
Malam hari Ruby merasakan sakit pada perutnya di tempat tidurnya sendiri sehingga wanita muda ini memanggil suaminya untuk menghubungi tim dokter spesialis kandungan ke rumah mereka.
"Sayang, apakah kamu yakin ingin melahirkan di rumah kita? Apakah kamu tak mau pergi ke rumah sakit untuk lebih nyaman untuk kamu bisa melahirkan sepasang anak kembar kita? " tanya Devano meraih jemarinya dengan erat di tempat tidurnya.
"Iya, aku mau melahirkan anak-anak kembar kita di kamar ini." jawab Ruby tegas.
"Baiklah, aku akan menemanimu di sini sampai kau melahirkan anak-anak kembar kita dengan selamat dan sehat untuk kalian bertiga di kamar kita ini. " kata Devano menengok ke tim dokter spesialis kandungan yang sudah hadir di kamar tidur Ruby dengan peralatan medis yang super lengkap telah disediakan di kamar itu.
"Baik, Tuan tolong Anda tenangkan Nyonya Ruby supaya proses melahirkan anak-anak kembar Anda berdua bisa berjalan dengan lancar dan sukses. " kata tim dokter spesialis kandungan di sekitar tempat tidur Ruby.
Ruby menganggukkan kepalanya dengan tegas lalu mencengkeram lengan Devano untuk dirinya bisa ada tenaga untuk melahirkan anak-anak mereka berdua dengan bantuan tim dokter spesialis kandungan terbaik di kota Los Angeles, USA.
Selang satu jam kemudian terdengar suara dari tangisan -tangisan dari sepasang bayi kembar laki-laki di kamar tidur Rub yang membuat hati Devano bahagia melihat kedua orang bayinya itu lahir dengan selamat dan sehat juga Ruby pun nyaman dan bahagia.
"Mereka sudah lahir.. Ah, syukurlah.. " kata Ruby memeluk sepasang bayinya di dadanya sambil menyusui kedua bayinya.
"Ruby, terimakasih kamu sudah memberikan dua orang bayi kembar laki-laki yang sehat untukku sebagai hadiah terindah di dalam hidupku. " kata Devano memberikan kecupan di bibir Ruby.
"Iya, sama-sama Devano. " jawab Ruby lembut.
"Aku akan memberikan mereka nama Zidane dan Roberto Wandani. " kata Devano membelai halus kepala sepasang bayi kembarnya dengan kasih sayang.
"Nama mereka berdua sungguh keren sesuai dengan Papa mereka berdua yang sangat hebat dan tampan tiada duanya di dunia ini." kata Ruby membelai halus pipi Devano yang basah karena air mata kebahagiaan yang mengalir dari kedua sepasang mata suaminya.
"Ya, terimakasih atas pujian darimu untuk Aku dan anak-anak kita yang lucu ini. " kata Devano memberikan kecupan lagi di bibir Ruby.
Pintu kamar tidur Ruby terbuka untuk Zico, Lisa dan Brenda Wandani berlarian untuk melihat dua orang adik kembar mereka yang baru saja lahir dari Mama mereka bertiga yang cantik itu.
"Wahhh, tampan sekali adik-adik kami, Pa.. Ma.." kata Zico Wandani memeluk sepasang adik kembarnya yang berada di atas dada Mamanya.
"Siapa nama adik -adik kami, Pa? " tanya Brenda mencium kedua orang bayi kembar itu dengan kasih sayang.
"Zidane dan Roberto Wandani adalah nama adik -adik mu, sayang anak Papa dan Mama yang cantik. " jawab Devano mengangkat kedua orang anak perempuannya dengan kedua tangannya.
"Wahh, nama adik-adik sangat luarbiasa keren deh.. " kata Lisa yang meminta Devano untuk dudukan anak itu di tempat tidur Ruby untuk Lisa bisa membelai halus adik-adiknya.
"Anak-anak mari kita keluar dulu untuk kita bisa memberikan waktu bagi Mama kalian istirahat dan adik-adik kalian juga harus dibersihkan dan dirapikan dulu oleh para dokter Mama kalian di kamar tidur Mama kalian ini." kata Devano yang mengajak anak-anaknya yang besar untuk keluar dari kamar tidur Ruby.
Tim dokter spesialis kandungan membersihkan dan merapikan Ruby lalu memindahkan Ruby ke tempat tidur dan kamar yang baru untuk istri dari Devano Wandani itu dapat istirahat untuk proses pemulihan pasca melahirkan sepasang bayi laki -laki kembar.
Sedangkan Devano menemani anak-anak yang besar untuk tidur di kamar anak-anaknya sendiri sampai ketiganya tertidur pulas di tempat tidur mereka masing-masing, lalu Devano menemani Ruby di tempat tidur Ruby yang baru.
