
Farrel p.o.v
Di kantin Rumah Sakit Dirgantara.
"Jadi, lu mau nikah? Sama si Luna?" tanya Alya
"Hmm, dijodohin sama Papa" jawab Farrel.
"Ahahahahahahahaha" Alya tertawa sambil tepuk tangan.
"Kok lu ketawa si" kata Farrel.
"Ya lucu aja. Si Luna pasti juga gamau, tapi dipaksa Fahmi" kata Alya.
"Bisa gak lu hentiin pernikahan ini?" tanya Farrel.
"Ya gue bukan orang yang ngurus hal kecil kek gini" jawab Alya.
"Hal kecil? Ini pernikahan, Al. Pernikahan itu sekali seumur hidup, ini bukan hal kecil" kata Farrel.
"Tapi.....ini masalah lu bukan gue. Babai" kata Alya dan pergi.
"Allll...." panggil Farrel.
"Tega banget si semuanya sama gue. Terus sekarang gue harus apa coba??" kata Farrel sambil mengacak - acak rambutnya.
Alya p.o.v
Alya sedang merawat pasien rawat jalan.
"Jadi, anda sering merasakan sesak dan nyeri di dada?" tanya Alya pada pasiennya.
"Iya. Rasanya seperti ada yang menindih dadaku, Dokter" jawab pasien itu.
"Saya akan memeriksa anda" kata Alya sambil menaruh stetoskop di dada pasiennya.
"Bernapaslah dengan rileks dan tenang. Santai saja" suruh Alya.
Alya mendengar seperti ada yang bermasalah dengan suara paru - paru pasiennya itu, ia berpikir kalau itu adalah gejala awal kanker paru
"Apa anda sering merokok?" tanya Alya.
"Saya baru mulai merokok sekitar 3 bulan yang lalu dan itu juga tidak sering" jawab pasien itu.
"Untuk melihat lebih lanjut tentang sebenarnya apa penyakit yang anda derita, saya akan melakukan CT scan dan beberapa tes lainnya" kata Alya.
"Apakah saya mengidap penyakit berbahaya karena merokok, Dokter? Mengapa perlu CT scan?" tanya pasien itu.
"Kita masih belum mengetahuinya secara pasti, jadi melakukan CT scan dan tes lainnya adalah pilihan yang terbaik" jawab Alya.
"Tolong selamatkan saya, Dokter. Saya berjanji tidak akan merokok lagi" kata pasien itu sambil memegang tangan Alya.
Alya tersenyum.
"Kita masih belum tau secara pasti itu penyakit apa dan jika memang ada komplikasi, saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk anda. Dan daripada anda membuat janji dengan saya untuk tidak merokok lagi, lebih baik meminta maaf kepada paru - paru anda" kata Alya.
"Baik, Dokter. Terima kasih, Dokter" kata pasien itu.
Tiba - tiba Alya ditelepon suster di IGD.
"Halo, Sus" kata Alya.
"Ada wabah yang tiba - tiba menyerang rumah sakit kita dan orang yang diduga adalah orang pertama terkena wabah itu di Indonesia sedang ada di IGD sekarang, jadi kami menutup IGD hingga hasil apakah orang tersebut benar - benar terkena wabah itu jadi" kata suster.
"Memangnya wabah apa itu, Sus?" tanya Alya.
"MERS, Dokter. Orang tersebut baru saja dari luar negri dan negara yang ia datangi adalah Arab Saudi" jawab suster.
"MERS?" tanya Alya.
MERS juga disebut Middle East Respiratory Syndrome atau Sindrom Pernapasan Timur Tengah adalah penyakit pernapasan menular yang terkadang fatal bagi sebagian orang. Penyakit ini sering menyebar melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Dan di novel ini, author buat ada pandemi MERS di Arab Saudi dan ada orang yang baru aja dari sana yang mengalami gejala yang sama dengan MERS ini lalu orangnya ada di IGD Rumah Sakit Dirgantara. Tapi tentunya ini fiksi. Walau begitu, pandemi MERS memang pernah terjadi di Arab Saudi.
"Saya akan segera kesana, Suster" kata Alya.
"Tapi Dokter, disini berbahaya" kata suster.
Alya tidak memedulikan perkataan terakhir suster itu dan langsung menutup teleponnya.
"Pulangkan semua pasien rawat jalan yang lain dan katakan kalau saya sedang sibuk, lalu jadwalkan CT scan untuk pasien ini" kata Alya pada suster yang menemaninya disana.
Ia berlari ke IGD dan setelah berada di IGD, ia melihat pintu IGD ditutup rapat.
