Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Rencana Jio



Kemarin malam Jio sudah menelpon Chika dan menceritakan kejadiannya. Chika juga sangat lega karena Jio tidak selingkuh seperti dugaannya. Mereka bercerita sepanjang malam sampai lupa waktu. Hasilnya Chika sangat mengantuk pagi ini. Dia tidak ikut membantu membuat kue. Matanya bahkan enggan untuk terbuka.


Hari ini kelas semester pendek dimulai. Jio dan Sean memang tidak pernah absen mengikuti kelas ini. Mau bagaimana lagi nilai mereka akan mengotori transkip nilai jika tidak diperbaiki. Jio yang terjaga semalaman terlihat tidak siap mengikuti kelas hari ini. Karena sepeda motor Jio yang masih di bengkel, Jo mengantarnya. Itupun setelah perdebatan panjang dan musyawarah untung dan rugi.


"Hai"


Clara menyapa Jio yang duduk di pojokan ruangan. Bukan duduk sih, sebenarnya dia tidur sambil berpangku tangan. Clara sudah lama mengamati Jio, Jio juga menyadarinya, dibiarkannya saja karena malas meladeni. Lagipula bukan baru ini gadis gadis memperhatikannya.


Jio membuka matanya melihat gadis yang menyapanya. Tersenyum seadanya. Setengah kesal karena gadis ini gigih sekali mendekatinya. Padahal semua orang orang kelas sejak kemarin membicarakan Chika beberapa kali.


Rara memang sengaja ikut kelas pagi ini, alasannya dia menemani sepupunya. Padahal alasan sebenarnya adalah untuk mengetahui keadaan Jio setelah kecelakaan semalam.


"Kau baik baik saja? Sepwrri kurang tidur saja."


Jio mengangguk. "Pacarku menelpon semalaman". Penekanan kuat pada kata pacar.


Bukannya menyerah gadis cantik ini malah semakin gigih. "Wah kejam sekali bukankah harusnya dia membiarkanmu beristirahat setelah kecelakaan?."


Apa apaan sih, kan aku yang meminta Chika menemaniku.


Kata kata itu tidak terucap sama sekali. Membuat Clara malah semakin salah paham dengan respon Jio. Dia semakin jadi, beriniaiatif sendiri duduk disebelah Jio.


Sean yang baru datang terkejut melihat Clara disisi Jio. Tidak biasanya Jio membiarkan gadis lain duduk disebelahnya.


"Kau sudah mengabari Chika, kemarin dia khawatir sekali", Sean menyapa Jio yang bersandar menahan kantuk.


Clara sibuk dengan ponselnya tapi sebenarnya dia menguping pembicaraan itu.


"Ya sudah kok."


Kuliah berlangsung selama 2 jam. Untuk semester ini Jio hanya mengikuti 1 kelas semester pendek, berbeda dengan Sean yang mengikuti 3 kelas. Ini pula lah yang menjadi masalahnya. Jio harus menunggu Sean selesai kuliah agar bisa diantarkan Sean.


"Bagaimana kalau ikut aku saja, kan rumah kita searah", Clara menimpali. Bukan, sepertinya ini memang sudah direncanakannya. Dia terlihat percaya diri sekali saat menawarkannya.


Tanpa berpikir Jio langsung saja menyetujuinya. Sean bahkan menganga mendengarnya.


Teganya kau meninggalkanku Jio.


"Untuk hari ini saja kok, nanti sore motorku sudah bisa diambil."


Sean menarik lengan Jio yang hendak meninggalkannya. Berbisik ditelinganya.


"Apasih isi kepalamu, kau tahu Rara suka padamu kan?. Lihat ke arah jam 2 itu teman sekelas Chika, dari tadi dia terus memperhatikanmu."


Jio tidak menoleh ke arah yang disebut Sean, sebab dia juga sudah sadar diawasi sejak tadi.


"Justru itu rencananya, Rara mempermudah semuanya. Aku duluan."


Jio meninggalkan Sean yang kebingungan sendiri. Sama sekali tidak mengerti rencana buruk Jio. Dia duduk menimbang nimbang sesuatu. Baru kali ini dia terlihat serius begitu.


Ah bukan urusanku. Biarkan saja dia menyesal pada akhirnya. Kalau tidak begitu kapan dia akan dewasa.


