
Empat p.o.v
"Pasien yang kemarin operasi darurat, udah sadar?" tanya Maura pada Dokter Firza.
"Ketua gangster itu, Dokter?" tanya Dokter Firza.
Maura mengangguk.
"Dia belum sadar, Dokter" jawab Dokter Firza.
"Berati dia masih di ICU?" tanya Maura.
"Iya, Dokter" jawab Dokter Firza.
"Kalo gitu ayo kesana, kita liat perkembangan dia" ajak Maura.
Saat di ruang ICU, pasien tersebut ternyata sudah sadar.
"Lu udah sadar?" tanya Maura.
"Siapa lu berani ngomong pake bahasa informal ke gue??" kesal ketua gangster itu.
"Gue dokter yang ngoperasi lu kemaren" jawab Maura.
Orang yang dioperasinya kemarin hanya bersikap acuh padanya.
"Nama lu Davin Zhang, lu keturunan Tiongkok?" tanya Maura.
"Iya, gue bukan cuma keturunan Tiongkok. Tapi gue emang orang Tiongkok" jawab Davin.
"Oke iya, gue pasti ngelewatin kata WNA di laporan kesehatan lu. Pantesan aja kemaren gangster yang anak buah lu putih - putih semua. Apa jangan - jangan kalian bukan cuma gangster tapi yakuza??" ucap Maura.
"Yaudah kalo lu udah tau, gue gabakal nutup - nutupin lagi" jawab Davin.
"Kalo lu yakuza, ngapain lu disini?" tanya Maura.
"Ada alesan gue kesini dan yang pasti lu gaboleh nyebarin info tentang gue ke siapapun" jawab Davin.
"Ya pasti gabakal gue sebarin lah, walaupun gak lu suruh. Karena emang seorang dokter itu gaboleh nyebarin info ke siapapun tentang pasiennya" jawab Maura.
"Siapa tau lu dokter abal - abal" kata Davin.
"Kalo gue dokter abal - abal, apa kabar pasien yang gue operasi kemaren?" ucap Maura justru menggoda pasiennya.
"Emang lu serius dokter abal - abal? Wah gue tuntut lu yaa" kata Davin sambil mengacungkan tangannya.
Maura lalu menggenggam tangan Davin.
"Tenang aja kok, gue bukan dokter abal - abal. Kalo perlu, gue bisa tunjukkin ijazah gue" kata Maura.
Davin menarik tangannya yang digenggam Maura.
"Gaperlu, gue juga gabakal lama kok disini. Jadi semoga aja urusan kita cuma sampe disini" kata Davin.
"Gue seneng banget lu baik - baik aja" ucap Maura.
"Kenapa emang??" tanya Davin.
"Ya masa dokter gaseneng sih kalo pasiennya baik - baik aja" jawab Maura.
Davin hanya diam saja.
"Kemaren gue sampe berantem sama anak buah lu gara - gara mau ngobatin lu" kata Maura.
"Siapa juga yang mau diobatin sama lu" kata Davin.
Maura menghela nafasnya.
"Lu udah bisa marahin gue, jadi lu pasti udah baik - baik aja. Mulai siang nanti lu udah bisa pindah ke kamar rawat inap, gak di ICU ini lagi" ucap Maura.
"Tapi kamarnya VIP kan?" tanya Davin.
"Ya kalo itu, lu bilang sendiri lah ke resepsionisnya. Gue dokter, tugas gue ngobatin lu bukan nyariin lu kamar" jawab Maura.
"Hishh" kata Davin.
"Yaudah, pasien gue masih banyak. Gue pergi dulu" pamit Maura.
"Siapa juga yang nyuruh lu kesini kalo pasien lu banyak" ucap Davin.
Maura mulai marah namun ia menarik nafas panjang dan tidak jadi marah mengingat bahwa orang yang mengatakan itu adalah pasiennya, bahkan pasien yang baru saja operasi kemarin.
