I Will Be Okay

I Will Be Okay
~ Een (Satu)



Alya p.o.v


"Hari ini adalah hari yang cerah bagiku. Hari dimana aku akan bersekolah kembali setelah libur kenaikan kelas 3 selama 1 bulan" pikir Alya dalam hati sambil memasukkan buku - buku yang diperlukan untuk sekolahnya nanti. la tidak tahu kalau hari ini tidak akan berlangsung indah baginya.


Setelah selesai menyiapkan semua keperluan sekolah, ia pun turun ke bawah dan pergi sarapan.


"Wahh, anak papa yang paling cantik sudah datang. Ayo sini makan dulu" sapa ayahnya yang berada di meja makan.


"Bukan cuma cantik papa, tapi anak kita ini juga pinter banget Ihoo" puji ibunya sambil menaruh nasi di piring Alya.


"lya nih. Kamu pinter banget sih sayang" ayahnya juga ikut memujinya sambil mencubit pipinya.


"Kakak, gimana sih kok bisa pinter banget??" tanya adiknya dengan mulut penuh makanan.


"Kebiasaan deh adik. Kalo masih ngunyah tu jangan ngomong dulu" jawab Alya.


"lyaiya" jawab adiknya menurut. la memang selalu menurut pada Alya.


"Aku udah selesai makan. Hari ini yang anterin kita kesekolah papa atau om Anto??" tanya Alya yang sudah tidak sabar ingin berangkat ke sekolah.


"Hari ini papa yang bakal anterin kalian" jawab ayahnya kemudian minum.


"Yeeeee" sorak kakak adik itu senang karena ayahnya yang mengantar mereka, bukannya sopir.


Skip sampai di SDN Menteng 01 Pagi


"Jangan nakal ya anak - anakku sayang" ucap ayahnya sambil bersalaman dengan anaknya.


"Siap bos" jawab Alya dan langsung masuk ke sekolah.


Saat datang kesekolah, Alya selalu disambut oleh teman - teman. Karena ia dikenal sebagai anak terpintar, tercantik, humble. Intinya dia yang terbaik di sekolah itu. Para guru disana juga sangat menyukai Alya.


Alya berjalan ke kelas bersama teman - temannya. Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi dan guru memasuki kelas Alya.


"Selamat pagi anak - anak" sambut ibu guru yang baru masuk.


"Pagi buuu" jawab semua murid kelas itu serentak.


"Ceria banget hari ini? Pasti karena mau ulangan kan?" Bu Rini menanyakan ulangan secara tiba - tiba dan membuat senyum anak muridnya menjadi samar.


"Emangnya hari ini ada ulangan bu? Kok Bu Rini nggak memberitahu jauh - jauh hari sih, Bu. Kan kita belum belajar" kata Edo.


"Bu Rini kan udah bilang ke kalian 1 minggu yang lalu, kalo hari ini kita akan ada ulangan harian. Bukannya kalian belajar setiap hari ya?" jawab Bu Rini mengingatkan.


"Iya sih Bu, tapii..." Lina mencoba menyangkal Bu Rini.


"Udahlah kalo emang ulangan ya ulangan, emang kenapa sih? Ulangan kan menyenangkan" sahut Alya si ketua kelas.


"Tuh bener kata Alya, ulangan itu menyenangkan" Bu Rini menambahi.


"Ya kan dia pinter Bu" tambah Bima.


"Bukan cuma Alya yang pinter, kalian semua juga pinter cuman gamau ngembangin aja. Udah ah, nanti waktunya abis lagi" kata Bu Rini memuji muridnya.


"Alya, kamu bagikan ke temen - temen kamu ya" suruh Bu Rini pada Alya.


"Baik Bu" jawab Alya dan beranjak dari tempat duduknya untuk membagikan soal ulangan.


Setelah selesai membagikan soal ulangan, Alya duduk dibangkunya dan mengerjakan soal ulangan miliknya.


Beberapa menit kemudian


"Al, lu udah nomor berapa?" tanya Bima.


