
Rangga p.o.v
Setelah itu ia pergi ke parkiran dan menghampiri mobilnya.
"Untung gue bawa mobil, kalo nggak gimana caranya bawa Alya yang pingsan" batinnya sambil memasukkan Alya kedalam mobilnya.
Ia menatap Alya sejenak.
"Gue gatau rumah lu, gua harus bawa lu kemana sekarang??" ia bertanya - tanya dalam hati sambil menatap Alya yang pingsan.
Kan tasnya Alya itu ketinggalan di pesta ya genks dan tas itu berisi hp dan banyak barang lagi. Rangga bingung karena gatau rumah Alya dan ia tidak bisa menghubungi orang terdekat Alya karena hpnya Alya ada di tas.
"Gue telpon Tiara aja ya" ia lalu mendapat ide untuk menelepon Tiara.
Ia menelepon Tiara hingga 7 kali, tetapi Tiara tidak menjawabnya. Mungkin karena di pesta terlalu berisik ya.
Ia lalu mengirim chat ke Tiara, tetapi juga tidak dibalas ataupun dibaca.
Ia lalu bingung harus bagaimana dan akhirnya mendapat ide lagi untuk menelepon Nathan.
Berkali - kali ia menelepon Nathan, namun juga tidak diangkat.
Ia akhirnya memutuskan untuk membawa Alya kerumahnya. Ia segera menyalakan mobilnya dan menancap gas bergegas kerumahnya.
Beberapa menit kemudian pun sampaii.
"Al.....Alya...." panggilnya sambil menepuk - nepuk bahu Alya.
Tetapi Alya tidak kunjung bangun juga.
Ia akhirnya masuk duluan ke rumahnya dan memberitahu ibunya tentang semuanya. Setelah itu ibunya keluar dan melihat Alya.
"Jadi? Sekarang gimana, Ma?" tanya Rangga.
"Bawa masuk aja kedalem dulu. Kasian, Ngga" jawab ibunya.
"Oke, Ma" jawab Rangga.
Ia lalu menggendong Alya dengan gaya bridal dan membawanya masuk ke rumahnya, lalu ia menidurkannya di kamar tamu. Setelah itu ia keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya.
"Jadi itu si Alya? Perempuan yang bisa tendangan tinggi, yang bisa ngalahin kamu dan yang kamu suka?" tanya ibunya.
"Iya, Ma" jawab Rangga.
"Kok bisa sih, Alex punya niat jahat kayak gitu sama gadis cantik kayak Alya" ucap ibunya.
"Ya justru karena cantik itu, Ma. Jadi incaran" kata Rangga.
"Iya juga ya" kata ibunya.
"Yaudah kalo gitu mama bikinin jamu buat dia. Biar nanti dia gak pusing pas bangun" usul ibunya.
"Jamu, Mam?" tanya Rangga.
"Iya, jamu" jawab ibunya.
"Masalahnya Alya itu lama di Belanda, Mam. Jadi, mungkin dia gaterbiasa sama jamu jamu begituan" kata Rangga.
"Halah, gapapa. Biar baikan nanti" kata ibunya.
"Yaudah deh terserah Mama aja" kata Rangga.
Ibunya pergi ke dapur untuk membuat jamu dan Rangga ditelepon oleh Nathan.
"Kenapa lu nelpon gue tadi?" tanya Nathan.
"Gue mau bilang, kalo sepupu lu hampir aja dilecehin sama Alex" jawab Rangga.
"Alex?? Berani banget tu anak. Terus sekarang Alya gimana?" kata Nathan.
"Alya baik - baik aja. Dia ada dirumah gue. Gue kirim alamat rumah gue ke lu, lu jemput dia ya. Jangan lupa bawa tasnya yang ketinggalan di pesta" jawab Rangga.
"Oke. Gue gabakal biarin Alex hidup tenang setelah ini" kata Nathan dengan kesal.
Setelah itu ia menutup teleponnya dan pergi ke rumah Rangga.
Rangga lalu masuk ke kamar tamu untuk memeriksa Alya.
Ia duduk di tepi ranjang sambil menyingkirkan poni yang menutupi wajah Alya. Setelah itu Alya berkedip - kedip sedikit.
Rangga langsung menyilangkan tangannya.
Alya memegang kepalanya yang pusing.
"Gue dimana?" tanya Alya.
"Lu dirumah gue" jawab Rangga.
"Kejadian tadi pasti buat mental lu terluka?" tanya Rangga.
"Mungkin lu gatau, tapi mental gue lebih kuat dari yang lu kira" kata Alya.
"Lu masi marah sama gue?" tanya Rangga.
"Emang kapan gue marah sama lu?" Alya justru bertanya balik.
"Waktu itu lu nyuruh gue buat jauh - jauh, itu bukan berati lu marah ya?" jawab Rangga.
"Ya nggaklah. Gue nyuruh lu ngejauh karena gue tu bukan orang baik dan ditambah lagi lu hampir tau semua fakta tentang gue" jawab Alya.
"Al, mulai sekarang kita jangan jauh - jauhan lagi ya? Gue gapeduli lu orang yang kayak gimana dan sekelam apapun masa lalu lu" kata Rangga.
"Lu serius? Lu bilang gitu karena lu belum tau semuanya. Ntar kalo lu udah tau semuanya, lu ngejauh lagi dari gue" kata Alya.
