Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Kau Cantik Hari Ini



Ujian semester telah usai, semalam Chika sudah melakukan perjalanan pulang dari kampung halamannya. Pagi tadi dia sudah sampai di kosannya. Penghuni kosan juga sudah ada di kosan semua, sebagian besar tidak pulang kampung karena harus mengikuti semester pendek.


Alarm yang memekikkan telinga membuat Chika bangun dari tidurnya. Dia mengerjap ngerjapkan matanya, mencari dimana suara berisik itu. Digapainya ponselnya, namun bukan ponselnya yang berdering.


Akan kubunuh siapa saya yang membunyikan alarm itu.


Chika duduk dengan malas di ranjang, rambutnya acak acakan. Dia sangat lelah karena semalam tidak bisa tidur. Diperjalanan semalam dia tidak memejamkan matanya sama sekali, dia mabuk perjalanan. Supir yang mengemudikan mobil itu sangat mengerikan, dia mengemudi seenaknya saja tanpa perduli kenyamanan penumpangnya. Berulangkali penumpangnya terhuyung ke kiri dan kanan dibuatnya. Seperti baru belajar saja.


Eva datang berlarian dari kamar mandi, dia menyambar ponselnya dan mematikan alarmnya. Itu memang alarm Eva, dia lebih dulu bangun dari alarmnya karena sesak ingin buang air besar. Akibatnya alarmnya mengganggu Chika. Dia hanya bisa cengengesan menerima lirikan tajam dari Chika.


"Maaf ya Chika, emm kau kan sudah bangun ayo kita cari sarapan saja", menggaruk garuk kepalanyanya yang tidak gatal.


Chika masih duduk bersandar di ranjangnya, dia memeluk kakinya, matanya masih terpejam. Lingkaran hitam dimatanya sangat jelas terlihat. Eva duduk mendekatinya. Ditatapnya wajah suram Chika. Iiii.


"Bisakah kau membelikan ku sarapan saja, aku sangat mengantuk."


"Ya baiklah, akupun tidak mau membawa mayat hidup sepertimu."


Eva bergegas memakai pakaian dan pergi. Dia mengunci Chika di dalam. Nanti jika dia pulang dan Chika tertidur lagi, dia akan marah kalau Eva minta bukakan pintu.


Seperginya Eva, Chika merebahkan tubuhnya lagi di ranjangnya, berharap bisa tidur lagi. Baru sebentar saja dia memejamkan matanya, ponselnya berteriak kencang. Satu panggilan telepon masuk.


Kenapa susah sekali tidur ya Tuhan.


Mata Chika hanya terbuka sedikit, dibacanya nama yang tertera dilayar ponselnya. Cupcake dengan simbol love. Walau kesal diangkatnya juga. "Halo", katanya malas.


"Kau sedang tidur, maaf aku mengganggumu. Apa aku harus ke kosanmu? Aku sangat merindukanmu."


Chika menggeliat di ranjangnya. Rasanya sudah tidak mungkin lagi untuk tidur.


"Aku tidak mau bertemu denganmu sekarang, Eva bilang aku seperti mayat hidup, wajahku juga sangat pucat."


"Pucat? Ah kau tenang saja aku kan buta warna."


Chika tersenyum mendengarnya. Sampai detik ini dia tidak percaya kalau Jio buta warna. Bagaimana bisa percaya setiap tebak warna selalu benar kok.


Aku jadi penasaran, bagaimana dia melihatku selama ini apa aku abu abu dimatanya.


"Tidak hari ini Jio, aku saja tidak ingin melihat wajah suramku. Lagi pula aku janji dengan Eva potong rambut nanti sore", Chika menyusun rambutnya kebelakang telinganya.


"Rambut? Kau tahu aku sangat penasaran dengan rambutmu. Aku kan belum pernah melihatmu tanpa hijab."


Chika mengingat ingat kembali, memang dia tidak pernah melepas hijabnya di depan Jio. "Ya tidak terlalu jauh berbeda kok."


"Baiklah, aku akan puasa 1 hari lagi untuk tidak melihatmu, sebagai gantinya kau harus membuatkanku cupcake besok."


"Cupcake? dimana aku harus membuatnya?."


"Tentu saja di rumahku."


Chika diam saja mencerna setiap perkataan Jio. Jio bercerita kalau Ibunya sedang keluar kota. Hanya ada kakaknya Jo di rumah. Chika menyetujuinya, dia masih merasa tidak enak karena tidak hadir diacara ulang tahun Jio waktu itu. Anggap saja ini waktunya menebusnya.


Esok hari, pagi pagi sekali Jio sudah ada di depan kosan Chika. Dia sangat bersemangat menjemput Chika hari ini. Ketika sampai, Chika juga sudah menunggunya dihalaman kosannya. Dia duduk bersama Ibu kosnya.