"Nomor 12" jawab Alya singkat. Ia memang tidak suka diganggu saat ulangan Matematika.


"Buset, cepet banget sih. Baru juga 1 menit lu duduk, udah nomor 12. Padahal ni soal Matematika puyengnya minta ampun" ucapan Bima tidak ditanggapi oleh Alya. Ia pun menyenggol lengan Alya.


"Paan sih" kesal Alya.


"Nomor 2 donk" Bima memberi kode Alya, agar memberikan jawaban nomor 2 untuknya.


"Bima, kamu ngapain itu?" tanya Bu Rini yang melihati Bima mengganggu Alya sedari tadi.


Bima pun berpura - pura menjatuhkan pulpennya. "Eh, nggak kok bu. Pulpen saya jatuh" jawab Bima sambil cengengesan mengambil pulpennya yang sengaja ia jatuhkan didekat kursi Alya. Sambil mengambil pulpennya, ia terus mengganggu Alya agar memberikan jawaban padanya.


"Kalo lu gak pergi dari sini sekarang juga, gue bakal lapor Bu Rini" ucap Alya tegas dan dengan muka judes.


"Hhhh, yaudah deh" jawab Bima pergi dan pasrah.


2 jam kemudian


Bel istirahat pun berbunyi.


"Anak - anak, waktu mengerjakan ulangan Matematika sudah habis karena bel istirahat sudah berbunyi" kata Bu Rini.


"Mampus, gue belum selesai lagi" ucap Bima.


"Alya, ibu ada rapat kamu tolong kumpulkan lalu taruh dimeja ibu diruang guru ya" pinta Bu Rini.


"Baik, Bu Rini" jawab Alya dengan riang gembira karena ia yakin kalau hari ini ia akan mendapatkan nilai 100.


"Kalo lu belum selesai, jawab aja ngawur. Romawi 3 tetep dapet nilai kok walau ngawur, yang penting lu jawab" kata Alya pada Bima dan mengambil semua jawaban siswa yang lainnya.


Setelah mengambil semuanya dia kembali ke meja Bima.


"Gimana? Udah selesai belum?" tanya Alya pada Bima yang masih mengerjakan soal sedari tadi.


"Jawaban nomor 5 romawi 3 apa?" tanya Bima.


"Kok tanya sih" jawab Alya.


"Ayolah Alyaaaaa, Pleaseeee" kata Bima memohon.


"Yaudah oke. Gatega gue sama lu" jawab Alya menunjukkan jawabannya.


"Makasih, yaudah nih" kata Bima setelah mencatat jawaban Alya.


"Eh, Allll" panggil Bima.


"Apa lagiii sihhh???" tanya Alya dengan kesal.


"Mau gue anterin ga?" tanya Bima.


"Gausah, gabutuh" jawab Alya judes.


"Gue sama Lina aja" lanjutnya.


Selesai menaruh jawaban ulangan di meja Bu Rini mereka lalu pergi ke kantin.


"Al, pulang sekolah nanti mampir ke toko boneka belakang yuk" ajak Lina.


"Bisa, aku juga mau beli boneka nih buat kado sepupu aku" jawab Alya.


"Okeee" kata Lina.


Skip pulang sekolah


Alya dan Lina pergi ke toko boneka belakang sekolah mereka.


"Ihhhhh, yang ini lucu banget" kata Lina.


"Aku pilih yang ini deh" kata Alya sudah menentukan kado untuk sepupunya.


"Cepet banget sih lu milihnya" kata Lina.


"Yaiyalah, gue gasuka ribet" jawab Alya.


"Dasar tomboy" ucap Lina.


Alya hanya membalasnya dengan senyum.


"Kalo lu mau bayar dulu gapapa kok. Tapi nanti tungguin" kata Lina.


"Yaudah gue bayar dulu ya, nanti gue tunggu di depan" kata Alya dan pergi ke kasir.


