I Will Be Okay

I Will Be Okay
~ Acht (Delapan)



Maura p.o.v


"Mauraaa....." panggil Tessa.


Maura tidak menjawab dan meratapi kepergian gadis yang menolongnya.


"Dia murid baru ya? Kan disini gaada yang berani ngelawan genknya Nathan kecuali Rangga" batin Maura.


"Lu tu yaa. Kenapa nggak dilawan sii??" tanya Tessa.


"Bentar deh, Sa. Lu tau siapa yang nolong gue tadi?" tanya Maura.


"Gue liat si, tapi gue gatau siapa dia. Keknya anak baru" jawab Tessa.


"Cari tau nomer hpnya" suruh Maura dan melemparkan tasnya pada Tessa.


Tessa menangkap tasnya dan mengikuti Maura yang sudah berjalan duluan.


Rangga p.o.v


"Lu yakin gak penasaran sama cewe baru yang dari Belanda itu? Jago bela diri lho dia, tadi gue kira dia bakal kalah dan gue mau turun tangan buat nyelametin dia" kata Randy.


"Tadi pas perkenalan, siapa namanya?" tanya Rangga mulai tertarik dengan Alya.


"Alya" jawab Randy.


"Ooo" jawab Rangga.


"Lu tertarik kan sama dia. Gue temenan sama lu dari dulu dan lu gapernah sekalipun tanya nama cewe. Sekarang lu tanya nama cewe itu. Wahhh, yaudah deh gue kasihin dia buat lu" ucap Randy senang karena kawannya mulai tertarik dengan perempuan.


"Ck, berisik. Udah ayok pulang" ajak Rangga.


Alya p.o.v


Setelah menyelamatkan Maura, ia pergi bersama teman barunya yaitu Tiara.


"Lu pulang naik apa si? Kok ke parkiran. Kalo naik motor, gue gamau ikut. Panas. Mending gue naik angkot aja" ucap Tiara.


"Gue naik mobil. Take it easy [(Bahasa Inggris) Tenang aja]" jawab Alya sambil melepas kuncir rambutnya.


"Beneran?" tanya Tiara.


Alya mengangguk dan mengambil remote mobilnya dan menekannya. Lalu mobilnya berbunyi.


Tiara langsung menoleh ke arah mobil yang berbunyi dan sangat kaget mengetahui bahwa mobilnya Alya adalah mobil Lamborghini Aventador berwarna abu - abu.



"Ini serius mobil lu?" tanya Tiara yang keheranan.


"Hmm" jawab Alya sambil membuka pintunya, masuk dan membuka atap mobil itu.


Semua siswa disana melihatinya karena mengendarai mobil mewah.


"Ayok naik" ajak Alya.


"Haa" kaget Tiara yang bengong dari tadi.


"I...iya" jawabnya dan naik ke mobil Alya.


Mereka lalu pergi dari sana.


"Kerumah lu atau kerumah gue?" tanya Alya.


"Gue masih belum pengen kerumah nih, kerumah lu aja yaa" jawab Tiara.


"Siap" jawab Alya.


"Ngomong - ngomong, kenapa si tu si Maura kok pura - pura lemah??" tanya Alya.


"Soalnya dia tu suka sama Nathan. Sedangkan kata anak - anak sekolah SMA Pelita Bangsa, Nathan itu tipe cowo yang suka cewe kalem sama feminin gituu" jawab Tiara.


"Nathan disukain" kata Alya mengejek sepupunya.


"Eh jangan gitu loh, dia tu bisa buat cewe manapun jatuh cinta sama dia dalam hitungan detik" kata Tiara.


"Termasuk lu?" tanya Alya.


"Maybe [(Bahasa Inggris) Mungkin]" jawab Tiara sambil membayangkan ketampanan seorang Nathan.


"Idihhh" kata Alya sambil bergidik.


Sampailah di rumah Alya di Menteng, Jakarta Pusat yang baru dibelikan oleh kakeknya.



"Yuk masuk" kata Alya sambil membuka pagar rumahnya.