Berbeda dengan Jio yang sibuk pulang dengan gadis cantik, Chika sibuk dengan orderan roti yang menumpuk. Chika tampak berantakan, ada banyak noda tepung di wajahnya. Bukan tanpa alasan Chika sengaja menyibukkan diri agar tidak berpikiran yang aneh aneh pada Jio. Walaupun matanya sangat lelah karena begadang semalam dia tidak perduli, toh ditoko ini dia tidak punya waktu bersantai barang sejenak. Lagi pulak pemilik toko sudah datang, hadir dengan wajah penuh amarah.


Namun Chika tetaplah manusia, ketika menunggu roti roti itu keluar dari oven, dia sempat terlelap. Dia duduk di meja makan sambil berpangku tangan dan tertidur. Suara dering ponselnyalah yang membangunkannya.


Tumben dia mencariku.


"Halo Don, kenapa?."


"Kau sudah putus ya?."


"Apasih?."


Deg. Masa? Kenapa semua pikiran burukku cepat sekali terkabul sih.


Doni pun menceritakan semua hasil pengamatannya hari ini. Dia setengah emosi menjelaskanya. Ya tentu saja dia tidak terima orang yang disukainya sekali lagi di permainkan di depan matanya.


"Sudah ku katakan kan, kau ini susah sekali mendengarkan aku."


Chika memang sedih mendengar semuanya tapi tetap saja hatinya berusaha menolak. Seakan itu bukan apa apa dan pasti ada sebabnya Jio pulang bersamanya.


Tapi bagaimana kalau mereka memang sedang selingkuh. Huweeeeeee.


"Ah tidak kok, Jio bukan orang yang seperti itu. Sudah ya aku sibuk."


Saat Doni ingin menceramahinya lagi, cepat cepat ditutupnya sambungan telepon itu. Sudah hatinya panas, kupingnya juga bisa ikut ikut panas mendengar ceramah Doni.


Coba tanya saja deh.


Diketiknya beberapa kata dan langsung di kirimnya pada Jio.


1 menit.


30 menit.


2 jam.


Tidak ada balasan.


Chika duduk bersandar di kursi kasir. Mama sudah pergi sambil marah marah, sejak tadi Chika terus menghindar agar tidak jadi sasaran empuk kemarahannya. Dipegangnya ponselnya erat erat menunggu balasan dari Jio.


Apa aku telepon saja ya? Tapi nanti dia berpikir aku tidak percaya padanya.Hah.


"Hah, kenapa ya rasanya hubungan ini sudah seperti diujung tanduk saja", tanpa sadar Chika bergumam gumam sendirian.


"Kak Chikaa, pinjam ponsel dong."


Bihan mendatangi Chika dan merampas ponsel itu seenaknya. Chika bahkan tersentak karena kaget.


"Apa apaan kau ini mengagetkan saja, kembalikan ponselku", merebut paksa kembali.


Bihan sebenarnya anak yang baik. Hanya saja dia berteman dengan teman teman yang kurang baik, jadi dia ikut ikutan. Bihan sekolah penerbangan di luar kota. Mama sengaja mengirimnya ke asrama agar lepas dari teman temannya itu. Tapi kenakalan itu sudah terekam diotaknya, bukannya berubah dia malah menjadi virus di asramanya sampai hampir dikeluarkan. Walau begitu, Bihan anak yang pintar, karena prestasinya, sekolah selalu mempertimbangkan untuk tidak mengeluarkannya.


Bihan cukup dengan Chika, berbeda dengan Jihan yang selalu bersikap menyebalkan, Bihan bisa dibilang sedikit perduli pada Chika, Bihan beberapa kali membela Chika di depan ibunya, walau tidak merubah apapun. Setidaknya ada rasa hangat dihati Chika saat adik bungsunya itu perduli padanya.


"Pinjam dong kak, aku harus menghubungi pacarku", memelas seperti biasanya.


"Aku juga sedang menunggu pacarku", Chika tak mau kalah.


"Kau kan sudah mau putus untuk apa menunggunya. Sini berikan padaku", mengitari Chika untuk merebut ponsel yang disembunyikan Chika di belakang punggungnya.


Pasti preman ini mendengarku tadi.


"Apa? Ka kami baik baik saja kok", berusaha tenang melupakan pernyataan Doni.


"Aku dengar kok kakak sendiri yang bilang diujung tanduk tadi. Ayolah, sebentar saja. Ponselku disita mama."


Tidak terkejut sama sekali karena sudah sering terjadi. Alis Chika hanya terangkat sedikut menatap adiknya. Tatapannya seram seperti mengatakan kali ini apalagi yang kau lakukan?.


"A aku hanya tidak sengaja kok membantu temanku men cu ri."


"APAAAA."