
Devano tersenyum lebar melihat istri dan kedua orang putri kecilnya di depan sepasang matanya lalu tangannya merasakan tangan mungil Zicco Wandani menggenggamnya dan begitu dirinya itu menoleh kebelakang terlihatlah Mamanya.
"Dev..! "
"Mama.. " kata Devano membalikkan badannya ke arah Mamanya lalu mendekati Mamanya dan memeluk Mamanya.
"Anak Mama tersayang.." kata Lilian Bong yang membelai lembut rambut anaknya dengan air mata.
"Ma..Devano titip mereka kepada Mama.. " kata Devano pelan lalu menghembuskan napasnya yang terakhir di pelukan Mamanya.
Ruby menangis begitu menyayat hati memeluk kedua orang putri kecil mereka melihat suami yang dicintainya itu dibaringkan di tempat tidur untuk dirapikan sebelum di pindahkan ke dalam peti jenazah yang dilapisi taburan emas, berlian dan permata dan kaca bening.
"Papa... " panggil Zicco Wandani yang menangis memeluk foto Papanya.
Brenda dan Lisa saling memeluk di dekat Mama mereka yang menggendong dua orang adik bayi kembar mereka di sofa dekat mereka dengan air mata yang mengalir dari sepasang mata mereka berdua.
"Ruby, tegarkan hatimu untuk anak-anak kalian, disini ada Papa dan Mama." kata kedua orangtua nya yang memberikan hiburan untuknya.
Ruby harus melihat tubuh suaminya terbaring di peti jenazah yang akan segera di bawa ke rumah mereka di China untuk dimakamkan di tempat pemakaman keluarga Wandani dengan gunakan pesawat pribadi keluarga Wandani.
"Dev, jalanlah dengan tenang dan damai di Surga bersama Tuhan.., Kau jangan khawatir karena aku akan menjaga anak-anak kita seumur hidup ku untukmu." batin Ruby.
Satu bulan kemudian setelah Devano Wandani meninggal dunia.Pengacara Fernandez Remos mengumumkan bahwa ahli waris kekayaan dari Devano Wandani di limpahkan kepada Zicco Wandani putra sulung dari Devano Wandani dan Ruby Yolanda di hadapan para anggota keluarga Wandani lainnya.
"Syarat untuk Zicco Wandani mendapatkan hak sebagai pewaris kekayaan dari Tuan Devano Wandani adalah menikah dengan Nona Irene Putri Wijayakusuma pada saat mereka dewasa nanti namun apabila Tuan Muda Zicco Wandani tidak mematuhi syaratnya maka seluruh warisan dari Tuan Devano Wandani akan dilimpahkan kepada Tuan Muda Roberto Wandani sebagai ahli waris keduanya. Sekian terimakasih." kata Pengacara Fernandez Remos membaca surah wasiat dari Devano Wandani kepada Ruby dan anak-anak Devano Wandani.
"Baiklah,kami mengerti dan terimakasih banyak untuk pembacaan hak alih waris terhadap harta kekayaan dari suamiku dari mu Tuan Remos." kata Ruby dengan sopan menghormati keinginan hati suaminya yang terakhir melalui surat wasiat yang telah dibacakan oleh pengacara Fernandez Remos kepada mereka keluarga Wandani.
"Sama-sama Nyonya Muda Ruby Wandani." kata pengacara Fernandez Remos sopan kepada Ruby Yolanda.
Ruby Yolanda menyibukkan dirinya untuk bekerja sebagai CEO di perusahaan perfilman Wandani di luar rumahnya untuk menghilangkan rasa sedih dan kehilangan suaminya meskipun ia tak pernah melupakan tugasnya sebagai seorang Mama untuk anak-anak mereka di rumah.
Zicco Wandani telah kembali bersekolah dengan senyuman cerianya karena anak itu ingin sekali bertemu dengan teman-temannya lagi terutama ia bisa mendatangi tempat rahasianya di bukit belakang sekolahnya.
"Eh,kotak kecilnya tak ada lagi di dalam sini..? " pikir Zicco Wandani usai menggali tanah di bawah pohon favoritnya.
"Zicco.. " panggil seorang temannya yang telah membawakan mainan yoyo kepadanya.
