
Chika masih berbaring di kasur tanpa ganti baju atau menghapus make up nya bahkan lampu pun tidak di nyalakan, dia sibuk membalas chat sahabat sahabatnya. Terkadang senyum senyum sendiri seperti orang gila, atau memang sudah gila.
Aku sudah sampai sayang.
Sederet kalimat chat yang mengejutkan Chika, bukan karena nada dari chat masuk di ponselnya tapi karena panggilan sayang yang sudah tidak lama di terimanya.
Aku harus balas apa, harus panggil sayang juga? bahkan aku tidak menyayanginya. Ya setidaknya membuat orang senang itu baik kan?
Laporan di terima.
Chika tertawa geli atas chat yang di kirimnya, apalagi Jio yang menerimanya lalu mulai mengetik hal serius.
Karena kamu sekarang pacarku, ku beritahu sebuah rahasia, aku buta warna.
Kening Chika sedikit berkerut membaca chat itu, "apa dia bercanda? apa itu sebabnya dia bertanya soal lampu merah di perempatan?". Chika mulai mengingat ingat kejadian selama kencan.
Apa itu keturunan, maksud ku menurun dari orang tuamu? karena kamu laki laki berarti dari ibumu.
Jio merebahkan tubuhnya di ranjang di sebelah kakaknya Jo, Jonathan. Dengan seksama dia membaca balasan chatnya, "apa dia belajar dengan baik? aku bahkan harus bertanya pada mama kenapa aku buta warna."
Ya begitu lah seterusnya, berikutnya anak perempuan kita yang buta warna, apa kamu keberatan?
Apa dia sudah gila bertanya seperti ini. Hari ini bahkan belum usai sudah memikirkan pernikahan.
Daripada itu, kenapa kamu memilihku? sepertinya aku jauh dari standar wanitamu.
Kalau melihat track record ku, sejauh ini kamu yang paling manis dan berhijab yang dulu cantik dan sexi *i**buku tidak suka. Kenyamanan yang aku utamakan bukan standar*. Jio
Ketika itu hilang, kita selesai?. Chika
Ya harus di akhiri atau kita hanya akan saling menyakiti. Jio
Chika terdiam membaca chat Jio, Yang di katakannya tidak salah hanya menyakitkan untuk di jalani, bagaimana jika hanya salah satu yang merasa tidak nyaman? itukan tidak adil, sebuah hubungan bisa bertahan jika keduanya berusaha memupuk kenyamanan itu, batin Chika.
Terimakasih untuk hari ini, selamat malam Jio.
Minggu pagi setelah sholat shubuh Chika menyiapkan barang barang yang akan di bawanya pulang ke kampung halaman. Chika akan melakukan perjalanan di malam hari. Menurut Chika itu jauh lebih nyaman karena bisa tidur selama perjalanan, dan ketika pagi hari sudah sampai. Di tengah sibuknya memasukkan barang barangnya ke koper ponselnya bergetar, satu panggilan masuk dari Jio.
Sepagi ini? Aku pikir dia pemalas. "Ya halo", sahutnya cuek sambil menjepit benda pipih itu di antara telinga dan bahunya, Chika terus mengepak barang barangnya.
"Kenapa tidak menyapa ku di pagi hari? Aku suka mendapati ucapan selamat pagi ketika aku bangun"
Kamu memacariku hanya untuk ucapan selamat pagi??? Gila.
"Maaf, aku sibuk mengepak barang, banyak barang yang sudah tidak di pakai mau ku bawa pulang agar lemari ku tidak sempit. Aku pulang nanti malam. Lagi pula aku pikir kamu masih tidur."
Jio mendengarkan Chika dengan seksama sambil meregangkan badannya. Jo yang tidur disebelahnya mulai terganggu karena tangan Jio mengenai kepalanya. Jo menepis kasar tangan Jio.
"Pacaran terus", keluhnya
"Jomblo lu", ejek Jio mengangkat jari tengahnya.
Mendengar suara Jo, Chika yang di seberang telpon menanyakannya.
"Dia seorang jomblo kesepian, jangan di hiraukan anggap aja gak ada."
Chika diam tidak menanggapinya.
Telpon itu terputus. Chika terlihat sedang berpikir. Dia merasa setelah pacaran Jio itu suka berbuat sesukanya tanpa bertanya apa yang Chika mau, semua Jio yang memutuskan. Ya hanya makan siang, lagi pula Chika tidak ada kegiatan.
Chika terburu buru memakai flatshoes nya. Dia berjalan di depan cermin dan merasa ada yang aneh. Bukan penampilannya tapi tinggi badannya.
