
Maura p.o.v
"Iya, sebentar" jawab Maura saat Alya mengetuk pintu rumahnya.
Ia lalu membuka pintu itu dan jebrett, terlihatlah Alya dan Bella.
"Hai" kata Alya sambil melambaikan tangannya.
Maura sangat kaget dengan mulut terbuka melihat Alya dan Bella yang membawa buket bunga.
"Gue bawa banyak barang nih" kata Alya.
"Gak disuruh masuk?" tanya Alya.
"Haa?" Maura baru sadar.
Alya senyum.
"Eh iyaya, ayo masuk" ajak Maura.
"Nih buat kamu" kata Alya sambil mengambil buket bunga yang dibawa Bella dan memberikannya kepada Maura. Ia lalu masuk kedalam.
"Ini apaan?" tanya Maura sambil menerima buket bunga besar yang diberi Alya dan menatap Alya yang masuk begitu saja kedalam.
Didalam ada neneknya Maura dan Alya langsung memeluknya.
"Nenekkk" kata Alya sambil memeluk neneknya Maura seakan itu adalah neneknya sendiri.
Setelah itu selesai pelukannya dan Alya merangkul neneknya Maura.
"Oh iya, Maura. Disitu ada kertas kan?" tanya Alya.
"Dimana?" tanya Maura.
"Di buketnya, itu isinya daftar barang yang gue bawa kesini dan gue kasih ke elu" jawab Alya.
Maura lalu mencari daftar yang dibicarakan Alya dan membacanya.
"Ini? Ini? Ini apaan?" tanya Maura.
"Sebentar ya, Nek" kata Alya sambil melepas rangkulan tangannya dari bahu neneknya Maura dan pergi kedepan.
"Sekretaris, ayo suruh orangnya bawa masuk barang - barangnya" kata Alya pada Bella.
"Baik, Nona" jawab Bella dan segera melakukan perintah Alya.
Barang - barang yang dibeli Alya di eps 19 pun diturunkan dari mobil dan dibawa masuk ke rumah neneknya Maura.
"Alya?? Ini apaan lagii??" tanya Maura.
"Iya, Alya. Ini apa?" tanya neneknya Maura.
"Perabotan yang sekiranya kalian butuhin. Dari perusahaan kakek aku sendiri lho dan yang pilih juga aku sendiri. Semoga kalian suka" jawab Alya.
"Kenapa harus ngasih semua ini, Alyaa??" tanya Maura sungkan dengan perlakuan Alya terhadapnya.
"Gue ngerasa bersalah sama lu. Gue yang seharusnya kena semua ini, tapi jadi lu yang kena. Makanya gue ngelakuin ini, lagian ini gak seberapa. Gak sebanding sama tercorengnya harga diri lu" jawab Alya.
Neneknya Maura menatap Alya lekat dan memeluknya.
"O" kata Alya kaget dan menekuk lututnya.
Karena tingginya gak sepadan gitu lho gengs, semoga ngerti.
"Kenapa kamu baik sekali sama nenek?" tanya neneknya Maura.
Alya mengangkat kepalanya sedikit untuk mengisyaratkan pada Maura bahwa ia bertanya kenapa neneknya Maura tiba - tiba kek gitu padahal tadi b aja.
Maura hanya mengangkat bahu pertanda tidak tau.
Neneknya Maura lalu melepaskan pelukannya.
"Ayo makan dulu ya" ajak neneknya Maura.
"Gausah, Nek. Alya langsung pulang aja" jawab Alya.
"Kenapa? Karena disini tempatnya sederhana? Gak kayak di rumah kamu?" tanya neneknya Maura.
"Bukan gitu, Nek. Tapi..." jawab Alya.
"Yaudah kalo bukan gitu ayo makan aja" kata neneknya Maura dan pergi ke dapur untuk mengambil makanan.
Sementara Maura dan Alya berbisik - bisik.
"Kok lu bisa akrab sama nenek gue?" tanya Maura.
"Biasalah gue gitu lho" jawab Alya sambil mengibaskan rambutnya.
"Yee" ucap Maura.
"Gue pernah ketemu nenek lu di halte bus. Waktu itu nenek lu bawa belanjaan banyak banget dan gue bantuin dia, terus kita ngobrol - ngobrol deh" ucap Alya menjawab pertanyaan Maura tadi.
"Oo jadi gitu" kata Maura.
Neneknya Maura datang dari dapur ke ruang tamu dengan membawa banyak makanan.
