Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Hijabku



Mereka semua masuk ke rumah itu. Ada asisten rumah tangga yang membuka pintu untuk mereka. Jio memperkenalkan Chika pada Jo.


"Dia menyebalkan kan?."


Mengganguk. "Sangat". Mereka berdua berjabat tangan. Jo langsung merangkul Chika mengarahkannya ke dapur. Chika hanya melirik tangan Jo di bahunya. Bingung harus apa.


"Kau apa apaan tanganmu ini", menyingkirkan tangan Jo dengan paksa. Jio kesal bukan main.


Jo memasang wajah heran tak bersalah. "Aku kan hanya menyambut baik adik iparku, ayo Chika."


Jio membuang nafas kasar. Membuntuti mereka dari belakang.


Terkadang aku menyesal akur dengannya.


Chika mengamati setiap sudut rumah itu. Sangat elegan. Rumah Jio bertema abu anu, hitam dan putih. Terbayang kembali bagaimana Ibu Jio ketika ditemuinya di restoran waktu itu.


Ah tidak salah, selera Ibu Jio luar biasa. Tunggu, apa semua berwarna monocrom karena memang benar mereka buta warna??


Jo menepuk punggung Chika menyadarkannya dari lamunan. "Nah Chika ayo tunjukkan kemampuanmu!", Jo tersenyum penuh arti.


"Kak Jo gak mau bantu, Jio bilang kakak pandai memasak?".


Jo langsung berpaling menatap Chika, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Dia hanya bilang aku pandai?". Chika spontan menganggu. Jo mencibir mengalihkan pandangannya ke Jio yang duduk di meja makan.


Apa?


Mereka saling pandang dan mulai berdebat. Chika menyadari dua orang ini seperti kucing dan anjing. Namun mereka saling menyayangi. Dia teringat Jihan kakaknya.


Andai aku bisa seperti ini dengan kak Jihan.


"Ayo buatlah cupcakenya Chika, tidak perlu mengajak orang ini, nanti pasti rasanya jadi mengerikan."


"Baiklah aku juga tidak mau membantu, kalau sudah selesai panggil saja aku pandai mencicipi." Jo mengeluarkan senyum manisnya, lalu berubah masam ketika menatap Jio. Dia berlalu ke ruang baca.


Chika diam saja membatu.


Kak Jo tidak marahkan?


Jio masih duduk saja di meja makan sementara Chika sudah mulai membuat cupcake. Dia sedang mempersiapkan bahan bahannya. Awalnya Jio akan meninggalkan Chika, mengingat Jo sok akrab dengan Chika, dia mengurungkan niatnya.


Tidak ada yang tahu apa isi kepalanya.


"Kau tidak melepas (hening sebentar) hijabmu?."


Pandangan Chika tidak beralih. "Aku tidak nyaman melepasnya", Chika teringat sesuatu dia menatap Jio sambil memegang hijabnya. "Kau masih penasaran dengan rambutku?."


Jio tersenyum lalu mengangguk.


"Kau tidak mau membantuku?."


"Sebaiknya tidak, a aku hanya akan merusaknya, Jo selalu mengeluh jika aku membantunya."


"Baiklah", Chika tidak mau mengambil resiko. Ini kali pertama dia ke rumah Jio, cupcakenya harus sempurna.


Satu jam sudah berlalu, aroma manis sari cupcake itu telah tercium disekitar dapur. Chika sedang menyiapkan cream untuk hiasannya.


"Apa kau sedang selingkuh? Kau serius sekali dengan ponselmu", Chika sudah memperhatikan Jio sibuk dengan ponselnya sejak tadi,


"Tidak, ini Anrez dia kesepian karena orangtuanya selalu tidak di rumah. Dia memintaku ke rumahnya."


Tidak tahu Chika mendengarkan Jio atau tidak, dia sibuk dengan mixernya. Dia sedang membuat butter cream.


Dia tidak mendengarkanku ya.


Jio mendekati Chika dan mulai mengganggunya. Memeluknya erat dari nbelakang. Mata Chika membulat penih karenanya. Dia meronta ingin lepas takut kak Jo melihat.


"Lepaskan aku Jio, bagaimana jika kak Jo lihat?."


Semakin mengeratkan pelukannya tidak peduli sekitar, "Biarkan saja, ini hukuman untukmu karena tidak mendengarkanku."


Chika mematikan mixernya karena tisak bisa berkonsentrasi membuat butter cream itu. Sangat terganggu dengan bibir Jio yang mulai menyusuri pipinya.


