
Maura p.o.v
"Dokter, ada artikel yang menuliskan bahwa anda melakukan malpraktik" kata Dokter Firza, residen tahun ke-2 bedah saraf.
"Benarkah, Dokter Firza?" tanya Maura sambil mencari namanya di Google.
Ternyata memang ada artikel yang menuduh dia melakukan malpraktik.
"Itu adalah pasien yang anda operasi bulan lalu bukan? Aulia Wilda?" tanya Dokter Firza.
"Iya. Dia menjalani operasi tumor pituitari endoskopi dan dokter bedahnya saya" jawab Maura.
Pituitari adenoma atau dikenal juga sebagai tumor hipofisis adalah adanya tumor pada kelenjar pituitary (hipofisis), bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk meregulasi keseimbangan hormon pada tubuh.
Dan operasi tumor pituitari endoskopi itu artinya operasi pengangkatan tumornya dilakukan pake endoskop atau kamera kecil yang dimasukin lewat hidung. Selama proses operasi, selang akan dimasukkan dari lubang hidung ke sinus dan menghilangkan sekat tipis yang memisahkan bagian atas hidung dengan bawah tengkorak. Kemudian dokter akan membuka membran otak di sekelilingnya, barulah masuk ke otak. Selanjutnya dokter akan menghilangkan tumor menggunakan selang endoskopi.
Lalu si Maura ini dituduh kalo dia ngelakuin malpraktik ke pasien itu karena dia pengen nyoba alat yang namanya endoskopi itu karena dia baru pertama kali pake alat itu. Ya memang dia baru pertama kali pake alat itu, tapi dia udah berkali - kali membantu profesornya buat ngelakuin operasi yang kek gitu. Dan kalo emang ada kesalahan, pasien harusnya mengeluh sejak dulu bukan sekarang setelah dia dipulangkan kek gini. Jelas ini dimanipulasi sama seseorang.
"Ini pasti manipulasi. Saya tau saya memang pertama kali menggunakan alat itu dan karena itulah saya sering menghubungi dia dan dia selalu bilang baik - baik aja. Tapi sekarang? Dasar biadab (gak beradab)" ucap Maura sambil membaca artikel itu hingga tuntas.
"Mana komennya nyudutin gue semua lagi" lanjutnya.
"Ini menjadi berita trending ke-8 di Indonesia, Dokter. Dan anehnya, rumah sakit ini tidak terseret sama sekali dalam hal ini" ucap Dokter Firza.
Alya p.o.v
Rangga masuk ke ruangan Alya.
"Ada artikel yang jelek - jelekin Maura, lu udah tau?" tanya Rangga.
"Pasti udahlah, ini gue lagi cari tau kebenaran dari artikel itu" jawab Alya sambil menatap komputernya.
Tidak lama kemudian, Maura juga masuk ke ruangan Alya.
"Alyaaa......gimana ini??" tanya Maura dengan cemas.
"Tenang aja. Gue bakal urus kok" jawab Alya dengan tenang.
Lalu setelah itu Bella menelepon Alya.
"Halo, iya Sekretaris. Gimana? Udah dapet sesuatu?" tanya Alya pada Bella mengenai info yang diminta Alya tentang artikel tadi.
"Iya, Nona. Aulia Wilda yang merupakan orang yang telah dioperasi oleh Dokter Maura telah disuap oleh Dokter Elsa untuk mengatakan hal itu, padahal sebenarnya ia tidak merasakan keluhan apapun. Dan Dokter Elsa yang menyuapnya juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan Nona, identitasnya adalah....." Bella melaporkan semua info yang ia dapat.
"Aku udah tau identitasnya. Makasi, Sekretaris" kata Alya dan menutup telepon itu.
Alya segera berdiri dan akan melakukan sesuatu pada terdakwa kasus artikel Maura tersebut. Kan kalo tersangka itu masih dalam penyelidikan sementara terdakwa itu sudah diselidiki dan akan diadili, jadi disini author nyebutnya terdakwa. Dan sebentar lagi, terdakwa tersebut akan jadi terpidana alias orang yang diadili di tangan Alya.
"Lu mau kemana, Al?" tanya Maura.
"Mau meriksa pasien gue" jawab Alya berbohong pada Maura.
Alya bohong sama Maura karena dia tau, kalau Maura tau kebenarannya dia pasti bakal marah besar ke Elsa karena Maura gasuka banget sama Elsa.
Jadi, Alya mau ngurus itu sendiri dan dengan caranya. Penasaran gimana caranya dia ngurus? Yuk kita baca.
Rangga p.o.v
"Jadi lu mau ngurus masalah Maura sendiri" ucap Rangga tentang Alya di benaknya.
Rangga sempat membaca nama orang yang menelepon Alya dan itu adalah sekretarisnya. Jadi Alya udah dapet semua info tentang artikel itu dan sekarang dia beranjak buat berbincang dengan orang yang udah melakukan semua itu.
Alya p.o.v
Alya naik ke lantai atas rumah sakit dengan lift. Ia naik ke lantai atas karena ingin menemui direktur.
"Ada perlu apa, Dokter?" tanya sekretaris direktur.
"Tuanmu ada di dalam?" tanya Alya.
"Ada. Tapi ia tidak ingin ditemui siapapun" jawab sekretaris direktur.
Alya smirk sambil berjalan ke pintu ruangan direktur dan akan membukanya.
"Dokter, ada perlu apa? Katakan pada saya dan saya akan mengatakannya pada direktur, nanti" kata sekretaris direktur sambil memegang tangan Alya.
"Nanti? Aku harus mengatakan ini sekarang" kata Alya dengan muka serius.
"Tapi....." kata sekretaris direktur dengan menggenggam lengan Alya lebih erat.
