
Kelanjutan dari eps sebelumnya.
Alya p.o.v
"Dokter Alya, tunggu" kata Dokter Harun sambil cepat - cepat melepas jubah operasinya dan mengejar Alya.
Alya mendengar panggilan dari Dokter Harun dan menunggu Dokter Harun didepan ruang operasi.
"Yahh, udah pergi deh" kata Dokter Harun.
"Kenapa? Ada perlu sama saya?" tanya Alya yang ada di belakang Dokter Harun.
"Eh, ternyata Dokter masih disini. Saya mau minta maaf, jadi boleh kan kalo saya traktir Dokter makan?" kata Dokter Harun sambil membalik badannya menghadap Alya.
"Mmmm, gausah. Kamu traktir saya kopi aja, saya lagi gak mood makan" kata Alya sambil pergi meninggalkan Dokter Harun.
Dokter Harun hanya diam di tempat.
Alya lalu menoleh kebelakang.
"Dokter Harunnn....katanya mau nraktirr. Ayokk" kata Alya sambil melambaikan tangannya.
Dokter Harun tersenyum sambil berlari ke Alya.
Mereka kalu pergi ke kantin dan meminum kopi.
"Pasti bukan ini tujuannya? Ada tujuan lain kamu nraktir saya" kata Alya.
"Hehe. Iya, Dokter" kata Dokter Harun.
"Jadi, apa tujuan sebenernya?" tanya Alya.
"Tadi Dokter hebat banget, gimana bisa gitu? Maksud saya....." kata Dokter Harun.
"Saya tau maksud kamu, gimana saya bisa gak gugup menghadapi situasi kek tadi gitu kan?" tanya Alya.
Dokter Harun mengangguk.
"Waktu saya masih jadi dokter residen seperti kamu, saya membantu profesor yang mengajar saya untuk mengoperasi pasien yang kasusnya sama kayak pasien tadi" kata Alya.
"Dan waktu bagian akhir. Profesor yang mengajar saya menyuruh saya untuk menutup luka operasi pasien, sama seperti saya nyuruh kamu tadi. Dan saya melakukan kesalahan yang sama seperti kamu tadi, lalu profesor yang mengajar saya itu langsung melakukan hal yang sama seperti yang tadi saya lakukan. Saya belajar melakukan hal tadi dari dia" lanjut Alya.
"Pantes aja. Tapi lebih enak gini lho, Dok" kata Dokter Harun.
"Enak gini gimana maksudnya?" tanya Alya.
"Jangan pake bahasa formal, pake bahasa informal aja. Kan saya dokter residen terus Dokter itu dokter spesialis, jadi jangan pake bahasa formal ke saya" jawab Dokter Harun.
"Serius boleh?" tanya Alya.
"Iya, Dokter" jawab Dokter Harun.
"Oke kalo gitu" kata Alya.
Rangga p.o.v
Rangga melihat Alya dan Dokter Harun lalu menghampiri mereka.
"Gimana operasinya? Lancar?" tanya Rangga pada Alya sambil duduk disebelah Alya.
"Syukur, lancar kok" jawab Alya.
"Anda berdua saling kenal?" tanya Dokter Harun melihat Rangga dan Alya yang keknya akrab gitu.
"Kita satu SMA dulu, sama Dokter Maura juga tapi setelah itu dia dapet masalah dan dikeluarin dari sekolah lalu ke sekolah lain dan gak sama kita lagi" jawab Rangga.
"Ooouu, pantesan" kata Dokter Harun.
"Lu kapan kenalannya sama dia?" tanya Rangga pada Alya.
"Tadi dia yang jadi asisten gue waktu ngoperasi" jawab Alya.
"Tapi bukannya lu baru aja kerja ya, Al? Kok bisa dapet jadwal operasi?" tanya Rangga.
"Oooh. Btw lu operasinya cepet banget ya" kata Rangga.
"Lama perasaan" kata Alya.
"Cuma 2,5 jam. Padahal semua dokter bedah jantung disini, ngoperasi pasien kanker paru itu biasanya 3 jam an bahkan lebih. Tapi lu 2,5 jam doank" kata Rangga.
"Tadi sebenernya sempet ada masalah lho, Dokter Rangga" kata Dokter Harun.
