Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Pelarian.



"Ya aku manatahu Ofi brengsek, keliatannya juga baik. Doni, cantik mana aku sama pacarnya?"


"Kamu"


Sejenak hening.


"Tapi kotaan dia."


"Maksud kamu aku kampungan?"


Doni tidak menjawab dia sibuk main ponsel. Chika auto ngaca.


Di kosan Evi menertawakan kegalauan Chika. Apalagi waktu di bilang Doni kampungan. Evi malah menyarankan Chika sama Doni aja. Chika malah menertawakan saran Evi.


"Kamu aja gih sama Doni."


Doni memang baik sih, dia teman aku dari semester 1, dia juga teman SMA Nala sama Icha. Tadi kok dia baik ya, apa dia suka aku, ah gak mau tebak tebak lagi lah. Apes banget ya kemaren di selingkuhi sekarang mau di jadiin selingkuhan. Ah tau ah, aku kuliah aja yang benar terus kerja terus bebas dari mama.


Chika sedikit jera dengan cari pacar, dulu Juan dia gak punya waktu untuk jalan atau sekedar duduk ngobrol santai. Untuk Ofi Chika bahkan bolos kuliah eh tahu nya cuma cadangan.


"Evi, apa aku memang kampungan ya??"


"Di banding mereka yang memang orang kota ya kita kampungan, kan emang dari kampung. Lha kita nonton bioskop aja baru 1 kali, sudah gitu salah masuk teater lagi."


Chika diam saja mendengar jawaban Evi, masuk akal dan gak perlu juga di ingat ingat sejarah kelam itu, aku yang udah pura pura lupa aja masih malu, batinnya.


"Bukannya maksud Doni penampilan ya?"


Chika melayangkan tatapan sinis


"Makanya temanan sama anak kosan juga biar gak terintimidasi, sama Tania kamu cocok."


Chika hanya memutar kedua bola matanya. Bukannya Chika gak mau, mereka juga tidak bertengkar, hanya Tania yang sudah punya pacar sibuk pacaran dan jarang kuliah, dia terlalu Populer untuk Chika. Chika bahkan dua kali di dekati cowok hanya biar dekat dengan Tania, kan lebih sakit lagi.


Chika masih terngiang-ngiang wajah tanpa dosa Ofi tadi, jadi selama ini apa, teman? temankan gak makan berdua, nonton berdua. Eh tapi ada kok yang kayak gitu temenan, mungkin Chika yang kepedean. Ponsel Chika berbunyi pertanda chat masuk. Dari Icha. Icha mengirim foto Ofi yang menerima kado dari pacarnya berjumlah 19 karena usia Ofi 19 tahun.


Icha ini apa sengaja pamer ngasih garam di luka aku, apa gak tau perasaan aku, apa mereka memang sengaja ngerjain aku, trus dia bilang apa Chika kita emang gak perlu siapin kado, Ofi dapat 19 kado dari Intan, keren ya. Apa dia anggap aku ini zombie ya. Coba tanya Nala deh.


"Nala lagi apa?"


Akhirnya Nala bercerita kalau dia sudah kenal pacar Ofi, namanya Intan mahasiswa psikologi. Waktu kenalan sama Chika memang mereka sedang bertengkar tapi belum putus. Ofi bilang ke teman teman kalau dia suka Chika dan akan putusin Intan, nyatanya mereka balikan. Icha sama Tobi sudah tahu tapi memang gak niat kasih tahu karena gak enak sama Chika yang sudah keliatan banget suka Ofi.


Hah, dari awal juga aku cuma pelarian. Icha sama Tobi. Gak mau nyalahin siapa siapa, jadikan pelajaran aja deh bahwa kalau terlalu nunjukkan rasa suka bisa jadi hanya di permainkan saja, lebih baik biasa aja sampai tahu perasaan orang yang sebenarnya.


Evi yang mengintip di belakang Chika auto bernyanyi.


Ku menangis membayangkan, kepergian dirimu dari sisi hidupku kau duakan cinta ini kau pergi bersamanya howowowo


Chika melempar bantal pada Evi yang menyanyi dengan mikrophone tangkai sapu. Hendak melempar lagi dengan boneka, ponsel Evi berderìng, telpon dari mama Evi. Mendadak raut wajah Chika sedih.


Mama kok gak pernah telpon aku sih, apa aku udah di anggap mati ya, waktu kakak kuliah dia sering telpon bahkan di depanku. Apa aku memang mati saja ya, atau jadi zombie saja dulu.