"Aku......gasuka.....dihentiin" kata Alya sambil menyingkirkan tangan sekretaris direktur yang menggenggam lengannya dengan kasar.
Setelah itu Alya masuk ke ruangan direktur dan mengunci pintunya lalu menutup semua gorden ruangan itu.
"Lu pasti idup dalam kemewahan kan, Direktur Gilang?" tanya Alya.
"Lu siapa? Beraninya ngomong pake bahasa informal ke gue" kata Gilang.
"Gue? Gue Beatrix Alya Valencia" jawab Alya.
"Gausah ngaku - ngaku lu. Beatrix Alya Valencia kan cucunya Pak Hanung, atasan gue. Pasti lu mau ngambil keuntungan dari gue kan? Makanya lu ngaku - ngaku kalo lu cucu atasan gue" kata Gilang.
Alya smirk lagi dan menelepon kakeknya.
"Halo. Iya, Alya?" kata kakeknya yang ada di gedung utama Unicorn Group.
Gilang masih duduk dengan pdnya karena tidak percaya bahwa wanita yang ada dihadapannya adalah cucu dari atasannya.
"Boleh saja. Kakek percaya padamu, cucuku" jawab Hanung.
"Aku akan menyalakan speakernya dan katakanlah pada Direktur Gilang kalau ia dipecat, Kakek. Supaya ia percaya" kata Alya.
Alya lalu menyalakan speaker ponselnya.
"Direktur Gilang, anda dipecat. Bukan hanya itu, aku juga akan mengambil semua hartamu karena itu milikku. Jadi pergilah sekarang, kau bukan lagi karyawanku" kata Hanung.
"Pak......Pak Hanung. Apa maksud anda? Anda tidak bisa memecatku dengan alasan yang tidak berdasar seperti itu, Pak" ucap Gilang sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Siapa bilang begitu? Aku bisa memecat semua karyawanku sesukaku" kata Hanung.
Alya tersenyum sambil mematikan speaker ponselnya.
"Kalau begitu aku akan mematikan teleponnya. Terima kasih, Kakek" kata Alya dan menutup telepon itu.
Gilang lalu bersujud dihadapan Alya.
"Apa yang anda inginkan, Nona? Aku akan mengabulakannya selama aku bisa, asalkan jangan memecat dan mengambil semua hartaku. Aku mohon" katanya sambil menyentuh sepatu Alya.
Alya melihati Gilang yang memohon sambil bersujud dan menyentuh kakinya. Alya lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jas dokternya.
"Lu serius bakal nurutin semua yang gue minta?" tanya Alya.
"Iya, Nona. Aku akan menuruti semua yang anda minta" jawab Gilang.
"Okeyy" kata Alya sambil jongkok ke Gilang.
"Hapus semua artikel tentang Dokter Maura, apapun caranya" kata Alya.
"Baik, Nona. Baik" kata Gilang.
"Dan jaga anak lu baik - baik. Kalo sampe dia ngelakuin hal - hal yang ngerugiin gue dan temen gue, gue gak cuma bakal mecat dan ngambil harta kalian" kata Alya dan pergi keluar.
"Tapi, bagaimana dengan Pak Hanung yang telah memecat saya? Saya sungguh tidak akan dipecat jika melakukan perintah Nona, Bukan?" tanya Gilang yang masih berada di lantai.
"Tentu iya. Gue bakal ngomong sama kakek gue, nanti" jawab Alya dan berjalan pergi.
"Ah dan satu lagi. Jangan ngelakuin hal konyol apapun, lu mati kalo buat gue dalem masalah" kata Alya sebelum membuka pintu.
"Iya aku mengerti, Nona" jawab Gilang sambil menunduk dengan lutut masih tertekuk di lantai.
Elsa p.o.v
Diluar ruangan Gilang.
"Jadi, Dokter Alya ada di dalam?" tanya Elsa pada sekretaris ayahnya.
"Tapi saya tidak tau mengapa, mereka sangat lama sekali berbincangnya. Saya sangat khawatir, Nona Elsa" jawab sekretaris direktur.
"Apa dia mau ngelakuin hal yang sama kayak yang dia lakuin ke Nia?" tanya Elsa di dalam hatinya.
Inget pada waktu mereka masih SMA soal Nia dan Maura yang buat Maura sampe dikeluarin dari sekolah? Kalo gainget bisa baca lagi di eps 19.
Tidak lama kemudian Alya keluar.
Alya p.o.v
"Anda disini, Dokter Elsa?" kata Alya.
Alya lalu mendekat pada Elsa dan tiba - tiba memeluknya.
"Bukannya nuduh Maura ngelakuin malpraktik itu terlalu berat ya? Dia bisa kehilangan pekerjaannya kalo sampe keseret ke meja hijau. Kerja yang nyaman aja, jangan ngelakuin apapun daripada lu nyesel" kata Alya tepat di telinga Elsa.
Setelah itu Alya melepas pelukannya.
"Sampai jumpa lagi, Dokter Elsa" kata Alya sambil menepuk pelan bahu kiri Elsa.
Alya meninggalkan tempat itu dengan tersenyum pada Elsa.
Elsa p.o.v
Elsa membeku mendengar Alya berbicara begitu padanya. Karena sejujurnya ia juga takut untuk melakukan itu, tetapi ia telah terbakar api cinta.
"Nona...." panggil sekretaris direktur sambil memegang tangan Elsa.
"Apa yang dikatain sama Dokter itu waktu meluk Nona??" tanya sekretaris direktur.
"Nggak, bukan apa - apa. Saya pergi dulu ya" jawab Elsa dan pergi dari sana.
.
.
.
.
.
Mengancam dengan senyuman? Hal yang biasa dilakuin sama Alya.
Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.