I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 19



"📱sudah.Lalu apa yang kau inginkan dariku untuk membantumu dan juga membantuku?" Eduardo Xi menanggapi pertanyaan Philip Gao.


"📱Aku ingin kamu berpura-pura memelas pada Devano untuk dia memiliki kesan yang baik dan menerimamu kembali sebagai sepupunya agar kita bisa menjatuhkannya ke lumpur kemiskinan dan kesengsaraan." Ucap Philip Gao.


"📱Aku akan membantumu jika kau menceraikan Soledad untuk dia bisa kembali kepadaku agar anak kami berdua bisa memiliki kedua orang tuanya secara utuh." Kata Eduardo Xi yang amat merindukan wanitanya itu.


"📱Ohh, kau ingin memiliki dua orang wanita di sisi mu, begitu kah?? " Tanya Philip Gao tak pernah mengira kalau Eduardo Xi adalah pria yang serakah juga.


"📱Ya, aku masih mencintainya dan aku juga tak pernah mau melepaskan Angela Wan tambang emas ku begitu saja. " Jawab Eduardo Xi nada lantang.


"📱wah kau serakah juga ya jadi orang? Tapi, baiklah aku akan pertimbangan baik-baik soal permintaan mu itu sebagai tanda kesepakatan kita. " Kata Philip Gao tersenyum untuk kolega liciknya itu sebelum mengakhiri percakapannya di telepon genggam.


Ting!


Eduardo Xi kembali mengendarai mobilnya ke arah jalan raya dengan kecepatan tinggi sampai mobilnya menghilang dengan cepat dari pantai sungai di kota Guangzhou.


*****


Las Vegas, USA.


Kerlap kerlip cahaya kembang api yang menjadi pesta pergantian tahun baru di langit malam di luar rumah sakit menjadi pelipur lara hati bagi Devano yang harus tegar mengetahui penyakit yang di alami oleh istrinya itu.


"Ruby, aku akan mencarikan obat dan dokter terbaik untuk menyembuhkan mu agar kita bisa selalu bersama dengan anak-anak kita dan kau bisa melihat mereka tumbuh dewasa bersama ku. " Kata Devano yang berusaha menahan air mata ketika ia menghadapi Ruby yang terbaring di ranjang pasien di ruang ICU.


"Dev, ada telepon untuk mu. " Kata Dokter Isabel mendatanginya di ruang tunggu.


Devano menghela napas dalam-dalam sebelum mengambil HP di meja sebelahnya lalu melihat pesan WA yang berasal dari Ziko putranya yang menanyakan tentang dirinya dan Ruby.


"📱Pa, kapan Papa dan mama pulang dari kerja di luar kota? "


"📱Segera, nak. Sabar ya di rumah dan jangan nakal ya jaga adik-adik mu baik-baik ya sayang. " Jawab Devano yang menelepon putranya yang berada di rumahnya di kota Los Angeles.


"📱Ya, Pa. Tapi, Mama ada dimana kok Ziko tak lihat Mama sih? " Ziko menanyakan Ruby kepada Devano.


"📱Ada, Mama kok tunggu ya.. " Jawab Devano yang merekam suara Ruby yang sedang sibuk merapikan pakaian mereka di kamar untuk ia bisa memberikan kebahagiaan untuk putranya.


"📱Sayang, bajumu yang motif batik Solo yang waktu itu kamu taruh di mana? " Suara Ruby bertanya kepada Devano terdengar suaranya oleh Ziko di seberang sana.


"📱Pa, bisakah aku berbicara dengan Mama? "Tanya Ziko yang menangis karena rindu kepada Mama nya.


" 📱Ya, Sayang tentu saja bisa dong. "Jawab Devano yang kembali pura-pura memanggil Ruby untuk putranya tak merasa sedih


" Sayang, kemarilah sebentar Ziko mau bicara dengan mu nih. "Panggil Devano yang terdengar oleh Ziko, lalu terdengar jawaban Isabel yang pura-pura sebagai Ruby di sebelah Devano untuk Ziko.


"📱Ma, Ziko kangen sama Mama. " Jawab Ziko pecah tangisannya.


