I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 49.



"Aku tak mungkin menderita penyakit kanker lambung stadium akhir,dokter.. " kata Devano di hadapan semua tim dokternya dengan nada tak percaya dengan hasil pemeriksaan kesehatan fisiknya.


"Tuan Devano,kami tahu betapa beratnya bagi Anda untuk menerima kenyataan bahwa Anda kini hanya memiliki waktu hidup selama tiga bulan saja dan hasil pemeriksaaan kesehatan anda dari kami adalah kebenaran yang hakiki. " kata tim dokternya dengan nama sabar.


"Aku tak percaya pada kalian semua..! " teriak Devano yang melemparkan botol infus di tiang slang infus nya ke arah tim dokternya dengan marah.


Tim dokternya segera menghindari botol infus itu sehingga botol infus jatuh ke lantai dan suara pecahannya terdengar oleh Ruby yang langsung bangun dari tidurnya dengan kaget sekali.


"Apa yang telah terjadi? Devano.. Kau dimana?? " tanya Ruby cepat mencari- cari suaminya yang berhasil ditemukannya di ruang lain dari kamar pasien.


Ruby terperangah melihat pecahan botol infus di lantai juga tangan kanan Devano yang terluka dan mengucurkan darah ke lantai. Wanita itu pun segera menghampiri suaminya dengan panik di wajahnya.


"Devano apa yang sudah kamu lakukan? Lihatlah tangan kananmu berdarah! " ucap Ruby cepat memegangi tangan kanan Devano sambil cepat menengok kepada tim dokter yang menangani suaminya.


"Apa yang kalian tunggu?! Ayo cepatlah kalian obati tangannya..! " ucap Ruby tegas.


"Iya, Nyonya..! " jawab tim dokter segera tangani masalah pada tangan kanan Devano.


Devano menyentakkan tangan kanannya dengan kasar. "Aku tak mau kalian sentuh..! " bentuknya dengan melotot tajam. "Aku sudah tak pernah percaya kepada kalian semua..!!


" Devano.. Kau jangan membentak mereka dan mengusir mereka dengan kasar.. "kata Ruby yang marah juga dengan sikap kasar suaminya terhadap tim dokter yang ketakutan dibentak oleh suaminya itu.


" Mereka..? "


"Diam! " bentak Ruby mengejutkan Devano.


Devano terdiam kaget melihat istrinya memarahi dirinya dan Ruby yang melihat suaminya diam di dekatnya segera mengajak suaminya mendekati tim dokter yang langsung mengobati tangan kanan suaminya.


"Kalau kau bersikap dewasa seperti ini, maka kau takkan pernah membuat mereka berlama- lama di depanmu sehingga kamu tak pernah bisa istirahat dengan tenang. " omel Ruby lagi.


"Habisnya mereka bilang aku ini sakit kanker lambung stadium akhir.. " kata Devano cemberut di marahi Ruby.


"Mmm.. Tak mungkin kau sakit kanker lambung stadium akhir karena kamu bisa membentak mereka sampai mereka ketakutan seperti itu. Sekarang! Kau berbaringlah di tempat tidur dan tidurlah dengan tenang. " kata Ruby memaksa Devano untuk tidur.


"Ruby, kau galak sekali kepadaku.. " kata Devano dengan sikap manja kepada Ruby.


"Kau bisa galak kepada semua orang kenapa aku tak bisa galak kepadamu yang nakal selalu dan meresahkan hatiku yang selalu merasakan kecemasan terhadap dirimu.. " kata Ruby yang mencubit hidungnya yang mancung dengan sikap gemas.


"Aduhhh, sakit hidungku, Ruby. " kata Devano di tempat tidur dengan senyuman manis sekali.


"... " gumam Ruby yang melotot karena Devano menariknya untuk berbaring di tempat tidur di sisi kanan Devano.


"Temani aku sampai aku terlelap, ya? " pinta Devano memeluk Ruby dengan erat .


"Iya.. Nah, tidurlah di sampingku.. " jawab Ruby yang membalas pelukan Devano.


