
Alya p.o.v
Saat dalam perjalanan, Alya ditelepon oleh polisi.
"Halo, rekaman yang menyatakan bahwa saudara Fahmi bersalah atas kematian banyak orang selama ini telah dikonfirmasi oleh para saksi yang dipanggil" kata polisi yang menelepon Alya.
"Baik, Pak. Terima kasih" kata Alya.
"Apa anda tahu keberadaan saudara Fahmi? Kami berada di kediamannya dan ternyata beliau tidak ada" kata polisi.
"Saya tahu keberadaannya, Pak. Tapi apa Bapak bisa mengirim tim swat? Karena adik saya berada disana dan menurut orang yang memberitahu saya, Fahmi membawa senjata api" kata Alya.
Swat adalah singkatan dari Special Weapons And Tactics, dalam Bahasa Indonesia disebut senjata dan taktik khusus. Itu adalah nama umum yang digunakan untuk sebuah satuan penegakan hukum yang menggunakan senjata ringan ala militer dan taktik khusus dalam operasi - operasi polisi beresiko tinggi yang berada di luar kemampuan polisi berseragam biasa.
"Kami tidak bisa mengirim tim swat tanpa alasan" jawab polisi.
"Ini bukan tanpa alasan, Pak. Saya akan mengirim foto yang diberikan oleh orang yang memberitahu saya tentang hal ini. Dan apabila Bapak setuju untuk mengirim tim swat, maka saya baru akan mengirim alamat keberadaan Fahmi" kata Alya.
Alya lalu mengirimi foto adiknya dan Fahmi yang membawa senjata yang diberi oleh Dito di eps sebelumnya.
"Baik, Bu. Saya setuju untuk mengirim tim swat. Sekarang juga mohon kirimkan alamat keberadaan saudara Fahmi" kata polisi setelah melihat foto yang dikirimkan Alya.
"Baik, saya akan mengirim alamatnya sekarang" jawab Alya.
Dan setelah itu telepon mereka mati.
Alya melihat spion mobilnya dan ada mobil Maura.
"Hhhh, ngapain si lu ngikutin gue kesini segala?? Ini bahaya buat lu" kata Alya dan segera menambah kecepatannya agar Maura kehilangan jejaknya.
Maura p.o.v
"Ini kenapa mobilnya Alya tambah kenceng sih jalannya?? Emang dia mau kemana??" tanya Maura.
"Ya mana gue tau, tanya aja sendiri. Gue tanya dia ya, lewat chat" kata Rangga yang ada di sebelah Maura.
"Hiihh, gausah. Nanti dia tau lagi kalo gue ngikutin dia selama ini" kata Maura.
"Dia pasti udah tau, dia kan mafia" kata Rangga.
"Lu tau Alya mafia??" tanya Maura.
"Hemm" jawab Rangga sambil mengangguk.
"Dan lu gapernah bilang sama gue??" tanya Maura.
"Lunya gapernah tanya" jawab Rangga.
"Dan lu masih mau temenan sama dia?" tanya Maura.
"Iya, emang kenapa?" jawab Rangga.
"Ya kan dia mafia. Pernah bunuh orang lagi dan gak cuma satu pastinya" jawab Maura.
"Bagi gue, Alya itu cuma Alya. Soal dia mafia dan pernah bunuh orang itu gapenting" jawab Rangga.
"Tapi gimana lu bisa tau kalo Alya mafia?" tanya Maura.
"Gue pernah liat tato dia waktu SMA. Dia bilang itu tanda keluarga, padahal itu tanda kalo dia mafia" jawab Rangga.
"Lu udah tau kalo dia mafia dari kita masih SMA??" tanya Maura.
"Iya. Tapi dia gatau, kalo gue tau dia mafia" jawab Rangga.
"Daebak lu emangan" ucap Maura.
Alya tidak tau kalau di dalam mobil Maura juga ada Rangga.
Alya p.o.v
Alya sampai di gudang itu dan segera turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam gudang.
"Akhirnya kakak lu sampe juga" kata Fahmi pada Alya.
