I Will Be Okay

I Will Be Okay
~ Tweeënveertig (Empat Puluh Dua)



Alya p.o.v


"Makasih ya, Kak" kata Andra pada Alya.


"Udah tugas Kakak buat kayak gini" jawab Alya.


"Mama gakesini ya, Kak? Padahal kita lagi terpuruk gini" tanya Andra.


"Kakak juga gatau Mama ada dimana. Kakak udah nyuruh Sekretaris Bella buat ke Belanda, nyari tau tentang Mama" jawab Alya.


"Emang nanti Mama gamarah, kalo tau Kakak mata - matain Mama?" tanya Andra.


"Gatau. Kalo emang Mama marah, biarin aja. Setidaknya Mama bakal kesini" jawab Alya.


Bella menelepon Alya.


"Perusahaan Nyonya Helena di Belanda diurus oleh pebisnis profesional yang dibayar oleh Nyonya Helena sendiri. Dan tidak ada jejak Nyonya Helena di Eropa, Nona" lapor Bella.


"Kalo gitu balik aja, Sekretaris. Bahaya kalo anak buah Mama tau, Sekretaris lagi nyelidiki Mama. Dan setelah ini saya akan melakukan semuanya sendiri. Terima kasih untuk bantuannya selama 12 tahun ini. Hingga sampai sekarang, Sekretaris belum menikah juga karena bekerja dengan saya" kata Alya.


"Maksudnya.....saya dipecat, Nona?" tanya Bella.


"Bukan dipecat, lebih tepatnya diberhentikan" jawab Alya.


"Tapi, Nona. Selama ini saya bekerja kepada anda bukan karena bayaran, tapi karena saya ingin bekerja dengan Nona. Dan soal saya belum menikah sampai sekarang, memang benar itu karena saya bekerja dengan Nona. Tapi itu pilihan saya untuk tidak menikah. Jadi saya mohon jangan berhentikan saya, Nona" kata Bella.


"Segera ke Indonesia dan temui saya. Kita berbincang lagi mengenai ini" kata Alya dan mematikan teleponnya.


"Halo.....halo, Nona" kata Bella dan lalu melihat teleponnya.


"Padahal aku sangat ingin bekerja seumur hidupku dengan orang yang tidak bisa dikendalikan oleh siapapun seperti anda, Nona. Walaupun sekarang mungkin anda masih dikendalikan oleh Tuan Muda Fahmi, tapi saya percaya anda bisa lepas dari genggaman orang itu" ucap Bella dalam batinnya.


Kembali ke Alya.


"Jadi, rencana Kakak apa sekarang?" tanya Andra.


"Kakak masi belum tau. Tapi Kak Fira istrinya Fahmi ngajak Kakak ketemuan di cafe Unicorn Group, besok" jawab Alya.


"Aneh banget. Kenapa tiba - tiba gitu?" kata Andra.


"Kakak juga gatau. Untung aja besok Kakak libur" kata Alya.


Andra mengangguk - angguk.


Asih tiba - tiba ada disana.


"Nona, Pak Heri ingin menemui anda" kata Asih.


"Ya saya kesana, Bi" jawab Alya.


Alya lalu pergi menemui ayahnya.


"Tolong tinggalkan kami sendiri, Bi Asih" suruh Heri.


"Emangnya Papa mau ngomong apa? Kenapa Bi Asih gaboleh disini?" tanya Alya.


"Ini hal yang penting banget, jadi kita harus bicarain ini 4 mata" jawab Heri.


Asih pun pergi darisana.


"Emang ada apa sih, Pa? Papa ganyaman di rumah ini? Atau luka operasi Papa sakit banget? Kalo soal luka operasi kan Alya udah bilang, Papa baru bisa sembuh total kalo udah 3 bulan. Jadi, Papa harus sabar" kata Alya.


"Bukan itu, tapi ada hal lain yang pengen Papa bicarain sama kamu. Dan kita bicara sebagai ayah dan anak bukan pasien dan dokternya" kata Heri.


