
Alya p.o.v
Alya sedang ada di halaman rumah sakit dan ketika itu hujan turun dengan derasnya. Dokter Harun melihatnya dari kejauhan dan lalu menghampirinya sambil tersenyum.
"Dokter gabawa mobil?" tanya Dokter Harun pada Alya.
"Bawa sih, tapi saya udah seharian gak tidur. Mending saya naik taksi onlen aja, daripada terjadi hal - hal yang tidak diinginkan. Tapi taksi yang saya pesen gadateng - dateng" jawab Alya.
Dokter Harun mengangguk - angguk.
"Soal ciuman...." ucap Dokter Harun.
"Kan saya udah bilang, anggap itu gapernah terjadi" potong Alya.
"Tapi saya harus gimana, Dok?" tanya Dokter Harun.
"Maksud kamu?" tanya Alya.
"Dokter pasti udah tau kalo saya lulus minggu depan" kata Dokter Harun.
"Hmm, saya tau" jawab Alya sambil mengangguk.
"Dan setelah lulus saya ditempatin buat kerja di Jawa Timur, Dok" kata Dokter Harun.
"Berati kamu gak disini donk" ucap Alya.
"Iya dan karena itu saya tanya soal ciuman itu...." kata Dokter Harun.
"Anggap itu gapernah terjadi" kata Alya.
"Tapi saya harus bagaimana, Dokter?" tanya Dokter Harun.
"Bagaimana, gimana sih maksudnya? Kan tinggal anggep gapernah terjadi gitu aja" kata Alya.
"Haruskah saya mengungkapkan perasaan saya dan kita berpacaran? Atau haruskah saya meminta maaf karena telah lancang mencium anda??" tanya Dokter Harun.
"Saya pilih yang kedua. Bukan karena apa - apa, tapi saya sangat membenci cinta" jawab Alya.
"Baik, saya akan meminta maaf. Maafkan saya, Dokter Alya" kata Dokter Harun.
"Tapi saya juga berharap kalau Dokter akan menemukan cinta sejati Dokter" lanjut Dokter Harun.
"Mungkin itu bakal lama banget. Karena seperti yang saya bilang, saya benci cinta" kata Alya.
"Tapi kenapa Dokter benci cinta? Dokter pernah pacaran terus tersakiti gitu??" tanya Dokter Harun.
"Bukan, malah saya yang sering nyakiti hatinya laki - laki. Contohnya kamu" kata Alya.
Dokter Harun tersenyum menatap Alya.
"Saya itu gasuka aja sama cinta. Karena kalo kita cinta dengan sesuatu, sesuatu itu akan menjadi kelemahan kita. Dan aku gasuka punya kelemahan, makanya aku benci cinta" jelas Alya.
"Bener juga sih. Tapi tetep aja saya pengen Dokter nemuin cinta sejati Dokter suatu hari nanti" kata Dokter Harun.
"Kenapa? Mau kamu tonjok gitu?" tanya Alya memulai candaan di percakapan yang serius.
Dokter Harun tertawa.
"Mungkin sih, Dok. Tapi yang lebih mungkin aku minta ke dia adalah untuk jangan buat Dokter Alya sedih. Karena tadi Dokter bilang kalo kita cinta dengan sesuatu, sesuatu itu akan menjadi kelemahan kita. Dan Dokter udah jadi kelemahan saya sekarang. Jadi kalo cinta sejati Dokter berani buat Dokter sedih, saya gaakan tinggal diam" kata Dokter Harun.
Alya hanya tersenyum.
"Mental Dokter sangat kuat ternyata, dalam menghadapi situasi seperti ini. Kalo saya jadi anda, pasti saya gabisa mikir apa - apa. Kek blank gitu" kata Dokter Harun.
"Ya emang sih, saya pertamanya juga blank. Kakek saya meninggal dan tiba - tiba ayah saya sakit parah kek gitu. Tapi ya mau gimana lagi. Karena dalam huruf mandarin takdir dan perintah itu hurufnya sama. Dan karena itu saya ngerasa bahwa takdir itu adalah perintah yang harus dijalani. Pasti ada alasan dibalik kematian semua orang dan kita tidak harus melawan takdir" ucap Alya.
