I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 16



"Sayang.. Bagaimana cara kerjaku tadi berakting bersama denganmu? " Devano merangkul Ruby dari belakang sesudah merapikan dirinya di ruang rias.


"Lumayan." Jawab Ruby masam.


"Loh, kenapa wajahmu masam gitu sih? " Tanya Devano mengajaknya keluar dari lokasi syuting film mereka.


"Aku lapar ingin makan enak sehabis kerja padat seharian ini. " Ruby mengangkat wajahnya yang cantik.


"Oh, ya sudah, yuk kita cari resto untuk makan malam sebelum kita pulang ke rumah. " Devano membukakan pintu mobil untuk Ruby masuk lalu Devano memutar jalan lalu membukakan pintu mobil untuknya.


Mobil meluncur keluar dari area lokasi syuting ke arah jalan raya dengan kecepatan tinggi namun tetap sesuai dengan peraturan lalu lintas dalam mengendarai mobil.


Setibanya mereka berdua di restoran yang telah di pesan oleh Devano sebelum mereka datang ke restoran itu. Mereka di sambut baik oleh para staff bahkan cheff dari restoran itu sendiri di tempat duduk mereka.


"Selamat datang untuk Tuan dan Nyonya besar Wandani silakan anda berdua menunggu pesanan akan datang ke meja anda berdua. " Kata pelayan restoran ini dengan senyuman di bibir menyambut hari Devano Wandani dan Ruby Yolanda seraya memberikan buku daftar menu makanan dan minuman khas dari restoran itu kepada Devano Wandani dan Ruby Yolanda.


"Sayang, kau mau makan malam dengan menu apa? " Tanya Devano Wandani mendekatkan diri kepada Ruby Yolanda di seberang meja makan yang membatasi mereka.


"Aku mau makan malam menu nomor tujuh dan minumnya nomor tiga." Jawab Ruby Yolanda yang memesan makanan dan minuman untuk dirinya sendiri kepada pihak restoran.


"Baik, kalian semua siapkan menu makanan dan minuman yang dipesan oleh istriku. " Kata Devano Wandani memberikan buku daftar menu makanan dan minuman kepada pihak restoran.


"Siap, Tuan besar Wandani.. Kami akan segera menyiapkan pesanan Anda. " Jawab pihak restoran dengan segera.


Selagi mereka menunggu pesanan makanan dan minuman mereka datang. Sudut mata kiri Devano menemukan sosok seorang gadis muda yang berjalan dengan langkah tenang menuju ke arah sisi lain dari restoran itu dan ia mengenali gadis itu adalah sepupunya sendiri.


"Sonya? Dia mau apa datang ke restoran ini dan berjumpa dengan siapa dia itu? " Pikir Devano Wandani yang mendongak ke lantai atas untuk melihat sosok pria yang akan ditemui oleh Sonya Wandani.


"Kamu lihat siapa sampai segitunya? " Tanya Ruby Yolanda ikut melihat ke arah atas yang di lihat oleh suaminya itu.


"Loh, bukannya dia itu Rivan Gao? " Ucap Ruby Yolanda rupanya mengenal pria tampan yang ditemui Sonya Wandani di lantai atas restoran itu.


"Kau mengenal Rivan Gao seorang milyader kelas bonafide di Asia Pacific? "Tanya Devano Wandani menatap istrinya dengan ingin tahu.


" Iya, dia dulu fans berat ku yang memiliki sifat buruk pokoknya sampai perusahaan agensi ku menyiapkan bodyguard untuk menjagaku di setiap hariku sebagai selebriti Hollywood yang terkenal. "Jawab Ruby Yolanda dengan nada jujur kepada Devano Wandani seraya mengambil pisau dan garpu untuk memotong daging steak di atas piringnya lalu menyuap daging steak ke mulutnya.


" Emmm, dia berbahaya dong.. Ah, aku harus melindungi Sonya Wandani dari pria berbahaya itu. "Kata Devano Wandani yang meninggalkan Ruby Yolanda untuk naik ke lantai atas untuk menemui Sonya Wandani yang sedang berbicara dengan serius di depan Rivan Gao.


