I Will Be Okay

I Will Be Okay
~ Zevenendertig (Tiga Puluh Tujuh)



Alya p.o.v


Setelah mengetahui kalau ada sianida di makanan kakeknya, ia langsung bangkit dan menuju bangunan barat lalu masuk ke kamar Fahmi.


"Lu yang nglakuin itu?" tanya Alya.


"Ooo tenang, santai. Duduk dulu" kata Fahmi.


"Jawab gue, lu yang nglakuin itu??!!!" teriak Alya.


"Anda yang telah melakukannya, Nona" kata Prames yang tiba - tiba muncul.


Prames adalah direktur bagian keagenan Unicorn Group, nama lengkapnya Dewi Prameswari. Dulu dia memihak Hanung, namun entah mengapa sekarang dia memihak Fahmi.


"Direktur Dewi Prameswari, apa maksud anda?" tanya Alya.


"Makanan yang dimakan Pak Hanung mengandung sianida. Sementara makanan terakhir yang dimakan Pak Hanung adalah makanan yang diambilkan oleh anda dan anda juga yang menyuapi beliau. Jadi, siapa yang patut menjadi tersangka disini??" jelas Prames.


Fahmi mengangkat sebelah alisnya.


"Lu emang bener - bener...." kata Alya pada Fahmi.


"Kami akan menutupi semua itu untuk anda. Tapi tentu ada syaratnya" kata Prames.


"Apa yang lu pengenin?" tanya Alya.


"Pak Hanung menyerahkan perusahaan dan semua asetnya pada anda setelah beliau meninggal. Tetapi anda bisa menyerahkan semua itu kepada orang pilihan anda, jika anda mau. Jadi saya minta, serahkan semua itu pasa Tuan Muda Fahmi" jawab Prames.


Alya mengepalkan tangannya sambil tertawa kecil.


"Ini baru hidangan pembuka, Alya. Bukan hidangan utama" ucap Fahmi.


Alya mengangguk.


"Okey, gue bakal tunggu hidangan utamanya. Tapi lu tau kan moto gue apa??" kata Alya.


"Degene die aan het eind lacht, is de winaar [(Bahasa Belanda) Orang yang tertawa di akhir, adalah pemenangnya]" lanjut Alya.


Fahmi hanya tersenyum.


"Kalau begitu tanda tanganilah berkas ini dulu, Nona" suruh Prames.


Alya lalu menandatangani berkas bahwa ia menyerahkan perusahaan dan semua aset yang telah diberikan kakeknya, kepada Fahmi Darma.


"Puas lu" kata Alya.


"Banget" jawab Fahmi tepat di telinga Alya.


"Kerja yang bener aja di Rumah Sakit Dirgantara, gue gabakal ganggu lu kok" lanjut Fahmi.


"Tapi gue harap, lu ngelakuin pemakaman Kakek dengan layak" kata Alya.


"Pasti. Gue udah ngehubungi semua kenalan Kakek. Bahkan yang diluar negri juga" jawab Fahmi.


"Kalo gitu kita percepet aja pemakamannya" kata Alya.


Pemakaman Hanung pun dilakukan dengan sangat mewah dan dihadiri oleh orang - orang yang berkelas.


Setelah pemakaman itu selesai, Alya langsung pergi dari sana. Alya menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh sambil tertawa karena tidak percaya dengan situasi yang ia hadapi ini. Setelah itu ia pulang ke rumahnya dan langsung membaringkan tubuhnya ke kasur. Ia melihat jam di Hpnya.


"Ternyata udah jam 12 lebih, malem juga ya" ucapnya.


Rangga p.o.v


Rangga menelepon Alya.


"Iya, Rangga. Kenapa?" tanya Alya.


"Sorry gue nelpon lu malem - malem. Tapi ini penting" jawab Rangga.


"Kenapa emangnya?" tanya Alya.


"Bokap lu dirawat di rumah sakit" jawab Rangga.


