
Alya p.o.v
Saat sampai dan masuk ke dalam rumahnya, Tiara langsung memeluk Alya.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Alya.
Tiara melepaskan pelukannya dan menangis sangat keras.
Karena disana ada Cia, ia membawa Tiara ke kamarnya untuk membicarakan tentang apa yang terjadi. Kan anak kecil gaboleh tau urusan orang dewasa kan yee.
"Kenapa, Tiara? Bicara yang tenang dulu" kata Alya.
"Gue udah gapunya siapa - siapa disini. Nyokap gue meninggal waktu gue masi kecil, terus bokap gue dibunuh sama kakak ipar gue dan sekarang kakak gue juga dibunuh sama kakak ipar gue" kata Tiara sambil menangis sangat keras.
Alya memeluk Tiara dengan erat.
"Tapi gimana lu bisa tau kalo Kak Fira juga udah dibunuh sama Fahmi? Bahkan gue aja belum tau" tanya Alya.
"Kakak ipar gue sendiri yang bilang ke gue" jawab Tiara.
"Kok aneh ya. Ngapain bunuh orang dan bilang ke keluarganya kek gini?? Fahmi kesambet apaan??" batin Alya.
"Tenang aja. Gue gaakan diem kok. Gue udah punya rekaman kesaksian dari kakak lu soal Fahmi dan udah gue serahin ke polisi. Jadi, dia bakal ditangkep setelah rekaman itu terverifikasi" kata Alya.
Malam telah tiba, Alya menyarankan Tiara untuk tidur di rumahnya agar Fahmi tidak mengincarnya. Karena selama para pekerja dari rumah kakeknya yang dulu tinggal di rumahnya, Fahmi sama sekali tidak menyentuh mereka. Tapi setelah mereka tinggal di vila Alya yang di Bandung, mereka langsung ditindak oleh Fahmi di eps 44.
"Pa" panggil Alya di kamar Heri.
Heri menaruh jari telunjuknya di bibir untuk memberi isyarat pada Alya agar tidak terlalu keras jika berbicara karena Cia sedang tidur.
"Diluar aja" kata Heri dengan berbisik.
Mereka berdua lalu keluar kamar.
"Alya mau tanya. Papa tau Andra dimana? Kok jam segini belum pulang sih. Padahal dia udah gaada di rumah dari pagi" ucap Alya.
"Papa juga gatau. Mungkin dia pergi nongkrong, kan dia masih anak muda" jawab Heri.
"Ya tapi kan, Pa. Ini udah malem, masa nongkrongnya selama ini. Lagian Andra itu bukan tipe orang yang gak ngabarin lho kalo dia emang gak pulang" kata Alya.
"Iya juga sih" kata Heri.
"Kemana ya dia" kata Alya.
Tiba - tiba Dito menelepon Alya.
"Halo, kenapa lu tiba - tiba nelpon gue?? Jangan - jangan lu sama kek kakak lu lagi, ngancem gajelas" kata Alya.
"Gue gasama kek Fahmi. Gue nelpon lu, justru karena mau bantu lu" jawab Dito.
Alya tertawa kecil.
"Mana mungkin adek dari musuh gue mau bantu gue" ucap Alya.
"Gue serius. Kakak gue mungkin psycho tapi gue nggak. Mana nyokap gue bantuin dia terus lagi dan gue yang sehat gak dipeduliin. Gue muak sama semua ini. Gue mau bantu lu karena gue percaya lu bisa ngelawan kakak gue" kata Dito.
"Okay, jadi apa bukti lu kalo lu emang gasama kek Fahmi dan mau bantu gue?" tanya Alya.
"Adek lu disekap sama Fahmi di suatu gudang besar yang ada di Jakarta. Gue kirim alamatnya sekarang ke lu" kata Dito.
"Lu ngomong gitu karena disuruh Fahmi kan? Cuma buat mancing gue aja" kata Alya.
"Gue serius. Ini gue lagi perjalanan kesana. Nanti kalo gue udah disana, gue foto dan kirim ke lu fotonya" kata Dito.
"Gue tunggu fotonya" jawab Alya dan mematikan teleponnya.
"Sial" kata Dito sambil memukul setir mobilnya. Kan dia lagi nyetir mobil ke tempat kakaknya nyekap Andra.
Ia lalu mempercepat mobilnya.
Sementara di tempat Alya.
"Siapa, Al?" tanya Heri.
"Dito, Pa. Katanya Andra disekap sama Fahmi" jawab Alya.
"Dia pasti cuma mau mancing kamu aja" kata Heri.
Beberapa menit kemudian. Dito mengirim foto Andra yang sedang disekap oleh Fahmi, bahkan Andra disiksa oleh Fahmi. Dito mengambil foto itu diam - diam tanpa diketahui oleh Fahmi karena dia memang serius ingin membantu Alya.
Alya membelalakkan matanya melihat foto yang dikirim Dito.
"Pa, Alya pergi dulu. Ternyata Andra emang bener - bener disekap sama Fahmi, Pa" pamit Alya.
"Kamu galapor polisi?" tanya Heri.
"Gausah, Pa" jawab Alya.
Alya masuk ke mobilnya dan langsung menancap gas untuk pergi ke gudang yang alamatnya sudah diberi oleh Dito.
Sementara di tempat Fahmi, Andra dan Dito.
"Kakak lu gabakal dateng kesini. Karena dia gatau kalo lu lagi disini" kata Fahmi.
"Bahkan kalo gue bunuh lu sekarang, dia juga gabakal tau" lanjutnya.
"Gue justru seneng gini. Gue gasuka jadi kelemahan kakak gue. Mending lu langsung bunuh gue sekarang aja, gausah basa - basi lagi" kata Andra yang sudah babak belur karena sudah disiksa Fahmi sedari tadi.
Fahmi mengangkat pistolnya dan bersiap menembak Andra. Lalu tiba - tiba Dito memeluk Andra.
"Dorr" suara tembakan Fahmi.
Dan yang tertembak bukan Andra melainkan Dito. Dito tertembak di punggung bagian kiri dan mungkin pelurunya masuk sampai ke dalam jantungnya. Dito lalu tergeletak di bawah.
Andra yang menutup matanya mengira ia yang akan mati merasa sangat kaget setelah membuka matanya dan ternyata yang tertembak bukanlah dia.
"Sebentar lagi, Alya kesini. Gue udah kasih tau dia dan ini adalah waktunya lu abis" ucap Dito dengan menahan rasa sakitnya.
Setelah berbicara begitu, Dito langsung batuk dan memuntahkan darah lalu ia tidak sadarkan diri.
"Bagus lu nelpon dia kesini. Karena dengan gitu, dia bisa gue abisin juga" kata Fahmi.
"Kakak gue bukan sembarang orang yang bisa lu abisin gitu aja" ucap Andra.
"Oh ya?" tanya Fahmi.
"Gue jadi pengen tau. Gimana sih sebenernya kekuatan mafia keluarga Brechtje yang terkenal banget di Belanda" lanjut Fahmi.
.
.
.
.
.
Gajadi iba deh sama Fahmi. Adeknya sendiri masa dibunuh.
Pengarang akan sangat berterima kasih apabila kalian stay dan membaca terus novel ini, sertakan like dan komen yaaaa. Boleh promosi juga kokk, pengarang bakal seneng banget kalau bisa dapet temen yang baik dari ini. 😊😊😊.