"Okay. Jadi, apa yang mau Papa bicarain?" tanya Alya.


"Ini soal Fahmi" jawab Heri.


"Fahmi?" tanya Alya.


"Irawati ibunya Fahmi itu memperalat Papa. Papa gapernah sama sekali mau pisah dari Mama, kamu dan Andra. Sama sekali gapernah pengen" kata Heri.


"Gimana dia bisa memperalat Papa?" tanya Alya.


"Fahmi itu didiagnosa psikopat oleh dokter jiwa dan dia bunuh ayahnya sendiri. Karena ayahnya Fahmi itu merupakan rekan bisnis Papa, jadi Papa mengunjungi dia di rumah sakit waktu dia sakit. Dan di waktu Papa jenguk dia, rekan Papa itu sudah meninggal di tempat dengan Papa ada di kamar rawat inap yang ditempatinya" kata Heri.


Alya mendengarkan dengan saksama perkataan ayahnya.


"Fahmi adalah pelaku sebenarnya. Tapi semua bukti diubah menjadi Papa yang bersalah dan gunain itu buat ngancem Papa selama ini" jelas Heri.


"Dan dia juga bukan cuma bunuh ayahnya sendiri, tapi banyak orang. Sangat banyak sekali" lanjut Heri.


"Dia juga ngelakuin hal yang sama ke Alya. Alya sekarang juga dikendaliin sama dia, Pa" kata Alya.


"Maksud kamu??" tanya Heri.


"Soal kematian Kakek. Sebenernya itu karena Kakek keracunan sianida dan Fahmi yang kasih sianidanya ke makanan yang diambil Alya dari dapur. Lalu Alya yang kena semua tuduhan itu dan kalo Alya gapatuh, dia bakal laporin itu" kata Alya.


"Dan untuk sekarang, kematian Kakek dijelaskan karena penyakit dan dokter pribadi Kakek dibunuh juga sama Fahmi supaya gak nyebarin soal Kakek keracunan sianida" jelas Alya.


"Dia emang brengs*k!!" teriak Heri.


"Paa, jangan teriak dulu. Kondisi Papa masih belum baik" kata Alya.


"Okeoke, maafin Papa" kata Heri.


"Papa tenang aja. Alya bakal segera bangkit lagi" kata Alya sambil menggenggam tangan ayahnya.


Setelah itu Alya keluar dari kamar tersebut dan berbicara dengan para pekerja dari rumah kakeknya yang dulu dan sekarang memaksa untuk tinggal di rumahnya padahal tidak ada cukup kamar dan mereka tidur di sembarang tempat di dalam rumah Alya.


"Saya sudah memesankan vila di Bandung, kalian bisa tinggal disana untuk sementara. Tapi kecuali Bi Asih, saya butuh Bibi untuk merawat ayah saya karena saya juga harus bolak - balik ke rumah sakit untuk bekerja" kata Alya.


"Hmm" jawab Alya sambil mengangguk.


"Saya akan mengambil apa yang sebenarnya menjadi milik saya dari Fahmi dan untuk sementara itu kalian semua tinggal disana dulu. Setelah saya mendapatkan semuanya kembali, kalian semua bisa bekerja di rumah peninggalan kakek seperti dulu lagi" lanjut Alya.


Semuanya tersenyum senang begitupula dengan Alya.


Keesokan harinya Bella sudah di Indonesia dan segera pergi menemui Alya di rumah Alya, padahal Alya sedang menemui Fira di cafe Unicorn Group.


"Kenapa anda ingin menemui saya, Nyonya Fira?" tanya Alya.


"Sebenarnya saya kakaknya Tiara, Nona" kata Fira.


"Tiara, temen saya?" tanya Alya.


"Iya, Nona. Dan kemarin ayah kami juga telah menjadi korban Fahmi" jawab Fira.


"Maksudnya? Ayahnya Kak Fira yang juga merupakan ayahnya Tiara dibunuh juga sama si Fahmi?" tanya Alya.


Fira langsung menangis.


"Saya tidak tahu apa kesalahan ayah saya, tapi kenapa dia...." ucap Fira.


