I Will Be Okay

I Will Be Okay
~ Dertig (Tiga Puluh)



Kelanjutan eps kemaren yaa.


Alya p.o.v


Setelah sampai di ICU, Alya langsung menggunakan hand sanitizer dan masker. Karena di ICU itu emang harus steril. Biasanya juga ada yang pake APD atau Alat Pelindung Diri.



"Ini pasiennya departemen mana, Sus?" tanya Alya pada suster yang membunyikan alarm.


"Departemen bedah jantung, Dok" jawab Suster Fera.


Monitor holter menunjukkan bahwa pasien mengalami gagal jantung, yang garis lurus terus bunyi titttttt itu lhoo. Monitor holter merupakan perangkat portable yang dipakai oleh pasien dalam waktu tertentu untuk mengetahui aktivitas listrik jantung.



"Panggil wali pasien" kata Alya sambil melepas jas dokternya dan menaruhnya di salah satu kursi yang ada disana.


Suster Fera langsung pergi untuk memanggil wali pasien.


"Ambil defribilator. Berikan Epinephrine 10 mL intravena dan pasangkan kantong ambu pada pasien" kata Alya sambil naik ke brankar pasien itu dan melakukan CPR.


"Baik, Dokter" jawab Suster Rani.


Epinephrine adalah adrenalin yang merupakan sebuah hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak tubuh. Biasanya orang yang henti jantung atau gagal jantung itu dikasih ini, karena epinephrine bisa melemaskan otot - otot saluran pernapasan dan meningkatkan ketegangan pada pembuluh darah serta memicu kerja jantung.


Intravena adalah metode pemberian obat secara langsung ke pembuluh darah vena melalui suntikan maupun infus.


Defribilator adalah alat kejut jantung.


CPR itu singkatan dari Cardiopulmonary Resuscitation atau biasanya disebut juga RJP yang merupakan singkatan dari Resusitasi Jantung Paru adalah sejenis penekanan atau pijatan dada yang bertujuan untuk mengembalikan napas yang terhenti.


Rangga p.o.v


"Alya" kata Rangga yang baru sampai di ICU.


Alya p.o.v


Suster Rani membawa defribilator ke dekat brankar pasien yang sedang diberi CPR oleh Alya.


"100 joule charge" kata Alya.


"100 joule charge" jawab Suster Rani sambil mengisi energi defribilator sebesar yang diminta Alya dan memberikannya ke Alya.


"100 joule charge, clear. Shoot" kata Alya sambil menaruh defribilator ke dada pasien.


"150 joule charge" karena detak jantung pasien belum kembali, Alya menaikkan joulenya.


"150 joule charge" kata Suster Rani sambil melakukan hal yang sama seperti tadi.


"150 joule charge, clear. Shoot" kata Alya sambil menaruh defribilator ke dada pasien.


Garis yang ada di monitor holter kembali bergerak dan detak jantung pasien kembali stabil.



Alya turun dari brankar pasien dengan terengah - engah sehabis melakukan semua itu. Setelah itu ia membenarkan infus pasien.



Rangga p.o.v


Rangga hanya melihati Alya tanpa melakukan apa - apa.


"Maaf ya, Al. Gue tadi gak ngelakuin apapun" kata Rangga.


Alya selesai membenarkan infus pasien tadi dan menoleh ke Rangga.


"Gue aja gatau kalo lu disini" ucap Alya.


"Gapapa kok. Lagian pasiennya udah baik - baik aja" lanjut Alya.


Rangga hanya tersenyum.


Alya p.o.v


"Suster, ini tadi pasiennya dokter siapa?" tanya Alya pada Suster Rani tentang pasien yang hampir lanjut tadi.


"Ini pasiennya Dokter Riko, dok" jawab Suster Rani.


"Terus Dokter Rikonya?" tanya Alya.


"Dokter Riko jadwalnya jaga malam, jadi dia gaada disini sekarang" sahut Rangga.


"Tenang aja, Dok. Nanti saya yang akan melaporkan tentang apa yang terjadi pada pasiennya tadi pada Dokter Riko" kata Suster Rani pada Alya.


Alya mengangguk sambil tersenyum.


"Dokter, wali pasien sudah ada disana" kata Suster Fera sambil memberitahu tempat wali pasien berada dengan tangannya.


"Terima kasih atas bantuannya tadi. Dokter udah kerja keras" ucap Suster Rani.


"Sudah tugasnya dokter seperti itu. Suster Rani juga udah kerja keras, kok" kata Alya.


"Kok Dokter tau nama saya?" tanya Suster Rani.


"Kan Suster pake ID card. Ya saya bacalah" jawab Alya.


Suster Rani hanya tersenyum.


