Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Tidak Hari Ini



Semua laki laki dari rombongan itu tengah berenang di bawah teriknya matahari. Mereka berenang saat matahari sangat terik. Kulit putih Jio bahkan berubah menjadi merah karena tersengat matahari. Chika dan Tia memilih duduk di kursi santai tepat di bawah pohon. Mereka tertawa mencemooh Sean yang akan semakin hitam karena kulitnya bertambah gosong.


"Kak Chika kok melamun, sedang memikirkan apa di suasana begini?". Tia sudah memperhatikan Chika yang sering terdiam sejak dari perjalanan tadi.


"Tidak ada, aku hanya menikmati pemandangannya saja." Chika bersandar di kursi santai itu. Mengenalan kacamata dan topi bundar membuatnya terbebas dari silau matahari.


"Kak Chika apa Sean menggoda gadis gadis di kampusnya?"


Alis Chika sedikit terangkat mendengarnya. Sepertinya Tia sudah sangat paham bagaimana tingkah Sean di luar sana.


Baiklah Sean karena kau baik padaku, akan ku jaga rahasiamu.


"Kau mau jawaban yang seperti apa?".


"Cih sudah ku duga dia pasti melakukannya", mendengar jawaban Chika yang ambigu Tia malah bersandar di kursinya. Tidak ada mimik wajah marah sama sekali.


"Kau tidak marah? maksudku dia sudah berniat selingkuh di belakangmu?". Ups Chika sudah mengingkari perkataannya pada Sean. Dia malah memercikkan api pada Tia.


Tia menghela nafas dan menghembuskannya dengan tenang, berbantal tangan dia bersandar dan memejamkan matanya.


"Kak Chika kami sudah 5 tahun berpacaran, apapun yang di lakukannya di luar sana dia akan selalu kembali kepadaku."


Itu bahkan sangat tidak masuk akal, bukankah dia kembali karena tidak mendapatkan yang lebih baik darimu, lalu jika dia dapatkan apa dia kembali?


"Lalu apa kau juga melakukan hal yang sama?".


Tia menatap Chika " tentu saja tidak kak, aku kan setia". Berlagak sok keren.


"Itu kan tidak adil".


"Tidak ada keadilan dalam masalah cinta kak, aku hanya merasa jika tanpa dia hidupku tidak bahagia, dia juga seperti itu."


Filosofi macam apa itu, bocah ini berlagak dewasa tapi jadinya malah aneh.


"Selama aku tahu dia tidak melakukan apapun dengan gadis itu aku baik baik saja, karena itu berarti dia hanya milikku hanya aku yang bisa menyentuhnya."


Maksudnya kontak fisik ya, ya sekarang baru masuk akal.


"Kalian sudah seperti suami istri saja, hei ingatlah kau masih SMA. Eh tidak maksudku apa kalian sudah melakukannya?"


"Ya kami memang sudah melakukannya, itulah yang membuatnya selalu kembali kepadaku."


Duaar seperti petir di siang hari. Chika baru sadar dia sudah masuk ke pergaulan seperti apa sekarang. Apa di antara pria pria itu tidak ada yang masih perjaka. Mengerikan.


"Kenapa kak Chika pucat begitu? Memangnya kak Jio hanya memandangi bibir mungil itu selama 2 bulan?".


Hei itu sudah privasi, berhenti bertanya bocah tidak perawan.


Melihat Chika yang membisu, Tia sudah mendapatkan jawabannya.


"Cih kak Jio hebat juga. Sean bahkan sudah menciumku di hari pertama dia menjadi pacarku."


Di hari pertama, itu berarti dia sudah berciuman sejak SMP.


Chika kembali bersandar di kursinya, sementara Tia sibuk berselfi ria di tepi pantai. Berfikir keras apa yang harus di lakukannya pada Jio. Dia tidak mau berakhir seperti Tia, tapi dia juga sudah merasa nyaman dengan Jio. Hari ini dia bahkan mencium pipiku tanpa izin, lalu apa yang akan di lakukannya besok.


