I Will Be Okay

I Will Be Okay
~ Negenendertig (Tiga Puluh Sembilan)



Alya p.o.v


Saat ia sudah di ruangan ayahnya.


"Kak, aku keluar dulu ya. Cari udara seger" pamit Andra.


"Hmm, iya. Udah jam setengah 5 pagi, bagus buat jalan - jalan" jawab Alya.


Andra lalu keluar untuk berjalan sebentar di taman rumah sakit.


Alya lalu membanting dirinya ke sofa yang ada disana. Ia mengingat kejadian saat Dokter Harun menciumnya.


"Dasar orang gila" katanya.


"Ya itu emang bukan kiss first gue sih, tapi kan tetep aja dia berani banget nyium gue. Terus gue? Gue kenapa diem kek membeku gitu sih?" batinnya sambil meminum air.


"Yaudahlah. Mending gue tidur, capek juga gatidur seharian" pikirnya lalu tidur.


Saat sudah pukul 8 pagi.


Hp Alya berdering saat suster meneleponnya dan ia sangat kaget lalu langsung terbangun dari tidurnya.


"Halo" kata Alya lemas sambil mengusap iler disudut bibirnya.


"Dokter, akan ada pasien darurat yang akan dilarikan ke rumah sakit ini dengan helikopter dalam waktu 10 menit lagi" kata suster.


"Pasien tersebut menaiki pesawat dari Bandara Amsterdam Schiphol yang menuju Bandara Soekarno Hatta. Dan di tengah jalan, ia pingsan karena jantung koroner" lanjut suster yang menelepon Alya.


"Di pesawat itu ada seorang dokter yang juga adalah penumpang. Dan dokter tersebut memeriksa orang itu, ternyata orang tersebut bukan hanya mengalami jantung koroner tapi juga mengidap kanker hati. Ia langsung melakukan intubasi di tempat dan sekarang orang tersebut sedang dilarikan kesini menggunakan helikopter" penjelasan terakhir suster tersebut.


"Tapi suster, saya gak sif pagi hari ini. Kenapa laporannya ke saya? Bukannya departemen bedah jantung yang sif pagi hari ini itu Dokter Rangga?" kata Alya sambil menggaruk - garuk kepalanya.


"Iya saya tau, Dokter. Sebenarnya saya juga tidak ingin menganggu anda, karena kemarin anda sudah tidak tidur seharian. Tapi semua dokter di departemen bedah jantung sedang sibuk kecuali anda. Dokter Rangga tidak bisa dihubungi, Dokter Riko sedang cuti dan Profesor Anggara sekarang sedang mengoperasi" jawab suster itu.


"Ngapain Rangga gabisa dihubungi??" Alya bertanya - tanya di benaknya sambil memakai sandalnya.


"Yaudah saya siap - siap sekarang" jawab Alya pada suster tadi dan mematikan teleponnya.


"Hhhhh, kesialan gue belum selesai ternyata" ucapnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah itu ia langsung naik ke rooftop tempat helikopter mendarat di Rumah Sakit Dirgantara untuk menyambut pasien yang dibicarakan suster dengannya tadi.



"Katanya mau dateng 10 menit lagi. Tapi kita udah lama lho disini" ucap Alya sambil melihat jam tangannya.


"Iyaya, Dok. Kok kama banget ya" kata Dokter Wisnu.


"Tapi kenapa kamu yang bantu saya? Dokter Harun kemana?" tanya Alya.


"Dokter Harun sedang menyiapkan tesisnya, Dokter. Minggu depan dia sudah lulus" jawab Dokter Wisnu.


Tesis itu tugas akhir dari kuliah S2. Tapi karena kuliah spesialis itu sama saja kuliah kedua untuk dokter, jadilah tugas akhirnya juga disebut dengan tesis sama seperti S2. Kan kalo kuliah dokter itu dokter umum dulu baru spesialis.


Alya mengangguk - angguk.


"Saya akan memperkenalkan secara resmi tentang diri saya, Dokter. Nama Wisnu Abdullah, dokter residen bedah jantung tahun ke-3. Hobi...." kata Dokter Wisnu memperkenalkan dirinya.


