
Vivian mengendap-endap di belakang punggung Bayu sambil mengintip layar CCTV untuk lihat siapa tamu yang menekan bel di luar apartemen tempat mereka tinggal bersama di Singapura.
"Kak Devano... " Kata Vivian menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Iya, ngapain tuh orang datang ke apartemen kita tanpa bilang-bilang terlebih dahulu? " Tanya Bayu meremang melihat kehadiran Devano di depan pintu rumahnya.
"Sebaiknya kamu bukakan pintunya untuk Kak Dev, Bay. Aku akan melompat keluar dari jendela supaya Kak Dev tidak melihat aku di rumahmu dalam keadaan seperti ini. " Kata Vivian nada tergesa-gesa kepada Bayu yang melongo tak bisa memberikan jawaban kepada tunangannya itu.
"Hei, Vi.. Tunggu...! " Teriak Bayu melihat Vivian telah menyambar pakaian dengan cepat dan lari dari jendela.
"Bayu Putra Wijaya buka pintunya atau aku akan dobrak nih. " Kata Devano Wandani mengancam pintu rumah Bayu akan di dobrak oleh pemuda tampan asal Los Angeles itu
"Eh, ya ya sabar.. Aku datang.. " Jawab Bayu dengan malas-malasan berjalan ke pintu untuk membukakan pintu bagi Devano Wandani yang tanpa sungkan lagi telah duduk di sofa panjang di ruang tamu apartemen Bayu sambil tangan kanannya itu mengambil buat apel merah di mangkuk buah di meja tamu.
"Lama banget sih kamu bukain pintu untuk aku saudara mu sendiri. " Gerutu Devano Wandani sambil mengigit buah apel dan mengunyah buah apel dengan santai.
"Maaf, soalnya aku baru bangun tidur, saudara ku yang bawel. Ohya, ada apa kamu datang ke Singapura? " Bayu duduk di sofa pendek dekat jendela seraya melirii Vivian yang melompat dari jendela untuk kabur dari Devano Wandani yang tentunya akan mengamuk kalau pria itu tahu kalau Bayu dan Vivian telah tidur bersama sebelum mereka menikah.
"Ya, karena aku merasa bosan dengan kota Los Angeles semenjak Ruby mengatakan bahwa ia ingin kembali ke dunia showbiz nya di Hollywood dan bertentangan dengan ku soal sekolahnya Ziko putra Kami yang besar. Ah, semua itu buat aku mumet banget. " Kata Devano Wandani yang malah curhat kepada Bayu.
"Oh, ternyata seorang Devano Wandani juga punya masalah di rumah tangganya karena istri yang di cintainya memiliki perbedaan pendapat dengannya. " Kata Bayu memutar sepasang bola matanya mendengarkan curhatan Devano.
"Iya yalah, aku ini juga manusia biasa yang tak pernah bisa lepas dari permasalahan hidupku. " Kaya Devano Wandani yang berjalan masuk ke kamarnya Bayu dan menjatuhkan dirinya di ranjang dengan nyaman lalu tertidur pulas tanpa ada rasa beban sama sekali di benak Devano Wandani.
"Uuugh, keterlaluan sekali nih orang muncul tak bilang- bilang. " Kata Bayu mengepalkan tangan nya dengan geram kepada Devano Wandani yang anteng sekali tidurnya di ranjangnya
Vivian Wandani merayap turun dari tembok di samping kamar dan turun di depan seorang pria asal India yang melongo melihatnya turun dari gedung apartemen yang tinggi dengan cara merayap seperti cicak.
" Apa lihat- lihat? Apakah kamu belum pernah melihat spiderwoman yang merayap di tembok? " Tanya Vivian Wandani nada ketus kepada pria asal India.
"Iya, aku memang belum pernah melihat wanita Laba-laba seperti mu. " Jawab pria asal India itu dengan wajahnya yang polos kepada Vivian Wandani.
" Iiihhhh.. Nehi -nehi banget deh aku ngulangin cara kabur dari Devano Wandani menjengkelkan itu. " Kata Vivian Wandani menggeretakkan gigi di depan pria asal India yang makin kaget lihat kelakuannya itu.
