
1 tahun kemudian
Alya p.o.v
Hari ini adalah hari kelulusan Alya dan teman - teman seangkatannya. Kalian pasti sudah tahu bukan, kalau Alya adalah siswa terpintar disekolahnya. Oleh karena itu pada hari ini ia mendapat nilai terbaik dalam kelulusannya. Ia pulang membawa sebuah tulisan bahwa ia lulus dengan nilai terbaik dengan sangat gembira setelah turun dari mobil yang disetiri oleh supir keluarganya.
"Paa....Maa" suara Alya memanggil kedua orang tuanya dengan senyum merekah dibibirnya.
"Kamu mau ikut mama atau papa?" tanya ibunya sambil menangis membawa koper.
Alya kebingungan, apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua orang tuanya?? Sepertinya mereka berdua memutuskan untuk bercerai.
"Kenapa mama tanya gitu? Aku pasti ikut kalian lah, memang kalian mau pisah?" tanya Alya.
"Iya, cuma pisah nggak cerai. Karena mama gak akan pernah ceraiin papa biar papa gabisa nikah lagi secara sah" jawab ibunya.
"Sekarang kamu pilih mau ikut siapa" suruhnya.
Alya membisu.
Adiknya menyusulnya dari mobil.
"Kak? Kenapa kakak diem aja?" tanya adiknya dengan polos.
"Kita harus pilih mau ikut siapa dek. Apa yang kakak takutin, sekarang terjadi. Mama dan papa memutuskan untuk pisah" jawab Alya.
"Aku gamau pisah sama kakak" ucap adiknya mulai meneteskan air mata.
"Kakak milih buat ikut mama" jawab Alya sudah membualatkan keputusannya.
"Kalo gitu adek ikut papa ya, nak" ajak ayahnya pada Andra.
Andra hanya diam dan mengikuti ucapan ayahnya dengan pasrah dan berharap ia akan bertemu dengan kakaknya lagi.
"Kamu tenang aja ya, Andra. Kita bakal ketemu lagi kok. Papa sama mama gak cerai cuma pisah, jadi kamu jangan sedih ya. Ingat janji yang kita ucapin waktu ibadah di gereja, walau seluruh dunia membenci, kita akan tetap saling menyayangi" kata Alya sambil memegang kedua bahu adiknya.
Helena menggandeng Alya dan masuk ke mobilnya lalu bergegas untuk pergi ke bandara, karena ia berencana untuk membawa Alya ke Belanda.
Sesampainya di Amsterdam, Belanda.
"Heb je geen spijt van het kiezen van mama? [(Bahasa Belanda) Kamu nggak nyeselkan milih mama?]" tanya ibunya.
"Nee, mama [(Bahasa Belanda) Nggak, mama]" jawab Alya sambil tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
"Goed dan [(Bahasa Belanda) Bagus kalau begitu]. Sebentar lagi kan ada pendaftaran SMP, kamu liat - liat ya SMP yang ada disini, kalo udah ada yang pengen kamu masuki. Vertel het mama, ja schat [(Bahasa Belanda) Bilang ke mama, ya sayang]" ucap ibunya sambil mengelus rambut Alya.
Alya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu ia pergi ke kamarnya dan membuka macbooknya untuk mencari SMP terbaik disana. Mungkin kalian bertanya - tanya, kok Alya baik - baik aja sih setelah semua itu???
Sebenarnya ia tidak baik - baik saja, tetapi apa boleh buat, toh itu sudah terjadi. Mau menangis, marah, atau menyalahkan orang tuanya, tetap tidak bisa memperbaiki apa yang telah terjadi. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menghadapi apapun yang ditakdirkan Tuhan untuknya.
Keesokan harinya Alya dan ibunya pergi mendaftar ke SMP yang telah dipilih. Lalu pada sore harinya Alya meminta izin pada ibunya untuk keluar sebentar membeli beberapa keperluan. Ia disuruh pergi bersama sopir karena ibunya harus mengurus perusahaan kakeknya. Karena kakak ibunya sibuk mengembangkan perusahaan sendiri dan yang satunya fokus mengurus rumah tangganya di Indonesia, maka ibunya yang mengurus perusahaan warisan itu.
Alya sudah membeli semua keperluan yang ia perlukan. Tapi setelah keluar dari mall, ia langsung dihadang oleh beberapa gangster. Sopinya tidak tahu kalau nona majikannya sedang dalam bahaya. Akhirnya Alya waspada dan akan mengeluarkan ilmu karate yang sudah ia pelajari saat ia masih kelas 4 SD.
Tetapi tiba - tiba ada seorang laki - laki yang loncat dan menendang punggung salah satu gangster itu. Lalu, gangster yang lainnya langsung mengeluarkan pisau. Orang - orang setempat hanya bisa menyaksikannya karena mereka juga takut melawan para gangster itu.