"Lu jadi pasien banyak omong banget ya, diem aja ngapa" ucap Maura.
"Btw makasi" kata Davin.
"Apa? Apa lu bilang? Gue gadenger" kata Maura.
Maura pura - pura gadenger apa yang diomongin Davin karena dia pengen Davin ngomongnya lebih kenceng lagi.
"Makasehhh" Davin mengeraskan suaranya.
"Akhirnya kata itu muncul. Iya sama - sama, makasi juga karena udah baik - baik aja" jawab Maura.
"Nama?" tanya Davin.
"Lu tanya nama gue?" tanya Maura.
"Yaiyalah, masa nama kucing lu" jawab Davin.
"Nama gue Maura, yaudah gue pergi" jawab Maura.
Alya p.o.v
"Halo. Ada apa, Sekretaris Jack?" tanya Alya pada Jack yang tiba - tiba meneleponnya.
"Pak Hanung sangat melarangku untuk memberitahukan ini kepada anda, Nona" kata Jack.
"Memangnya apa?" tanya Alya.
"Sebenarnya sudah 5 hari ini beliau terbaring di rumah dan tidak bisa pergi ke perusahaan" jawab Jack.
"Iyakah? Kakek sakit apa?" tanya Alya.
"Diabetesnya kambuh, Nona" jawab Jack.
"Astagaa, harusnya Kakek jaga diri supaya gamakan gula banyak - banyak donk. Yaudah deh aku kesana aja" ucap Alya.
"Kesini? Kerumah utama?" tanya Jack.
"Iyalah, masa ke got?" jawab Alya.
"Tapi Nona, kalau nanti Pak Hanung marah bagaimana? Pak Hanung sangat melarangku untuk memberitahu Nona bahwa beliau sedang sakit" kata Jack.
"Sekretaris Jack gausah khawatir. Saya siapa? Beatrix Alya Valencia. Gaada yang bisa ngehentiin aku, termasuk Kakek. Titik!" jawab Alya dan mematikan teleponnya.
"Hhhh, Nona Alya emang bener - bener...." kata Jack.
Alya lalu pergi kerumah utama dan mengunjungi kakeknya.
"Siapa yang ngasih tau kamu?? Kakek udah bilang ke semua orang di rumah ini buat jangan ngasih tau kamu tapi kenapa mereka bandel" kata Hanung.
"Kek, gausah mikir siapa yang ngasih tau Alya. Alya kesini sendiri kok" jawab Alya.
"Serius??" tanya Hanung.
"Iya, Kakek" jawab Alya.
"Alya ambilin makanan dulu ya buat Kakek" kata Alya.
Kakeknya mengangguk.
Alya lalu pergi ke dapur untuk mengambil makanan.
Setelah itu ia menyuapi kakeknya dengan makanan itu dan kakeknya tertidur. Saat kakeknya sudah tertidur, ia ditelepon Luna. Luna ingin menemuinya di bangunan timur.
Di bangunan timur.
"Kenapa pengen ketemu gue??" tanya Alya.
"Gue udah nglakuin apa yang lu minta. Gue udah buat mama dipenjara" jawab Luna.
"Hmm gue tau. Mending nyokap lu gue bunuh sendiri tau gak, daripada dipenjara tapi cuman 15 tahun. Padahal dia udah bunuh orang" kata Alya.
"Lu udah janji ya. Kalo gue buat mama gue dipenjara, lu gabakal bunuh dia" ucap Luna.
"Iyaiya, janji ya janji. Gue bukan orang munafik kok" jawab Alya.
"Lagian yang gue pengenin sebenernya cuman semua orang itu tau kalo nenek itu dibunuh sama nyokap lu. Jadi walau dia cuma dipenjara 1 hari tapi semua orang tau dia yang udah bunuh nenek gue, semua orang pasti bakal benci dia. Dan dibenci semua orang itu rasanya pasti gaenak, kalo gue mending dipenjara seumur idup" lanjut Alya.