Alya langsung berdiri dari bangkunya dan memeluk Fira.


"Aku bahkan gabisa ngelakuin apa - apa atas ketidakadilan yang dialami ayahku" kata Fira.


"Aku udah tau semuanya kok, Kak. Aku gaakan maafin dia. Kakak percaya sama aku kan?" kata Alya.


Fira mengangguk menjawab bahwa ia percaya pada Alya.


"Tapi ngomong - ngomong, gimana Kak Fira bisa nikah sama Fahmi?" tanya Alya.


"Saya dulu sangat serakah, Nona. Saya mengira dengan menikahi dia, hidup saya akan menjadi sangat bahagia. Namun ternyata...." jawab Fira.


"Udah udah. Jangan nangis lagi" kata Alya.


Setelah menemui Fira, ia pergi ke depan gedung Unicorn Group dan melihatinya sebentar.


"Dit gebouw is van mijn [(Bahasa Belanda) Gedung ini adalah milikku]" ucap Alya sambil smirk dengan memandang gedung Unicorn Group yang ada dihadapannya.



"Vincenzo ngucapin itu pake Bahasa Itali dan gue milih ngucapin itu pake Bahasa Belanda aja" lanjutnya.


Setelah itu, ia pulang ke rumahnya dan bertemu dengan Bella.


"Gabisa, Kak Bella. Alya udah buletin keputusan" jawab Alya.


"Anda bahkan tidak memanggilku Sekretaris lagi dan memanggilku Kak Bella" ucap Bella.


"Iya, karena Kak Bella udah bukan sekretarisnya Alya lagi sekarang" jawab Alya.


"Saya akan melakukan apapun, Nona. Asalkan Nona menerima saya untuk menjadi sekretaris anda lagi. Saya bukan ingin bayaran tapi saya benar - benar ingin membantu anda" ucap Bella.


"Okay, tapi bisa cariin aku anak?" tanya Alya.


"Anak?" tanya Bella.


"Hmm. Kalo bisa perempuan yang usianya sekitar 4 tahunan gitu. Usahain anaknya gemoy" jawab Alya.


"Nona sengaja ngomong kalo aku dipecat karena pengen dicariin anak?" tanya Bella.


"Ya sebenernya sih gitu sih" jawab Alya.


"Lain kali bilang aja langsung, Nona. Nona tau harga tiket tercepat untuk penerbangan Belanda kesini itu berapa harganya?? Mahal sekali, Nona. Dan aku menggunakan uang pribadiku untuk itu" kata Bella.


"Jadi, mau saya transfer sekarang ganti ruginya?" tanya Alya.


"Gausah sekaranglah, Nona. Saya akan mencarikan anak dengan kriteria yang anda katakan" jawab Bella.


"Ah dan satu lagi, Sekretaris" kata Alya.


"Aku pindahin semua pekerja di rumah Kakek yang dulu ke vila yang ada di Bandung, nanti aku kirim alamat pastinya. Jadi, tolong pantau dan jaga keselamatan mereka dengan baik" kata Alya.


Bella mengangguk mengerti.


"Sebenernya aku juga ngerasa ada yang aneh belakangan ini" tambah Alya.


"Ada apa, Nona?" tanya Bella.


"Aku ngerasa kayak ada yang ngikutin aku setiap aku pergi dari rumah dan rumah sakit. Intinya setiap aku pergi kemanapun kecuali 2 tempat itu. Tapi aku gatau siapa yang ngikuti aku, jadi tolong cari tau itu juga" jawab Alya.


Inget waktu di eps 38, Maura yang mematai - matai Alya dan kini Alya sudah menyadari kalau ia dimata - matain oleh seseorang. Naluri seorang mafia


"Baik, Nona. Nona jangan khawatir, seperti biasa saya akan menyelesaikan semuanya seperti yang Nona minta" kata Bella.


.


.


.


.


.


Aneh - aneh aja ya 🤔🤔. Kenapa tiba - tiba si Alya pengen dicariin anak??


Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.