"📱Ya, Nak. Mama juga kangen sama kamu. " Kata Isabel yang berusaha untuk menahan diri untuk tidak menangis usai mendengar tangisan Ziko dan melihat Devano memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan kesedihan pria itu.


"📱Ma, Ziko sekolahnya pintar dapat nilai A di setiap pelajaran dari guru di sekolah Ziko. " Kata Ziko yang menceritakan tentang sekolahnya itu kepada Isabel.


"📱Wah anak Mama pintar ya jangan khawatir nanti sepulangnya Mama dan Papa dari kerja di luar kota, kami akan membelikan mu hadiah untuk prestasi mu di sekolah. Nah, sekarang ini sudah malam nih, kamu tidur ya.. Selamat malam sayang. " Kata Isabel yang cepat-cepat mengakhiri percakapannya dengan Ziko lalu mengembalikan HP kepada Devano.


"Terimakasih Isabel. " Kata Devano membalikkan badannya untuk menghadapi Isabel yang berdiri tepat di depannya.


"Sama-sama Dev. Kau harus tegar untuk Ziko dan anak-anak mu lainnya yang membutuhkan kamu untuk melindungi mereka. Ayolah, Devano kau harus kuat dan percayakan saja kepada kamu dan Tuhan yang menyembuhkan istrimu, Ruby. " Kata Isabel memberikan semangat untuk Devano.


"Hmm, ya Isabel. Terimakasih atas hiburanmu ini untuk ku. Baiklah, aku serahkan penyembuhan istriku kepada mu dan tim dokter rumah sakit ini, sekarang aku harus pergi dahulu untuk urusan pekerjaan yang sudah menantiku di kantor ku. " Kata Devano tersenyum lalu berjalan ke arah lift.


Isabel memandangi punggung tegap pria hebat itu dengan kekaguman yang terpancar dari sinar mata wanita cantik itu lalu berjalan ke ruangan kerjanya di lorong lain dari ruang tunggu.


Devano berjumpa dengan seorang wanita yang sudah menunggu dirinya di parkiran mobil di rumah sakit tempat Ruby di rawat lalu pria ini mengambil dokumen di tangan wanita itu yang segera mengikutinya masuk ke mobil yang ada di belakang mobilnya.


"📱Steven, kirimkan filenya sekarang. " Perintah Devano membuka iPadnya begitu dirinya berada di dalam mobilnya.


"Tuan Besar Wandani, apakah Anda ingin jumpa dengan klien Anda di kantor cabang? " Tanya asisten pribadinya di dalam mobil di jok depan di samping driver nya.


"Ya, tolong kamu hubungi Kimberly untuk hadir di rapat kali ini di kantor cabang." Jawab Devano yang mengutak-atik laptopnya di pangkuannya usai menutup iPadnya yang ditaruh di jok kanan nya.


*****


Dublin City, Irlandia Utara.


Seorang wanita hamil tua memandangi kolam air mancur di dalam mansion mewah dengan sorotan mata yang sangat mengutarakan isi hati wanita itu yang sayu.


"Satu minggu lagi bayi kita akan lahir di dunia, tapi kau tak pernah satu kalipun menanyakannya kepada ku, apakah kamu benar-benar telah melupakan kami yang pernah menjadi bagian hidupmu? "


Soledad menangis sedih sekali merindukan pria yang menjadi ayah jabang bayi yang berada di dalam kandungannya itu. Ia menoleh ke arah Frank sepupunya yang memakaikannya mantel untuk menghangatkan tubuhnya di bulan yang masih sangat dingin dan bersalju tebal.


"Bulan Januari masih belum menampakkan sisi musim semi akan tiba, kau harus jaga kesehatan mu untuk bayimu sendiri dari hawa dingin di pagi hari ini.. " Kata Frank menatap Soledad dari air kolam mancur di depannya dan wanita sepupu nya itu.


"Ya, Frank aku tahu itu. Ahh, aku cuma merasa mellow sedikit di pagi hari ini. Itu saja kok." Kata Soledad menerima sandwich dari Frank.


Bersambung!