Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Berubah Pikiran



Jio mendesah menahan amarahnya. Bagaimanapun dia mencintai gadis dihadapannya, tidak bisa memaksa gadis itu menuruti keinginannya.


"Baiklah ayo lakukan saat kau siap."


Jio duduk bersandar di ranjang dengan dada yang terbuka. menatap punggung Chika yang tisak tertutup selimut. Chika menekuk kakinya, tangannya memegang selimut dengan erat agar tidak memperlihatkan tubuhnya. Tidak berani menatap Jio di belakangnya.


Aku harus mengatakannya sekarang.


"Maafkan aku Jio, aku rasa aku tidak bisa melakukannya jika kita belum menikah."


Apa!


Jio sedikit terkejut mendengarnya. Alisnya berkerut dan sorot matanya tajam menatap Chika.


Hening, Jio tidak merespon. Sepertinya dia masih menunggu Chika menyelesaikan penjelasannya. Chika berbalik badan sambil menarik narik selimut itu. Memberanikan diri menatap Jio.


Dia berusaha meyakinkan Jio bahwa banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk mempertahanlan hubungan, lagipula melakukan hubungan terlarang ini juga tidak menjamin hubungan mereka akan terus berlanjut.


"Setidaknya itu bisa menahanmu untuk tidak tergoda dengan laki laki lain."


Jio menyampaikan semua keresahan hatinya, bagaimana dia takut Chika akan bertemu lelaki yang lebih baik dari dirinya dan meninggalkannya. Tapi tentu saja dia tidak mengatakan taruhannya dengan Lita.


Aku tidak salah dengar? Hei Jio harusnya aku yang khawatie seperti itu, kau tidak tahu ya kau itu laki laki idaman hampir semua wanita?. Sungguh tidak masuk akal.


Chika mengerti kekhawatiran yang dirasakan Jio juga merasa sedikit aneh, namun tidak mengubah pendiriannya. Dia sangat bersyukur Jio sangat mencintainya seperti itu. Lagi lagi, cinta pun tidak bisa mengubah apa yang susah dikatakannya.


"Maafkan aku Jio, kecemasanmu bukan alasan kita melakukannya, aku juga mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu dengan alasan bodoh."


Chika mendekat meraih tangan Jio. Menatap matanya dalam.


"Aku berjanji aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Bagaimana jika kita melakukannya karena aku menginginkannya."


Aku harus mendapatkanmu Chika. Walau harus memaksamu sedikit.


Masih tetap berusaha mendapatkan tujuannya. Jio mulai mendekat dan berusaha menindih Chika lagi. Mulai menelusuri bagian leher Chika dengan bibirnya.


Tubuh Chika merespon dengan baik semua perlakuan Jio. Meremang seakan menikmati semua sentuhan itu.


Ya aku bisa menoleransi sebatas ini walau ini salah.


Chika sudah yakin Jio mengerti maksudnya yang mengizinkan Jio tapi tidak melewati batasan yang dia berikan.


Tidak, apa apaan tangannya ini.


Saat sibuk menikmati ciuman Jio, Chika tidak menyadari tangan Jio sudah menelusup kebagian sensitifnya. Seketika dia mengakhiri semuanya. Ada kemarahan disorot matanya. Kesal mengapa laki laki ini tidak mengerti juga. Mengapa setelah lelah menjelaskan, semuanya kembali lagi ke awal. Sia sia.


Jio terkejut Chika marah, sesaat tadi Chika merespon semuanya dengan baik dan menikmatinya. Apa itu bukan sebuah izin?.


"Cukup, aku sudah katakan aku tidak bisa melakukannya sampai sejauh, lalu kenapa?", suaranya sedikit meninggi.


"Aku pikir kau berubah pikiran". Jio juga sudah mulai kesal mendapat 3 kali penolakan.


"Jika kau sungguh ingin melakukannya lakukan dengan wanita lain, jangan memaksaku", Chika memungut semua pakaiannya dan berlalu ke kamar mandi.


Jio terdiam di tempat tidur. Berpikir untuk menarik paksa Chika saja. ***** juga sudah memperkeruh pikirannya. Dia berjalan mendekat pintu kamar mandi. Melakukannya dikamar mandi juga seru begitu pikirnya. Ponsel Jio berdering menunda niatnya. Sebuah pesan dari Sean.


Apa sudah selesai? Arif sudah kembali. Cepatlah aku akan menahannya sebentar.