*****
Han Yu Ri memandangi dirinya sendiri yang telah memakai gaun pengantin di cermin rias di kamar tidurnya sendiri di kediaman Wijayakusuma. Han Yu Ri sangat bahagia karena hari ini adalah hari pernikahannya dengan Lee Seung Gi atau Revan Wijayakusuma.
"Yu Ri, apakah kamu sudah siap untuk turun ke bawah untuk bertemu dengan mempelai priamu yang sudah menantimu di depan altar Bunda Maria dan Salib Yesus Kristus yang sudah kami siapkan di taman rumah ini? " tanya seorang pria muda di pintu kamarnya dengan senyum cerah di bibir adiknya itu.
"Tentu saja, Aku siap dong. " jawab Han Yu Ri segera.
"Yu Ri, hari ini adalah hari bahagiamu, nak. Papa dan Mama beserta adikmu sangat senang sekali bisa menyaksikan hari bahagiamu yang akan di persunting oleh Lee Seung Gi kekasih pujaan hati mu sendiri. " kata Papanya yang bernama Han Yoong Gi menggandeng tangannya untuk turun dari tangga menuju ke tempat pesta pernikahan di taman pribadi keluarga Wijayakusuma yang megah dan indah.
"Iya, Papa. " kata Han Yu Ri tersenyum bahagia.
"Yu Ri, apakah kamu sudah siap untuk menikah denganku dan menjadi istriku untuk selamanya? " tanya Lee Seung Gi pria tampan yang berdiri di depannya.
"Iya, aku sudah siap, " jawab Han Yu Ri tegas.
"Menikah denganku berarti kamu harus bersedia untuk menerima segala kekuranganku kelak dan keluargaku berikut dengan bunganya yaitu anak -anak dari kakakku sebagai anak-anakmu juga untuk selamanya."kata Lee Seung Gi menatap Han Yu Ri dengan tegas.
" Iya, Aku tahu dan Aku pun bisa menerimanya dengan kedua tangan terbuka dan hatiku yang lapang. "jawab Han Yu Ri lantang.
" Baiklah, mari kita berjalan bersama-sama ke depan pastur yang sudah menunggu kita."kata Lee Seung Gi menggandeng tangan Han Yu Ri.
Setelah mereka berdua resmi menjadi suami istri yang sah.Mereka berdua memutuskan untuk pergi bulan madu ke negara Argentina selama satu bulan lamanya dan kembali ke Indonesia di awal bulan kedua pasca resmi menjadi suami istri yang sah ssecara lahir dan batin.
"Seung Gi, apakah kamu benar-benar mencintai Aku dengan sepenuh jiwa ragamu? " tanya Han Yu Ri pada suatu hari di ruangan kolam renang di rumah kediaman Wijayakusuma.
"Iya." jawab Lee Seung Gi membantu Han Yu Ri duduk di sofa dekat kolam renang karena Han Yu Ri kesulitan untuk duduk dan berdiri, hal ini disebabkan karena Han Yu Ri sedang hamil usia tujuh bulan lebih.
"Aku mau kamu bantu Aku untuk mengirim Grace ke sekolah di asrama putri di kota Barcelona dan Irene, dia bisa bersekolah di Singapura saja agar kita bisa menikmati hidup yang nyaman di sini di Jakarta ini." pinta Han Yu Ri merangkul suaminya yang usianya lebih muda dua tahun darinya.
"Baiklah, asalkan kamu bahagia bagiku sudah lebih dari cukup baik untukku." kata Lee Seung Gi yang telah jatuh cinta kepada Han Yu Ri selalu menuruti keinginan istrinya itu.
"Terimakasih , sayang. Kamu sungguh mengerti sekali keinginan hatiku untuk kebahagiaan kita berdua bersama dengan anak di perutku ini. " kata Han Yu Ri membelai perut hamilnya dengan sayang di depan Lee Seung Gi.
"Sayang, bayimu itu bukanlah bayiku loh tetapi bayinya Kakakku.. Ah, Aku tak suka dengannya.. " kata Lee Seung Gi berterus-terang kepada Han Yu Ri.
"Lalu kau mau apa terhadap bayi di perutku ini, suamiku? " tanya Han Yu Ri sedih.
"Dilahirkan sebagaimana mestinya namun usai kau melahirkan anak itu maka kamu harus bisa hamil dan melahirkan darah dagingku sendiri agar Aku tak merasa tak nyaman dengan diriku sendiri juga aku bisa bahagia mempunyai anak yang benar-benar anakku sendiri darimu, istriku tercinta. " jawab Lee Seung Gi mengangkat dagu Han Yu Ri dengan jemarinya yang besar lalu ia mencium bibir Han Yu Ri dengan penuh cinta.
"Iya, tentu saja sayang. " kata Han Yu Ri menatap lembut suaminya yang menciumnya dengan tak pernah bisa berhenti untuk berhenti menciumnya dengan cinta yang besar dari lubuk hati dari pria yang berada didepannya itu.
Bersambung!