Alya sudah selesai membayar boneka yang ia beli dan menunggu Lina di depan toko. Lalu ia melihat seorang wanita yang kesakitan dipinggir seberang jalan. Wanita itu berjalan tertatih - tatih ke arahnya.


"Kenapa tante itu kesini ya?" Alya bertanya - tanya dipikirannya.


"Dek, kamu bisa bantu tante nggak? Nanti tante kasih jajan" tanya wanita itu pada Alya.


"Tapi saya lagi nunggu temen saya tante" jawab Alya ragu. Karena ia disuruh ibunya untuk tidak membantu atau bahkan berbicara dengan orang yang tidak dikenal, karena Jakarta itu sangat berbahaya.


"Sebentar aja, kamu tolong bawain koper tante ini ke rumah tante. Kamu gak kasian? Kaki tante sakit loh. Yaa, mau yaa. Kamu kan anak baik" wanita itu terus merayu Alya agar membantunya.


"Yaudah iya deh tante. Tapi aku mau nitipin boneka ini ke kasir ya. Nanti kalo aku kelamaan biar dibawa sama temen aku" jawab Alya dan pergi ke kasir untuk menitipkan boneka yang ia beli tadi.


"Kak" Alya memanggil kakak yang ada di kasir.


"Iya dek" jawab kakak itu.


"Ini, saya titip. Nanti kalo saya kelamaan suruh temen saya bawa ya" ucap Alya dengan sopan.


"Oke dek" jawab kakak itu ramah.


"Makasi ya kak" kata Alya dan pergi ke wanita tadi untuk membantunya.


"Ayo tante" ucap Alya sambil membawakan koper wanita itu. Alya tidak sadar kalau ia sedang diculik.


Skip sampai dirumah wanita tadi


"Kok rumah tante kotor banget?" tanya Alya.


"Iya. Soalnya tante lama di luar negeri" jawab wanita itu sambil membuka pagar rumahnya.


"Ayo masuk" ajak wanita itu.


"Nggak deh tante, saya balik kesana ya" kata Alya mendapat firasat tidak enak karena rumah itu benar - benar kotor.


"Loh kenapa? Jangan gitu donk, kan tadi tante udah bilang mau kasih kamu jajan" wanita itu terus membujuk Alya hingga akhirnya Alya mau masuk ke rumahnya.


"Yaudah deh kalo tante maksa" karena wanita itu terus memaksanya, Alya pun mau masuk ke rumahnya.


Saat mereka sudah masuk ke dalam rumah, wanita itu langsung mengunci pintu rumah dan menutup semua jendela dengan rapat.


Alya merasa sangat ketakutan. "Kenapa tante nutup semua jendelanya?" tanya Alya dengan terbata - bata dan tubuh gemetar dipenuhi keringat.


"Dasar anak kecil!!!!!!!" teriak wanita itu sangat keras hingga Alya menutup matanya. Wanita itu mendekat ke arah Alya dan menunduk untuk menyamakan tingginya dengan tinggi Alya. Lalu ia perlahan - lahan mengelus rambut Alya yang dikuncir dengan indah.


Alya hanya menutup mata sambil meremas jari - jarinya.


"Sini!!!!" suruh wanita itu dengan kasar. Ia juga menarik rambut Alya untuk mengikutinya.


"Aaaawwww, tanteeee sakittt tanteee" rintih Alya dan mengikuti wanita yang menarik rambutnya tersebut.


"Diem, kamu harus ikut tante" ucap wanita itu.


.


.


.


.


.


Wahhh, Alya diculik tu guys. Masih inget gak? Waktu di perkenalan, Alya pernah bilang kan. Kalo dia mengalami suatu insiden yang gak ingin dia alami. Bahkan dia pernah bilang, kalo dia bisa mencegah insiden itu agar tidak terjadi, maka ia pasti akan melakukannya, apapun akibatnya. Insiden yang dimaksud itu adalah penculikan ini genks. Terus dia juga bilang kalo karena insiden itu dia jadi mengalami satu phobia. Kira - kira apa ya phobianya?? 🤔🤔🤔


Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.