
Maura p.o.v
"Maura...... Ayo bangun udah pagi, nakk" suara Trisna yang sedang membangunkan anaknya.
"Bentar maa.... 5 menit lagii" tawar Maura yang masih mengantuk.
Karena Maura masih belum mau bangun, Trisna pergi ke kamar Maura untuk membangunkannya.
"Ayo bangun, ini udah jam 6. Nanti kamu telat ke sekolah. Kamu kan mandinya lama" kata Trisna sambil membuka selimut Maura.
"Yaudah deh iya" jawab Maura dan terpaksa bangun lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi.
Melihat kamar anaknya yang berantakan, Trisna merasa risih dan membersihkannya. Saat bersih - bersih, ia melihat buku anaknya yang mendapat nilai nol. Ia langsung merasa marah dan pergi ke kamar mandi.
"Maura.......!! Maura.........!!! Buka pintunyaaaaaa.......!!!!!" teriaknya sambil menggedor - gedor pintu kamar mandi.
"Kenapa sih maa??" tanya Maura sambil memakai handuk.
"Ini apa??" tanya Trisna sambil menunjukkan buku yang mendapat nilai nol tadi.
"Oh itu. Soalnya susah banget dan aku gabisa ngerjain makanya dapet nilai nol" jawab Maura dengan santainya sambil menuju ke lemari dan memakai seragam sekolahnya.
"Makanya belajar donk, nakk. Masa ibunya guru kok anaknya kayak kamu begini" ucap Trisna merendahkan Maura.
"Bukan cuma aku kok yang dapet nilai nol" jawab Maura sambil membawa tasnya.
"Yaudah aku berangkat sekolah dulu yaa" lanjutnya sambil mencium tangan ibunya dan berlari pergi.
"Jangan lupa belajar yang pinterr. Awas kamu kalo sampek dapet nilai nol lagi" ancam Trisna pada anaknya yang sudah berlalu pergi.
Skip di SDN Cempaka Putih 01 Pagi
"Heh, mana uang jajan kamu!!" kata Maura pada teman yang selalu ia tindas.
"Aku gabawa uang jajan" kata anak tersebut memelas.
"Halah alesan. Gamungkin kamu gabawa uang jajan. Udah sini!!!" kata Maura sambil dengan paksa mengambil uang jajan temannya yang ada di saku.
"Dasar pembohong!! Awas aja ya lu kalo bohong lagi" ancam sahabat setia Maura yang bernama Tasya.
Anak yang tadi pun menangis karena uang jajannya diambil. Ada satu teman yang dengan berani menghampirinya.
"Kenapa kamu nangis?" tanya teman itu.
"Uang jajan aku diambil Maura" jawabnya.
Teman itu langsung memanggil Maura.
"Maura......!!" panggilnya dengan suara tegas sambil menghampiri Maura.
"Apa? Lu mau nglawan gue?" jawab Maura sombong.
"Nggak. Karena gue bakal laporin lu ke kepala sekolah" jawab orang yang memanggil Maura tadi.
"Eh jangan donk. Ya udah deh nih gue kembaliin" jawab Maura takut dan mengembalikan uang jajan anak tadi.
"Tapi jangan diulangi lagi ya. Awas kalo lu ulangin" ancam anak yang berani pada Maura.
"Iya iya" jawab Maura dan pergi.
"Kenapa lu balikin gitu aja sih??" protes Tasya pada sahabatnya yang tidak biasanya menjadi lemah seperti tadi walau diancam akan dilaporkan ke kepala sekolah.
"Kita ganti target" jawab Maura.
"Maksudnya?" tanya Tasya.
"Iya kita ganti target. Bukan anak itu lagu yang kita gangguin, tapi yang lainnya" jelas Maura.
"Yaudah deh. Gue nurut lu aja" jawab Tasya menurut.
"Oke" ucap Maura yang mulai menyusun rencana.
"Emang target berikutnya siapa?" tanya Tasya.
"Ya pastinya anak yang ngancem kita tadi lah. Berani - beraninya dia nurunin harga diri gue dengan ngancem kayak tadi" jawab Maura dengan wajah kesal.
