
Kota Los Angeles, USA.
Seorang pria muda tampan duduk di kursi putar yang menghadap ke meja kaca di depannya dan seorang anak laki-laki berusia delapan tahun di sofa pendek di ruangannya.Pria ini melipat kedua tangannya di atas laptopnya dengan sinar matanya menegur anak kecil di depannya itu.
"Zicco, Papa sudah mendapatkan laporan yang terbaru dari Mama mu di rumah mengenai kamu di sekolahmu sangat nakal ya sampai guru -guru mu banyak yang mengeluh atas kenakalanmu di sekolah. " kata Devano Wandani yang menatap lurus putra sulungnya.
"Papa, aku tak pernah melakukan kenakalan di sekolah ku, kok. " kata Zicco menundukkan wajahnya.
"Kalau kamu tak pernah melakukan kenakalan di sekolah mana mungkin ada laporan sebanyak ini yang telah Papa dapatkan dari Mama mu yang mendapatkannya melalui guru -gurumu..? " tanya Devano memperlihatkan isi iPadnya yang layar nya penuh keluhan para guru dari anaknya itu.
"Mmm, ya karena mereka tidak pernah suka aku bersekolah di sekolah mereka, Pa. Bagaimana kalau aku pindah saja ke sekolah lain? "pinta Zico.
" Pindah? Kau mau Papa pindahkan ke sekolah apa? Nanti kamu akan mengulangi kesalahanmu atau tidak? " tanya Devano nada keras.
"Tidak, Pa. Asalkan Aku tak pernah sekolah di sekolah ini lagi.. " jawab Zicco menyakinkannya.
"Sungguh? " ulang Devano.
"Iya, sungguh, Pa.."
"Baik, lusa Papa akan menyekolahkan kamu ke sekolah di kota Barcelona yaitu Asrama Saint Petersburg supaya kamu bersekolah dengan benar di sana.. " kata Devano Wandani yang kini mengejutkan Zicco.
"Apaaa? "
"Kenapa? Tak ada bantahan lagi darimu untuk Papa dan Mama mu. Sekarang kamu bisa naik ke lantai atas untuk masuk ke kamarmu dan siapkan diri mu dengan sebaik-baiknya." kata Devano Wandani menggunakan telunjuknya ke pintu ruangannya untuk Zicco puteranya pergi dari ruangannya.
Setelah Zicco masuk ke kamar tidur anak kecil itu sendiri. Istrinya mendatanginya dengan sinar mata menyetujui keputusannya untuk kebaikan masa depan anak mereka berdua. Ia meraih istri untuk duduk di sofa depannya.
"Duduklah di sini, Ruby. " pinta Devano.
"Dev, aku takkan pernah membantah kamu kok yang ingin melakukan yang terbaik untuk Zicco putra pertama kita setelah kita lihat bagaimana anak itu bersekolah di sini dan kekacauan yang dilakukannya itu. " kata Ruby.
"Dia cuma seorang anak kecil yang sedang cari perhatian dari orang-orang sekitarnya karena dia merasa tersisihkan dengan kehadiran adik -adik nya yang baru lahir beberapa hari lalu dan ia juga merasa tersaingi rasa sayangnya oleh teman -teman di sekolahnya. Namun aku harus bisa mengubahnya untuk ia bisa menjadi seorang anak laki-laki yang bertanggungjawab atas apa pun tindakannya juga aku tak mau memanjakan dirinya agar kelak dia jadi seorang kakak dan pria hebat di keluarga kita untuk dia bisa lindungi adik-adiknya juga kamu apabila aku tak ada lagi di dunia ini. " kata Devano Wandani yang sinar matanya membingungkan Ruby yang merasakan ada firasat tak nyaman di hati wanita itu.
"Dev, kamu jangan pernah bicara sembarangan mengenai dirimu sendiri, karena kamu pasti akan baik-baik saja dan selalu bersama kami sampai anak-anak kita dewasa dan kita berdua menjadi kakek dan nenek." kata Ruby dengan raut wajahnya begitu mencemaskan suaminya.