Maura p.o.v
Maura juga sampai di depan gudang itu.
"Ngapain Alya ke tempat kek gini ya??" tanya Maura.
"Ya mana gue tau" jawab Rangga.
"Hishh" ucap Maura.
Alya p.o.v
"Berlutut sekarang" suruh Fahmi pada Alya.
"Jangan, Kak. Jangan mau berlutut ke orang kek dia" ucap Andra.
"Diem lu. Atau lu mau gue tembak" kata Fahmi pada Andra.
"Jangan berani - berani lu ngancem adek gue" kata Alya.
"Ya makanya berlutut sekarang!!" teriak Fahmi.
Alya melihat jenazah Dito ada di bawah adiknya yang diikat di kursi.
"Lu psikopat total. Bahkan lu tega bunuh adek lu sendiri" ucap Alya.
"Buat apa adek kalo gak guna" kata Fahmi.
Alya hanya diam saja.
"Cepet berlutut sekarang!!!!" teriak Fahmi sambil menembakkan pistol ke langit - langit.
Maura p.o.v
"Kok ada suara tembakan, gue telpon polisi ya" kata Maura.
"Jangan, jangan telpon polisi. Bisa jadi itu tembakan dari Alya, nanti dia bisa ditahan kalo lu telpon polisi" jawab Rangga.
"Ya terus sekarang gimana??" tanya Maura.
"Gue turun dan ngehampirin Alya, lu pergi dari sini sekarang juga" suruh Rangga dan langsung turun dari mobil lalu pergi ke dalam gudang.
"Ini serius gue pergi dari sini??" Maura bertanya - tanya.
Rangga p.o.v
Dia masih belum memunculkan dirinya, dia masih ngintip dibalik tembok.
Alya p.o.v
"Lu tetep gamau berlutut ya??" tanya Fahmi.
"Kakak gue gaakan pernah berlutut ke orang brengs*k kayak luu!!" teriak Andra.
Fahmi langsung memukul mulut Andra dengan pistol.
Setelah itu Fahmi mengangkat pistolnya dan akan menembak Alya. Rangga yang melihat itu langsung berlari dan memeluk Alya. Dan....
"Dorr" Rangga tertembak di bagian pinggang kiri.
"Sial, kenapa lagi - lagi ada orang yang nyelametin kalian" kata Fahmi.
Rangga langsung ambruk dan Alya memeganginya sambil melihat Fahmi dengan tatapan sangat marah.
"Lu bakalan mati ditangan gue seandaikan polisi gabilang bakal kesini dengan tim swat" ucap Alya dalam hati.
"Jangan bergerak, anda sudah dikepung dari segala arah. Mohon jatuhkan senjata anda dan angkat tangan. Jika tidak, kami akan menembak" kata kapten tim swat yang sudah berada di luar gudang.
Fahmi tidak mau menjatuhkan senjatanya.
"Makasih, Maura" ucap Rangga.
"Jadi, lu kesini sama Maura?" tanya Alya.
"Kenapa lu kesini sihh??" tanya Alya lagi.
"Awalnya Maura maksa gue dan gue marah - marah. Tapi sekarang gue bersyukur karena dia ngajak gue mata - matain lu. Karena dengan gitu jadi gue yang ketembak disini, bukan lu" kata Rangga sambil menahan rasa sakit karena tertembak.
"Yaudah, bentar ya. Lu diem dulu, jangan gerak dan ngomong dulu" kata Alya.
"Kami akan menghitung sampai 3. Jika anda tidak menjatuhkan senjata, maka kami akan menembak" kata kapten tim swat lagi.
Fahmi tetap memegang sejatanya dengan erat.
"Satu...." kapten tim swat mulai menghitung.
"Dua...." hitungan kedua.
Fahmi justru mengangkat pistolnya dan akan menembakkannya ke Alya.
Alya tertawa kecil.
"Lu emang udah gila" ucap Alya.
"Tiga" hitungan terakhir.