"Okeoke. Jadi rencananya gimana?" tanya Tasya.
"Kita samperin dia pas udah pulang sekolah aja. Jadi sepi" jawab Maura.
"Sip. Nanti ya" ucap Tasya mantap.
Maura hanya mengangguk.
Skip pulang sekolah
Sesuai rencana, mereka akan mengganggu anak yang mengancam mereka tadi.
"Heyy!!" ucap Maura mengagetkan anak yang berani padanya tadi.
"Mau kemana lu??" tanya Tasya.
"Pulang" jawab anak tadi.
"Nama lu siapa sih?" tanya Maura.
"Maya" jawab Maya.
"Ohh, Maya" kata Tasya.
"Karena lu udah gagalin kita buat dapetin uang jajannya anak tadi. Sekarang lu harus ganti" kata Maura.
"Kenapa aku harus ganti? Kan uang itu bukan punya kalian dan punya anak tadi" jawab Maya.
"Jadi lu gamau?" kata Tasya.
"Iyalah" jawab Maya yakin.
"Oke" kata Maura sambil melirik ke arah Tasya, pertanda akan melakukan sesuatu.
Tasya langsung mengambil Tas Maya dengan cepat.
"Ehh, balikin donkk" kata Maya.
Maura menghalang - halangi Maya agar tidak bisa mengambil tasnya dari Tasya. "Cepet, Sya. Cari barang penting buat ngancem ni anak" suruh Maura.
"Eh, jangan yang itu donk. Itu kan pemberian mama aku" ucap Maya.
"Gue gapeduli. Nih tas lu" kata Maura sambil melempar tas Maya dan meninggalkannya pergi.
Maya memberesi tasnya yang di acak - acak oleh kedua anak ternakal di sekokah tadi sambil menangis. Gelang itu pemberian ibunya yang sudah meninggal, karena itulah dia menangisinya.
Skip malam hari
Maura menelepon Tasya.
"Enaknya diapain ya ni gelang?" tanya Maura.
"Simpen aja dulu. Siapa tau itu emang bener - bener berharga buat dia dan dia rela ngelakuin apapun buat dapetin gelang itu lagi" jawab Tasya.
"Siapp. Salah sendiri cari masalah ama kita" kata Tasya.
"Maura........Mauraaa" panggil Trisna.
"Eh udah dulu ya. Nyokap gue manggil nih" kata Maura.
"Iyaa" jawab Tasya dan menutup teleponnya.
Trisna membuka pintu kamar anaknya dan melihat Maura yang sudah tidur. Ia lalu mematikan lampunya dan menutup pintunya lagi lalu pergi.
"Hhh, untung ga ketauan kalo belum tidur" kata Maura lega.
Pagi hari pun tiba. Pada hari ini, Maura bangun pagi tidak seperti biasanya yang bangun siang.
"Tumben kamu jam segini udah siap" ucap ibu Maura.
"Iya, dapet hidayah kemarin ma" jawab Maura.
"Hidayah?" tanya ibu Maura.
"Iya, hidayah" kata Maura. Padahal hari ini ia bangun pagi karena akan menjaili Maya.
"Ada ada aja kamu ini, yaudah makan dulu nih" kata ibu Maura sambil memberikan sarapan pada Maura.
Sarapan sudah selesai dan Maura berpamitan pada ibunya untuk pergi ke sekolah.
"Mana sih ni anak, kok gak dateng dateng. Udah dibela - belain sampe dateng pagi eh dianya gadateng" ucap Maura pada Tasya di depan gerbang sekolah.
"Tau tuh. Nyebelin banget sih tu anak. Baru tau kalo ada anak kayak dia" jawab Tasya.
Beberapa menit kemudian, Maya yang ditunggu - tunggu oleh mereka pun datang. Mereka langsung mencegat di depan Maya dan menghalang - halanginya untuk masuk ke sekolah.
"Kalian kenapa sih? Belum puas karena ngambil gelang pemberian mamaku kemarin?" kata Maya.
"Pasti belum lah" jawab Tasya.
"Heh, asal lu tau ya. Sekalinya lu cari masalah sama kita, pasti selesainya bakal lama" kata Maura sambil mendorong bahu Maya.