"Aku tak suka mainan yoyo,kawan."kata Zicco di depan temannya sambil mengeluarkan sebotol kelereng warna-warni dari saku jas sekolahnya.
" Mmm.. "gumam Roy Keane melihat temannya itu sudah asyik bermain kelereng warna-warni di tanah.
Dennis Rodman mengajak Roy Keane bermain di tempat lain sehingga Zicco Wandani seorang diri di bukit belakang sekolah mereka sampai sore hari dan seorang gadis kecil berambut panjang mendatangi Zicco Wandani yang terkejut sekali melihat gadis kecil yang selalu menjadi bunga mimpinya berada di depan sepasang matanya.
"Hai juga.. " sapa balik Zicco Wandani tersenyum ramah.
"Aku mau menitipkan hewan peliharaanku yang lucu ini kepadamu karena Tante ku di rumahku melarang Aku untuk membawanya pulang ke rumahku. " kata Grace memperlihatkan seekor kucing kecil warna putih kepada Zicco Wandani.
"Wah, apakah kau ingin Aku yang menjaganya di sini untuk kamu? " tanya Zicco Wandani dengan senyumnya yang manis kepada Grace.
"Iya, jangan khawatir Aku pasti akan seringkali mengunjungi sekolah kita disini saat liburan ku di sekolah ku di Indonesia untuk Aku bisa lihat anak kucing peliharaan ku ini yang dijaga olehmu teman." jawab Grace menatap Zicco Wandani di depannya seraya menyodorkan kotak kecil yang berisi kucing kecil kepada Zicco Wandani.
"Baik,dan sebagai gantinya Aku mau kamu bantu Aku untuk menjaga kelereng warna-warni besar ini untuk pertukaran kucing kecil mu dan mainan ku ini." kata Zicco Wandani yang ingin bertemu kembali dengan Graciella Putri Wijayakusuma itu melakukan pertukaran dari persyaratan menjaga sesuatu yang berharga di hati Graciella Putri Wijayakusuma dengan mainannya.
"Oke, deal.. " kata Graciella Putri Wijayakusuma menyepakati perjanjian tersebut dengan Zicco Wandani.
Mereka berdua saling mengaitkan jari kelingking kiri mereka satu sama lainnya lalu tersenyum ceria bersama-sama di hari yang penuh salju di musim dingin yang selalu diingat oleh Zicco.
"Semoga dia akan ingat dengan janjinya kepada kita, Niken." kata Zicco Wandani memeluk kucing kecil yang sudah tumbuh besar dipelukannya.
Hari itu adalah ke delapan kalinya Zicco datang ke bukit belakang sekolah namun ia tidak pernah jumpa dengan Graciella Putri Wijayakusuma, dan hal ini meresahkan hatinya sampai ia tak sadar bahwa dirinya sekarang sudah berusia dua puluh tahun.
Hpnya berdering di saku celana panjangnya.Ia tahu siapa yang meneleponnya dari luar negeri di benua Amerika maka tanpa melihat layar HP nya pun ia sudah tahu bahwa adiknya lah yang meneleponnya.
"📱Kak Zicco, sudah waktumu untuk pulang ke rumah untuk merayakan hari ulang tahun Papa kita.. " suara Brenda adiknya yang ramai.
"📱 Ya, Brenda. Aku tahu.. " jawab Zicco.
"📱Kak Zicco, ku beritahu kau bahwa untuk kali ini Mama mengundang seseorang ke rumah kita lho untuk diperkenalkan kepada Kakak. " lapor Brenda.
"📱Siapa? "
"📱Entahlah, kata Mama sih kamu akan tahu jika kamu sudah sampai di rumah kita."
"📱Oke,Aku akan segera pulang ke rumah kita. "
"📱 Oke, kami tunggu ya di rumah kita, dah.. Kak Zicco.. "
Zicco menghela napas panjang menatap Niken di pelukannya lalu berjalan meninggalkan bukit belakang sekolahnya untuk terakhir kalinya di dalam hidupnya.
"Sampai jumpa untukmu bukit kenanganku.." kata Zicco yang berjalan di antara pepohonan di sekitar sekolah asramanya di Barcelona.
_____________________TAMAT__________________