
"Iya, Soledad sayang bukankah kamu sangat ingin memiliki rumah mewah dan mobil mewah yang seperti impianmu selama ini? "Kata Eduardo Xi tersenyum bahagia melihat istrinya begitu bahagia melihat uang tunai yang sangat banyak dan surat sertifikat rumah dan mobil mewah di kota Guangzhou yang di tunjukkan olehnya kepada istrinya itu.
Soledad memeluknya dengan senyuman yang tulus dan bahagia sampai Eduardo Xi termangu sejenak karena pria ini merasakan sakit hatinya yang menipu istrinya sendiri untuk kebaikan mereka.
" Iya, Eduardo.. Aku sangat bahagia ternyata kau sungguh memenuhi keinginan ku melalui hadiah istimewa yang telah Bos mu berikan kepada kita berdua. Lihatlah, aku punya tiket pesawat untuk liburan ke negara bagian Amerika Latin selama enam bulan secara cuma-cuma. "Kata Soledad yang merenggangkan sedikit tubuhnya dengan tubuh Eduardo Xi suaminya untuk wanita ini bisa memberikan ciuman lembutnya kepada suami tercintanya itu.
" Wah, kau memberikan balasan dari hasil usaha ku untuk memenuhi kebutuhan hidupmu hanya dengan ciuman manismu saja di bibir ku? Apakah kamu tak ada hadiah lainnya untuk aku suamimu? " Tanya Eduardo Xi menatap Soledad dengan cinta yang besar.
"Hmmmm, ya.. Ada.. Tentu saja ada.. " Jawab Soledad yang menarik suaminya masuk ke kamar mereka lalu melakukan sesuatu dengan suaminya di sana.
Eduardo Xi memandangi istrinya yang tertidur pulas di sampingnya dengan senyuman bersalah sekali. Ia telah menandatangani perjanjian atau kesepakatan dengan Nenek Lan.
"You You, aku sudah melakukan kebaikan yang pastinya akan berdampak baik untukmu yang menurutku sama sekali tidak cocok menjadi pendamping hidup istrinya yang merupakan seorang wanita yang kelasnya berbeda jauh dengan mu yang telah aku selidiki bahwa kamu masih ada hubungan kerabat dekat dengan keluarga besar Wandani yang memiliki jaringan bisnis yang sangat-sangat kuat di seluruh dunia. Dan, aku percaya bahwa kamu memiliki sedikit kekayaan dari keluarga mu itu di luar penampilan mu yang seperti orang kesulitan dalam ekonomi dan sosial mu. Aku menginginkan kamu untuk menikah dengan cucu perempuan ku adalah untuk membantu kamu bisa kembali ke dalam keluarga besar Wandani. " Kata Nenek Lan yang rupanya telah menyelidiki asal usul dari Eduardo Xi melalui agen rahasia Nenek yang memiliki kemampuan untuk menjatuhkan maupun menaikan derajat orang dalam waktu singkat.
"Nenek Lan, aku sudah di coret dari daftar anggota keluarga besar Wandani oleh Almarhum Kakek ku yang bernama Andy Peter Wandani sekitar tiga tahun yang lalu. Intinya aku sekarang ini tidak memiliki harta sepersen pun di tangan ku dari keluarga besar Wandani yang terhormat itu. Jadi, untuk apa kamu bersikap keras kepala untuk memaksaku menikah dengan cucu mu dengan alasan untuk membantu biaya hidup ku dengan cara menukar kebahagiaan ku bersama istriku dengan kekayaan yang kamu berikan kepada ku?? " Kata Eduardo Xi yang telah datang kembali ke rumah keluarga besar Lan dengan memulangkan dokumen kesepakatan antara dirinya dengan Nenek Lan kepada Nenek Lan.
"Kau tak pernah bisa memutuskan pembatalan kesepakatan kita dengan sepihak saja karena aku akan memberitahukan rahasia kita kepada istrimu secara langsung dan aku ingat minta bunga dari mu sebesar harga kesepakatan kita berdua. " Kata Nenek Lan dengan senyuman yang memaksa kehendaknya kepada Eduardo Xi yang memucat pada wajahnya.
