I Will Be Okay

I Will Be Okay
~ Achtentwintig (Dua Puluh Delapan)



Alya p.o.v


Bandara Soekarno Hatta.


...



...


Alya menarik nafas panjang dan menghembuskannya.


"Jakartaaaaaaaaa, ik ben terug [(Bahasa Belanda) Jakartaaaaaaaaa, gue balik]" kata Alya.


"Silakan masuk, Nona" kata Bella yang membukakan pintu mobil untuk Alya.


Alya pun masuk ke dalam mobil.


Bella lalu menyalakan mobilnya dan segera ke kediaman Alya yang di Menteng, Jakarta Pusat.


"Gak kayak pas aku SMA dulu. Baru turun dari pesawat udah disambut sama banyak wartawan, sekarang cuma sekretaris yang nyambut" ucap Alya.


"Bukannya Nona menyuruh saya untuk tidak memberitahukan kedatangan anda kepada siapa pun. Bahkan Nona mengatakan untuk jangan sampai ada yang tau" kata Bella.


"Iya sih. Cuma flashback aja sama masalalu. Tapi beneran gaada yang tau kan? Termasuk Kakek?" kata Alya.


"Iya, benar - benar tidak ada yang tau. Termasuk Pak Hanung" jawab Bella.


"Memangnya mengapa anda ingin tidak ada yang tau bahwa anda sudah kembali kesini?" tanya Bella.


"Karena aku mau bikin surprise buat mereka" jawab Alya.


"Apa itu?" tanya Bella.


"Liat aja besok. Bukan surprise namanya kalo Sekretaris tau" jawab Alya.


"Siap, Nona" kata Bella sambil hormat dan kembali menyetir.


Keesokan harinya.


Disaat Hanung, Heri dan Fahmi berada di perusahaan. Sementara Irawati, Nur Azizah, Fira dan Dito di rumah sedang bersantai. Lalu Luna juga sudah bekerja sebagai seorang jaksa.


Alya pergi ke rumah utama atau kediaman Hanung saat itu juga dan anehnya Luna ikut bersamanya.


"Apa kabar semuanya??" tanya Alya dengan sangat ceria di ruang santai bangunan utama.


"Ngapain kamu disini?" tanya Ira dengan judes.


"Tenang aja Mama tiri pertama, kali ini surprise aku bukan buat Mama. Tapi buat Mama tiri kedua" kata Alya.


"Maksud kamu?" tanya Azizah dengan muka sangat kaget.


"Ibu Jaksa Luna yang terhormat, silakan masuk" kata Alya sambil menyuruh adik tirinya yaitu Luna untuk memasuki ruangan tersebut.


"Luna? Kenapa kamu disini, Sayang?" tanya Azizah.


"Aku disini buat bawa Mama ke kejaksaan" jawab Luna sambil menunjukkan surat perintah penangkapan Azizah.


Alya bertepuk tangan.


"Gimana rasanya, Mama tiri kedua? Ditangkap oleh jaksa yang merupakan anak sendiri" kata Alya.


Luna menyuruh anak buahnya untuk membawa ibunya. Kan biasanya jaksa bawa anak buah gitu kan buat nangkap tersangka.


"Sayang, apa ini maksudnya?" tanya Azizah.


"Mama bakal tau di kejaksaan nanti. Aku gapercaya Mama yang ngelakuin itu" jawab Luna.


"Ini maksudnya apa, Nak? Memangnya Mama salah apa?" Azizah kebingungan bercampur takut.


Sesampainya di kejaksaan.


"Itu kesaksian dari Evgen Petrov, pembunuh bayaran dari Rusia" kata Luna sambil menyalakan rekaman suara.


...



...


"Ini.....ini....." seketika Azizah menjadi gagap.


"Mama yang udah bunuh Nenek. Mungkin dia emang bukan nenek kandung aku, tapi aku tetep berpihak pada kebenaran, Ma. Jadi, maafin Luna" kata Luna.


"Gimana kamu bisa percaya sama rekaman suara ini? Dan ini darimana?" tanya Azizah.


"Ini dari Kak Alya. Dan sudah diverifikasi sama interpol. Jadi Mama gabisa nyangkal lagi. Aku udah bela - belain buat bawa Mama kesini sebelum Mama ditangkep sama polisi. Karena kalo Mama ditangkep sama polisi, itu akan lebih memalukan buat Mama" jelas Luna.


Interpol (International Criminal Police Organization) adalah organisasi yang dibentuk untuk mengkoordinasikan kerja sama antar kepolisian di seluruh dunia.


"Ditambah lagi rekaman CCTV yang hilang di Galeri Lacrimosa 15 tahun yang lalu udah ketemu. Kak Alya juga yang nemuin" lanjut Luna.


"Darimana Alya dapet semua itu?" tanya Azizah.


"Kalo soal itu aku gatau" jawab Luna.


Kita flashback ke bagaimana cara Alya dapet rekaman suara itu. Tapi tidak ada tokoh yang tau tentang ini ya. Cuma Alya aja yang tau.


"Евгений, ты знаешь кто я? [(Bahasa Rusia) Evgen, apakah kamu tau siapa aku?]" tanya Alya pada Evgen yang sedang ditali dihadapannya.


Alya sambil memainkan pistol yang dibawanya.


...



...


"[(Bahasa Rusia) Kamu pasti mafia baru yang belum tau siapa aku]" jawab Evgen.


Alya tersenyum.