"Masalah waktu ngoperasi?" tanya Rangga.
"Iyaa, tadi dia gasengaja nyenggol arteri pulmonalis. Terus pendarahan deh" kata Alya.
"Serius lu? Dan walau ada masalah sebesar itu lu bisa selese dalam waktu 2,5 jam" kata Rangga sambil bertepuk tangan dan menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Marvelous, marvelous" kata Dokter Harun sambil ikut bertepuk tangan.
"Paan si klean" kata Alya.
"Tau tuh, paan si Dokter Harun. Kan Dokter Harun yang salah" kata Rangga.
"Hushh, gaada yang salah dalam hal ini karena semuanya sama - sama belajar. Yang penting sekarang pasiennya udah selamat" kata Alya.
"Saya bener - bener minta maaf banget atas kesalahan tadi, saya akan minta maaf kepada wali pasiennya nanti" kata Dokter Harun.
"Kamu becanda, Dokter Harun? Pasien itu gapunya wali, dia sendirian. Mungkin punya, tapi dia minta dirawat tanpa wali" kata Alya.
"Ouh, iyakah? Kalau begitu saya akan meminta maaf kepada pasien tersebut saat ia sudah sadar" kata Dokter Harun.
"Ide yang bagus" kata Rangga.
Elsa p.o.v
"Lepasin guee!" kata Maura sambil mengibaskan tangannya yang ditarik oleh Elsa hingga ke tangga darurat.
"Lu punya masalah apa sih sama gue? Dari dulu lu tu gangguin gue terus" kata Maura.
Elsa menampar pipi Maura.
"Lu masi nanya, tentang apa aja salah lu sama gue" kata Elsa.
Maura memegangi pipinya yang ditampar Elsa.
"Lu udah nipu gue, lu bilang lu gapernah belajar tapi tiba - tiba lu dapet rangking 1 waktu itu. Dan setelah itu gue denger waktu lu sama Rangga dan Alya lagi makan siang tadi, kalo lu sama Profesor Rafi udah mau nikah, lu tau kalo gue suka sama dia tapi lu ngrebut dia. Lu masi gangerti salah lu sama gue??" kata Elsa.
"Asal lu tau aja, gue emang bener - bener gobl*k waktu gue masih di SMA Pelita Bangsa. Kalo lu gapercaya lu bisa tanya Alya sama Rangga karena mereka satu sekolah sama gue di SMA Pelita Bangsa" kata Maura.
"Dan soal Pak Rafi. Gue tau lu suka dan sayang sama dia. Makanya kemaren waktu dia nembak gue, gue ganerima dia" tambah Maura.
"Hati gue tu sakit tau gak harus nolak dia. Tapi gue tau kalo suka lebih dulu sama dia, makanya gue ganerima dia dan cincin ini itu gue beli sendiri buat nyenengin diri gue aja bukan dari Pak Rafi. Lu pasti ngira kalo ini cincin tunangannya kan?" tambah Maura lagi.
"Terus soal omongan Alya sama Rangga itu cuma cibiran mulut doank, bukan beneran. Gue gak kasih tau mereka yang sebenernya karena gue ngehargai Profesor Rafi. Kalo gue bilang ke mereka gue nolak Pak Rafi, menurut gue itu bakal nurunin harga dirinya dia. Makanya gue tanggapi, lagian juga gak ngelewatin bates kan?" jelas Maura.
"Gausah sok baik dan kesiksa gitu lu. Gue tau cerita lu itu cuma cerita fiksi yang lu karang aja, bukan kisah nyata. Lu salah, udah milih rumah sakit ini buat kerja. Karena gue bakal bikin lu sengsara disini" kata Elsa dan pergi dari sana.
"Gue kerja di rumah sakit ini karena rumah sakit ini bagian dari Unicorn Group dan Unicorn Group itu punya kakeknya Alya sahabat gue. Gaada hubungannya sama lu" ucap Maura sebelum Elsa benar - benar pergi dari sana, tetapi Elsa tidak memedulikan ucapannya.
.
.
.
.
.
Bucin banget si Elsa tu ma si Rafi. Terus lagi, masalah rangking aja dia peritungin banget padahal udah bertaun - taun.
Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.