
Terik matahari sangat tidak bersahabat hari ini. Menyengat menusuk kulit. Peluh bercucuran sejak tadi. Apalagi hari ini Chika harus naik turun tangga dari lantai 5 untuk mengikuti mata kuliah. Sekarang pun dia harus naik turun tangga di perpustakaan bersama teman sekelompoknya. Hari yang melelahkan.
Kalau saja tugas ini tidak dikumpulkan besok aku tidak akan mengerjakannya di panas hari ini.
Tugas kali ini Chika sekelompok dengan Nala dan Doni. Sebenarnya tidak juga, mereka sekelompok karena di atur oleh Nala. Nala sudah bekerja keras menghitung kursi agar hitungannya pas dan membuat mereka 1 kelompok.
"Ayo makan siang di kantin, aku sudah sangat lapar". Nala menggeliat setelah lelah mengerjakan tugas kelompok itu.
"Emmm, maaf aku harus bertemu Eva sehabis ini. Dia sudah menungguku sejak tadi".
Nala melayangkan tatapan tidak percaya. Belakangan ini Chika sangat jarang menghabiskan waktu dengannya. Selalu saja Chika meninggalkan mereka untuk bertemu Jio dan teman temannya.
"Benarkah?, Eva atau Jio?".
Doni diam saja mendengarkan percakapan itu seraya fokus menatap ponselnya. Entah dia mendengarkan atau tidak.
"Ya, kalau tidak percaya ayo ikut denganku", Chika bersiap meninggalkan perpustakaan setelah mengemas buku bukunya.
"Biarkan saja, suatu hari dia pasti kembali seperti dulu lagi". Doni juga mengemas barang barangnya bersiap pergi. "Ayo kita pergi makan saja".
Eva menunggu Chika di pendopo depan perpustakaan sejak 1 jam yang lalu. Dia sudah menggerutu tak jelas karena rasa bosannya. Begitu melihat Chika berjalan ke arahnya dia segera menghampirinya.
"Kau menunggu sejak tadi? Aku kan sudah bilang aku akan lama soalnya."
"Ah tidak apa apa, aku sangat bersemangat setelah melihat fotonya. Aku jadi tidak sabar ingin bertemu. Menurutmu dia tampan?".
Mereka berbincang sambil berjalan ke cafe di sekitaran kampus. Chika baru memeriksa ponselnya yang sudah dipenuhi chat dan panggilan tidak terjawab. Ponsel itu dalam mode senyap wajar saja Chika tidak tahu.
"Yang pasti tidak setampan Jio", memandang kesembarang arah menahan malu.
Eva menatap Chika dengan tatapan geli.
"Apa? mau muntah? Haha".
Ketika mereka melewati toilet, Eva menarik lengan Chikau untuk mengikutinya masuk toilet. Dia mengeluarkan beberapa alat make up dan mulai memoles kembali wajahnya.
Aku sudah muak dengan kejombloan ini, setidaknya kalau aku tidak menyukainya dia haris menyukaiku kan.
Chika memutar kedua bola matanya melihat tingkah Eva. Sedikit menyesal menjodohkannya. Karena sudah di depan cermin, Chika juga memperbaiki penampilannya. Dia membenahi hijabnya yang berantakan.
Sekilas Eva melihat ada bercak merah di sekitar leher dan dada Chika. Eva menyembunyikan keterkejutannya. Tidak habis fikir saja anak yang dikenalnya polos 3 tahun yang lalu sudah jadi begini.
Pantas saja Jio yang paling tampan, mereka sudah sejauh itu. Apa saja yang mereka lakukan ya?.
Otak Eva mulai memikirkan hal yang tidak tidak. Dia bahkan hampir menabrak pohon karena melamun sambil berjalan. Sungguh kotor pikiran Eva.
Sekarang mereka sudah bertemu Jio di cafe. Eva duduk di sebelah Anrez dan mulai berbincang bincang. Anrez yang pendiam dan Eva yang heboh membuat mereka saling melengkapi. Senyum lebar mengembang di wajah Chika. Rasanya Chika dan Jio sudah berhasil menjodohkan mereka.
