bak hilang di telan bumi. Chika mengikuti kelas tanpa mendengarkan apapun yang di katakan dosennya sampai mata kuliah itu berakhir. Dia hanya sibuk memperhatikan notifikasi ponselnya.


Nala bolos hari ini karena ikut menghadiri wisuda saudaranya. Bertambah sudah kesunyian Chika. Saat lewat dari kantin, Chika bertemu Icha.


"Chika, Ofi ulangtahun lho."


"Hari ini??"


"Kamu gak buat sesuatu apa gitu Ka??"


Pertanyaan Icha membuat Chika bingung mau bagaimana, nyatanya Ofi tidak ada menanyakan perasaan Chika, mereka hanya seperti teman dekat tanpa status. Hari ini juga Ofi tidak ada menghubungi Chika. Tidak jemput juga.


Chika tidak merespon apapun ucapan Icha. Bingung harus bagaimana. Tawaran Doni yang ingin mengantarnya juga tidak dijawab. Chika pulang membawa kebingungannya.


Di kosan


"Evi gak kuliah? "


"Ganti jadwal, kamu tumben cepat pulang?"


"Ya, Ofi gak jemput, dia ulang tahun hari ni, dia juga gak ada kabar."


"Ka, apa dia lagi buat persiapan nembak kamu?"


"Lho kan yang ulangtahun dia. Kok aku yang dapat surprice."


"Ya biar seru aja gitu tanggal jadiannya ulangtahun dia."


"Ngarang."


Kalau mau kasih surprice berlebihan gak ya, apa kasih ucapan selamat aja, atau mau kasi kado, kado apa ya.


Di tengah kebingungan ponsel Chika berdering


"Ka, kami jemput ya kita ke lapangan futsal ketemu Ofi, tapi kamu nebeng Doni aku gak bawa mobil."


Lapangan Futsal


Itu kan motor Ofi, dia disini. Apa bener ya yang Evi bilang tadi. Aaaaaa


"Lain kali cari gebetan jangan yang brengsek kayak gitu".


Apa maksudnya hei yang jelas dong.


"Apasih, kamu cemburu yaa? suka aku ya?".


Di goda seperti itu Doni hanya menunjukkan tatapan jijik.


"Kalau diingat ingat lagi kamu yang pertama nyapa aku di kelas. Aku jadi akrab sama Nala juga karena kamu sering ajak aku gabung. Trus kamu selalu ada waktu kalau aku minta tolong walau kondisinya gak mungkin buat nolong, emm trus". Mengingat ngingat momen manis bersama Doni.


"Kamu tu kepedean tahu gak? aku selalu ajak karena ngenes sendirian gak punya teman, mau nolong juga karena kamu gak punya siapa siapa kan di kota ini, yaudah sih besok besok jangan telpon aku lagi."


Doni merajuk, bagaimanapun Chika merayunya dia tetap kekeh serius menatap ponselnya.


Ya sudahlah tujuanku datang kesini kan Ofi bersetan dengan si gondrong Doni, cih.


Chika melihat Ofi tengah main fulsal, Ofi punya wajah yang ganteng hidung mancung dan bibir merah mungil. Ok lah untuk pameran pacar. Ketika Chika masuk sebagian teman Ofi melihat ke Chika. Ofi juga menatap Chika dan tersenyum. Chika hanya menunduk di tatap bersamaan begitu. Mukanya merah padam. Teman teman Ofi bersorak ramai.


"Jangan panik Fi."


Apa benar yaa aaaa gak sabar, dimana surprice nya gak ada bau bau nya. Icha mana, tanya Icha ah.


Icha sedang berbincang dengan seorang gadis di pojok. Entah siapa gadis itu, tapi Icha terlihat akrab dengannya. Ofi sudah selesai main, dia keluar dari lapangan dan berjalan ke arah gadis yang di pojok tadi.


Apa ini, sedang apa gadis itu, ngelapin keringat Ofi, kasih minum, tunggu yang dia pegang itu kan tas Ofi.


"Itu ceweknya lah, jangan terlalu di liatin biasa aja nanti kamu jadi bahan tertawaan teman temannya."


Nasihat Doni yang duduk di sebelah Chika memang masuk akal, tapi Chika gak bisa menyembunyikan perasaannya, dia kecewa, tertunduk dan malu.


Oh itu pacarnya dan aku gebetannya. Semua orang disini tahu. Manis sekali. Icha sudah tahu kenapa seperti mendukung aku sama Ofi ya, Tobi juga. Untung ada Doni jadi aku gak terlalu mengenaskan. Ofi berjalan ke arah sini aku harus gimana??


"Eh Chika, sama Doni ya."


"Iya Fi."


Aktingku payah banget mau senyum juga gak bisa. Ini si Ofi gak ada perasaan bersalah apa. Gadis itu kenapa ya ngeliatin aku terus tatapannya juga buat sakit kepala, tajam. Aku juga gak mau tahu jadi selingkuhan.


"Chika tadi ikut karena aku yang maksa kok, kalau gak juga dia tadi udah pulang."


"Oo gitu Don, nanti antar Chika pulang ya."


"Ya iyalah kamu antar pacar kamu aja."


Doni ini kenapa kok malah dia yang marah ya, ya memang Ofi brengsek sih. Pengen pulang.


Ofi sudah pulang duluan karena situasinya juga sudah serbasalah. Chika juga gak bicara dari tadi cuma senyum terpaksa, dia ingin cepat pulang tapi Doni gak mau karena akan terlihat dia terluka.


"Makasi tadi sudah bohong kamu yang maksa aku Don. Icha kenapa gak ngasih tahu sih, apa aku yang kepedean ya Don."


"Icha emang gitu, gak peduli perasaan orang sekitar, yang penting dia ada teman kemana mana double date, kamu nya aja yang gak nyadar."


"Ya aku manatahu Ofi brengsek, keliatannya juga baik. Doni, cantik mana aku sama pacarnya?"


"Kamu."