
Alya p.o.v
"Pa, Papa cepet sadar ya. Papa harus kuat, Papa gaboleh ninggalin Alya" ucap Alya sambil menatap ayahnya yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Adiknya masuk ke dalam ruangan itu.
"Kak" panggil adiknya.
Alya mengusap air matanya.
"Iya, kenapa?" tanya Alya.
"Ada yang pengen ketemu sama Kakak" jawab Andra.
"Siapa?" tanya Alya.
"Gatau. Wajah - wajahnya kek orang Tiongkok gitu" jawab Andra.
"Yaudah kamu jaga papa ya. Kalo ada apa - apa langsung panggil suster atau dokter" kata Alya.
"Iyaiya, Kak. Aku bukan anak kecil lagi" jawab Andra.
"Yaudah Kakak nemui orang itu dulu" kata Alya dan keluar.
Ternyata orang yang pengen ketemu dia itu Davin Zhang, pasiennya Maura di eps 35.
"NΗ zhΔn de lΓ‘ile [(Bahasa China) Kamu bener - bener kesini]" kata Alya.
"Gausah pake Bahasa China, gue bisa Bahasa Indo kok. Baru belajar sih" kata Davin.
"Kenapa kesini?" tanya Alya.
"Awalnya cuma mau nengok lu aja. Gimana kabarnya mafia cantik yang udah bunuh Evgen ini" kata Davin.
"Shuttt. Nanti kalo ketahuan aku mafia gimana" kata Alya sambil menaruh telunjuk di bibirnya.
"Biarin, kan emang fakta" jawab Davin.
"Lu gapernah berubah ya. Dari dulu selalu aja nyebelin" kata Alya.
"Yaiyalah gaberubah. Emangnya gue power ranger apa" kata Davin.
"Ke tangga darurat aja yuk" ajak Alya.
Mereka pergi ke tangga darurat.
Abaikan fotonya yang siang dan anggap saja ini shubuh karena latar waktunya shubuh.
"Kenapa gak di rooftop? Kan lebih sepi" tanya Davin.
"Ini udah malem, di rooftop dingin. Gabaik buat luka operasi lu" jawab Alya.
"Pagi kali, ini udah jam 4 pagi" kata Davin.
"Oh ya?" kata Alya sambil melihat jam tangannya.
"Wah udah pagi lagi ternyata" kata Alya sambil menarik tangannya keatas.
"Lu belum tidur sama sekali?" tanya Davin.
"Eee, iya" jawab Alya sambil memegangi lehernya yang pegal.
"Masalah lu numpuk banget hari ini. Kakek lu meninggal dan bokap lu tiba - tiba sakit parah gitu" ucap Davin.
"Yahh bukan idup namanya kalo nggak ada masalah. Btw dokter siapa yang ngoperasi lu?" kata Alya.
"Dokter siapa ya? Cewe kok" jawab Davin sambil mengingat.
"Cewe? Sejak kapan lu mau diobati sama dokter cewe selain gue?" tanya Alya.
"Dokter itu gak kalah menarik sama lu. Dia ngelakuin hal yang sama kek lu pas di Inggris dulu" kata Davin.
"Maksud lu? Ngehajar semua anak buah lu?" tanya Alya.
"Hmm. Keknya namanya Miara deh, iya Dokter Miara" kata Davin.
"Maura" kata Alya.
"Nah itu maksud gue" kata Davin
"Dia temen gue lho" kata Alya.
"Serius? Tau gitu gue perlakuin dia baek - baek, tapi tadi gue malah...." kata Davin.
"Makanya gausah fanatik sama cewe" kata Alya.
"Yaudah, istirahat sana" suruh Alya.
"Oke" kata Davin dan akan pergi.
"Jangan lupa bilang ke gue kalo lu butuh bantuan. Gue siap sedia kok bantu lu kapanpun" kata Davin sebelum pergi.
"Fokus aja sembuhin luka lu dulu. Baru bantu gue" kata Alya.
"Iyaiya" jawab Davin dan pergi ke kamarnya.
Maura p.o.v
Maura sebenarnya akan menjenguk ayahnya Alya, namun ia melihat Alya keluar dari kamar ayahnya dan Alya berbincang dengan Davin.
Maura kan tau kalo Davin itu yakuza dan karena disini dia liat Alya sama Davin kek akrab gitu, Maura mulai curiga. Curiga kalo Alya itu juga yakuza atau mungkin mafia. Apalagi Davin sempet nyebut kalimat kalo Alya bunuh Evgen.