Vivian Wandani melewati pria asal India menuju ke mobilnya yang terparkir di parkiran gedung apartemen. Lalu, Vivian Wandani meninggalkan gedung apartemen milik Bayu dengan mobilnya yang melaju dengan kecepatan.
*****
Soledad menyeret kopernya meninggalkan area bandara internasional Dublin. Ia menangis sedih merindukan Eduardo Xi pria yang menjadi ayah dari bayi yang di kandungnya saat ini. Ia tidak tahu bagaimana cara dirinya menghubungi pria asal China yang telah terpisah darinya karena Ia tak bisa lagi mengunjungi negara itu karena ia tak memiliki uang yang cukup besar untuk saat ini.
"Halo, selamat datang kembali di Dublin, honey? " Sapa seorang pria asal Belanda yang mendekat kepada Soledad di pintu lobi bandara.
"Frank, kau datang ke Dublin? Sejak kapan kamu bisa berada di sini? " Tanya Soledad antusias melihat kehadiran saudara sepupunya yang amat tampan itu.
" Hmm, maaf kenapa wajahmu berbeda dengan wajahmu yang dahulu, Soledad? " Tanya Frank sempat meragukan keaslian Soledad di depan mata pemuda usia dua puluh sembilan tahun.
"Ya, karena aku pernah mengalami kecelakaan pesawat beberapa waktu lalu yang membuat ku harus operasi plastik dengan mengganti wajah ku seperti wajah gadis lain yang sangat aku benci. " Jawab Soledad dengan nada getir sekali kepada Frank.
"Begitukah? " Tanya Frank membukakan pintu mobil sport untuk Soledad dengan alisnya yang indah terangkat.
"Iya, Frank. Sudahlah lupakan saja masa lalu yang menyebalkan sekali bagiku." Jawab Soledad menghela napas dalam-dalam sebelum masuk ke mobil sepupunya.
"Soledad, lalu apa rencana mu kedepannya usai kamu bercerai dengan suamimu yang dungu itu? " Tanya Frank penasaran kepada Soledad yang duduk di kursi sebelahnya.
"Melahirkan bayiku seorang diri lalu mencari pria kaya raya yang mau membantuku untuk balas dendam kepada orang-orang yang memisahkan aku dan Eduardo Xi yang terpincut uang dan harta warisan Nenek busuk itu." Jawab Soledad dengan nada tegas untuk mengubah nasibnya yang malang itu.
" Hmm, kau memang seorang wanita yang amat tangguh, Soledad. Aku percaya kamu pasti bisa menemukan orang yang lebih kaya daripada orang-orang sombong yang seenaknya saja menggunakan mu dan membuang mu seperti sampah." Kata Frank meremas buku jari tangan Soledad untuk memberikan dukungan kepada sepupunya itu.
"Frank, bisakah kamu memperkenalkan diriku dengan seorang pria kaya raya dengan wajahku yang cantik ini? " Pinta Soledad menoleh ke arah Frank yang memberinya ciuman singkat.
"Bisa." Jawab Frank yang menjilati rahang halus Soledad sambil menyetir mobilnya menuju ke arah barat kota Dublin.
"Hmm, siapa pria kaya raya itu yang bisa bantu aku untuk membalas dendam kepada mereka yang menyakiti ku? " Tanya Soledad memukul rahang Frank dengan sikut kanannya sampai pria menjerit kesakitan pada rahangnya yang di remuk oleh Soledad.
"Aduh, sakit Soledad..! Aku pria kaya raya yang sejak dahulu mencintaimu tetapi kamu selalu menolak ku dengan alasan yang membuat aku jenuh mendengarnya. " Jawab Frank yang telah menghentikan laju mobilnya karena mereka telah sampai di sebuah mansion yang termewah di kota Dublin bagian barat.
" Rumah ini punya siapa, Frank? " Tanya Soledad dengan napasnya yang tercekat karena kagum dengan kemegahan mansion di depan mereka.
" Rumah Tuan Besar Gao. " Jawab Frank yang telah membukakan pintu mobil untuk Soledad keluar.
" Rumah Tuan besar Gao? Siapakah Tuan besar Gao itu? " Tanya Soledad tak pernah bisa percaya bahwa Frank membawanya ke rumah orang besar seperti Tuan besar Gao.
Bersambung!