Laki - laki yang tadi menyuruh Alya tetap berada dibelakangnya. Alya hanya menurut dan tidak mengatakan kalau sebenarnya ia juga bisa bela diri.
"Ben jij zijn vriendje? Waarom tussenbeide komen? [(Bahasa Belanda) Apa kamu pacarnya? Mengapa ikut campur?]" ucap salah satu gangster.
"Ik hielp haar omdat ik vond dat ik haar moest helpen, ongeacht wie zij was [(Bahasa Belanda) Aku menolongnya karena merasa harus menolongnya tanpa peduli siapa dia]" tegas laki - laki yang ingin menolong Alya.
"Ze lijken gevaarljik, laten we gewoon wegrennen [(Bahasa Belanda) Mereka sepertinya berbahaya, kita lari saja]" ajak Alya yang mulai khawatir apabila gangster itu menyerang orang yang berusaha menyelamatkannya.
"Rustig aan, ik heb een lichtblauwe riem in karate [(Bahasa Belanda) Tenang saja, aku sudah sabuk biru muda di dalam karate]" jawab laki - laki itu yakin dengan kemampuannya.
"Lu sabuk biru? Gue udah sabuk ungu kali" gumam Alya dalam pikirannya.
Tapi para gangster sudah memulai serangannya. Alya hanya diam karena belum waktunya ia melakukan sesuatu. Laki - laki itu terus bertarung dengan para gangster hingga pipinya terkena tendangan salah satu gangster dan membuatnya tergeletak di dekat kaki Alya.
Alya berjongkok. "Ben je oke? [(Bahasa Belanda) Kamu tidak apa - apa?] tanya Alya.
Laki - laki itu tidak menjawab dan hanya memegangi pipinya yang terasa sakit.
"Gak bisa dibiarin, mereka harus diberi pelajaran" kata Alya dengan rasa marah. Ia lalu memberikan belanjaannya kepada laki - laki yang mencoba menolongnya namun tidak berhasil.
"Je houdt dit eerst vast [(Bahasa Belanda) Kamu pegang ini dulu]" suruh Alya. Ia mulai mencicingkan lengannnya dan maju melawan gangster itu.
Laki - laki yang mencoba menolong Alya tadi hanya melihati Alya yang sangat berani dan baru menyadari kalau Alya bisa berbahasa Indonesia.
Saat Alya maju ada salah satu gangster yang mengayunkan pisaunya dan Alya langsung menghindarinya lalu menangkap tangan gangster itu dan melintirkannya ke kanan agar pisau yang dipegang gangster itu jatuh lalu ia menendang perut gangster itu sebanyak 2 kali dengan menggunakan dengkulnya dan gangster itu ambruk.
"Jij bent geweldig zo blijkt [(Bahasa Belanda) Hebat juga kamu]" kata gangster lain.
"Vrienden, laten we met haar vechten!! [(Bahasa Belanda) Teman - teman ayo kita lawan dia!!]" ajak gangster itu pada teman - temannya.
Alya melawan mereka semua hingga para gangster itu babak belur dan kabur.
"Kamu gamau lapor polisi atas kejadian tadi?" tanya laki - laki yang ingin menolong Alya tadi.
"Biarin aja" jawab Alya sambil mengambil belanjaannya dan akan berlalu pergi tapi ia baru sadar kalau laki - laki tadi berbicara menggunakan Bahasa Indonesia bukan Bahasa Belanda. Ia lalu kembali ke laki - laki itu lagi.
"Kamu bisa Bahasa Indonesia?" tanya Alya.
"Iya, sebenernya aku orang Indonesia tapi keturunan Belanda" jawab laki - laki itu.
"Yaudah kalo gitu kenalin" kata Alya sambil mengulurkan tangannya mengajak laki - laki yang ada dihadapannya untuk bersalaman sambil tersenyum dengan riangnya karena bertemu sesamanya (maksudnya orang Indo tapi keturunan Belanda gitu gess).
"Nama aku Beatrix Alya Valencia. Panggil aja Alya tapi itu nama Indonesiaku, kalau disini aku dikenal sebagai Valencia Brechtje panggilannya Valen" ucap Alya memperkenalkan dirinya dengan penuh semangat.
"Namaku Farrel. Ambrosius Farrel Defras disini dikenal sebagai Defras Beckham dan kerena pada waktu kecil aku gabisa ngucapin Defras jadi itu bisa diganti Defa kalo kamu pengen. Kenapa kamu keliatan seneng banget gitu?" jawab Farrel.