Jadi dia memilih untuk menguping semua pembicaraan mereka termasuk yang di tangga darurat. Dan Maura tau kalau Alya adalah mafia karena Davin sempat menyebut kata mafia. Setelah Davin pergi, Maura juga ikut pergi karena takut kalau keberadaannya disadari oleh Alya.
Tapi mulai hari itu juga, Maura mulai memata - matai Alya kemanapun Alya pergi kecuali ke rumah Alya sendiri dan Rumah Sakit Dirgantara.
Alya p.o.v
Setelah Davin pergi, Alya menatap jendela besar yang ada disana.
"Apa Mama tetep gabakal muncul? Walau Alya dalam keadaan kayak gini? Mama selalu gaada setiap Alya kerumah Mama di Belanda. Itu kebetulan atau takdir, Mam? Kalo takdir, kenapa Mama selalu gaada? Padahal aku kesana juga gak cuma sekali dua kali, tapi berkali - kali. Sekarang.....aku bener - bener butuh Mama, Ma" ucap Alya.
Alya pun akan meninggalkan tempat itu, tapi ia melihat Dokter Harun. Alya langsung berbalik dan mengusap air matanya baru menghadap Dokter Harun lagi. Ia tidak mau seseorang melihatnya menangis.
"Pasti berat banget ya, Dokter?" tanya Dokter Harun.
"Ya begitulah" jawab Alya.
Alya akan pergi ke ruangan ayahnya. Saat ia tepat berada di sebelah Dokter Harun, Dokter Harun menarik lengan Alya dan memojokkan Alya ke tembok dan mencium bibir Alya dengan sedikit memperdalam ciumannya. Ia menikmatinya agak lama dan melepaskan ciumannya.
"Apa....yang sedang anda lakukan sekarang, Dokter Harun?" tanya Alya yang tidak menyangka kalau Dokter Harun akan menciumnya.
"Tidak boleh? Apakah aku.....tidak boleh menyukai anda, Dokter?" tanya Dokter Harun.
Alya mematung dan tiba - tiba Dokter Harun mencium bibirnya lagi dan kali ini Dokter Harun melakukannya dengan lebih dalam lagi daripada tadi. Dokter Harun benar - benar menikmati bibir Alya.
Alya menaruh tangan kirinya di dada Dokter Harun bermaksud untuk mendorong Dokter Harun, namun Dokter Harun menghentikannya dan justru menggenggam tangan kiri Alya menggunakan tangan kanannya dengan lembut tanpa menyakiti Alya. Dokter Harun melakukan itu dengan masih menikmati bibir Alya. Ciuman kali ini lebih lama dari yang tadi, bahkan sangat lama. Sementara tangan kanan Alya menggenggam tangan kiri Dokter Harun yang memegang tengkuknya.
Alya melepaskan tangan kirinya yang digenggam oleh Dokter Harun dan mendorong pelan Dokter Harun. Setelah itu Dokter Harun baru melepaskan ciumannya. Alya agak kaget jadi dia kek membeku atau mematung gitu dan bingung harus apa. Jadi dia waktu dicium Dokter Harun diem aja.
"Aku akan.....menganggap hal ini tidak pernah terjadi, Dokter Harun" kata Alya dan pergi.
Dokter Harun menyentuh bibirnya dan tertawa kecil sambil menatap Alya yang pergi dari sana. Setelah itu, ia pun pergi dari sana.
Rangga p.o.v
Seperti pada waktu SMA, Rangga sering mengikuti Alya tanpa sepengetahuan Alya dan kali ini ia pun juga begitu. Berati yang pasti, Rangga melihat ciuman tadi donk. Dan saat Dokter Harun akan pergi, Rangga menghentikannya.
"Apa yang telah anda lakukan tadi, Dokter Harun?" tanya Rangga.
"Eeeeeee" kata Dokter Harun.
"Alya menganggap hal itu tidak pernah terjadi dan aku juga akan begitu karena Alya begitu. Tapi.....penjelesannya?" kata Rangga.
"Saya menyukai Dokter Alya, hanya itu penjelasan saya. Permisi, Dokter Rangga" jawab Dokter Harun dan pergi.
"Apa???" kata Rangga.
Ia lalu smirk dan pergi ke ruangannya.
Di ruangannya, ia tidak bisa melupakan kejadian Dokter Harun yang mencium Alya. Kejadian itu terus terngiang di kepalanya.
"Ngapain sih gue liat kejadian itu" katanya.
"Kan bikin tambah kesel aja" tambahnya
"Hishhh" katanya sambil menendang mejanya.
.
.
.
.
.
Makanya nyatain cinta bang, jan dipendem terus. Direbut orang ntar nangis, ngadu ke Mama π€£π€£π€£.
Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. πππ.