I Will Be Okay

I Will Be Okay
~ Eenenveertig (Empat Puluh Satu)



Rangga p.o.v


Rangga mengoperasi pasiennya juga di ruang operasi sebelahnya ruang operasi yang dipakai sama Alya buat ngoperasi pasiennya.


Setelah selesai mengoperasi, Rangga tidak langsung pergi. Tetapi ia justru ingin menyaksikan Alya mengoperasi pasiennya, ia pun berdiri di depan ruang operasi dan melihat Alya mengoperasi.


Kan pintu operasi itu bagian atasnya kaca jadi bisa liat dari sana. Setelah selesai mengoperasi, Alya keluar dari ruang operasi itu dan melihat Rangga.


"Rangga?" panggil Alya.


"Kamu hebat banget tadi" Rangga memuji Alya.


Alya tersenyum.


"Makasih" kata Alya.


Keesokan harinya.


Alya p.o.v


"Pasien yang anda operasi kemarin sangat baik - baik saja kondisinya. Begitupula dengan si kembar. Sekarang mereka sudah dirawat gabung dengan ibunya. Itu semua berkat anda menanggung semua biaya rumah sakit mereka" kata Dokter Wisnu.


"Jadi, dia ada di kamar mana sekarang? Aku pengen banget gendong si kembar" tanya Alya.


"Mereka ada di kamar VIP nomor 04" jawab Dokter Wisnu.


Karena kamar VIP nomor 04 sangat dekat darisana, Alya langsung berlari kesana dan sekarang dia berada di depan pintu kamar itu. Dia masih mempersiapkan ekspresinya saat masuk ke ruangan itu nanti. Ia menarik napas dalam - dalam dan mengetuk pintu kamar tersebut. Setelah itu ia masuk dengan senyuman.


"Selamat pagi, Bapak dan Ibu" kata Alya.


"Pagi, Dokter" kata Ibu dari si kembar sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya.


"Oh, Ibu gausah bangun. Tidur aja yang nyaman. Anda kan baru operasi dan lukanya akan sembuh dalam waktu yang lama, jadi tidur aja dulu" kata Alya menghentikan pasiennya untuk bangun.


"Si kembar baik - baik saja, bukan?" tanya Alya.


"Sangat baik, Dokter. Begitupula saya juga merasa sangat baik. Semua ini berkat anda. Anda pasti adalah malaikat yang dikirim ke bumi oleh Tuhan" kata Ibu itu.


Alya tersenyum.


"Saya juga berterima kasih ke Ibu karena Ibu baik - baik aja. Bahkan Ibu sama sekali gak menyerah buat anak - anak ibu" kata Alya.


"Dokter" panggil suami pasien.


"Iya" jawab Alya.


"Apakah anda....beribadah di Gereja Katedral, Jakarta?" tanya suami pasien.


Inget di eps 26.


"Iya. Bagaimana Bapak bisa tau?" jawab Alya.


"Saya juga ibadah disana, Dokter" jawab suami pasien.


"Oooo...." kata Alya.


"Anda dijuluki si tampang 25 di gereja itu" kata suami pasien.


"Oh benarkah? Mengapa begitu?" tanya Alya.


"Karena walau anda berusia 30 tahun, anda terlihat seperti berusia 25 tahun. Selain itu anda selalu datang 25 menit sebelum kebaktian dimulai. Jadilah anda dijuluki si tampang 25" jelas suami pasien.


Ibu dan si kembar memukul perut suaminya.


"Kenapa? Kenapa kamu mukul aku?" tanya suami pasien pada istrinya.


"Ngapain bahas itu disini" bisik ibu si kembar.


Alya hanya menatap pasangan yang kelihatannya sedang bertengkar.


"Dokter" panggil ibunya si kembar.


"Iya" jawab Alya.


"Bisa gendung si kembar sebentar aja. Biar nanti bisa jadi dokter yang baik kek Dokter" pinta ibu dari si kembar


"Beneran boleh?" tanya Alya.


"Ya pasti boleh donk, Dokter" kata suami pasien.


Alya lalu menggendong satu per satu bayi kembar itu.


"Dokter" panggil ibu si kembar lagi.


"Iya?" tanya Alya.


"Gimana kalo anda nikah sama kakak saya? Usianya 33 tahun, dia juga belum nikah. Keliatannya kalian cocok deh" jawab ibu si kembar itu mencoba mencomblangkan Alya dengan kakaknya.


"Begitukah? Tapi saya belum ingin menikah" kata Alya.


"Baiklah, aku akan segera menikah bila menemukan pria yang baik. Sayangnya semua pria yang kutemui brengs*k semuanya" jawab Alya.