"Iya, Ruby. Tenanglah, sayang. " kata Devano.
"Zicco, mulai hari ini kamu harus mendengarkan dan mematuhi peraturan yang berlaku di asrama mu ini dengan baik. Ingatlah bahwa Papa dan Mama menginginkan kamu menjadi kakak yang dapat memberikan contoh yang baik untuk para adikmu nantinya." kata Devano Wandani dengan nada tegas kepada Zicco di ruang kamar tidur asrama khusus untuk Zicco.
"Iya, Papa. Zicco akan mematuhi perintah dari Papa. " jawab Zicco patuh.
Dan, ketika Devano Wandani ingin berjalan ke arah parkiran mobil. Ia berpapasan dengan anak perempuan yang di kenalnya sebagai putri dari Bayu Putra Wijayakusuma yang pertama sedang di antar ke arah asrama putri sekolah.
"Graciella Princess Wijayakusuma juga di kirim ke sekolah ini oleh Tante Lisa Wijayakusuma." kata Devano Wandani dengan nada pelan sekali sehingga baik Ruby maupun anak-anaknya yang lain tidak mendengarnya.
"Dev, ayo kita segera pulang ke rumah kita.." kata Ruby dari dalam mobilnya.
"Ehh, ya sayang, aku datang. " jawab Devano.
Di sepanjang perjalanan pulang ke negeri Paman Sam tiba-tiba Devano Wandani merasakan sakit pada bagian dada kirinya yang mengejutkan istri dan anak-anaknya di pesawat pribadinya.
"Dev.. Kamu kenapa? Apakah ada yang sakit di tubuhmu? " tanya Ruby dengan nada cemas.
"Dadaku sesak.. Akhhh, " keluh Devano Wandani yang langsung tak sadarkan diri di pelukan Ruby.
"Devano.. Bangun.. Dev, bangun...! " teriak Ruby histeris.
Rumah sakit kota Los Angeles, Amerika Serikat.
Devano Wandani masuk ruang IGD dan pria ini harus menjalani perawatan intensif dari pihak rumah sakit yang menanganinya dan tim dokter menyatakan bahwa ia menderita penyakit kanker jantung yang membuatnya koma dan harus di masukkan ke ruang ICU.
"Dev.. Kenapa kamu jadi seperti ini? Ku mohon kau jangan pernah meninggalkan kami semua..! Dev, aku masih membutuhkan kamu begitu juga dengan anak-anak kita, mereka masih ingin kamu membimbing mereka, menjaga mereka.. " kata Ruby menangis di pelukan Papanya yang kini telah datang ke rumah sakit begitu mereka mengabarkan tentang kesehatan Devano.
"Ruby, tenangkanlah hatimu.. Devano tak mau kau menangis seperti ini, dia mau kamu tegar dan kuat untuk anak-anak kalian... Kau tak perlu takut karena ada Papa yang akan melindungimu dan anak-anak kalian yang menjadi cucu- cucu Papa. " kata Papanya yang merangkulnya.
"Tapi, Pa? Ruby belum siap untuk kehilangan dia untuk selamanya.. " kata Ruby semakin deras air matanya begitu Dokter menyatakan bahwa Ia harus siap untuk menerima kenyataan apabila Devano Wandani tidak bisa hidup lebih lama lagi.
"Kita harus segera mempersiapkan ahli waris dari semua kekayaannya agar kehidupan kalian nyaman setelah dia meninggal dunia.. " kata salah seorang dari saudara tiri Ruby yang telah berdiskusi untuk mencari tahu siapa ahli waris takhta kerajaan bisnis Keluarga Wandani setelah Devano Wandani meninggal dunia di ruangan lain di rumah sakit tanpa sepengetahuan Ruby yang ditemani oleh Papanya di luar ruang kamar tidur pasien Devano Wandani. Mereka melirik ke arah Ruby dengan senyuman yang berharap bisa memperoleh sedikit harta peninggalan dari pria paling berpengaruh di dunia bisnis Asia dan dunia.
Bersambung!!