
Pagi ini Chika sengaja menyibukkan diri dengan roti rotinya. Chika sudah kembali ke kampung halamannya 2 hari yang lalu. Tentu saja tanpa perpisahan seperti biasanya dengan Jio. Entah mengapa Jio seperti menghindari Chika saja.
Apa dia sedang bersenang senang dengan gadis gadis sampai tidak bisa menghubungiku? Hah.
Chika beberapa kali membanting adonan roti itu sebagai pelampiasan kemarahannya. Beberapa kali pekerja toko itu memperhatikan tingkah anehnya.
Jio tidak menghilang lagi seperti waktu itu. Tapi Chika bisa menyadarinya Jio tidak seperti biasanya. Tidak sama lagi.
Dia terus berpikir apa dia melakukan kesalahan. Berulangkali memikirkannya hasilnya nihil. Rasanya tidak ada kesalahan apapun. Kemarin dia mencoba mencari informasi pada Sean. Jangankan mengangkat telepon, chat saja tidak dibalas.
Sudah pasti si brengsek itu akan menutupinya kan.
Aaarrghhh.
Chika sedang berdiri di depan oven untuk memanggang roti yang dibuatnya sejak pagi tadi. Mengatur suhu dan waktunya. Diamatinya roti itu beberapa ada yang tidak diberi olesan. Dia mendesah kesal menatapnya. Kesal karena dia tidak bisa bekerja dengan baik.
Sejak kemarin Chika teringat kata kata yang tidak sengaja diucapkannya pada Jio saat malam tahun baru waktu itu. Kalimat itu seperti menghantuinya terus berputar putar di kepalanya.
"Jika kau sungguh ingin melakukannya lakukan dengan wanita lain, jangan memaksaku"
Seketika pikirannya kacau balau saat teringat kalimat yang diucapkannya sendiri.
Sial, bagaimana jika dia memang melakukannya. Dia kan laki laki normal. Tapi selingkuh itu tidak normal kan?. Ah gak tau lah.
Lalu suara hatinya membantah lagi. Biarkan saja, kalau dia benar melakukannya berarti dia memang laki laki brengsek yang tak perlu dipertahankan. Begitulah seterusnya sampai roti yang di panggang Chika gosong semuanya.
Sial. Bagaimana ini.
Hari ini rombongan kelas Jio sudah berkumpul di kampus, kampus sangat sepi karena memang lagi masa liburan. Hanya beberapa orang saja yang hilir mudik di sekitaran kampus.
Menurut rencana, rombongan kelas itu akan pergi liburan di pinggiran kota untuk ikut arum jeram. Cuaca hari ini juga sangat mendukung.
Sean sedang bersiap siap memakai peralatan mereka seperti jaket dan sarung tangan. Sementara Jio duduk di kursi bawah pohon disamping motornya sibuk dengan ponselnya.
Sejak tadi Jio sibuk mengamati foto Chika. Foto itu diambil saat Chika membuat cupcake di rumah Jio. Dia tersenyum seperti orang gila saat di teror chat dari Chika. Dia memang sengaja tidak membalasnya. Sedang mencari cari alasan untuk memutuskan hubungan mereka.
"Kau gila ya?."
Pertanyaan Sean bagai angin lalu. Tetap fokus pada ponselnya.
"Kalau masih cinta buat apa membuat orang salah paham begitu, cari masalah saja", melanjutkan keluh kesah walau tidak dihiraukan.
Jio hanya mencibir menatap Sean, melihat mata Sean yang semakin murka dia bicara juga. "Ini kan trik ku untuk mendapatkannya."
Pias. Sean sangat terkejut mendengar pemikiran tidak masuk akal itu.
Cecunguk ini benar benar sudah gila.
"Apa kau sangat yakin ini akan berhasil? Bukankah sudah jelas tingkat kegagalannya 99%?", mendekati Jio memastikan niat gilannya.
Tidak ada jawaban, walau Sean berceramah selama 15 menit mengatakan ide itu pasti gagal, Jio tidak bergeming dia amat sangat yakin dengan rencananya. Akhirnya dia hanya berpesan untuk tidak menyesali semuanya. Sean sangat yakin Chika tidak akan luluh dengan ide licik seperti itu.
Si gila ini sepertinya lupa kalau pacarnya bukan gadis yang bodoh. Hah.
"Anu Jio, apa kau membonceng seseorang?."
Seorang gadis salah satu teman sekelas Jio menghampiri mereka berdua. Dia juga membawa seorang gadis yang bukan dari kelas mereka.
