I Will Be Okay

I Will Be Okay
~ Eendertig (Tiga Puluh Satu)



Kelanjutan dari eps kemaren ya nii.


Rangga p.o.v


"Alyaa" panggil Rangga sambil mengikuti dan meraih pergelangan tangan Alya.


"Gue tau lu mau ngobrol. Kita ke kantin aja" ucap Alya.


Rangga mengangguk sambil tersenyum.


Mereka berjalan ke kantin rumah sakit.


"Sejak kapan lu ada di Indonesia?" tanya Rangga.


Alya meminum lemon teanya.


"Udah sekitar 10 hari sih gue disini" jawab Alya.


"Gue tau kalo lu udah disini dari berita ditahannya Bu Azizah, pasti lu yang nglakuin itu" kata Rangga.


"Kesel banget gue sama putusannya. Masa cuma dihukum 15 tahun penjara si" kata Alya.


"Keknya karena jaksanya anaknya sendiri ya?" tanya Rangga.


"Mungkin" jawab Alya.


"Maura gak shift pagi?" tanya Alya.


"Ada sih tadi dia. Tapi kalo sekarang gue gatau" jawab Rangga.


Maura p.o.v


Maura yang sedang memesan makanan melihat Alya dan Rangga sedang ngobrol. Setelah pesan makanan, ia langsung menghampiri mereka.


Sesampainya di meja Rangga dan Alya, ia menaruh makanannya dan langsung memeluk Alya.


"Alyaaa, gue kangen banget sama luu" katanya.


"Iya udah buruan duduk makan. Diliatin dokter dokter lain tuh, kita kan udah bukan anak SMA" suruh Alya.


Maura lalu melepaskan pelukannya dan duduk disebelah Alya.


Alya melihat cincin di jari manis Maura, padahal Maura bukanlah orang yang suka memakai perhiasan. Tapi semenjak menjadi dokter bedah saraf, Maura berusaha menjadi feminin karena menyadari kalau dia terkalu barbar.


"Gue liat ada yang baru dari lu" kata Alya.


"Apa? Gue pake rok gitu? Padahal gue gasuka?" tanya Maura.


"Bukan, justru lebih dari itu" jawab Alya.


"Apaan sih? Gue pake sandal agak jinjit bukan sneakers kek dulu?" tanya Maura.


"Lebih dari itu" jawab Alya.


"Cincin lu tuh cincin" sahut Rangga.


"Sebenernya ini......" kata Maura.


"Lu mau nikah kan sama si profesor tua itu" kata Rangga.


"Hushh, Rangga. Gaboleh gitu" kata Alya.


"Ya orang emang tua. Kita 30 tahun, tuh profesor 41 tahun" ucap Rangga.


"Ya tapi gaboleh gitulah. Lagian sekarang jaman udah maju, udah gaada yang peduliin umur soal nikah" kata Alya.


"Tau tuh, gausah kuno. Yang penting kan cinta dan dia juga berusaha. Emang kayak lu yang mendem perasaan lu terus padahal udah 10 tahun lebih" kata Maura.


Kan Rangga mendem perasaannya ke Alya dari dia usia 17 tahun sampe sekarang dia usia 30. tahun, makanya Maura bilang gitu.


"Suka suka gue lah" kata Rangga.


"Udah, selalu deh kalian itu ya kalo ketemu. Selama gue di Inggris, kalian juga kek gini?" ucap Alya.


"Ya nggak sih. Selama lu di Inggris, justru kita akur - akur aja" jawab Rangga.


"Iya, bener kata Rangga" kata Maura.


"Yaudahlah, kalo gitu setelah gue kesini kenapa kalian malah gaakur? Harusnya kan lebih akur" kata Alya.


"Iya, maaf" kata Maura.


"Gue juga" kata Rangga.


"Setelah makan siang, gue ada jadwal operasi. Gausah ganggu babai" kata Alya dan pergi.


"Dia marah?" tanya Rangga.


"Ya nggak mungkinlah, dia kan gak kayak lu yang dikit - dikit marah. Dia juga udah bilang kalo dia ada jadwal operasi" jawab Maura.


"Yaudah kalo gitu gue waktunya nemui pasien rawat jalan. Abisin tuh makanannya" kata Rangga dan pergi juga dari sana.


"Terus ini gue ditinggal? Yailahh, tega ya lu pada" kata Maura.


"Tapi bukannya Alya baru masuk hari ini ya? Kok bisa langsung dapet jadwal operasi?" tanya Maura dibenaknya sambil mengernyitkan dahinya.


.


.


.


.


.


Padahal cincin yang dipake Maura itu bukan cincin dari Rafi tapi dia beli sendiri, kalian tau sendiri kan kalo di eps 29 dia nolak Rafi buat jadi pacarnya karena belum siap menjalin hubungan asmara. Tapi Rafi setia nunggu dia, padahal kalo kata author mah gini "lu mau jadi jaka tua apa??" xixixixixi.


Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.