"Dokter Alya" panggil Dokter Wisnu.
"Apa anda tau ada berapa orang disana dan siapa saja?" tanya Alya.
"Ada 10 staf rumah sakit kita disana. 7 suster, 2 dokter umum dan satunya lagi dokter spesialis dan dokter itu adalah Dokter Rangga. Untuk jumlah pasien yang ada disana, saya kurang tau. Dan sekarang ada 3 orang yang dicurigai mengidap MERS, mereka adalah 1 keluarga dan salah satu dari mereka baru saja pulang dari Arab Saudi" jelas Dokter Wisnu.
"Rangga didalem?" tanya Alya.
"Iya, Dokter. Dokter Rangga ada didalam" jawab Dokter Wisnu.
"Padahal dia kan baru aja 2 hari jaga malem, dia pasti capek. Gimana kalo dia ketular??" ucap Alya.
"Tapi kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk" kata Alya.
"Semua staf rumah sakit yang ada di dalem udah pake APD?" tanya Alya.
"Sudah tapi APD tingkat 1, Dokter" jawab Dokter Wisnu.
"Tingkat 1 dan bukan tingkat 3??? Padahal ini kan penyakit menular yang berbahaya banget" kata Alya.
APD adalah Alat Pelindung Diri yang biasanya dibagi menjadi 3 tingkat sesuai dengan penyakit menular yang dihadapi.
"Rumah sakit kita tidak menyimpan APD tingkat 3 karena tidak tau kalau akan ada penyakit menular" kata Dokter Wisnu.
"Hhhhh, rumah sakit ini cuma besar nama doank" ucap Alya.
"Tapi udah ngehubungi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit kan?" tanya Alya.
"Sudah, Dokter" jawab Dokter Wisnu.
"Oke kalo gitu" kata Alya agak tenang.
Ia lalu mengintip jendela IGD.
Rangga p.o.v
Rangga melihat Alya yang mengintip keadaan IGD melalui jendela dan ia meneleponnya.
"Pergi yang jauh dari sini, Al" suruh Rangga.
"Maksud lu apa? Gue bakal terus disini buat temenin lu" kata Alya.
"Uhuk....uhuk" Rangga batuk dan badannya agak lemas.
"Ngga? Lu gapapa?" tanya Alya.
Rangga tiba - tiba pingsan.
"Nggaa, Ranggaa" kata Alya sambil mengetuk - ketuk jendela IGD.
Rangga yang sedang ada di dalam IGD langsung dipindahkan ke brankar oleh staf lain yang ada di dalam sana.
Alya p.o.v
"Biarkan saya masuk" kata Alya pada satpam yang menjaga IGD.
"Tidak bisa, Dokter. Kita harus mengikuti protokol" kata satpam itu.
"Saya akan bertanggung jawab untuk setiap kegiatan yang saya lakukan. Saya juga yakin kalau IGD membutuhkan saya sekarang, jadi biarkan saya masuk" kata Alya.
"Tidak bisa, Dokter" kata satpam itu.
"Biarin Dokter Alya masuk. IGD butuh seorang dokter spesialis sekarang" kata Direktur Gilang yang tiba - tiba ada disana.
"Tapi, Direktur..." kata satpam.
"Saya sudah memberi ijin. Lagipula siapa yang bisa menghentikan dokter yang ingin mengobati pasiennya" kata Direktur Gilang.
"Terima kasih, Direktur" kata Alya.
"Bukan apa - apa. Rawat semua pasien yang ada di dalam sana dan kembali dengan selamat. Kamu harus ngelawan Fahmi, saya dukung kamu" ucap Direktur Gilang.
Alya tersenyum.
Satpam membuka pintu IGD dan membiarkan Alya masuk. Setelah Alya masuk, pintu IGD langsung ditutup kembali.
Di dalam IGD, Alya langsung mengenakan APD seadanya yaitu APD tingkat 1 dan melihat kondisi Rangga. Ia menyentuh dahi Rangga untuk memeriksa demamnya Rangga.
"Huhhhh" kata Alya seperti orang yang sangat lega.
"Kenapa, Dokter? Kenapa anda terlihat sangat lega?" tanya salah satu dokter umum yang ada disana.
"Dia tidak kenapa - napa, hanya dehidrasi. Oleh karena itu saya lega. Tolong berikan infus ke dia supaya tidak dehidrasi" jawab Alya.
"Baik, Dokter" jawab dokter umum itu dan mulai menginfus Rangga.
Setelah itu Alya merawat pasien lain yang ada disana.
.
.
.
.
.
😏😏
Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.