"Ngomong - ngomong, gimana kamu bisa suka sama saya? Perasaan kita cuma beberapa waktu aja ketemunya. Saya juga gapernah baperin kamu" tanya Alya.
"Iya sih, kita cuma beberapa kali aja ketemunya dan Dokter juga gapernah baperin saya. Tapi saya baper ke Dokter dengan sendirinya. Waktu anda sangat tenang di ruang operasi padahal darah sudah muncrat ke langit - langit. Saya merasa bahwa anda adalah wanita yang saya cari dan wanita yang sangat pas untuk menjadi ibu dari anak - anak saya nanti" jawab Dokter Harun.
Alya hanya diam saja mendengarkan Dokter Harun berbicara.
"Membayangkan bisa berkeluarga dengan anda. Melihat bagaimana anda saat bangun tidur. Membayangkan semua itu benar - benar membuat jantung saya berdebar kencang, Dokter" lanjut Dokter Harun.
Alya tertawa kecil bermaksud meremehkan dirinya.
"Itu beneran, Dokter. Saya bener - bener merasa seperti itu setiap kali menatap anda" kata Dokter Harun sambil menatap Alya.
Taksi yang dipesan Alya sudah datang.
"Taksi yang saya pesen udah dateng, saya pamit ya. Semangat kerja di Jatim minggu depan" pamit Alya.
Satu minggu kemudian, Heri Kusuma sudah boleh pulang dari rumah sakit. Alya membawa ayahnya ke rumahnya yang di Menteng, Jakarta Pusat.
"Mungkin rumah ini gasebesar rumah kakek, tapi Papa lebih baik disini daripada di rumah itu" kata Alya sambil menunduk ke ayahnya yang di kursi roda.
Heri mengelus rambut Alya dengan pelan. Alya lalu tersenyum dengan riang karena ayahnya sudah hampir pulih.
"Yaudah ayo masuk, Pa" kata Alya sambil mendorong kursi roda ayahnya dan masuk ke dalam rumahnya.
Saat masuk ke dalam rumah, mereka langsung disambut oleh semua pekerja di rumah peninggalan kakeknya yang sekarang ditinggali oleh Fahmi dan sekeluarga dengan Luna juga.
"Loh, Bi Asih kenapa disini?" tanya Alya pada Asih.
Asih adalah orang yang merawat kakeknya Alya dulu.
"Saya sama teman - teman lebih memilih disini, Nona. Daripada bersama Tuan Muda Fahmi" kata Asih.
"Tapi, Bi..." kata Alya.
"Biarkan kami yang merawat Pak Heri, Nona" ucap semuanya.
Tiba - tiba Alya mendapat telepon dari rumah sakit.
"Ada apa, Sus?" tanya Alya.
"Ada pasien gawat darurat, Dokter" kata suster itu.
"Baik, saya segera kesana" kata Alya.
"Pa, Bi Asih dan semuanya. Alya ke rumah sakit dulu ya. Tolong jaga Papa ya, Bi" pamit Alya.
Alya lalu pergi ke Rumah Sakit Dirgantara.
"Dimana pasien daruratnya?" tanya Alya pada suster yang meneleponnya tadi.
Suster tersebut lalu membawa Alya pada pasien gawat darurat itu dan disana ada Dokter Wisnu.
"Gimana keadaan pasien ini, Dokter Wisnu?" tanya Alya.
"Dia memiliki kelainan jantung sejak kecil dan kelainannya itu adalah stenosis aorta, Dokter. Kelainan itu baru diketahui sekarang dan sekarang umurnya 28 tahun" jawab Dokter Wisnu.
Stenosis aorta adalah penyempitan katup aorta.
"Kok bisa baru tau sekarang? Dan udah berapa menit dia pingsan?" tanya Alya.
"Itu karena sekarang pasien sedang hamil dan ia merasakan nyeri dada. Lalu pada saat diperiksa ternyata ia memiliki kelainan jantung yang tadi itu. Lalu dia sudah pingsan selama 30 menit, Dokter" jawab Dokter Wisnu.
