I Will Be Okay

I Will Be Okay
~ Tweeëndertig (Tiga Puluh Dua)



Ini kelanjutan eps kemaren.


Alya p.o.v


Alya berada di depan ruang operasi yang akan ia gunakan untuk operasi.


"Ruang operasi sudah siap, profesor" kata Suster Rani.


"Iya" jawab Alya.


"Loh, bukannya yang ngoperasi pasien ini itu Profesor Anggara? Kenapa Dokter Alya yang ada disini?" tanya Suster Rani.


"Profesor Anggara tadi chat saya, katanya dia gabisa ngoperasi pasien ini dan minta tolong ke saya. Dia lagi ada urusan mendadak. Saya juga udah minta persetujuan pasien sebelum saya kesini" jelas Alya.


"Suster yang bantu saya nanti? Kata Profesor Anggara, Suster Gina yang bantu saya" tanya Alya.


"Suster Gina tadi sedang tidak enak badan, Dok" jawab Suster Rani.


Alya lalu mengangguk - angguk dan memakai maskernya.


"Nanti juga ada 1 dokter residen bedah jantung yang akan membantu, Dokter. Namanya Dokter Harun, dia bilang dia sedang perjalanan kesini bersama pasien yang akan di operasi" kata Suster Rani.


Dokter residen itu adalah dokter yang masih kuliah spesialis.


"Dokter Harun? Residen tahun ke berapa dia?" tanya Alya.


"Dia residen tahun ke-6 dan akan lulus bulan depan, Dokter" jawab Suster Rani.


Alya mengangguk - angguk.


"Okeee, mari kita cuci tangan. Pasiennya pasti sampe kesini sebentar lagi" kata Alya dan menuju wastafel.


Ia lalu menyalakan kran wastafelnya menggunakan kaki. Pencetannya kran wastafel yang ada di depan ruang operasi itu emang dibawah, jadi nyalainnya pake kaki. Itu supaya nanti kalo dokternya udah cuci tangan kan tangannya gaboleh megang apa - apa lagi, makanya mencetnya ditaruh dibawah dan mencetnya pake kaki.


Setelah mencuci tangan, ia membuka pintu ruang operasi dengan kaki juga. Jadi pintu ruang operasi itu pencetannya juga di bawah sama kek wastafel tadi dan kalo itu udah dipencet pake kaki, pintu akan otomatis terbuka dan nanti nutup lagi.


"Silakan melihat hasil CT scan dan MRInya dulu, Dokter" kata Suster Rani sambil menunjukkan foto hasil CT scan dan MRI pasien yang ada di komputer pada Alya yang sedang mengelap tangannya.


CT scan (Computed Tomography scan) adalah prosedur yang menggabungkan serangkaian gambar X-ray yang diambil dari berbagai sisi di sekitar tubuh seseorang. Pemeriksaan ini menggunakan komputer untuk membuat gambar cross-sectional tulang, pembuluh darah dan jaringan lunak yang ada di dalam tubuh.


MRI (Magnetic Resonance Imaging) merupakan pemeriksaan organ tubuh yang dilakukan dengan menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendapatkan hasil gambar organ, tulang dan jaringan di dalam tubuh secara rinci dan mendalam.


Alya melihat komputer yang menunjukkan foto itu sambil memakai jubah operasi.


"Baiklah, kanker paru - parunya stadium 1. Saya akan melakukan prosedur torakotomi posterolateral" kata Alya sambil berjalan menuju meja operasi yang sudah ada pasiennya.


Operasi membuka rongga dada atau torakotomi posterolateral adalah prosedur operasi besar yang digunakan untuk mengakses organ - organ yang ada di dalam rongga dada, seperti paru - paru, jantung dan kerongkongan. Kanker paru merupakan salah satu kondisi yang sering ditangani dengan operasi ini.


Kalau torakotomi posterolateral itu adalah prosedur khusus buat operasi mengangkat kanker paru - paru atau sebagian jaringan sehat yang ada di paru - paru, jika diperlukan.