"Ya karena ketemu kamu lah" jawab Alya sambil melepaskan jabatan tangannya dan mencubit pipi Farrel.
"Aww, kamu lupa kalo pipi aku ketendang pas ngelawan gangster tadi??" ucap Farrel sedikit kesal.
"Oh iya aku lupa. Maaf maaf. Sakit banget ya. Ikut kerumah aku yuk, aku obatin" ucap Alya dengan sungkan
Farrel hanya diam sambil cemberut.
"Kamu anggota keluarga Beckham?" tanya Alya.
"Iya, tapi kalo di indo aku gapake marga itu" kata Farrel.
"Sama, soalnya sebenernya itu marganya mama. Mamaku yang orang Belanda" kata Alya.
"Setau aku, keluarga Beckham sama keluarga Brechtje itu sahabatan" ucap Farrel semakin membuat Alya ingin membawanya kerumah.
"Nah gitu kan, keluarga kita tu bersahabat. Jadiii, kamu harus kerumahku" ucap Alya sambil menarik tangan Farrel dan membawanya ke mobil.
"Ehhh, apa hubungannya sama ituuuu" teriak Farrel sambil mengikuti Alya.
"Aku gak terima penolakan" ucap Alya.
"Kek mafia aja" kata Farrel.
"Setuju sih kalo kamu ngomong gitu, gimana kalo aku jadi mafia? Lagian ini kan Eropa, banyak banget mafia" ucap Alya.
Tapi sebenarnya semenjak berada di Belanda ibunya menyewa orang untuk melatihnya menjadi seseorang yang berhati dingin, bisa menggunakan senjata, bertarung dan semua hal yang biasanya dilakukan oleh seorang mafia. Karena keluarga Brechtje merupakan keluarga mafia. Tapi ya Alya gabakal bilang ke Farrel lah soalnya itu kan sesuatu yang gak seharusnya dikatakan pada orang baru.
Padahal ya man teman latiannya baru berjalan 1 hari dan Alya sudah berani menghabisi gangster lokal apalagi kalo udah latian 1 bulan coba?? Tapi ya emang dari dasarnya Alya udah belajar karate sih pas di Indonesia.
"Ya itu sih terserah" kata Farrel.
Alya tertawa.
Mereka pun sampai di tempat dimana mobil Alya terparkir.
"Wie heb je meegebracht? [(Bahasa Belanda) Siapa yang kamu bawa?]" tanya sopir yang mengemudikan mobil yang dibawa oleh Alya.
"Mijn vriend [(Bahasa Belanda) Temanku]" jawab Alya sambil menutup pintu mobil.
Sopir itu hanya mengangguk dan mulai menyalakan mobilnya.
"Tapi lu orang Jakarta juga ya??" tanya Alya yang sangat ingin mengenal Farrel.
"Iya" jawab Farrel singkat.
"Entah kenapa gue ngerasa nyaman ya sama ni cewe. Semoga dia satu SMP sama gue" Farrel berharap dalam hatinya.
Jadi, tuh si Alya udah ngobatin lukanya Farrel ya guys, terus sekarang kita skip aja yee.
Keesokan harinya.
Jadi, temen - temen. Sebelum Alya ketemu Farrel mereka itu udah ikut tes dan segala macem lalu berhasil masuk ke SMP pilihannya dan hari ini adalah hari pertama mereka.
Saat ia keluar dari mobilnya pada saat yang sama Farrel juga keluar dari mobilnya. Farrel melihat Alya dan mengingat bahwa Alya adalah gadis pemberani waktu itu. Ia lalu menghampirinya.
"Ternyata kamu sekolah disini juga" kata Farrel.
"Iya" jawab Alya.
"Kok kamu gak kaget sih liat aku sekolah disini juga?" tanya Farrel melihat ekspresi Alya yang nampak biasa saja mengetahui bahwa mereka bersekolah di tempat yang sama.
"Ya biasa aja lah. Aku udah liat daftar nama siswa yang keterima disekolah ini dan saat kamu sebutin nama, aku langsung tau kalo kita satu sekolah" jawab Alya.
"Jadi gitu" kata Farrel.
Jadi tadi itu mereka berbincang sambil berjalan.
"Hmm. Kelas gue disini, gue masuk yaa" pamit Alya.
"Iya, nanti istirahat aku mampir kesini ya. Kita jajan bareng" ajak Farrel.
"Boleh" jawab Alya sambil mengangguk.
Farrel pergi ke kelasnya.
.
.
.
.
.
Co cweet yaa. Padahal masih SMP. Eee tapi kalian penasaran ga sih? Apakah mereka akan tetap bersama hingga dewasa atau nggak?? Wahh pengarang juga masih bingung niehh. Enaknya dibikin gimana yeee.
Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.