"[(Bahasa Rusia) Mafia baru?]" kata Alya sambil menggaruk kepalanya menggunakan pistol.


"[(Bahasa Rusia) Kamu kenal orang ini?]" tanya Alya sambil menunjukkan foto Azizah.


Evgen hanya menatap foto itu.


"[(Bahasa Rusia) Dia itu orang terakhir yang memperkerjakanmu]" kata Alya.


"[(Bahasa Rusia) Aku gatau dia]" jawab Evgen.


"[(Bahasa Rusia) Oh ya?]" kata Alya.


"[(Bahasa Rusia) Tapi aku dapet kabar kalo wanita ini nyuruh kamu bunuh nenekku]" lanjut Alya sambil menunjukkan foto neneknya.


"[(Bahasa Rusia) Darimana kamu tau?]" tanya Evgen.


Alya menembak paha Evgen.


Evgen menggertakkan gigi menahan rasa sakit.


Setelah itu Alya menodongkan pistolnya ke kepala Evgen.


"[(Bahasa Rusia) Aku gasuka basa - basi, langsung intinya aja]" kata Alya.


Evgen tertawa dengan sangat keras.


"[(Bahasa Rusia) Kalo gitu bunuh aja aku. Aku udah cukup kesiksa sama mimpi buruk saat aku bunuh orang sebagai pembunuh bayaran]" kata Evgen sambil menatap Alya.


Alya memukul mulut Evgen menggunakan pistol.


"[(Bahasa Rusia) Makanya jangan jadi pembunuh bayaran kalo mental lemah]" kata Alya.


Evgen memuntahkan darah dari mulutnya karena tadi dipukul Alya.


"[(Bahasa Rusia) Aku akan membunuhmu seperti yang kamu mau, asalkan kamu bersaksi bahwa Azizah yang telah membunuh nenekku]" kata Alya.


"[(Bahasa Rusia) Kamu pikir aku bodoh. Kamu anggota keluarga Brechtje, keluarga mafia yang akan mempermainkan manusia sebelum membunuhnya. Aku gak akan mau bersaksi gitu aja]" jawab Evgen.


"[(Bahasa Rusia) Aku tau itu. Oleh karena itu, aku menyiapkan sesuatu untukmu]" kata Alya.


Alya lalu menepuk tangannya dan anak buahnya datang sambil membawa ular piton.


"[(Bahasa Rusia) Aku merasa sangat aneh. Bagaimana pembunuh bayaran sepertimu, takut dengan ular?]" kata Alya.


Evgen mulai keringat dingin karena melihat ular.


Alya lalu memberikan isyarat pada anak buahnya untuk menaruh ular itu di tubuh Evgen.


Evgen menutup matanya.


"[(Bahasa Rusia) Bagaimana?]" tanya Alya sambil menyentuh dagu Evgen dengan pistol.


"[(Bahasa Rusia) Aku akan bersaksi]" kata Evgen dengan suara yang amat pelan karena ia ketakutan dengan ular.


"[(Bahasa Rusia) Apa? Katakan lebih keras]" kata Alya sambil mendekatkan telinganya.


"[(Bahasa Rusia) Aku akan bersaksi, jadi singkirkan ular ini]" kata Evgen.


Alya lalu memberikan isyarat pada anak buahnya untuk membawa pergi ular itu.


Ia lalu menyalakan alat perekam suara.


"[(Bahasa Rusia) Katakan semuanya sekarang]" suruh Alya.


Evgen mengatakan semuanya bahwa ia disuruh oleh Azizah untuk membunuh neneknya Alya dengan bayaran sangat tinggi.


Setelah itu Alya mematikan alat perekam suara tersebut.


"[(Bahasa Rusia) Terima kasih. Kamu boleh pergi sekarang]" kata Alya sambil melepas tali yang mengikat Evgen dengan erat.


Setelah itu Evgen melangkah melewati Alya.


"[(Bahasa Rusia) Ke neraka]" Alya melanjutkan kalimatnya yang tadi sambil berbalik badan dan menembak kepala Evgen.


Evgen langsung melotot karena kaget namun ia juga seketika langsung ambruk dan mati.


Alya menghampiri tubuh Evgen yang sudah tidak bernyawa.


"[(Bahasa Rusia) Aku tidak mempermainkan dirimu sebelum kubunuh, karena kamu telah berjasa padaku. Terima kasih, Evgen]" ucap Alya sambil berjongkok di dekat tubuh Evgen.


Alya lalu keluar dari tempat itu dan menyuruh anak buahnya mengurus jenazah Evgen.


.


.


.


.


.


Satu misinya Alya telah selesai, yaitu mengungkap kejadian dibalik kematian neneknya. Karena memang pada saat Alya masih SMP di Belanda, neneknya itu meninggal karena tertembak pada saat neneknya menghadiri suatu acara di Galeri Lacrimosa (fiksi). Pembunuhnya udah ditangkep, tapi yang pasti itu bukan pembunuh sebenarnya. Itu cuman orang yang dibayarin sama ibu tiri keduanya Alya buat masuk penjara jadi pembunuh neneknya Alya.


Dan kali ini, Alya bukanlah Alya yang phobia dengan tali tambang. Alya udah berhasil nyembuhin phobianya dan sekarang ia tidak takut apapun kecuali Tuhan sama ibunya.


Dan tentang rekaman CCTV di Galeri Lacrimosa, Alya mendapatkannya dengan menyuap. Uang bisa membeli segalanya.