"Nenek Lan, kau ternyata bukan seorang wanita tua yang baik selama ini aku kenal? kau adalah rentenir berpenampilan anggun..! " Teriak Eduardo Xi dengan marah kepada Nenek Lan.
"Ayolah, Eduardo. Tenangkanlah dirimu lalu kau terima saja kebaikan ku yang menguntungkan kamu juga?! " Kata nenek Lan dengan senyuman yang menaklukkan Eduardo Xi harus menepati kesepakatan mereka.
Maka, malam ini Eduardo Xi membawakan uang tunai dengan jumlah besar kepada Soledad dengan alasan uang tersebut berasal dari bos baik hati. Dan, sekarang ini Eduardo Xi tak bisa tidur dengan nyenyak karena pikirannya sibuk dengan masalah yang mengganggu ketenangan hatinya dan juga hidupnya.
Eduardo Xi mengalihkan perhatiannya ke arah pemandangan alam kota Ningbo melalui jendela kamar tidur mereka berdua di rumah sewa mereka yang sempit dan sesak itu. Menyadari bahwa kehidupannya sangat sulit untuk dirinya bisa memberikan kehidupan yang nyaman dan bahagia kepada istri dan anaknya yang berada di dalam kandungan istrinya itu. Eduardo berubah pikiran lagi dan berpikir bahwa keputusan untuk menikah dengan cucu perempuan Nenek Lan adalah keputusan yang tepat untuk kebaikan dan kebahagiaan keluarganya.
Eduardo Xi membelai perut rata istrinya yang kini berdenyut yang menandakan bahwa janin di dalam perut istrinya itu dapat merasakan apa yang dirasakannya pada malam ini.
"Anakku, Daddy harap kamu bisa memahami hati Daddy yang menginginkan kamu dan mama mu bisa hidup dengan berkecukupan seperti anak- anak lain di luar sana." Kata Eduardo Xi dalam hatinya seraya mengecup perut istrinya dengan cinta. Lalu, Eduardo Xi meninggalkan rumah kecil itu dengan menarik kopernya yang berisi barang-barang pribadinya tanpa menengok kembali ke rumah yang didalamnya ada istrinya yang sedang terlelap di dalam mimpi yang indah di tengah malam hari itu.
Eduardo Xi tidak tahu bahwa sesudah Ia pergi dari rumah sewa itu terjadilah kebakaran yang sangat besar yang menyebabkan Soledad harus menyelamatkan dirinya dengan melompat dari jendela kamar.
"Eduardo..! Eduardo.. Dimana kamu??! Ohh, tidak semuanya telah habis terbakar api...! " Teriakan histeris Soledad yang mencemaskan suaminya yang di kira terjebak api yang membakar rumah sewa yang menjadi tempat tinggal mereka.
"Nyonya Xi.. Kau jangan mendekat ke api...! " Teriak para tetangganya yang menariknya untuk menjauhkan diri dari api yang semakin besar dan melahap seluruh komplek perumahan sewa itu.
"Aku harus bagaimana? Semua barang dan juga identitas ku telah habis terbakar api...!" Soledad sangat terpukul dengan peristiwa yang sangat menyakitkan baginya itu.
Dan,yang paling menyakitkan adalah dirinya harus meninggalkan negara China karena batas tinggal nya di negara itu telah habis. Maka, ia pun di pulangkan ke negara asalnya yaitu negara Irlandia Utara dengan apa adanya.
"Aku telah kehilangan semua yang pernah aku miliki..! Aku kini hanya memiliki janin di rahimku untuk menata kembali kehidupan ku yang baru dengan aku kembali ke negara asal ku dengan air mataku..! " Batin Soledad yang menangis sederas mungkin.
Soledad dalam perjalanan kembali ke negara asalnya dengan pesawat kelas ekonomi dan Ia hanya bisa berdoa untuk kehidupannya yang akan datang menjadi lebih baik daripada kehidupannya di masa sekarang ini dengan rasa sakit hati yang amat dalam.
Bersambung!