"Semuanya siap?" tanya Alya sambil menatap seluruh kru operasi.


"Siap, Dokter" kata semua kru operasi sambil mengangguk yakin.


"Dokter Harun siap?" tanya Alya.


"Siap, Dokter" jawab Dokter Harun yang ada di hadapan Alya.


Hadapan seberang maksudnya, jadi di tengah - tengah mereka ada meja operasi yang sudah ada pasiennya tadi.


"Operasinya nanti akan berjalan sekitar 2,5 jam" kata Alya pada Dokter Harun.


"2,5 jam, Dok?" tanya Dokter Harun.


Alya mengangguk.


"Kemarin waktu Dokter Riko yang ngoperasi dan kasusnya sama seperti pasien ini, berjalan 4 jam" kata Dokter Harun.


"Mmm, kalo saya biasanya ambil tengah - tengah. Kan biasanya lama prosedur torakotomi itu 2 - 5 jam, jadi saya ambil 2,5 jam" ucap Alya.


"Dokter anastesi, sudah bisa dimulai?" tanya Alya pada dokter anastesi.


"Sudah, Dok. Silakan dimulai" jawab dokter anastesi.


"Mess" kata Alya.


Suster Rani lalu memberikan pisau bedah pada Alya. Mess itu pisau bedah.


Alya mulai melakukan sayatan ke dada pasien.



Dokter Harun langsung melakukan penghisapan pada sayatan yang dibuat Alya sebelum Alya meminta untuk melakukannya. Kan waktu disayat gitu pasti keluar darahnya dan biasanya ada penyedotnya supaya darahnya gak jatuh kebawah, karena kalo kebawah kan ya kotor dan menganggu operasi. Jadi ada alat penghisapnya untuk menyedot darah dan nanti masuk ke tabung gitu, terus kalo udah selesai nanti darah tersebut dibuang karena itu darah kotor.


"Anda lebih tanggap dari yang kukira, Dokter Harun" kata Alya.


"Terima kasih, Dokter" kata Dokter Harun.


Setelah itu dada pasien sudah terbuka hingga dalam.


"Retractor" kata Dokter Harun.


Suster Rani memberikan retractor pada Dokter Harun. Retractor adalah penarik, untuk membuka luka operasi menjadi lebih lebar supaya bagian dalamnya keliatan dan bisa dioperasi.


"Sternal saw" kata Alya.


Suster Rani lalu memberikan sternal saw pada Alya. Alya menyalakannya sebentar untuk mengecek apakah alat tersebut berfungsi.


Sternal saw dalam Bahasa Indonesia disebut gergaji sternum. Gergaji ini adalah alat yang digunakan untuk melakukan sternotomy median atau membuka dada pasien dengan memisahkan tulang dada atau sternum.



Setelah Alya menyalakannya sebentar untuk mengecek alat tersebut dan ternyata berfungsi, ia lalu membelah tulang dada pasien dengan itu dan terlihatlah paru - paru pasien.


Alya dan Dokter Harun sudah berhasil mengangkat sel kanker tersebut dan tinggal menutup luka operasinya saja.


"Anda bisa menutupnya, Dokter Harun?" tanya Alya pada Dokter Harun tentang apakah Dokter Harun bisa menutup luka operasi itu sendiri.


"Aku belum pernah melakukannya, Dokter. Tapi aku tau caranya" jawab Dokter Harun.


"Kalau begitu lakukan" kata Alya sambil memberi isyarat dengan kepalanya.


"Apa, Dokter?" tanya Dokter Harun.


"Lakukan penutupannya" kata Alya.


"Tapi....Dokter" kata Dokter Harun.


"Anda adalah residen bedah jantung tahun ke-6 dan akan lulus bulan depan. Anda harus mencoba untuk melakukannya, Dokter Harun" tegas Alya.


Dokter Harun hanya diam sambil melihat luka operasi pasien.


"Anda tidak mau? Kalau begitu baiklah, saya sendiri yang akan melakukannya" kata Alya.