Fahmi akan menembak Alya, namun ia langsung ditembak oleh tim swat. Fahmi langsung ambruk karena mendapat 5 tembakan dari segala arah. Jadi nembaknya itu dari luar gudang dan dari celah - celah gudangnya gitu. Tim swat lalu masuk dan memeriksa keadaan.
"Kalian membawa ambulan?" tanya Alya.
"Kami membawanya. Saya akan menyuruh paramedis untuk masuk dan memeriksa keadaan orang yang terluka" jawab salah satu anggota tim swat.
Paramedis lalu membawa Rangga dan Andra masuk ke ambulan. Ambulan langsung pergi ke Rumah Sakit Dirgantara karena Alya yang meminta.
"Jadi, ini adalah korban yang ditembak oleh saudara Fahmi? Dan langsung meninggal ditempat?" tanya salah satu anggota tim swat.
"Iya, tapi..." jawab Alya dan dipotong oleh salah satu anggota tim swat.
"Jelaskan semuanya di kantor saja bersama teman anda. Sekarang kami akan membawa jenazah saudara Fahmi dan jenazah yang satu lagi ini" potong salah satu anggota tim swat.
"Tapi teman saya ketembak dan dibawa ke rumah sakit, siapa lagi teman yang ikut dengan saya?" kata Alya.
"Bukan teman yang itu, tapi yang satunya lagi. Dia ada di depan, silakan anda ke depan dulu" jawab anggota tim swat itu.
Alya lalu ke depan.
Maura p.o.v
Maura langsung menghampiri Alya dan mengecek tubuh Alya.
"Lu gak luka?? Gaada badan yang luka kan? Lu beneran gapapa kan??" tanya Maura.
"Iya gue gapapa" jawab Alya.
"Lu gamarah sama gue?" tanya Maura.
"Kenapa gue marah sama lu?" tanya Alya.
"Ya gue udah bawa Rangga kesini. Jadi secara ilmiah, gue yang buat Rangga ketembak" jawab Maura.
"Yang nembak dia itu Fahmi, jadi yang salah Fahmi lah" kata Alya.
Mereka lalu pergi ke kantor polisi dan memberikan kesaksian mereka. Setelah itu mereka mengobrol di cafe terdekat yang ada disekitar kantor polisi itu.
"Jadi sebenernya selama ini lu udah tau kalo gue mata - matain lu?" tanya Maura.
Alya mengangguk.
"Dan lu gak ngapa - ngapain gue??" tanya Maura.
"Emang gue harus ngapain lu?" tanya Alya.
"Ya emang lu gapapa, kalo gue tau lu mafia?" tanya Maura.
"Gue gamasalah lu tau kalo gue mafia. Bahkan gue gamasalah kalo semua orang tau gue mafia. Karena itu emang kebenarannya" jawab Alya.
"Gue dulu pengen nyembunyiin kalo gue mafia dari semuanya. Tapi gue sadar, cepat atau lambat semuanya pasti bakal tau kalo gue mafia dan gue gak nutup - nutupin lagi kalo gue mafia" lanjut Alya.
"Oohh gitu" ucap Maura.
"Kalo lu mau ngejauhin gue juga gapapa kok" kata Alya.
"Nggak kok, gue gabakal ngejauhin lu. Justru seru kalo punya temen mafia" jawab Maura.
Mereka lalu tertawa berdua.
"Lu gak nengok Rangga?" tanya Maura.
"Nanti aja, kalo operasinya udah selesai" jawab Alya.
"Emang lu bisa tau kalo Rangga udah selesai dioperasi?" tanya Maura.
"Gue udah nyuruh Farrel buat jadi dokter yang ngoperasi Rangga dan gue minta dia buat kabarin gue kalo operasinya udah selesai" jawab Alya.
"Oo, ternyata lu deket sama Dokter Farrel" ucap Maura.
"Dia sahabat gue waktu masih SMP" kata Alya.
"Iya juga ya tapi, dia kan dari Belanda" kata Maura.
.
.
.
.
.
Kita lanjut eps selanjutnya yaa.
Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.