Maura dan Alya pun duduk.
Maura mengambil banyak sekali makanan dan Alya hanya mengambil sayurannya saja.
"Kenapa cuma ngambil sayurnya aja?" tanya neneknya Maura pada Alya.
"Aku nggak makan karbohidrat setelah jam 6 malam, Nek" jawab Alya.
"Oo gitu ternyata. Pantesan badan kamu bagus, ideal" kata neneknya Maura.
Maura tidak memedulikan itu dan hanya makan dengan lahap.
Rangga p.o.v
"Nilai kamu turun belakangan ini" kata ayahnya.
"Iya maaf, Pa" jawab Rangga sambil menundukkan kepala.
"Tatap mata Papa. Kamu suka sama seseorang kan?" tanya ayahnya.
Rangga hanya diam dan tetap menunduk.
"Rangga??!" kata ayahnya.
Rangga lalu mengangkat kepalanya dan menatap mata ayahnya, namun ia tidak menjawab pertanyaan ayahnya tadi.
"Jawab pertanyaan Papa tadi" suruh ayahnya.
"Iya, Pa" jawab Rangga.
"Huhhhh" ayahnya menghembuskan nafas.
"Papa udah bilang berkali - kali kan. Jangan suka sama perempuan dulu sebelum kamu berhasil!!" kata ayahnya dengan tegas.
Ibunya yang ada di dapur tidak tega dengan Rangga dan pergi ke kamar Rangga.
"Pa, udahlah Pa. Lagian nilai anak kita turun juga gak seberapa. Bahkan sebenernya nilainya tetep sama kayak dulu, cuman ada yang lebih tinggi dari dia" kata ibunya.
"Ya kalo gitu nilai Rangga harus lebih tinggi lagi, Ma. Biar bisa ngalahin anak itu" jawab ayahnya.
"Lagian anak yang ngalahin kamu itu perempuan. Masa kamu kalah sama perempuan" ucap ayahnya.
Rangga hanya mengepalkan tangannya erat - erat karena ia menahan amarahnya atas perlakuan ayahnya yang selalu menuntutnya untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik.
Ayah dan ibunya lalu pergi.
Sebenernya Rangga dulu selalu rangking 1, tapi setelah ada Alya. Posisinya jadi tergeser, dia rangking 2 dan Alya rangking 1. Tapi nilai Rangga tetep, cuman Alya berhasil mendapat nilai yang lebih tinggi dari dia. Dan karena itulah ayahnya marah.
"Orang yang aku suka adalah perempuan yang ngalahin aku itu, Pa. Dan kayaknya aku gabakal mungkin buat ngalahin dia" ucap Rangga dalam hati.
"Alya, udah 1 minggu lu nyuekin gue. Lu beneran bakal ngejauh dari gue selamanya?" ia juga bertanya - tanya dalam hati.
Lalu ibunya membawa susu ke kamarnya.
"Minum ini dulu" suruh ibunya.
"Makasih, Ma" jawab Rangga sambil meminum susu itu.
"Kamu beneran suka sama perempuan? Apa mungkin perempuan yang kamu bilang bisa tendangan tinggi itu?" tanya ibunya.
"Kalo iya, apa Mama bakal marahin aku sama kayak Papa tadi?" tanya Rangga.
Ibunya lalu tersenyum.
"Ya nggaklah sayang. Emang kayak gimana dia? Sampe bisa bikin anak Mama yang kayaknya gabisa jatuh cinta ini jadi leleh hatinya" jawab ibunya sambil mengelus rambut Rangga.
"Sebenernya dia anak yang ngalahin Rangga, Ma" jawab Rangga.
"Bagus donk kalo gitu. Ternyata dia pinter, apalagi terus? Ceritain ke Mama" kata ibunya.
"Dia cantik dan berani, Ma" jawab Rangga.
"Yaudah deh. Mama yakin seleranya anak Mama pasti tinggi" kata ibunya.
"Bentar lagi Papa pergi tugas lagi, selama itu kamu harus tetep belajar ya. Karena kalo sampe pas waktu Papa pulang dan kamu dimarahin lagi kayak tadi. Mama bener - bener gatega, sayang" lanjut ibunya.
"Iya, Ma" jawab Rangga.
"Yaudah Mama pergi ya" pamit ibunya.
Rangga mengangguk dan ibunya pun pergi.
.
.
.
.
.
Ternyata ayahnya Rangga itu galak ya.
Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.