"Iya gue tau, ini semua karena nenek lu tokoh masyarakat dan sering ngasih donasi ke panti asuhan dan fakir miskin" kata Luna
"Tapi sebenernya kenapa sih mama bunuh nenek lu?" tanya Luna.
"Kan lu jaksa penuntut umumnya, masa gatau" jawab Alya.
"Ya mama ngomong sama gue, tapi gue yakin itu bukan alesan sebenernya" jawab Luna.
"Emang apa alesan dia?" tanya Alya.
"Mama pengen gue jadi pewaris dan nenek lu itu penghalangnya. Tapi ternyata, walau mama bunuh nenek lu. Gue juga tetep gajadi pewaris" jawab Luna.
Alya tertawa kecil.
"Gamasuk akal banget kalo nenek jadi penghalang lu buat jadi pewaris. Padahal nenek sama sekali gangurus perusahaan karena udah muak" kata Alya.
"Makanya gue tanya sama lu, kenapa mama bunuh nenek lu? Gue yakin lu tau alesan yang sebenernya" kata Luna.
"Lu serius mau tau?" tanya Alya.
"Iya" jawab Luna serius.
"Lu ganyesel nanti?" tanya Alya.
Luna menarik nafas.
"Emang apaan sih alesannya??" tanya Luna.
"Yakin dulu gak, mau tau?" tanya Alya.
"Yakin, gue yakin" jawab Luna.
"Oke gue kasi tau. Sebenernya lu bukan anaknya mama lu sama papa lu yang dulu" ucap Alya.
"Terus kalo emang gitu, apa hubungannya sama mama bunuh nenek lu?" tanya Luna.
"Lu itu anak nyokap lu sama kakek gue dan nyokap lu belum pernah nikah sama sekali sebelum akhirnya itu terjadi. Nyokap lu bunuh nenek gue karena dia pikir dengan gitu kakek gue bakal nikah sama dia, tapi ternyata justru papa yang nikah sama dia dan itupun karena terpaksa" kata Alya.
"Gue anak mama sama Pak Hanung?" tanya Luna dengan tatapan kosong karena sangat terkejut dengan hal ini.
Alya mengangguk.
"Apa bokap lu tau soal ini?" tanya Luna.
"Keknya sih tau, karena papa juga terpaksa nikah sama nyokap lu" jawab Alya.
"Yaudah gue pulang dulu ya" pamit Alya.
"Tunggu dulu. Lu tau itu semua darimana?" tanya Luna.
"Gaperlu lah gue kasi tau lu soal itu. Karena lu bisa konfirmasi faktanya langsung dari nyokap lu" jawab Alya.
Tiba - tiba Alya ditelepon Sekretaris Jack.
"Kenapa, Sekretaris Jack?" tanya Alya.
"Pak Hanung, Nona" jawab Jack.
"Kakek kenapa?" tanya Alya.
"Beliau sudah tidak bernyawa" jawab Jack.
Alya menjatuhkan Hpnya dan langsung berlari ke bangunan utama untuk memastikan perkataan Jack.
"Gimana ini....bisa terjadi?" kata Alya setelah sampai disana.
"Aku juga tidak tau, Nona" jawab Jack.
"Badannya udah dingin banget, CPR gaakan bisa nolong kakek" kata Alya sambil memegang tubuh kakeknya.
Alya mengelus rambutnya.
"Padahal tadi kakek baik - baik aja" ucap Alya.
"Yang sabar, Nona" kata Jack.
"Sekretaris Jack?" panggil dokter pribadinya Hanung.
"Iya, Dokter" jawab Jack.
"Telah ditemukan sianida dalam makanan yang baru saja dimakan Pak Hanung" kata dokter itu.
"Oh ya? Siapa yang naruh itu?" tanya Jack.
.
.
.
.
.
Bagaimanakah nasib Alya selanjutnya setelah ditinggal sang kakek??
Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.