"Udah udah. Nama sama dokter residen bedah jantung tahun keberapa aja yang penting, yang lainnya gausah dibilangin ke saya. Helikopternya udah dateng, ayo buru kesana" kata Alya.


Rambut Alya tertiup angin yang dihasilkan dari kincir helikopter. Alya menutupi matanya dengan tangan karena banyak debu yang masuk ke matanya.


Farrel p.o.v


"Ternyata bener, info yang gue dapet. Kalo lu kerja disini" kata Farrel sambil menepuk bahu Alya.


Alya lalu menatap muka Farrel dan mencoba mengingat siapakah orang yang ada dihadapannya ini.


"Ini gue, Farrell" kata Farrel.


"Ayo buruan kita operasi pasiennya. Lu ngoperasi jantungnya dan gue hatinya" kata Farrel.


"Lu bedah umum?" tanya Alya.


"Iyalah. Kalo bukan, mana mungkin gue mau ngoperasi hatinya. Yang ada gue dituntut donk, ngoperasi orang tanpa lisensi" jawab Farrel.


Alya tertawa.


"Kok tau kalo gue bedah jantung?" tanya Alya.


"Yaudah ayo kita operasi dia" ajak Alya.


Mereka lalu pergi ke ruang operasi.


Alya p.o.v


Setelah selesai operasi.


"Lu jadi dokter juga ternyata" kata Alya sambil menabok keras lengan Farrel.


"Aww. Sakit tau, Al. Kebiasaan lu gapernah berubah deh" kata Farrel sambil memegangi lengannya yang ditabok sama Alya.


"Ya emangg" kata Alya sambil mengacak - acak rambut Farrel.


"Hehh gue bilangin ya. Dimana - mana tu yang ada, cowo gangguin cewe. Ini lu malah cewe gangguin cowo. Btw gue jadi dokter karena gue pinter, terutama di pelajaran biologi, fisika sama matematika" kata Farrel sambil membenarkan kembali rambutnya yang diacak - acak Alya.


"Idihhh, narsis lu. Sekian lama gaketemu, akhirnya ketemu juga. Apakan gue bilang, kita bakal ketemu lagi" kata Alya sambil menaikkan alisnya 2 kali.


"Iya, gue pindah kesini mulai sekarang" jawab Farrel.


"Serius? Berati kita bakal sering ketemu donk" kata Alya.


"Assaa (asik)" kata Alya sambil pergi.


"Justru gue pindah kesini karena pengen ketemu elu, bego" ucap Farrel dalam hati sambil menatap Alya yang berjalan dengan kegirangan.


Alya ditelepon oleh Andra.


"Iya, Andra?" kata Alya.


"Papa udah sadar, Kak. Kakak cepet kesini" kata Andra.


"Iyakah?? Oke Kakak kesana sekarang juga" kata Alya dan langsung berlari ke kamar ayahnya.


Setelah sampai disana.


"Papa" panggil Alya dengan nada lembut.


"A.... Allll....yaa" ucap Heri dengan kesulitan sambil mencoba meraih tangan anaknya.


Alya lalu menggenggam tangan Heri.


"Iya. Ini Alya, Pa" jawab Alya.


Ayahnya meneteskan air mata.


"Papa gausah nangis. Papa baik - baik aja kok. Papa gausah khawatirin apapun dan fokus ke kesembuhan Papa. Alya bakal rawat Papa sebaik mungkin" kata Alya dengan mata berkaca - kaca.


Ayahnya justru meneteskan air mata lebih banyak lagi mendengar ucapan Alya.


Alya lalu mengusap air mata ayahnya.


"Kak, Kakak pulang dulu gih. Ganti baju, makan dan lain - lain. Biar Andra yang rawat Papa dulu disini" kata Andra.


"Beneran bisa?" tanya Alya.


"Iyaa, Kak. Kakak udah gatidur seharian, Kakak pasti capek" jawab Andra.


"Yaudah kalo gitu Kakak pergi ya" kata Alya.


"Aku pergi dulu ya, Pa. Fighting, Papa" pamit Alya sambil mengepalkan tangannya untuk memberi semangat ke ayahnya.


Ayahnya memberikan senyum tipis.


.


.


.


.


.


Seneng banget deh liat ayah sama anak akur kek gini. Daripada dulu, Alya sama papanya selalu berselisih pendapat.


Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.