I Will Be Okay

I Will Be Okay
~ Vijfentwintig (Dua Puluh Lima)



Alya p.o.v


Acara yang ada dirumah kakeknya Alya itu adalah makan bersama keluarga dan itu semua keluarga termasuk yang dari adiknya kakeknya Alya, pokoknya semua. Acaranya diselenggarakan di taman rumah kakeknya Alya.



"Kenapa kakak tiri yang kayaknya gapernah peduli sama aku ini, minta pertemuan pribadi setelah makan bersama keluarga?" Alya bertanya - tanya.


Lupa jelasin, jadi rumah kakeknya Alya alias Hanung Kusuma itu ada 4 bangunan.


Bangunan utama atau bangunan utara itu buat Hanung dan ayahnya Alya atau Heri. Yang ini bangunannya.



Bangunan timur atau bangunan kedua itu tempat Alya tinggal bersama keluarganya dulu saat keluarganya belum berantakan, kalau sekarang gaada yang tinggal disana. Tapi tetep dibersihin sama pelayan yang ada disana. Ini bangunannya.



Lalu bangunan barat atau bangunan ketiga, itu buat ibu tiri pertamanya Alya atau Ira yang merupakan ibu dari Fahmi dan Dito. Bangunannya.



Dan terakhir, bangunan selatan atau bangunan keempat itu buat ibu tiri keduanya Alya atau Azizah ibunya Luna. Bangunannya.




Ini ruang santai bangunan utama, dimana Fahmi mengajak Alya untuk bertemu secara pribadi.


"Akhirnya, pewaris keluarga ini dan adikku tercinta datang" kata Fahmi sambil memeluk Alya.


Alya hanya diam tanpa membalas pelukan kakak tirinya.


Fahmi melepas pelukannya dan mempersilakan Alya untuk duduk.


Alya lalu duduk sambil menyilangkan kaki dan tangannya.


"Pelayan" panggil Fahmi.


Pelayan yang ada di depan ruangan tersebut langsung kesana.


"Tolong buatkan teh pu'erh" suruh Fahmi.


"Baik, Tuan Muda Fahmi" jawab pelayan tersebut dan pergi membuatkan teh pu'erh.


"Lu tau asal teh pu'erh darimana?" tanya Fahmi.


"Yaiyalah. Dari China" jawab Alya.


"Bener banget. Ngomong - ngomong soal China, lu bisa bahasanya?" kata Fahmi.


"Kěyǐ. Wèi shénme? [(Bahasa China) Bisa. Kenapa?]" jawab Alya.


"Ahahaha" Fahmi tertawa.


Pelayan datang membawa teh pu'erh.


"Makasi" kata Alya.


Pelayan tersebut hendak menuangkan teh dari teko ke gelas, namun Alya menghentikannya.


"Biar aku aja" kata Alya sambil meraih teko yang dipegang pelayan itu.


"Tapi, Nona..." kata pelayan tersebut.


Alya lalu menggunakan bahasa isyarat dengan kepalanya untuk menyuruh pelayan tersebut keluar dari ruangan itu.


"Nona Alya memang beda" pikir pelayan tersebut.


Karena selama ini tidak penah ada yang bersikap seperti Alya di rumah tersebut, kecuali Hanung.


"Nǐ yīnggāi zhīdào. Wǒ bù huì ràng nǐ ná gōngsī nà róngyì dì [(Bahasa China) Lu harus tau. Gue gaakan biarin lu ngambil perusahaan semudah itu]" kata Fahmi.


Alya yang menuangkan teh lalu tersenyum. Setelah itu ia duduk kembali dengan tenang dan menjawab perkataan Fahmi.


"Lo so già. Ti lascerò fare qualunque cosa. Ma devi ricordare. Quanluque cosa facciano gli umani, ci saranno sicuramente dei premi [(Bahasa Italia) Gue udah tau. Gue bakal biarin lu ngelakuin apapun. Tapi lu harus inget. Apapun yang dilakuin manusia, pasti bakal ada balesannya]" kata Alya membalas perkataan kakak tirinya menggunakan Bahasa Italia.


Fahmi tertawa kecil sambil meminum teh pu'erh tadi.


"Sebenernya lu bisa berapa bahasa sih? Ya gue ngerti yang lu omongin tadi, itu Bahasa Itali. Tapi sekedar pengen tau aja lu bisa berapa bahasa, supaya gue tau kemampuan musuh gue ini sampe mana" kata Fahmi.


Alya juga meminum teh pu'erhnya.


"Bahasa yang gue bisa sekitar 10? Or maybe 12?" jawab Alya.


"Oke, berati kita lawan yang seimbang. Karena gue juga bisa sekitar 10 sampe 12 bahasa. Sekedar pemberitahuan aja kalo kemampuan kita sama, jadi kita cocok jadi musuh" kata Fahmi.


"Cuma itu aja yang mau lu omongin?" tanya Alya.


"Mmm?" tanya Fahmi.


"Iya keknya cuma itu aja" kata Fahmi.


"Yaudah, kalo gitu gue pulang dulu" pamit Alya sambil beranjak.


"Okay. See you again, my beloved sister [(Bahasa Inggris) Oke. Sampai jumpa lagi, adikku tercinta]" kata Fahmi sambil memeluk Alya.


"You too" kata Alya.


Kali ini Alya membalas pelukannya Fahmi sambil senyum iblis.


Kita skip ke hari ini. Hari dimana Maura dan Alya janjian untuk bertemu.


Maura p.o.v


Maura melihat Alya yang memanah tepat sasaran.


"Kok lu bisa sih, tepat sasaran begitu?" tanya Maura keheranan.


"Ya gue udah belajar bertahun - tahun" jawab Alya.