Jio tingginya 180 cm, Chika hanya 150 cm. Jika berdiri di samping Jio, Chika hanya akan melihat ketiaknya.
Tidak, dimana heels ku.
Chika turun ke lantai satu setengah berlari karena Jio sudah menunggunya sejak 5 menit yang lalu. Kosan itu sudah kosong, hanya ada kak Kiki yang tinggal karena dia sedang sibuk mengurus skripsi. Ibu kos juga sedang tidak ada.
Chika membuka gerbangnya di sambut senyum manis Jio di balik gerbang besi itu. "Maaf lama", sapanya. Jio menatap Chika dari atas ke bawah, celana jeans dan t-shirt lengan panjang, hijab senada dan heels menghiasi kakinya.
"apa nyaman? kita hanya pergi makan?"
karena Jio melihat ke bawah, refleks Chika juga menatap sepasang heels di kakinya.
"aku tidak mau hanya melihat ketiakmu", jawabnya sambil menaiki motor Jio. Jio hanya tersenyum penuh arti sambil melirik wajah Chika di spionnya.
"kenapa melihatku dari situ? apa kamu mau menebak warna pakaianku?"
Jio tertawa mendengarnya. "aku tahu kok, itu warna pink."
Kening Chika setengah berkerut. Bukannya dia bilang dia buta warna?. "Apa semalam hanya bercanda?" tanya Chika penasaran. Jio tersenyum lalu mengalihkan tatapannya. "hijabnya aku tidak tahu warna apa", jawabnya pasrah. Chika memperhatikan hijab itu, berwarna hijau toska dengan motif bunga bunga berwarna pink. Sepertinya gak semua warna dia gak bisa lihat.
Mereka sudah selesai makan soto ayam di sekitaran kampus. Walaupun masa liburan, kampus tetap ramai. Masih ada beberapa mahasiswa yang ikut semester pendek bagi yang nilainya kurang bagus. Ada juga beberapa mahasiswa yang sibuk skripsi.
"Kami di tempat biasa, aku tunggu ya", Jio memutus sambungan telpon itu. Jio menelpon temannya.
"Pacar kamu yang lain?", tanya Chika dengan wajah kesal sedikit penasaran.
"Pacarku ada di depanku, satu satunya."
Chika hanya mencibirkan bibirnya seolah mengisyaratkan dia tidak percaya dengan ucapan Jio.
"Aku tahu kamu belum percaya padaku, masih berfikir aku lelaki brengsek karena wajahku yang memang mengundang fitnah. Tapi tidak semua lelaki tampan itu brengsek. Beruntunglah kamu bertemu dengan ku. Tidak aku yang beruntung bertemu kamu."
Ya dia memang tampan dan dia sangat menyadarinya. Lalu apa yang beruntung bertemu aku, mencurigakan.
"Apanya yang beruntung", gerutu Chika pelan, sayangnya gerutuan itu terdengar jelas di telinga Jio.
"Kamu ya kamu tidak memaksa menjadi orang lain apa adanya, banyak wanita yang membohongi dirinya sendiri hanya untuk membuat orang laki laki terkesan, dan itu membuatku muak".
"Gombal terus yang baru jadian", sahut Sean. Sean teman dekat Jio di kampus. Kemana mana selalu bersama. Jio juga seeing bercerita soal Sean pada Chika selama mereka dekat.
"Chika kamu sadarkan waktu terima dia, apa kamu di ancam?" menarik kursi di sebelah Chika.
"Kamu ngapain duduk disitu, pindah!", Jio memaksa Sean berdiri bertukar tempat dengannya. Chika hanya menikmati candaan mereka sambil menyeruput es tehnya yang sudah hampir habis.
"Sejujurnya agak di ancam sih, soalnya dia gak mau pulang", jawab Chika tersenyum menatap Jio. Jio yang di tatap malah balas menatap.
"Tu kan benar, lagu lama kamu Jio, ternyata tampan gak jaminan ya, jadi mau putus dan jadian dengan ku?", tanya Sean memasang wajah serius.
"Mau mati?".
Sean makan dengan lahap sambil bersenda gurau. Selanjutnya teman teman yang Chika temui sewaktu pertama kali bertemu Jio di kantin kampus datang menghampiri mereka. Rombongan itu pergi karaoke untuk merayakan pasangan baru yang akan berpisah itu. Ya Chika harus pulang kampung. Anehnya Chika malah merasa nyaman padahal hanya dia wanita.