"Ini serius rumah lu, Al? Lu tinggal sama siapa disini?" tanya Tiara.


"Alone [(Bahasa Inggris) Sendiri]" jawab Alya.


Beberapa detik kemudian ada beberapa agen khusus Unicorn Group beserta Jack keluar dari rumah itu.


"Apakah rumah ini cocok dengan angan - angan anda, Nona?" tanya Jack pada Alya.


"Hmm, very suitable [(Bahasa Inggris) Hmm, sangat cocok]. Apa semua fasilitas yang aku minta udah ada di dalem?" tanya Alya.


"Tentu sudah. Beserta intercom pun sudah kami pasang" jawab Jack.


"Ok, makasih Sekretaris Jack" jawab Alya dan akan masuk kerumah barunya.


"Nona.." panggil Jack.


Alya menoleh.


"Bella setuju untuk menjadi sekretaris Nona dan ia sudah menandatangani kontrak yang dibuat oleh Nona. Jadi, ia akan bekerja mulai besok. Dan sedikit pemberitahuan, ternyata sekolahnya Bella dulu adalah sarjana hukum jadi ia bisa menjadi sekretaris sekaligus penasihat hukum anda" kata Jack.


"Iyakah? Makasih banyakk, Sekretaris Jack" kata Alya sangat senang.


"Sama - sama, Nona. Silakan menikmati rumah barunya" jawab Jack dan pergi bersama para agen khusus.


Saat mereka akan pergi, Jack mendapat telepon dari Hanung untuk menemani Alya hingga jam kerjanya hari ini Habis.


Alya dan Tiara masuk ke dalam rumah.


Jack berada dibelakang mereka.


"Sekretaris Jack? Kenapa kesini lagi?" tanya Alya.


"Pak Hanung memintaku untuk tetap disisi anda sampai jam kerjaku habis hari ini" jawab Jack.


"Yauda deh kalo gitu" kata Alya.


"Pak Hanung?" tanya Tiara.


"Iya, dia kakek gue" jawab Alya.


"Hahhh, dia..dia kakek lu??" tanya Tiara seakan tak percaya.


Alya hanya mengangguk.


"Ttt......tapi dia kan Presiden Direktur Unicorn Group yang terkenal ituu" kata Tiara.


"Hmm, emang" jawab Alya.


"Mau minum apa nih?" tanya Alya yang akan membuat minuman untuk sahabat barunya.


Tiara menghampiri Alya dan mendorongnya untuk duduk di sofa ruang tamu.



"Eeehh, kenapa?" tanya Alya.


"Princess, princess just sit here and I will take care of everything [(Bahasa Inggris) Tuan putri, tuan putri duduk saja disini dan saya yang akan mengurus semuanya]" ucap Tiara dengan penuh hormat setelah mengetahui fakta tadi.


"You're a guest, I should make you drink [(Bahasa Inggris) Lu tu tamu, harusnya gue yang buatin lu minum]" kata Alya.


"Sekretaris Jack, tolong temenin Tiara dulu ya" ucap Alya pada Jack.


"Karena lu gajawab mau minum apa, jadi gue buatin minuman kesukaan gue yaa, jeruk peras" ucap Alya.


Alya pergi membuat jeruk peras, sementara Jack mengajak Tiara untuk bermain PS.


Saat Alya kembali, mereka sangat ribut.


"Hadehhh, mungkin gini ya rasanya punya monyet" ucapnya dalam hati sambil menaruh minuman buatannya di meja.


"Ayooo" kata Tiara dan Jack bersahut - sahutan.


Mereka tidak memedulikan Alya yang duduk dengan bosannya.


Maura p.o.v


"Dia tadi itu kan pergi sama Tiara, mungkin Tiara punya nomer hpnya" kata Tessa.


"Yauda deh, kalo gitu gue telpon Tiara" jawab Maura dan menelepon Tiara.


Alya p.o.v


"Raa, handphone lu bunyi tuh" ucap Alya pada Tiara yang masih asyik bermain PS dengan Jack.