"Tapi kalo boleh tau, kenapa lu lakuin semua ini?" Maura bertanya kenapa Alya melakukan rutinitas itu.


"Ya buat ngisi waktu dan ngilangin stres aja" jawab Alya sambil memanah tepat sasaran lagi.


"Gue punya cara yang bagus dan mudah buat dilakuin" kata Alya.


"Gimana itu?" tanya Maura.


"Bayangin kalo sasarannya itu orang yang paling lu benci" jawab Alya.


Maura pun mencobanya dengan membayangkan bahwa sasaran itu adalah Elsa. Karena saat ini, orang yang paling dibencinya adalah Elsa.


"Wihh, tuh kan bisa. Enak kan?" kata Alya.


Maura mengangguk - angguk.


"Setelah ini kemana lagi?" tanya Maura.


"Selanjutnya, kalo menurut urutan dari rutinitas gue itu berkuda" jawab Alya.


"Oke, gue ikut ya" kata Maura.


"Okee" kata Alya.


Mereka memanah 3 kali lagi dan pergi ke tempat berkuda.


Pada waktu perjalanan, Rangga menelepon Alya karena ia ingin mengatakan sesuatu juga. Jadi, Alya mengirim lokasi tempat ia biasa berkuda ke Rangga.


Rangga p.o.v


Rangga sampe di tempat berkudanya Alya saat Alya dan Maura udah selesai berkuda, biasalah Jakarta mah macet.


"Alya....!!" panggil Rangga di kandang kuda.


Alya juga berada di kandang kuda tersebut dan berjarak 8 meter dari tempat Rangga berdiri.


Dan di tempatnya Rangga berdiri itu ada seekor kuda yang gak dikandang tapi cuma ditali aja, jaraknya deket banget sama Rangga. Sementara kalian taulah kalo kuda itu bakal menendang siapa aja yang teriak disekitarnya.


Dan Alya tau akan hal itu, sementara Rangga tadi teriak manggil namanya di jarak yang deket banget sama kuda yang cuma ditali tadi. Alya langsung lari ke arah Rangga dan mendorongnya, tapi Alya sendiri ikut jatuh.


Dan sekarang posisi mereka adalah Alya diatas badannya Rangga dan Rangga tergeletak di tanah dengan badan Alya diatasnya. Lalu kuda yang deket banget sama Rangga tadi, ngamuk dan lepas lalu lari entah kemana.


Rangga sangat kaget sementara Alya menatap kuda yang lari entah kemana tadi.


"Al?" panggil Rangga.


"Hah?" jawab Alya sambil menatap Rangga.


Mereka lalu bertatapan. Jengjengjeng. Cikepak cileduk cikepak cileduk.


"Hoii!!" teriak Maura.


Alya langsung berdiri, begitu pula dengan Rangga.


"Kuda ada yang lepas, kalian malah tatap - tatapan mesra kek pengantin baru" kata Maura.


"Lu gapapa kan?" tanya Alya sambil memegang lengan Rangga.


"Hah? Iya gapapa kok. Makasih ya. Kalo lu gak nolongin gue, pasti gue mental entah kemana" kata Rangga.


Alya tersenyum sambil sedikit menahan tawa.


"Pokoknya kalian harus tanggung jawab soal tu kuda" kata Maura sambil berjalan ke arah Alya dan Rangga.


"Iyaiya. Lagian dia pasti gabakal keluar dari tempat berkuda ini. Penjaganya pasti bakal bawa dia balik" jawab Alya.


Tidak lama kemudian, terjadilah apa yang diucapkan Alya tadi. Penjaga tempat itu membawa kuda yang lepas tadi kembali ke kandang.


"Tuh kan, apa gue bilang" kata Alya.


"Okeoke. Gue terima" kata Maura.


"Lu mau ngomong kan?" tanya Alya pada Rangga.


"Iya" jawab Rangga.


"Kalo gitu di gereja aja gimana? Soalnya bentar lagi kebaktian Minggu, nanti telat lagi. Jadi, disana aja ya?" tanya Alya.


"Apa?" tanya Rangga.


"Kenapa? Lu gamau ya? Kalo di gereja" tanya Alya.


"Nggak bukan gitu. Ya walaupun agama gue Islam, tapi gue gak sefanatik itu. Jadi gapapa kok, ayuk" kata Rangga.


"Maura bareng sama gue, lu tinggal ikutin mobil gue aja ya? Atau gue kirim lokasinya aja? Soalnya Jakarta macet, ntar lu gabisa nyari mobil gue lagi" kata Alya.


"Gimana kalo mobil gue ditinggal disini aja?" tanya Rangga.


"Masalahnya mobil gue lambor, bangkunya cuma 2. Lu mau dibagasi?" kata Alya bercanda.


Maura menahan tawanya.


"Oh gitu" kata Rangga.


"Yaudah, lu bawa mobil kan? Gue kira lu bawa motor" kata Alya.


"Nggak, gue bawa mobil kok" jawab Rangga.


"Kalo gitu kita pake mobil lu aja, nanti gue minta sekretaris gue buat ngambil mobil gue" kata Alya.


"Yaudah ayok kalo gitu" jawab Rangga.


.


.


.


.


.


Apakah Rangga mau menyatakan cintanya ke Alya? Atau dia mau ngomong sesuatu yang lain? Kalo bener Rangga mau nyatain cinta ke Alya berati pernyataan cinta ini sakral banget ya, soalnya dilakuin di gereja. Ihhhiiiyyyy 👏👏👏.


Hal yang pengen diomongin Maura ke Alya itu udah diomongin pada waktu mereka main panahan dan kalian pasti bisa nebak lah itu tentang apa, yaps udah pasti tentang Elsa.


Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.