Dengan sangat kesal, Jio kembali ke ranjang dan memunguti pakaiannya. Saat bersamaan Chika keluar dari kamar mandi. Diliriknya Jio yang sedang memakai pakaiannya juga merapikan sprei yang berantakan karena ulah mereka.


"Pergilah lebih dulu, mereka sudah kembali."


Jio berkata tanpa melihat Chika. Ya dia memang marah, marah karena niatnya tidak berjalan mulus.


Chika tidak mengatakan apapun. Dia berjalan kearah pintu untuk keluar.


Alangkah terkejutnya Chika mendapati Arif di balik pintu. Dia bergegas menutup pintu kamar agar Arif tidak melihat Jio yang sedang merapikan ranjang. Hampir saja dia mengetuk kening Chika seolah itu pintu, bagaimana tidak Arif sibuk dengan ponselnya.


Mereka sama sama terkejut. Saling menyebutkan nama orang yang dihadapan mereka. Lalu memperhatikan penampilan masing masing.


Pakaian Arif basah kuyup seakan ada hujan badai diluar sana. Dia juga terlihat kedinginan. Wajahnya masih tampan, tetap tersenyum walau tersisa kemarahan disudut matanya.


Arif memperhatikan Chika yang sibuk menutupi lehernya, dia terus saja mengusap lehernya bergantian kearah kiri dan kanan. Wajahnya juga kecut seolah kesal dengan sesuatu. Pikiran Arif melayang kemana mana melihat kondisi Chika. Hingga dia melihat tanda merah yang sedari tadi disembunyikan Chika di lehernya. Alisnya sedikit terangkat lalu dia tersenyum.


Ah jadi karena ini Sean memaksaku berenang tadi. Pantas saja dia sangat bernafsu denganku sedangkan kekasihnya ada bersamanya.


"Emm apa diluar hujan?."


"Tidak, diluar sangat cerah bahkan ada banyak bintang dilangit", tersenyum cerah.


"Lalu", menunjuk baju basah.


"Ya ini ulah penjahat hitam yang berada dikolam renang itu, kau mengenalnya? Aku sangat membencinya", kesempatan meluapkan emosinya.


Chika mengingat Sean yang mengenakan celana renangnya tadi. Lalu dia menggeleng pada Arif berpura pura tidak mengenal orang yang dimaksud.


"Sedang apa disana?", menunjuk kearah pintu kamar. Chika yang hendak berlalu berhenti. Dia mengatakan Jio sedang beristirahat kareba tidak enak badan.


Arif tersenyum kecut mendengar jawaban itu. Sebenarnya bukan orang itu yang ditanyakannya tapi orang yang dihadapannya.


Ya aku mengharapkan apa, tidak mungkin dijelaskannya sedang apa tadi di dalam.


Chika berlalu setelah Arif menangguk dan masuk. Dia bergegas kembali kekamar para wanita. Berharap tidak ada orang dikamar itu agar dia bisa memoles make up untuk menyembunyikan tanda menyebalkan ini.


Bagus tidak ada orang.


Diraihnya peralatan make upnya dilemari dan berjalan menuju kamar mandi. Akan lebih aman memolesnya didalam sana.


Chika mulai melepas pakaiannya, dia mengamati tubuhnya didepan cermin. Ada beberapa tanda yang ditinggalkan Jio disana. Dia menyentuh tanda itu dan terbayang kembali hal yabg mereka lakukan tadi. Sungguh menghanyutkan.


Syukurlah aku bisa menolaknya. Aku tidak bisa menyerahkan hidupku begitu saja. Tidak ada yang pasti dalam hidup ini. Semua orang selalu bisa berubah pikiran, bahkan dalam hitungan detik. Jika kau takut aku meninggalkanmu aku juga begitu Jio, bagaimana jika hatimu berubah setelah kita melakukannya?


Chika masih menatap dirinya di dalam cermin. Meyakinkan dirinya yang dilakukannya sudah benar. Lalu teringat kembali ucapannya tadi. Kalimatnya yang mengijinkan Jio melakukannya dengan wanita lain.


Bagaimana jika dia melakukannya? Apa aku akan baik baik saja?.


Chika mendesah, tidak sanggup membayangkan jika hal itu terjadi.


"Ya bukankah dia tidak bercinta dengan sembarang wanita seperti ucapannya?", berbicara sendiri dan mulai memoles tubuhnya.


Tok tok tok.


"Chika, kau disana? Ayo cepat! Sebentar lagi pergantian tahun."