"Kalian jahat banget sih" ucap Maya.
Maura dan Tasya hanya menatap Maya sambil menyilangkan tangan.
Lalu tiba - tiba, Maya menarik rambut Maura dan Maura pun menarik rambut Maya. Yaps, mereka bertengkar.
"Aduhhh, lepasinn!!" kata Maura.
"Ehh, jangan berantem donk. Nanti kalo guru dateng gimana??" Tasya bingung sendiri.
Bu Siska pun datang menghampiri mereka.
"Maura!! Maya!! Ikut saya ke ruang guru sekarang!!" kata Bu Siska.
Mereka berdua langsung menghentikan pertengkaran dan mengikuti Bu Siska dengan rabut acak - acakan karena bertengkar.
"Sssss.....Saya ikut Nggak bu?" tanya Tasya takut.
"Iya, sebagai saksi" jawab Bu Siska.
Skip ruang guru
"Jadi, kenapa kalian bertengkar?" tanya Bu Siska.
"Dia nih bu" jawab Maura.
"Kok aku, kan kamu duluan" sangkal Maya.
"Ya kamu lahh" kata Maura.
Mereka terus berselisih saling menuduh hingga Bu Siska menepuk mejanya dengan sangat kencang.
"Kalian tu ya. Yaudah deh saya tanya Tasya aja" ucap Bu Siska setelah menepuk meja dengan begitu kencang.
"Tasya, ceritain semuanya" suruh Bu Siska.
Karena Tasya ketakutan, ia pun menceritakan semuanya pada Bu Siska dan Maura mendapat teguran serta orang tuanya dipanggil sepulang sekolah nanti.
"Ada apa dengan anak saya bu? Kenapa saya dipanggil?" tanya ayah dan ibu Maura.
"Anak ibu dan bapak telah melakukan pelanggaran peraturan sekolah. Dia selama ini telah mengambil uang jajan anak - anak sekolah ini dan tadi pagi ia bertengkar dengan temannya, yaitu Maya" jelas kepala sekolah.
"Lalu sekarang anak saya dimana bu?" tanya ibu Maura.
"Dia sedang ada di dalam" jawab kepala sekolah.
"Bu Siska, tolong panggilkan Maura" suruhnya pada Bu Siska.
"Pa...Ma..." panggil Maura setelah bertemu ayah dan ibunya.
"Sekarang Maura sudah boleh pulang, tapi anaknya mohon untuk dibimbing ya pak, bu" kata kepala sekolah.
Mereka lalu pulang.
"Maura....!!!!!!" panggil ayahnya dengan suara keras pertanda akan memarahi Maura.
"Iya pa" jawab Maura.
"Kamu itu ya, anak gatau diuntung. Kenapa sih kamu gabisa kayak kakak - kakak kamu, mereka itu pinter. Sementara kamu. Kata mama kamu, kamu dapet nilai nol. Papa udah maafin itu tapi sekarang kamu bertengkar dan ngambil uang jajan temen kamu. Belum puas kamu bikin papa malu sama kebodohan kamu dan sekarang kamu tambahin sama kenakalan kamu!!!!!" marah ayahnya pada Maura dengan mata memerah.
"Nggak gitu paa, itu...." Maura berusaha menyangkal ayahnya, namun ayahnya mendahuluinya untuk berbicara.
"Itu apaa!!! Nyangkal aja kamu terus" kata ayahnya.
Ibunya lalu duduk disamping ayahnya.
"Kalo kamu gabisa bikin papa sama mama bangga, setidaknya gausah mempermalukan kami nak" kata ibunya membuat Maura semakin down.
"Mungkin emang bener ya, kata tetangga kita. Kalo aku itu anak yang gak diinginkan" ucap Maura dan pergi kekamarnya.
"Maura!!!!" panggil ayahnya.
"Udah pa, Maura butuh waktu sendiri untuk sementara waktu. Dia pasti akan berubah seiring waktu" ucap ibunya menenangkan ayahnya.
.
.
.
.
.
Kira - kira gimana ya kelanjutan kisah Maura. Dia bakal berubah atau tetap seperti itu?? Penasaran?? Pantengi terus yaaa.
Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.