Separuh hati Chika seperti ingin membenarkan apa yang dilakukannya, hanya ciuman tidak masalahkan. Bahkan tidak ada bekasnya. Lebih dari itu pun tidak ada yang tahu, lihat saja Tia. Itu sudah hal yang lumrah jika hidup di kota besar seperti ini, berbeda dengan kota kecilku.


Aku hanya perlu membicarakan batasan kontak fisik itu pada Jio kan.


Di tengah lamunan Chika, seorang lelaki hanya menggunakan celana pantai dengan tubuh yang basah sudah berdiri di sebelah Chika memperhatikannya sejak tadi.


Jio dan yang lain sudah kembali dan berpakaian rapi, benar benar siap untuk pulang. Alangkah terkejutnya mereka melihat meja lengkap dengan rantang makanan.


"Darimana datangnya makanan ini?", tanya Sean berbinar binar melihat makanan. Sangat jelas kalau dia kelaparan. Berenang memang membuat semua orang lapar.


"Kak Chika yang membawanya, wah kak Chika bagai peri penyelamat dalam krisis makanan ini".


Aku pikir tas besar itu isinya pakaian untuk dia berenang, ternyata makanan, sial. Jio


Tanpa basa basi mereka semua menyantap makanan itu.


"Terimakasih untuk bekalnya Chika, ini sangat enak." Arif menyantap suapan terakhirnya.


"Jangan sok akrab denganku, aku masih kesal denganmu."


"Benarkah aku pikir kita sudah berteman, haruskah aku memuntahkan makanan ini", Arif sudah ingin mencolok mulutnya agar muntah, melihat Chika yang tidak mencegahnya sama sekali dia mengurungkan niatnya. "Kau jahat sekali Chika, kau memaafkan Jio tapi aku tidak".


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, mereka memutuskan untuk pulang sore saja agar tidak terlalu panas di jalanan.


Anres dan Arif bernyanyi bersama memainkan gitar yang mereka bawa. Nyanyian mereka cukup menghibur. Tia sibuk bergaya bak model profesional sementara Sean menjadi tukang foto amatirnya. Kenapa amatir, karena foto yang di ambilnya tidak ada 1 pun yang sesuai dengan keinginan Tia. Chika bisa melihat bagaimana kasih sayang Sean pada Tia.


Sean selalu menuruti apapun yang Tia mau walau dia tidak suka.


Jio dan Chika duduk di ayunan kayu yang bergantung di pohon. Keduanya saling diam tidak tahu harus memulai dari mana.


Bicaralah Jio aku bosan.


"Maaf atas ketidaksopananku tadi, aku pikir tidak apa apa bagimu ternyata aku salah."


"Lupakan saja Jio mungkin aku yang terlalu naif. Itu hal yang biasa bagi kalian kan."


"Apa tidak ada yang menciummu sebelumnya?"


Chika membuang nafas kasar mengingat kejadian sewaktu dia SMP.


"Ada murid laki laki yang menabrakku waktu SMP dan tidak sengaja mencium pipiku."


Jio terkejut mendengarnya, kakinya yang panjang menghentikan ayunan itu.


"Benarkah dia tidak sengaja, aku tidak percaya."


"Aku tidak tahu, dia bilang begitu."


Hening.


Sean dan Tia sedang berpose ciuman di ujung sana. Harusnya latar sunset akan sangat cantik, karena hari mendung, itu tidak akan terjadi.


Chika dan Jio melihatnya dan saling pandang. Chika merasakan panas di wajahnya.


Apa apaan dua manusia aneh itu.


Jio terkekeh melihat mereka. Sean memang tidak bisa melihat situasi ucapnya. Jio sangat ingin melakukan hal yang sama. Tapi sepertinya Chika tidak.


"Apa kau marah jika aku menciummu begitu?" terang terangan Jio menunjuk pada Sean dan Tia.


Chika tidak bersuara untuk membantah dia hanya mengangguk perlahan. Sungguh aneh baginya membahas hal yang begini secara langsung. Sangat jelas Jio kesal dengan jawaban Chika.


"Aku tidak akan melalukannya hari ini".