"Jarum jahit 4.0" kata Alya.


Suster Rani akan memberikan jarum jahit berukuran 4.0 pada Alya. Namun, Dokter Harun mengatakan sesuatu.


"Baik. Saya akan melakukannya, Dokter" kata Dokter Harun.


Suster Rani menatap Alya, Alya lalu memberikan isyarat dengan kepalanya yang berati menyuruh Suster Rani untuk memberikan jarum jahitnya pada Dokter Harun.


Dokter Harun sudah mantap dan akan mulai menusukkan jarum ke luka pasien.


"Scissor" kata Alya meminta gunting yang akan digunakan untuk memotong benang setelah menjahit nanti.


Suster Rani lalu memberikannya.


"Cut" kata Dokter Harun meminta Alya untuk memotong benangnya.


Jahitan pertama selesai dan lanjut ke jahitan berikutnya.


Saat jahitan kedua, Dokter Harun tidak sengaja menyenggol pembuluh darah arteri pulmonalis dengan gunting yang ia gunakan untuk memegang jarum jahitnya dan akhirnya pembuluh darah tersebut pecah dan darahnya muncrat ke muka Dokter Harun dan Alya.


Arteri pulmonalis adalah pembuluh besar yang keluar dari jantung dan menuju paru - paru dan ia juga bertugas untuk membawa darah karbon dioksida menuju paru - paru dan kalo udah sampe paru nanti ada pertukaran gas antara oksigen dan karbon dioksida. Dan kali ini pembuluh darah ini pecah dan oksigen juga karbon dioksida tidak bisa bertukar, lalu pasien akan mengalami gagal napas bahkan gagal jantung jika pembuluh itu tidak segera dijahit.


"Maafkan saya. Sepertinya saya tidak sengaja menyentuh arteri pulmonalisnya" kata Dokter Harun setelah darah muncrat dari pasien itu.


"Vital?" tanya Alya pada dokter anastesi.


Vital itu maksudnya tanda vital. Itu kek denyut nadi, frekuensi pernapasan dan tekanan darah gitu loh.


"Tekanan darahnya terus menurun dari 60, Dok" jawab dokter anastesi.


"Berikan epinephrine dan aku akan mengatasi pendarahannya" kata Alya sambil memasukkan tangan kanannya ke luka pasien untuk mencari pembuluh yang pecah.


"Maafkan saya, Dokter" kata Dokter Harun.


Alya tersenyum.


"Ini bukan masalah, jadi tidak usah minta maaf" jawab Alya sambil terus mencari pembuluh yang pecah.


"Ketemu" kata Alya yang udah nemuin pembuluh pecah tadi dan segera menyumbat pendarahan pasien pake jari telunjuknya.


"Tanda vitalnya sudah berada di tingkat aman, Dokter" kata dokter anastesi.


Dokter Harun menghela nafas lega.


"Anda senang sekarang?" tanya Alya.


Dokter Harun mengangguk dengan senyum pepsodent. Alya juga tersenyum kecil. Tapi gak keliatan karena mereka pake masker.


"Hemostat" kata Alya pada Suster Rani.


Suster Rani lalu memberikan hemostat.


Hemostat itu penjepit buat njepit pembuluh darah supaya darahnya nggak keluar ada juga yang buat njepit usus.


"Apakah boleh jika saya yang menjahitnya, Dokter?" tanya Dokter Harun.


"Okey, gapapa. Kamu pasti bisa" jawab Alya.


Setelah itu Dokter Harun menjahit pembuluh darah itu. Dan setelah semua itu, Dokter Harun menutup luka operasi pasien dan memakaikan perban pada luka pasien itu.


"Kalian semua sudah bekerja keras" kata Alya sambil melepas jubah operasinya.


"Anda juga, Dokter" kata semua kru operasi.


Alya lalu keluar dari ruang operasi.


.


.


.


.


.


Alya berhasil menyelamatkan pasien tadi. Hebat, marvelous marvelous 👏👏👏.


Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.