I Will Be Okay

I Will Be Okay
~ Zeventien (Tujuh Belas)



Maura p.o.v


Maura sudah selesai diobati oleh dokter UKS dan ia sangat khawatir pada Nia sehingga ia pergi ke ruangan Nia yang ada disebelah ruangannya.


"Nia, lu gapapakan? Lu cuma akting kan?" tanya Hera kebingungan.


"Kan ini semua rencana lu buat ngerjain si Alya" lanjutnya.


"Apaaa??!!!" teriak Maura yang ada didekat pintu ruangan Nia.


"Jadi semua ini rencananya dia?? Kenapa mau ngerjain Alya??" tanya Maura sambil berjalan ke arah Hera.


"Apaan si? Udah jelas Nia pingsan kayak gini ya gamungkin lah" jawab Hera.


"Gue gak tuli ya, gue jelas - jelas denger apa yang udah lu omongin tadi" jawab Maura.


Sementara di luar UKS, orang tua Nia telah datang.


"Dimana anak saya?" tanya ibunya Nia.


"Anak ibu masih pingsan karena didorong oleh Maura, sekarang ia berada disana" jawab ibu guru yang ada disana sambil menunjuk ruangan Nia.


"Tetapi mohon dengarkan penjelasan saya dulu di ruangan saya ya, Pak, Bu" ajak ibu guru tersebut.


"Halah, kelamaan" kata ayahnya Nia dan langsung pergi ke ruangan anaknya tanpa mendengarkan omongan guru tadi dan diikuti ibunya Nia.


"Ya ampunn sayangg, dahi kamu sampe memar gini" kata ibunya Nia sambil mengelus rambut Nia yang masih pingsan.


"Hera" panggil ayahnya Nia.


"Iya, Om" jawab Hera sedikit takut.


"Mana anak yang namanya Maura?" tanya ayahnya Nia.


Hera akan menjawab ayahnya Nia, namun Maura langsung mengajukan diri.


"Saya disini, Om" jawab Maura dengan berani.


"Ooo, jadi kamu yang dorong anak saya sampe kayak gini" kata ayahnya Nia.


"Saya mengakui kalau saya memang mendorong Nia. Tapi saya juga punya alasan untuk melakukan itu, Om" jawab Maura.


"Udah salah, basa - basi lagi. Dasar anak gatau diri kamu" kata ayahnya Nia.


"Saya basa - basi karena ini memang bukan sepenuhnya kesalahan saya, Om" jawab Maura.


"Terus? Kesalahan siapa?" tanya ayahnya Nia.


"Tadi ada korsleting kabel dan saya berusaha untuk menyelamatkan Nia dari ledakan, makanya itu saya dorong Nia. Ini buktinya" kata Maura sambil menunjukkan tangannya yang diperban.


"Kamu berusaha nyelametin dia tapi hasilnya justru kayak gini" kata ayahnya Nia.


"Saya sudah berusaha, Om" jawab Maura.


"Kebanyakan alesan kamu!!" kata ayahnya Nia dan akan menampar Maura.


Tetapi Alya datang dan langsung menggenggam tangan ayahnya Nia sebelum menyentuh wajah Maura.


"Apa yang dibilang Maura itu bener, Om" kata Alya.


"Kamu siapa?" tanya ayahnya Nia sambil melepaskan tangannya dari genggaman Alya.


"Saya Alya, wakil ketua osis sekolah ini dan ketua kegiatan seni yang diadakan hari ini" jawab Alya.


"Saya akui, kerja saya tidak bagus. Tapi disini saya bukan ingin membahas hal itu. Saya ingin membela Maura bahwa ia memang tidak sepenuhnya bersalah. Kalau Nia tidak didorong oleh Maura maka lukanya akan lebih parah, Om. Karena Nia berada tepat di tempat ledakan. Maura yang agak jauh aja kena" jawab Alya.


"Pokoknya saya gaakan tinggal diam. Masalah ini akan saya tindak lanjuti" ucap ayahnya Nia.


"Paa....Maa" panggil Nia yang sudah sadar dengan suara lirih.


"Kamu udah sadar sayang" kata ayahnya Nia sambil membantu anaknya untuk duduk.


"Dia dorong aku, Paa" kata Nia sambil menunjuk Maura.


"Nia, kamu harus ceritain yang sebenernya" kata Alya.


"Emang itu yang sebenernya" jawab Nia.


Hera yang mengetahui semua kebenarannya pun hanya diam saja karena takut.


"Udah udah" kata ibunya Nia.


"Nia, ayo kita pulang dulu yuk sayang" ajak ayahnya Nia.


Nia dan sekeluarga pun pulang.


"Gue gak bermaksud gitu, Al" ucap Maura.


"Iya gue percaya, gue denger kok semuanya tadi" jawab Alya sambil menepuk bahu Maura untuk menenangkannya.


"Tapi kok, bokap sama nyokap lu gak kesini sih?" tanya Alya.


"Mereka mana peduli sama anak yang gak berarti kayak gue" jawab Maura.


"Hushh, gaboleh ngomong gitu. Setiap anak berarti bagi orang tuanya" kata Alya.


"Ya abis mereka gapernah ngertiin gue" kata Maura.


"Mereka pasti ngertiin lu, tapi dengan cara mereka sendiri. Harusnya lu bersyukur karena mereka masih ada disisi lu, banyak anak yang gapunya orang tua diluar sana" kata Alya menasehati Maura.


"Iya maaf" kata Maura menyesal.


"Yaudah kalo gitu, gimana kalo kita liat CCTV aja" ajak Alya.


"Emang boleh sama Pak satpam?" tanya Maura.


"Gampang itu mah" kata Alya dan pergi menuju ruang CCTV.


Maura pun mengikuti Alya.


.


.


.


.


.


Kejadian di ruang CCTVnya lanjut di eps selanjutnya ya.


Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.