Jio menggeleng. Diperhatikannya gadis yang tidak dikenalnya itu. Gadis itu mempunyai postur tubuh yang bagus, kulitnya mulus dan putih. Ya cantik. Ini adalah salah satu kesempatan untuk melancarkan rencananya. Lagi pula Chika juga menyuruhnya untuk mencari gadis lain kan?
"Tidak, tapi aku ingin sendiri saja, maaf."
Sial, kenapa otak dan mulutku ini tidak sinkron.
Sean menarik seulas senyum diwajahnya. Lucu melihat Jio yang tidak bisa menghianati Chika walau dia ingin.
Gadis itu tersenyum menatap Jio, jelas sekali dia menyukai Jio dari caranya memandangi wajah laki laki itu. Gadis itu sangat berusaha untuk terus terlihat cantik, berharap Jio tertarik padanya.
"Baiklah, tidak apa apa. Aku Clara, panggil saja Rara", mengulurkan tangan tersenyum cerah.
Jio tersenyum lalu menyambut uluran tangan itu. "Jio", balasnya singkat.
Hari sudah berganti malam, Jio masih belum memberi kabar apapun pada Chika. Chika sedang melamun menatap langit langit kamarnya yang berwarna pink cerah. Tersenyum sendiri teringat langit langit kamar Jio yang seperti langit badai. Sesekali diliriknya ponselnya berharap ada kabar dari orang yang ditunggunya.
Ada suara ribut ribut dari lantai bawah terdengar sampai ke kamar Chika. Chika memilih diam dikamarnya, malas mau ikut campur. Toh nanti cuma diperlakukan sebagai manusia transparan atau sebagai tempat untuk marah marah layaknya tumbal.
Tring. Sebuah chat masuk ke ponsel Chika.
Maaf sayang, aku kecelakaan tadi. Nanti aku kabari.
Kecelakaan?
Chika kesal bukan main, sudah menunggu balasan sejak tadi pagi yang dia dapat malah pesan mengkhawatirkan. Apa apaan ini?.
Beberapa chat langsung dikirimnya memenuhi kotak masuk Jio. Chika juga menelpon berkali kali namun tidak ada jawaban.
Apa dia sedang mempermainkanku?
Semua pikiran buruk memenuhi isi kepala Chika. Bagaimana kalau Jio berbohong untuk menutupi kalau dia sibuk selingkuh? Bagaimana kalau dia sengaja untuk membuatku khawatir dan menertawakanku? Atau bagaimana kalau bla bla bla.
Chika mengubah posisinya. Dia duduk melipat kakinya, sorot matanya berubah serius. Mengetik sesuatu dan mengirimkannya pada Sean. Ya siapa lagi yang bisa diharapkannya untuk memberi informasi selain orang itu.
Cukup lama Chika menunggu untuk mendapat balasan yang menjengkelkan.
Apasih Chika? Kau ini mengganggu ritual mandi suci ku saja.
Chika memutar bola matanya saat membaca pesan itu dan tanpa basa basi langsung menelponnya.
"Ceritakan padaku selengkapnya!."
"Dia kecelakaan karena salahnya sendiri, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tapi dia jatuh begitu saja lalu menabrak pohon seperti orang bodoh."
"Apa apaan cerita tidak masuk akal begitu?, kau ini sedang mengarang bebas ya?"
Sean menatap ponselnya. Dia meletakkan ponsel itu di atas tempat tidur agar dia memakai pakaiannya. Dia mulai kesal mendengar tuduhan Chika.
Harusnya tidak usah kuangkat saja teleponnya.
Tidak ada jawaban dari Sean, Chika melanjutkan lagi.
"Kau berbohong ya? Temanmu kecelakaan kenapa kau santai santai begitu?. Memangnya kalian tidak boncengan?"
"Untuk apa aku yang sibuk tadi orangtuanya sudah datang. Dia sendirian, dia tidak mau memboncengi siapapun, katanya tempat itu hanya untuk orang cerewet sepertimu, puas kau?."
Walau Sean mengatakannya sambil marah nyatanya kalimat itu berhasil meredam amarah Chika. Dia mulai menurunkan suaranya untuk menanyakan kondisi Jio.
"Mungkin dia sedang sibuk jadi tidak bisa menghubungimu kau tunggu saja. Dia baik baik saja cuma lecet sedikit. Motornya yang cukup parah, stangnya bengkok", menjelaskan sambil buru buru memakai celananya, Tia sudah menunggunya sejak tadi.
"Dia tidak selingkuh kan? Soalnya akhir akhir ini..."
"Aduh duhh duuh", Sean menjerit memotong pembicaraan Chika. Suaranya terdengar sangat kesakitan.
"Sean kau kenapa?"
"Resletingnya aduuhh, su sudah ya Chi ka."
"Sean Sean Seaaaaaann."