Alya p.o.v


"Maksud lu Papa gue??" tanya Alya sambil bangkit dari tempat tidurnya.


Alya kaget banget. Baru aja kakeknya meninggal dan sekarang ayahnya dirawat di rumah sakit.


"Gue kesana sekarang juga" ucap Alya dan segera berangkat ke Rumah Sakit Dirgantara.


Sesampainya di Rumah Sakit Dirgantara, langsung banyak sekali wartawan yang ada disana dan bodyguard ayahnya yang menghalangi wartawan - wartawan itu untuk masuk ke rumah sakit.


"Hisshh. Kalo lewat pintu belakang, nanti kelamaan. Kalo lewat sini, keadaannya kek gini" ucap Alya.


"Nona Alya" panggil bodyguard itu.


"Hmm, bolehkah saya masuk?" tanya Alya.


"Boleh, Nona. Silakan, kami yang akan mencarikan jalan dari wartawan - wartawan ini" jawab bodyguard itu.


Alya masuk ke rumah sakit dilindungi para bodyguard itu. Saat sudah masuk, Rangga langsung menyambutnya dan mengatakan kondisi ayahnya.


"Bokap lu aterosklerosis yang keliatannya cukup parah dan kita harus ngoperasi dia" kata Rangga.


Aterosklerosis adalah penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri akibat penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Kondisi ini menyebabkan jantung koroner karena darah tidak bisa mengalir ke jantung dengan baik soalnya pembuluh darahnya tersumbat plak tadi. Jadi, harus dioperasi.


"Gaada wali yang ikut kesini?" tanya Alya.


"Ada" jawab Rangga.


"Mana?" tanya Alya.


"Dia" jawab Rangga sambil menunjuk adiknya Alya yang duduk di ruang tunggu IGD.


"Andra?" kata Alya sambil menghampiri adiknya.


"Aku gatau kenapa. Tiba - tiba Papa pingsan, Kak" kata Andra.


"Iya gapapa. Kakak yang ngurus Papa. Kamu gausah khawatir" pamit Alya.


Adiknya mengangguk.


Saat di tempat ayahnya.


"Lu sendiri yang ngoperasi bokap lu atau gue?" tanya Rangga.


Alya masih terdiam melihat ayahnya.


Setelah itu ia menjawab pertanyaan Rangga.


"Gue sendiri yang ngoperasi Papa. Tapi lu mau jadi asisten gue nggak?" kata Alya.


"Gue? Jadi asisten lu?" tanya Rangga.


"Iya. Soalnya gatau kenapa. Kalo ada lu, gue jadi lebih tenang" jawab Alya.


"Yaudah kalo gitu gue mau" kata Rangga.


"Makasih ya, Ngga" kata Alya.


"Suster, segera hubungi dokter anastesi untuk menyiapkan ruang operasi" kata Alya pada suster yang merawat ayahnya.


"Baik, Dokter" jawab suster itu.


Operasi dimulai. Tetapi saat Alya akan melakukan sayatan, tangannya sedikit bergetar. Ya bayangin ajalah perasaan Alya sekarang kek gimana. Kakeknya meninggal, terus tiba - tiba ayahnya sakit kek gini. Campur aduk banget pasti.


"Al, gimana?" tanya Rangga.


Alya menggenggam tangannga yang bergetar dengan tangannya yang satunya.


"Gapapa. Gue bisa" jawab Alya.


"Saya akan melakukan sayatan sekarang" kata Alya.


Operasinya sudah selesai.


"Langsung bawa ke kamar rawat inap aja" suruh Alya.


"Gak di ICU dulu?" tanya Rangga.


"Gausah, gue yang pantau Papa 24 jam" jawab Alya.


Rangga mengangguk dan mengikuti perintah Alya untuk menaruh Heri langsung di kamar rawat inap.


.


.


.


.


.


Lanjutt.


Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.