Rangga mengacungkan jari kelingkingnya.
"Gue janji gaakan ngejauh dari lu dan lu juga harus gitu" kata Rangga.
Alya lalu mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Rangga.
"Oke, gue janji" kata Alya.
"Ehem" kata ibunya Rangga didepan pintu.
Alya dan Rangga langsung melepaskan jari mereka yang saling mengait.
"Mama?" kata Rangga.
"Malam, Tante" kata Alya menyapa ibunya Rangga.
"Eee jamu, Tante?" tanya Alya.
"Iya, jamu" jawab ibunya Rangga.
"Gausah deh, Tante. Alya udah baik - baik aja kok" jawab Alya menolak.
"Tante gaterima penolakan" kata ibunya Rangga.
Alya jadi teringat pertemuan pertamanya dengan Farrel. Kan waktu itu Alya juga bilang kalo dia gaterima penolakan juga ke Farrel. Ada yang kangen nihh. Kalo lupa bisa baca di eps 5.
"Al? Lu mau gak? Kalo gamau gapapa kok" kata Rangga.
"Gapapa gimana? Ini tu harus diminum" kata ibunya Rangga.
"Al? Alya?" panggil Rangga melihat Alya yang bengong.
"Eh? Yaudah Alya mau, Tante" jawab Alya setelah sadar dari bengongnya.
Ia lalu meminum jamu itu sedikit.
"Mmmm, rasanya pahitt" kata Alya.
"Iya, itu sengaja Tante buatin yang pait biar khasiatnya tambah mm" kata ibunya Rangga sambil mengacungkan jempol.
"Yaudah kalo gitu diabisin ya. Tante mau pilih - pilih baju di toko onlen" pamit ibunya Rangga.
"Iya, Tante" jawab Alya.
Ibunya Rangga pun pergi.
"Pait banget ya? Udalah gausah diminum, mama itu ada - ada aja" kata Rangga.
"Nggak, nggakpapa" jawab Alya dan meminum jamu itu dengan memejamkan mata sampai jamunya habis.
"Oh iya. Tadi lu bengong, bengongin apaan?" tanya Rangga.
"Gue rindu seseorang" jawab Alya.
"Laki?" tanya Rangga.
"Laki sama perempuan" jawab Alya.
Rangga menunjukkan ekspresi kesal.
"Nyokap lu ngingetin gue sama mama dan kata - kata nyokap lu tadi ada yang ngingetin gue sama Farrel" jelas Alya.
"Farrel?" tanya Rangga.
"Farrel itu temen gue di Belanda" jawab Alya.
"Ooo" jawab Rangga sambil berpikir "serius cuma temen?"
"Emangnya nyokap lu gak disini ya?" tanya Rangga.
"Nggak. Waktu gue masih 12 tahun, mama sama papa pisah tapi gak cerai" jawab Alya.
"Maksudnya cuma pisah tempat tinggal gitu? Bukan secara hukum?" tanya Rangga.
"Iya. Waktu itu gue ikut mama ke Belanda dan sekarang baru kesini lagi" jawab Alya.
"Gaada kemungkinan nyokap lu kesini?" tanya Rangga.
"Ada sih, tapi kemungkinannya kecil banget. Karena urusan mama disana juga banyak" jawab Alya.
"Kewarganegaraan lu tu Indo ato Belanda?" tanya Rangga.
"Dua - duanya sih. Gue punya kewarganegaraan sini sama Belanda" jawab Alya.
"Wahh hebat. Emang ya, sultan mah bebas" ucap Rangga.
"Apaan sih. Gak juga" kata Alya.
"Kalo soal tato itu, beneran itu tanda anggota keluarga Brechtje?" tanya Rangga.
"Ya beneran lah" kata Alya.
Alya tidak mengatakan kalau keluarga Brechtje itu merupakan anggota mafia. Mungkin karena belum saatnya.
"Tu tato terbuat dari apa sih? Kok munculnya bisa pas kena panas doank? Terus sejak kapan lu punya tato itu?" tanya Rangga.
"Tato itu terbuat dari darah merpati yang dicampur sinabar, makanya cuma muncul waktu kena panas aja. Kalo soal sejak kapan gue punya tato ini, gue gatau. Kayaknya udah dari bayi. Soalnya dari pertama gue bisa mandi sendiri, tato ini udah ada" jawab Alya.
Kan mandinya pake aer anget jadi muncul deh tu tato. Penjelasan tentang tato udah ditulis author di eps 15.
"Ooo gitu" jawab Rangga.
Kemudian Nathan sampai di rumah Rangga.
"Itu siapa?" tanya Alya yang mendengar suara mobil berhenti di depan rumah Rangga.
"Nathan keknya. Tadi gue beritau dia soal Alex dan soal lu disini" jawab Rangga.
"Oo, yaudah kalo gitu gue pamit ya" pamit Alya.
"Gue anterin" kata Rangga dan mengantar Alya kedepan pintu.
"Alya pulang dulu ya, Tante" kata Alya sambil mencium tangan ibunya Rangga.
"Iya, tiati ya" jawab ibunya Rangga.
Nathan dan Alya pun pergi.
.
.
.
.
.
Seneng banget Alya ama si Rangga udah akur lagi 🤗🤗.
Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.