"Kak Dev, ada apa? " Tanya Sonya Wandani yang kaget sekali karena Devano Wandani telah raih jemarinya untuk mengajaknya pergi dari Rivan Gao.


"Sonya, kau tak boleh berteman dengan orang itu. " Jawab Devano Wandani yang menariknya untuk turun ke lantai bawah untuk bergabung dengan Ruby Yolanda yang menunggu mereka dengan wajahnya kaget melihat Devano begitu melindungi adiknya sekali.


"Tuan besar Wandani, tolong kamu jangan salah paham terhadap ku yang sama sekali tidak seperti yang kamu pikirkan. " Kata Rivan Gao yang segera menyusul mereka di lantai bawah.


"Salah paham atau tidak. Hal itu bisa kamu cerna sendiri...!" Bentak Devano Wandani yang memanggil bodyguard dan pihak restoran untuk mengusir Rivan Gao dari restoran itu.


"Kak Devano kau jangan bersikap seakan-akan kamu mempedulikan aku! Aku tahu kau selama ini tidak pernah ingin tahu mengenai urusanku..! " Suara keras Sonya Wandani kepada Devano Wandani.


"Apa kamu bilang? Aku ini kakakmu, jadi wajar dong kalau aku ingin melindungi mu?? " Devano Wandani menatap lekat -lekat Sonya Wandani di depannya.


"Cihhh, Kakak macam apa kamu yang sudah membuat aku bercerai dengan pria yang aku cintai?! Kakak macam kamu yang hanya bisa membuat hidup ku sengsara..?! " Sonya Wandani mencibir Devano Wandani.


"Aku tahu selama ini aku kurang memperhatikan mu tapi itu aku yang dulu namun sekarang aku sudah berubah jadi kakak yang baik untuk mu." Kata Devano Wandani menahan lengan Sonya Wandani saat adiknya ingin melewatinya untuk kembali kepada Rivan Gao yang menunggu adik nya di dekat pintu masuk ke restoran.


"Ughh, aku seumur hidup tidak percaya padamu, Devano Wandani. Kau dengar itu?! " Teriak Sonya Wandani kepada Devano Wandani.


"Dev, sabar... " Kata Ruby Yolanda menyentuh lengan Devano Wandani untuk meredakan emosi suaminya terhadap Sonya Wandani yang tidak mempercayai suaminya yang ingin melindungi adiknya dari seorang pria yang telah diketahui oleh Ruby Yolanda sebagai seorang yang tak bisa dipercaya sebagai seorang pria baik.


Sonya Wandani malah mendengus kepada Ruby Yolanda dengan tatapan matanya merendahkan Ruby Yolanda lalu menendang lutut Devano Wandani sehingga gadis itu lari bersama dengan Rivan Gao yang di ajak keluar dari restoran untuk pergi dari Devano Wandani.


"Heii, Sonya.. ! "Teriak Devano Wandani yang ingin mengejar Sonya Wandani telah di cegah oleh Ruby Yolanda yang memegangi perutnya itu dengan wajahnya pucat.


" Ruby, kau kenapa? " Tanya Devano Wandani yang menggendong Ruby Yolanda keluar dari restoran dengan berlarian masuk ke mobilnya di depan pintu masuk ke restoran.


Devano Wandani membawa Ruby Yolanda ke rumah sakit terbaik di kota Las Vegas lalu pria ini terkejut dengan hasil laporan kesehatan Ruby Yolanda dari dokter yang menangani masalah kesehatan istrinya itu.


"Tuan besar Wandani, sesudah kami memeriksa seluruh kondisi istrimu ternyata kami telah menemukan adanya penyakit serius pada dalam perut isteri anda yaitu istri anda mengidap penyakit kanker usus stadium tiga." Kata Dokter Belinda yang memberikan laporan kesehatan Ruby Yolanda kepada Devano Wandani yang seketika itu juga memecat pada wajahnya yang tampan.


"Apaa? Kau jangan ngawur, ya?? " Devano Wandani tidak mempercayai laporan kesehatan Ruby Yolanda yang telah disampaikan oleh Dokter Belinda kepadanya.


Bersambung!!