"Anda benar, tidak ada pria yang tidak brengs*k di dunia ini. Sepertinya mereka memang diciptakan untuk menjadi brengs*k" kata ibu si kembar sambil tertawa kecil.


Suami pasien hanya menatap istrinya yang mengejek para pria di dunia.


"Kalau begitu, saya pamit untuk memeriksa pasien yang lainnya" kata Alya.


"Iya, Dokter. Terima kasih atas kunjungannya, kebaikan anda pasti akan kubalas walau di kehidupan selanjutnya" kata ibu si kembar.


"Kami benar - benar sangat berterima - kasih kepada anda" kata suami pasien.


Alya tersenyum senang karena bisa menolong orang lain. Setelah itu ia keluar. Sebelum menutup pintunya kembali, Alya menatap keluarga bahagia yang telah ia selamatkan.


"Anda iri ya, Dokter?" tanya Dokter Wisnu yang tiba - tiba saja ada disana.


"Maksudnya?" tanya Alya.


"Mau saya cariin suami? Dokter kan udah 30 tahun. Pasien itu masih 28 tahun tapi udah nikah, juga udah punya anak" jawab Dokter Wisnu.


Alya menunduk dan berpikir.


"Gamau. Aku suka sendiri" tegas Alya sambil mengangkat kepala pergi.


Dokter Wisnu hanya tertawa kecil melihat Alya yang sudah 30 tahun tapi tingkahnya seperti anak kecil. Kemudian ia menutup pintu kamar tadi lalu mengikuti Alya.


Farrel p.o.v


"Kamu Papa jodohin sama Luna, adiknya Pak Fahmi" ucap ayahnya.


"Pa, apa Papa gabisa buat aku bahagia sekali aja. Aku gamau nikah, Pa" kata Farrel.


"Papa gapeduli. Ini buat urusan bisnis Papa, kamu harus nikah sama dia" kata ayahnya.


"Kalo gitu kenapa nggak Papa aja yang nikah sama dia? Kan urusan bisnis Papa" ucap Farrel.


"Pak Fahmi mintanya kamu. Kalo boleh Papa yang nikah, ya seneng Papa" jawab ayahnya.


"Ck" kata Farrel.


Sementara Luna juga dipaksa menikah dengan Farrel oleh kakak tirinya, yaitu Fahmi. Disisi lain Andra juga sudah dijodohkan oleh Fahmi dengan seseorang dan ia tidak mau menikah juga, akhirnya Andra melaporkan itu pada Alya.


Alya p.o.v


Mendengar laporan dari Andra, Alya langsung pergi ke rumah peninggalan kakeknya untuk menemui Fahmi.


"Maksud lu apa?? Gue biarin lu injek - injek harga diri gue, bukan adek gue" kata Alya pada Fahmi.


"Al, nikah itu gak mengurangi harga diri" kata Fahmi.


"Iya kalo nikah karena emang suka dan cinta. Tapi kali ini lu nikahin adek gue buat bisnis" kata Alya.


"Waktu kakek meninggal, lu juga kan yang bikin bokap gue sakit??" lanjut Alya.


"Yakali gue yang bikin bokap lu sakit" kata Fahmi.


"Kakek meninggal dan beberapa jam kemudian jantung koroner Papa kambuh sampe harus dioperasi. Bukannya semua itu keliatan kayak kebetulan??" kata Alya.


"Bagi gue itu gak keliatan kayak kebetulan. Mungkin aja bokap lu kaget denger kabar kakek lu meninggal makanya gitu" jawab Fahmi.


"Gue dokter. Gue gaakan bisa lu tipu gitu aja. Jelas - jelas penyebabnya itu karena Papa makan kacang. Papa selalu ngehindari kacang tapi kenapa sekarang Papa makan kacang sampe dia sakit gitu?? Bukannya itu ganjal sekali, Tuan Muda Fahmi??" kata Alya.


"Yaudah itu bukan urusan gue kan soal makanan apa yang dia makan" kata Fahmi.


Alya malas berdebat dengan Fahmi dan ia menarik nafasnya dalam - dalam.


"Gue kesini mau bawa adek gue. Gaada siapapun yang bisa nyuruh dia nikah kalo dia emang gapengen nikah. Dan lu inget, gue gabakal tinggal diem atas semua yang lu lakuin ini" ucap Alya sambil menatap mata Fahmi dan pergi.


Fahmi hanya smirk.


Alya lalu pulang ke rumahnya yang di Menteng, Jakarta Pusat dengan membawa Andra.


.


.


.


.


.


Wuhuuuuyyy.


Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.