"Ya itu ide yang bagus. Tapi kontak wanita di ponselku sudah kau hapus semuanya kan?."


Tentu saja, kau kan hanya milikku.


Chika teringat seseorang yang sangat mendambakan kekasihjuga. Senyum mengembang diwajahnya.


"Bawa saja dia ke kosan ku."


Jio mengerti maksud Chika. Ada banyak gadis di kosan wanita kaan. "Baiklah, aku lupa kalau kau punya banyak saudara perempuan."


"Sekarang lepaskan aku, atau wajahmu akan ku olesi butter cream ini.


Jio tidak mau mengorbankan wajahnya, dia segera menyelamatkan diri ketika Chika sudah siap menyerangnya. Mereka berkejaran di dapur.


"Ya ya ya, cupcakenya sudah siap Chika? Kakak lapar", wajah kelaparan Jo merusak semuanya. Sekali lagi dia merusak momen romantis pasangan itu.


Jo datang dan duduk di meja bar tanpa rasa bersalah, dia bertopang dagu dan tersenyum manis menagih cupcake.


Mengganggu saja.


Wajah Chika bersemu merah karena malu. "Sebentar kak, ini tinggal di hias saja."


Semua cupcake itu sudah di hias cantik oleh Chika, kak Jo juga membantu. Mereka duduk di tepi kolam ikan masih di sekitaran dapur. Kak Jo berkali kali memuji cupcake Chika. Dia juga meminta resepnya.


Setelah dapat apa yang dia mau, dia berpamitan untuk pergi ke restoran. Selama orangtua mereka pergi ke luar kota, kak Jo yang akan menggantikan tugas tugas Ibu.


"Jaga dirimu Chika", itulah pesan terakhir Jonathan pada Chika.


Chika melirik Jio yang sedang memberi ikan ikan di kolam.


Apa maksudnya aku harus waspada dari orang itu ya.


"Emm Jio apa sebaiknya kau antar aku pulang saja? Tidak baik kita hanya berdua disini". Ragu ragu tapi Chika tetap mengatakan isi hatinya.


"Ya baiklah, lagi pula ini sudah sore. Tasmu ada di kamarku, ambillah", menunjuk pintu kamarnya.


Chika beranjak menuju kamar Jio, dia juga penasaran seperti apa kamar Jio. Apa dia orang yang rapi atau tidak. Dia membuka pintunya mengamati sekitarnya


Bersih sekali, pasti bukan dia yang membersihkannya.


Kamar itu bernuansa Navy dan biru muda. Kombinasi yang sangat lembut. Chika mengambil tasnya yang duduk manis di ranjang Jio. Tak sengaja dia melihat pantulan dirinya di cermin yang di lewatinya.


"Kenapa aku berantakan begini?," Chika merapikan dirinya. Dia melepas hijabnya untuk dipasang kembali dengan baik. Lalu dia menemukan ada noda di jaket jeans yang dikenakannya, itu hanya noda butter cream.


Jio masuk ke kamar itu sambil menggerutu. "Kenapa lama sekali Chika, aku sudah menunggumu di luar sejak tadi". Jio diam di depan pintu, terpaku menatap Chika seperti itu. Belum pernah dia melihat Chika hanya mengenakan dres.


Chika sibuk membersihkan noda di jaketnya, dia tidak menyadari Jio di belakangnya walau pantulannya sudah ada di cermin. Jio memeluknya dari belakang seperti di dapur tadi.


"Lho kenapa kau disini Jio, tunggu saja aku di depan." Chika masih fokus membersikan noda itu.


Jio memeluk Chika semakin erat, dia mulai menyusuri ceruk leher gadis itu. "Kau sangat cantik Chika."


Chika terkejut menyadari sesuatu. Mendongak dan menatap lurus ke cermin di hadapannya.


Hijabku.


Sekarang Chika buru buru ingin mengenakan jaketnya. Terlambat. Jio sudah melemparkannya sembarangan.


"Ka kau mau apa?", tanyanya sambil menghindari tatapan mata Jio.


"Biarkan aku menatapmu. Kau sangat cantik. Aku sangat senang hanya aku yang bisa melihatnya."


Jio memutar balik badan Chika untuk menghadapnya. Chika malu malu tidak mau menatapnya.


Jio mengangkat dagu Chika agar berhenti menunduk dan menatapnya. Dan tentu saja agar dia bisa mencium bibirnya.


Chika memberanikan diri menatap Jio. Dia sudah menduga Jio akan menciumnya. Ciuman itu berlangsung lama. Chika sudah mulai lihai membalasnya.


"Bolehkah aku lebih jauh dari ini?."