"Kalo gitu saya pergi menjelaskan tentang kejadian tadi pada wali pasien ya, Sus" pamit Alya.


"Iya, Dok" jawab Suster Rani.


Alya lalu pergi dari sana.


Tapi Suster Rani tidak menanggapi karena masih mengurus pasien. Suster Diva lalu menghampiri Suster Rani dan menyentuh bahunya.


"Astaga.." kaget Suster Rani.


"Kenapa sih, Diva?" tanya Suster Rani.


"Tu tadi dokter siapa? Dari departemen mana" tanya Suster Diva.


"Itu Dokter Alya dari departemen bedah jantung. Kenapa?" jawab Suster Rani.


"Daebakk" kata Suster Diva sok logat Korea.


"Kenapa sih, Suster Diva yang cetar membahana alias Syahrini Kw?" tanya Suster Rani.


"Enak aja kayak Syahrini Kw. Eke itu kembarannya mbak Lee Ji-eun (IU), jodohnya mas uyun (Kim Soo-hyun)" kata Suster Diva.


Suster Rani menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Nggak kenapa - napa sih sebenernya. Cuman heran aja dia pake heels limited edition merk Ralph and Russo yang pengen banget eke beli" ucap Suster Diva.



Suster Rani hanya diam saja.


"Terus tadi liat jamnya. Jamnya itu Dior Montaigne Quartz White Dial Ladies Watch CD152112A001" kata Suster Diva.



"Apal banget ente" kata Suster Rani.


"Ya harus donk, kan eke pengen banget beli jam itu. Tau gak harganya berapa??" jawab Suster Diva.


Suster Rani menggelengkan kepalanya karena tidak tau harga jam itu.


"Harganya 7.900 Dolar Amerika dan kalo jadi rupiah, sekitar 113 juta. Lu bisa bayangin kan betapa tajirnya orang yang bisa pake jam itu di pergelangan tangannya" kata Suster Diva.


"Tadi Dokter Alya ke rumah sakit pake tas Louis Vuitton juga, warna putih" kata Suster Rani.



"Serius lu??" tanya Suster Diva.


Suster Rani mengangguk.


"Padahal tu orang dokter baru ya. Terus tadi parfumnya apaan sih? Enak banget wanginya kek kalem gitu" kata Suster Diva.


"Gatau sih kalo itu, yang gue tau dia cucunya Pak Hanung" jawab Suster Rani.


"Pak Hanung?? Whatt demi apaa?? Dia cucunya Pak Hanung, Presdir Unicorn Group??" kaget Suster Diva.


"Iya dan dia si pewaris misterius yang sering ada di berita - berita gitu" jawab Suster Rani.


"Whatt?? Oh My God, Oh My No, Oh My What?" kata Suster Diva.


"Slank darimana lagi tuh, Oh My No ama Oh My What?" tanya Suster Rani.


"Slank khas gue. Kembarannya Lee Ji-eun, jodohnya mas uyun. Berati dia calon pemilik rumah sakit ini donk?" kata Suster Diva.


Suster Rani mengangguk.


"Terus ngapain dia disini ya? Kan harusnya langsung ngurus perusahaan" ucap Suster Diva sambil pergi meninggalkan Suster Rani dan kembali bekerja.


Suster Rani hanya melirik Suster Diva yang meninggalkannya.


Kedua suster itu berbincangnya setelah Alya pergi ya.


Dan inilah Alya yang sedang menjelaskan kepada wali pasien tentang kejadian tadi.


"Pasien sekarang sudah tidak apa - apa. Mungkin tadi sempat mengalami gagal jantung, tetapi beliau berhasil melewatinya. Untuk itu kami akan memantau pasien dengan lebih cermat lagi" kata Alya pada wali pasien.


Wali pasien yang merupakan istri dari pasien tersebut langsung menangis.


"Ibu, Ibu gapapa?" tanya Alya.


"Dokter, apa suami saya nggak akan selamat? Padahal dia punya 4 anak yang sangat butuhin dia" kata istri pasien.


"Ibu gaboleh bicara gitu. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk kesembuhan suami Ibu, jadi Ibu dan anak - anak Ibu berdo'a sebanyak mungkin untuk kesembuhannya ya?" kata Alya sambil menepuk - nepuk bahu istri pasien.


"Terima kasih, Dokter. Tolong lakukan yang terbaik untuk suami saya" kata istri pasien sambil mengusap air matanya.


Alya mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau begitu saya pergi dulu" pamit Alya.


Istri pasien tersenyum.


Alya pun pergi dari sana.


.


.


.


.


.


Ya jelaslah Alya bisa punya barang - barang itu, kan dia wow. Parfumnya Alya itu Creed Love in White yang harganya 180 Dolar Amerika atau setara dengan 2,6 juga rupiah per 30 ml.



Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.