"Kenapa senyum senyum begitu, ayo habiskan makananmu! Atau kau mau aku suapi?". Jio mulai mengambil sendok di piring Chika dan menyupainya
"Yang benar saja", mengambil alih kembali sendok itu. Chika mau saja, tapi dia terlalu malu diperlakukan begitu di depan umum.
Hari sudah sore. Chika dan Eva sudah kembali ke kos mereka di antar Anrez dan Jio. Dari raut wajah Eva yang berseri seri sangat jelas kalau dia mendapatkan kesan yang bagus pada Anrez. Dia bahkan bersenandung saat mencuci dan mandi.
Chika mulai kesal mendengar suara sumbang saat Eva bernyanyi. Buku yang dibacanya dibiarkannya begitu saja karena dia tidak bisa berkonsentrasi.
"Kalian sudah bertukar nomor ponsel?". Chika bertanya asal, setidaknya Eva akan berhenti mengeluarkan suara kodok itu.
"Tentu saja", kembali bernyanyi.
Ya tuhan, bagaimana menghentikan nyanyian itu.
Chika melirik earphone di ranjang Eva, segera di sambarnya dan memakainya. Setidaknya sekarang tidak begitu jelas. Baru sebentar dia mendengarkan lagu, Eva menarik aerphone itu.
"Tapi aku rasa Anrez tidak menyukaiku", memasang wajah memelas menyebalkan.
Chika hanya menoleh tidak menjawab, gestur tubuhnya berharap ada penjelasan lebih lanjut.
"Kau lihat saja dia lebih banyak diam, akulah yang aktif dia sangat pasif".
Benar juga sih.
"Tapi Anrez memang seperti itu, aku saja yang sudah sering ke rumahnya tidak pernah berbicara padanya".
"Wah dimana sopan santunmu Chika, aku banyak mengenal orang pendiam, kalau dia sudah menyukai sesuatu dia pasti tidak sepasif itu".
Eva membantingkan badannya ke ranjang. Kakinya bergoyang goyang sementara matanya tertutup.
Chika mendekatinya, duduk di tepi ranjangnya.
"Kalau begitu buat saja dia menyukaimu."
Eva membuka matanya dan terfikir sesuatu. "Ya benar, itu bukan hal yang sulit, apalagi kau dan Jio ada di pihakku kan?".
Emm kalau Jio sih aku tidak tahu.
"Tentu saja, ayo semangat". Chika bersorak memberi semangat pada Eva. Mereka mengangkat genggaman tangan itu dengan penuh semangat.
"Emm Chika apa kau tidak mau menceritakan sesuatu padaku?". Eva teringat tanda merah di leher Chika siang tadi. Di perhatikannya lagi, tidak ada. Pasti Chika menutupinya dengan concealer.
"Soal apa?", Chika menghindari tatapan mata Eva. Jelas dia tahu apa yang dimaksud Eva. 3 tahun tinggal bersama membuat mereka saling mengenal 1 sama lain.
"Maaf jika aku lancang, kau sudah seperti saudara perempuanku, banyak hal di kamar ini yang sudah kita lalui bersama. Jadi maaf aku tidak bisa diam saja dan pura pura tidak tahu".
Chika masih diam saja mendengarkan, tapi kali ini dia menatap Eva.
"Jangan sampai melakukan hal yang akan merugikan dirimu. Jika bukan untuk orangtuamu, setidaknya lakukanlah untuk dirimu sendiri, masa depanmu".
Chika masih membisu. Perlahan dia kembali ke ranjangnya,sementara Eva berlalu ke kamar mandi. Dalam hati Chika membenarkan apapun yang dikatakan Eva. Bagi Chika Eva juga susah seperti saudaranya juga. Susah senang mereka jalani bersama. Menangis dan tertawa mereka lalui bersama.
Terimakasih Eva, aku tidak akan melupakannya.
Selepas kembali dari rumah Jio waktu itu, dia selalu merutuki dirinya. Menyesal dengan apa yang diperbuatnya. Menyesal dengan keputusannya. Chika sudah seperti tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Harusnya aku tidak pernah ke rumah Jio.
Chika menarik selimut untuk menutupi wajahnya, juga untuk menyembunyikan air matanya yang lolos walau sudah susah payah untuk di tahannya.