"Dev,Kau harus melihat kelahiran dua orang bayi kembar kita yang sebentar lagi akan lahir ke dunia melalui rahimku ini." kata Ruby menangis di pelukan Devano yang sudah tidur pulas di sisi kirinya.


Ruby sudah mendengar bahwa hidup suaminya itu hanya tiga bulan lagi karena itu Ia meminta izin dari tim dokter untuk mengizinkan suaminya pulang ke rumah mereka untuk menghabiskan sisa hidupnya bersamanya dan anak-anak mereka di rumah mereka.


"Baiklah, Nyonya Wandani. Kami izinkan Tuan Devano Wandani pulang ke rumah kalian pada esok hari usai pemeriksaan kesehatannya untuk memastikan kankernya tidak terlalu ganas untuk menyerang organ tubuhnya yang lain. " kata tim dokter memahami Ruby.


"Nyonya Wandani,Anda juga harus menyiapkan diri untuk proses melahirkan kedua bayi kembar anda yang akan datang pada hari rabu ini yaitu dua hari setelah kepulangan suami Anda ke rumah Anda." kata dokter spesialis kandungan kepada Ruby di luar kamar pasien Devano.


"Ya, Dok terimakasih atas informasi yang kamu berikan kepadaku. " jawab Ruby segera.


Keesokan harinya Devano benar-benar pulang ke rumah mereka dengan senyuman lebar di wajah tampan pria muda itu. Devano bahkan mengajak anak-anaknya bermain mobil balap di sirkuitnya di rumah mereka yang megah.


"Papa.. Aku akan menang kalau aku main dua kali putaran lagi.. " kata Zicco yang hari itu wajib untuk pulang dari sekolahnya di Barcelona untuk menghabiskan waktu bersama Devano Wandani.


"Papa.. Aku mau main panahan saja.. " kata Lisa putri kembarnya yang membawa busur panah di punggung.


"Papa.. Aku mau main boneka di sini.. " kata Brenda kembaran Lisa yang duduk di rumput di taman bunga pribadi rumah mereka.


"Iya.. Ya, silakan kalian bermain sepuasnya di hari ini dan seterusnya bersama Papa kalian.... " kata Devano Wandani tertawa senang melihat anak-anaknya berkumpul bersama dengannya.


Ruby mendatangi mereka dengan membawakan beberapa macam camilan di keranjang anyaman yang dibawa dari dalam rumah ke taman bunga pribadi dan menata piring berisi camilan di atas tikar yang digelar di rumput.


"Suamiku.. Anak-anakku mari kalian duduk dulu untuk makan camilan kalian di atas tikar ini. " kata Ruby memanggil keluarganya yang sedang sibuk bermain di taman bunga pribadi mereka untuk bergabung dengannya.


"Iyaa.. Mama sayang.. kami datang...! " sahut keluarganya yang segera mengelilinginya di atas tikar yang didudukinya.


"Wahh.. Ada camilan popcorn kesukaanku... " kata Zicco mengambil camilan kesukaannya dari keranjang anyaman di atas tikar dekat Papanya.


"Wah, ada camilan kue pai rasa buah... " kata Lisa mengambil piring kecil isi kue pai rasa buah arbei kesukaannya.


"Aku mau camilan puding rasa jeruk.. " kata Brenda mengambil cemilannya dengan gembira.


"Aku mau camilan yang berbeda dari merekalah darimu, sayang." kata Devano merangkul Ruby yang wajahnya di hadapkan dengan Devano dari samping lalu mencium bibir Devano.


"Ehh, Dev.. Jangan disini.. Lihat kita diperhatikan oleh anak-anak kita tuh.. " kata Ruby menutup mulutnya dengan saputangan sutra miliknya lalu menunjuk ke arah anak-anak mereka yang sudah tertawa melihat mereka berdua.


"Hahahhaha.. Kami senang kok kalau Papa dan Mama selalu harmonis seperti ini..! " sorak sorai anak-anak mereka.


"Kalian sungguh nakal ya..? "Devano dan Ruby segera memeluk anak-anak mereka dengan cinta yang besar untuk anak-anak mereka.


Bersambung!!