"Udahlah biarin ajaa" jawab Tiara.


Ponsel itu pun berhenti.


Maura p.o.v


"Ihhh, kok gak dijawab siii" kesal Maura.


"Wahh, berani ya tu anak" sahut Tessa.


Maura menelepon Tiara lagi.


Alya p.o.v


"Ahh, gatahan gue. Boleh gue angkat gak?" tanya Alya.


"Iya boleh boleh, selama itu bukan bokap atau nyokap gue boleh lu angkat" jawab Tiara.


Alya mengambil ponsel Tiara dan membaca nama orang yang menelepon.


"Maura ternyata, gue angkat yaa" kata Alya.


"Iyaa" jawab Tiara.


"Halo" kata Alya.


"Kenapa lu baru angkat??" tanya Maura kesal.


"Suka - suka gue lah" jawab Alya.


"Berani ya luu" kata Maura.


"Udala, sebenernya mau ngapain nelpon?" tanya Alya.


"Cewe yang tadi bantuin gue, lu tau kan dia siapa" jawab Maura.


"Ohh guee" jawab Alya.


"Kok lu si, lu mah mana berani" kata Maura.


"Iyaa, gue yang bantuin lu. Ini gue Alya yang tadi bantuin lu. Tiaranya lagi main PS ampe kek orang tenggelem yang nunggu bantuan dateng. Pikipikipikipik, gituu" jelas Alya sambil bercanda.


"Oh jadi lu orang itu" kata Maura.


"Kalo masi ada perlu kerumah gue aja. Gue kirim alamatnya lewat chat" kata Alya dan langsung menutup telepon itu.


"Gimana??" tanya Tiara sambil masih asyik dengan PS.


"Dia nanyain soal gue" jawab Alya.


"Lagian lu sii, ngapain bantuin dia. Jadi kek gitu kan dia" kata Tiara.


"Biarin, gue suruh dia kesini kok" jawab Alya.


"Kesini??" tanya Tiara.


"Hmm" jawab Alya.


"Yauda de yaa, gue gak ikut campur" kata Tiara.


"Aduhh Sekretaris Jack, berisik banget si kalian" kesal Alya.


"Sebentar, Nona. Ini sudah mau menang" jawab Jack.


Alya menyangga kepalanya dengan tangannya dan dengan wajah kesalnya.


"Yahh kalahh" kata Tiara lemas.


"Lose out?? [(Bahasa Inggris) Kalah??]" tanya Alya.


Tiara mengangguk lemas menghadap Alya.


"Sini gue yang main" kata Alya.


Ia lalu main PS melawan Sekretaris Jack.


"Hiya hiya hiya" ucap keduanya bersahut - sahutan.


Tidak lama kemudian.


"Yesss" kata Alya sambil mengepalkan tangannya dan mengangkatnya tinggi - tinggi.


Maura p.o.v


"Kok dimatiin gitu aja si, malah disuruh dateng kerumahnya" kata Maura.


"Yauda ayuk kerumahnya yukk, pasti rumahnya bagus tadi aja mobilnya Lamborghini" kata Tessa.


"Serius luu??" tanya Maura.


"Iyaa" jawab Tessa.


"Wahh, pasti dia lebih kaya daripada Nia" ucal Maura.


"Pastilah, Nia mah mobilnya cuman Honda Jazz. Jauh ma tu anak" kata Tessa.


"Yaudah yuk kesana" ucap Maura.


Setelah menempuh perjalanan menggunakan angkot kerumah Alya, akhirnya mereka berdua sampai juga.


"Tuh kan, kalo bukan orang kaya mana mungkin rumahnya pake intercom impor kek gini" kata Tessa.


"Yauda deh yuk dipencet" kata Maura.


.


.


.


.


.


Keknya Maura sama Rangga mulai tertarik tuh buat mengenal lebih dekat seorang Alya. Kira - kira gimana kelanjutan hubungan mereka yaa??? Untuk mengetahuinya harus tetep stay read donkk.


Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.