"Hamil? Berapa usia kandungannya sekarang?" tanya Alya.
"35 minggu, Dokter. Dan bayinya kembar" jawab Dokter Wisnu.
"Oke, kalo gitu minta persetujuan suaminya untuk mengoperasi pasien. Kalo sudah, siapin ruang operasi dan buat jaga - jaga panggil dokter obgyn juga" suruh Alya.
Dokter obgyn adalah dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau dokter kandungan.
"Memangnya akan dilakukan persalinan juga, Dok?" tanya Dokter Wisnu.
"Iya. Karena ini operasi besar, kemungkinan janin gaakan kuat dan harus dikeluarin" jawab Alya.
"Baik, Dokter" kata Dokter Wisnu dan segera melakukan perintah Alya.
Alya lalu memeriksa pasien yang dibicarakan tadi.
"Ibu harus kuat untuk anak - anak Ibu ya" kata Alya sambil tersenyum dan menggenggam tangan ibu yang pingsan itu.
"Dokter" panggil Dokter Wisnu.
Alya menoleh dan sedikit menjauh dari pasien karena sepertinya Dokter Wisnu ingin membicarakan sesuatu yang sekiranya bagaik buat pasien, jadi dia menjauh agar pasien yadi gak kedengeran. Karena walau pingsan, biasanya masih denger tapi samar.
"Kenapa?" tanya Alya.
"Mereka gapunya uang buat bayar biaya rumah sakitnya, Dokter" jawab Dokter Wisnu.
"Bpjs juga gapunya?" tanya Alya.
Dokter Wisnu menggelengkan kepalanya.
"Spm?" tanya Alya.
Spm adalah surat pernyataan miskin yang biasanya diminta dari kepala desa atau lurah.
"Mereka gapunya surat nikah, jadi gabisa minta spm, Dok" jawab Dokter Wisnu.
"Aku bisa gila kalo kek gini" kata Alya sambil menggigit jari telunjuknya.
"Yaudah saya aja yang nanggung semua biayanya" kata Alya.
"Dokter, serius?" tanya Dokter Wisnu.
"Ya seriuslah. Minta persetujuan wali lagi dan bilang saya yang nanggung semua biayanya" kata Alya.
"Ba....baik, Dokter" jawab Dokter Wisnu dan langsung berlari.
Setelah itu wali pasien menyetujui semua itu dan Alya memulai operasinya.
"Dokter, sepertinya bayinya tidak akan kuat" kata dokter anastesi.
Alya menoleh pada dokter obgin yang ada disana.
"Jangan khawatir, Dokter. Saya akan mengurus si kembar dan anda fokus menyelamatkan ibunya dari kelainan jantung" kata dokter obgin.
Alya tersenyum dibalik maskernya sambil mengangguk. Setelah itu ia kembali fokus pada operasi dan dokter obgin tadi melakukan operasi caesar atau operasi untuk mengambil bayi dari rahim ibu. Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi, satu bayi telah keluar dari rahim pasien itu. Alya menoleh ke bayi itu.
"Apakah tangisannya mengganggu konsentrasi anda, Dokter?" tanya Dokter Wisnu.
"Hmm, nggak kok. cuma terharu aja" jawab Alya.
Dokter Wisnu tersenyum dibalik maskernya.
"Huhhh" kata Alya sambil berdiri tegak.
"Operasi katup jantung telah selesai" kata Alya.
Setelah itu satu bayi keluar lagi dari rahim pasien yang dioperasinya.
"Si kembar juga telah keluar dengan selamat. Walau mereka prematur karena masih berusia 35 minggu, tapi mereka sama sekali tidak memiliki kelainan" kata dokter obgin.
Prematur adalah kelahiran yang terjadi sebelum minggu ke-37.
"Kalau begitu mari kita melakukan penutupan, Dokter" kata Alya.
Dokter obginnya mengangguk.
Mereka lalu menutup luka operasi pasien dan pasiennya dipindahkan ke ICU.
.
.
.
.
.
Terharu banget gasiiii. Karena si kembar selamat tanpa lecet sedikit pun 🤓🤓.
Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.