Chika mengenakan maxi dres putih bermotif bunga bunga kecil dan jaket berbahan denim sebagai outernya. Dia mengenakan sepatu wedges dan hijab senada. Slingbag kecil tergantung manis di bahunya.


Ketika sebuah mobil berhenti di gerbang itu, Chika tidak menyadari kalau itu Jio, dia masih saja sibuk mengobrol dengan Ibu kos. Jio turun dan menyapa mereka.


"Selamat pagi bu, saya mau menjemput Chika."


Jio menyapa Ibu kos dengan sopan, dia juga menjabat tangannya saat tiba. Ibu kos tersenyum senang.


"Hati hati ya, pulang tepat waktu." Ibu kos menekankan kata pulang.


Chika dan Jio masuk ke mobil setelah berpamitan. Sejak tadi pandangan Jio tidak terlepas dari Chika.


"Jadi kemana motormu?." menatap Jio yang masih menatapnya.


"Aku hanya ingin pamer aku bisa mengemudi", mereka tertawa bersama. "Kau cantik hari ini".


"Kau sedang bernyanyi?", Chika mencibir. "Bukan begitu nadanya."


Senyuman Jio belum memudar, sangat jelas dia bahagia bisa bertemu Chika hari ini.


"Apa aku bisa menciummu? emm mobil ini menggunakan kaca film."


Kali ini Chika yang tertawa. "Jadi itu alasannya kau bawa mobil?."


Jio mulai mendekatkan dirinya. Chika berpaling darinya. "Ayo jalan, orang orang akan curiga jika mobil ini belum bergerak."


Jio kesal, namun yang dikatakan Chika benar juga. Segera dia memamerkan kemampuan mengemudinya itu. Ini kali pertama Chika pergi ke rumah Jio, walau tidak ada orangtuanya, Chika masih saja deg degan bertemu kakak Jio.


"Ayo mampir belanja dulu."


"Untuk apa, Jo sudah menyiapkan semuanya", bersikap jutek karena masih kesal.


"Di dia bisa?."


"Tentu saja, harus bisa."


Walau Chika tidak mengerti bagaimana Jo bisa tahu bahan bahan untuk membuat cupcake, dia tidak bertanya lagi. Sadar Jio sedang kesal karena kejadian tadi. Diliriknya Jio yang sedang mengemudi. Wajahnya suram tanpa senyum, jauh berbeda dari saat pertama bertemu tadi.


Cih, begitu saja marah.


Cup, Chika mengecup pipi Jio. Kali ini Jio yang terkejut, matanya membulat sempurna. Dia tidak menduga serangan mendadak Chika. Tangannya menyentuh pipi yang di cium Chika, tifak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Tersenyumlah, aku tidak suka wajah masammu."


Barulah Jio mengembangkan kembali senyumnya. Dia mulai mencari kacamata disekitarnya. Berseri seri sepanjang perjalanan. Chika menggelrngkan kepalanya tidak habis fikir.


Mudah sekali membuatnya tersenyum.


30 menit berlalu, mobil itu berhenti di garasi rumah Jio. Rumah 2 lantai itu terlihat sangat megah dengan desain modern. Chika terkesan melihatnya namun disembunyikannya, sangat pedih mengingat Doni mengatainya kampungan dulu, dia tidak ingin terulang lagi.


Ya ini menjelaskan bagaimana dia selalu membayar semua makanan ku saat bersamanya.


Chika merapikan kembali hijabnya, membuka seatbelt yang membelitnya. Terlambat. Jio lebih dulu membantunya membuka seatbelt itu. Jio sengaja sangat dekat, Chika bahkan bisa menghirup aroma mint dari nafasnya. Dia berusaha tenang.


"Bukankah sudah terbuka?", tanyanya karena Jio tidak juga menjauh darinya.


Chika sengaja menatap kesembarang arah, 2 minggu tidak bertemu Jio rasanya sangat canggung untuk berciuman.


Jio belum menyerah dia mulai mendekatkan bibirnya dan tangannya menyentuh pipi Chika.


Tok tok tok.


Sial.


Jonathan mengetuk jendela kaca mobil. Dia juga baru saja kembali dari berbelanja. Jio menyerah, dia kembali ke posisinya dan membuka kaca dengan wajah kesal luar biasa.


"Bantu aku mengangkatnya", menunjuk barang barang belanjaanya. Lalu melirik Chika di sebelah Jio sambil tersenyum. "Halo Chika, ayo memasak."


Chika tersenyum memamerkan barisan gigi putihnya. "Iii iiya kak, ayo", Chika membuka pintu mobil dan keluar begitu juga dengan Jio.


Jo tersenyum penuh arti menatap Jio.


Rasakan, kau juga sering menggangguku kan.